IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
51. Khawatir



"TIDAK!"


Ucap nyonya Wijaya histeris mendengar kabar anaknya yang baru saja di sampaikan oleh Edward melalui telepon.


"Ini tidak mungkin terjadi pa, hiks. hiks." Lanjutnya terisak. "ARLAN,, ARLAN,,, AAAA Hiks. Hiks. Hiks!" Nyonya Wijaya terus meronta seraya menggoyangkan tubuh tuan Wijaya yang berdiri di sampingnya.


Tuan Wijaya sendiri tidak sanggup berkata apapun, seluruh tubuhnya bergetar. Kedua matanya memerah, rasanya seperti berada di dalam mimpi buruk dan ingin segera terbangun.


"Arlan,, Ar,,," Nyonya Wijaya pun terisak hingga melemah dan tubuhnya pun terhuyung.


"Nyonya, Ma?!" Tuan Wijaya bersama beberapa pelayanan yang ada sontak menopang tubuhnya.


"Tolong bawah nyonya ke kamar!" Ucap tuan Wijaya bergetar lalu dengan cepat 2 pelayan itu di temani bibi Meryam membawanya.


Sedangkan tuan Wijaya sendiri perlahan duduk di sofa panjang ruang keluarga. Wajah tua berkeriput itu perlahan meneteskan air mata. Rasanya baru kemarin sang anak mendatanginya dan mengatakan dirinya baik - baik saja. Namun, dalam sekejap, anak semata wayangnya dinyatakan hilang dalam sebuah kecelakaan dan entah seperti apa sekarang keadaannya.


"Tuan,," Sahut laki - laki berubah yang tak lain kepala pelayan itu seraya memegangi bahunya.


"Hiks, hiks,, hiks, hiks,," Barulah tuan Wijaya mengeluarkan tangisannya. Kehilangan seorang anak tentunya akan membuatnya merasa sakit.


'


"Ukhuk, ukhuk, Agkh!" Tuan Wijaya terbatuk, lalu meringis memegangi dadanya yang terasa sakit.


"Mari tuan saya antar ke kamar!" Sahut kepala pelayan itu seraya menuntun laki - laki bertongkat itu.


21 : 30 Paris,,


Saat ini Aluna sedang berjalan menuju kamar hotel tempatnya menginap, di antar oleh Leo.


"Ini kamar kamu?" Tanya Leo saat berdiri di depan kamar nomor 98 itu.


"Iya!" Balas Aluna mengulas senyum kecil, namun dadanya masih berdebar.


"Masuk dan istirahat!" Ucap Leo.


"Ceklek!"


Aluna membuka setengah pintu kamar, lalu kembali menatap Leo yang masih berdiri.


"Selamat malam!" Ucap Leo mengulas senyum kecil.


"Selamat malam!" Balas Aluna dan Leo pun berbalik begitu juga dengan Aluna yang memasuki kamar.


Aluna duduk di pinggir kasur bernuansa putih itu, kakinya sedikit kram. Perlahan ia merogoh tas selempangnya mengambil ponsel yang selama beberapa saat belum ia cek.


'


BERITA TERKINI


"Pemirsa dimana pun anda berada, kabar duka dari pengusaha ternama tanah air, yakni pak Arlan Raden Wijaya selaku CEO PT. PERKASA WIJAYA telah mengalami kecelakaan sekitar jam 2 dini hari."


"Dari informasi yang di dapat, sang CEO terlibat aksi tembak menembak dengan kelompok gangster. Saat melakukan pengejaran, secara tidak terduga mobil sang CEO mengalami kecelakaan hingga menabrak pembatas jalan dan terperosok ke dalam jurang." Ucap wartawan wanita itu.


"Bisa dilihat, saat ini saya sedang berada di lokasi kejadian. Karena suasana jalan yang sunyi juga gelap sehingga tim evakuasi cukup kesulitan melakukan pencarian." Lanjutnya sambil berjalan memperlihatkan suasana lokasi kejadian.


"Pak bagaimana? Apa korban sudah di temukan?" Tanya reporter wanita itu kepada sala satu petugas.


"Ya, kami sudah melakukan pencarian selama kurang lebih 1 jam, namun belum menemukan titik keberadaan korban. Sedangkan mobilnya di temukan tersangkut dan hancur!" Ucap petugas itu dalam wawancara.


"Lalu bagaimana dengan mobil yang ditemukan kan pak?" Tanyanya.


"Kalau untuk mobilnya sendiri akan kami segera evakuasi, cuma seperti yang anda lihat keadaan yang masih gelap ini dan medannya cukup curam menjadi kendala terbesar saat ini, jadi akan membutuhkan waktu dalam proses evakuasi!" Lanjutnya.


"Baik terima kasih pak! Pemirsa bisa anda dengar tadi seperti apa keterangan dari sala satu petugas, bahwa memang saat ini proses evakuasi mobil agak susah dan sang CEO sendiri belum di temukan.


'


Sontak Aluna merasakan getaran di seluruh tubuhnya, kedua matanya mulai memerah menatap layar ponselnya.


"Mas Arlan,," Lirihnya.


Dengan kondisi seperti ini, Arlan kecelakaan dan belum di temukan. Selain Arlan, Aluna juga sangat mengkhawatirkan tuan Wijaya.


Dengan cepat Aluna berdiri membuka pintu kamar, lalu berlari sambil memegangi perutnya menyusuri lorong menuju lift untuk mengejar Leo.


Untungnya Leo berjalan begitu santai dan masih berada di lobi hotel.


"Leo, Leo?!" Teriak Aluna bergetar melihat punggung Leo yang berjalan santai hendak menuruni anak tangga.


Sontak Leo menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Aluna?" Ucapnya mengerutkan dahi saat melihat Aluna berlari menghampirinya dengan wajah pucat.


"Leo aku harus kembali ke Indonesia!" Ucapnya panik dengan mata berkaca-kaca.


"Alu,,"


"Kumohon Leo, aku harus kembali ke Indonesia hiks. hiks. hiks.!" Lanjutnya dengan terisak semakin membuat Leo mengerutkan dahi dan khawatir.


"Aluna ada apa?"


"AKU HARUS KEMBALI KE INDONESIA, hiks hiks. hiks." Balas Aluna dengan sedikit keras, dalam keadaan kalut sambil menggoyangkan lengan Leo.


"Aluna tenang, tenang!" Ucap Leo memegangi kedua bahu Aluna.


"Hiks. Hiks. Hiks. A, aku mau kembali ke Indonesia. M,, mas Arlan kecelakaan dan belum ditemukan, papa Wijaya pasti khawatir! Hiks. Hiks. Hiks!" Ucapnya bergetar.


Sontak Leo membulatkan mata. Lalu dengan cepat mengambil ponsel Aluna melihat tayangan video berita kecelakaan.


"Leo,,!" Ucap Aluna kembali menggoyangkan lengan Leo.


"A,, iya, iya! Kamu tenang dulu ya, sekarang tidak ada penerbangan ke Indonesia. Kita harus menunggu beberapa jam lagi!" Balas Leo.


Aluna tertegun, tenggorokannya tercekat dengan susah paya menelan salivanya. "Ka, kalau begitu aku ingin penerbangan pertama besok!" Balasnya dan Leo pun mengangguk.


'


'


'


_PT. PERKASA WIJAYA_


Pagi itu, beberapa media memenuhi lobi perusahaan. Mereka menunggu kemajuan dari kabar kecelakaan Arlan.


"Pak bagaimana dengan proses pencarian pak Arlan?"


"Pak bagaimana dengan keadaan tuan Wijaya saat ini dan perusahaan?"


Para wartawan itu bergantian memberikan pernyataan.


"Mohon tenang. Saat ini kami masih terus melakukan pencarian! Terima kasih!" Ucap Kris dan beberapa bodyguard itu pun berusaha membubarkan media.


'


'


'


Bahkan Aluna tidak tidur, ia hanya duduk menggigit kecil jarinya dalam keadaan bergetar. Wajahnya pucat dan matanya sembab. Mendengar pernyataan dari Kris tanpa melirik ponselnya.


Sedangkan Leo berdiri menatapnya dengan khawatir. Perlahan Leo mendekatinya seraya menyodorkan segelas air putih.


"Minum lah! Kamu sudah begadang!" Sahut Leo namun Aluna hanya menggeleng.


"Hey,, tidak papa jika kamu tidak ingin makan atau minum. Tapi, anak dalam kandunganmu tetap butuh nutrisi!" Lanjutnya Leo.


Perlahan Aluna mendongak menatap Leo, kedua matanya memerah lalu mengangguk kecil.


Ia terlalu panik, sampai menghilangkan rasa lapar dan dahaganya bahkan hampir lupa dengan kebutuhan anak dalam kandungannya.


'


'


'


Setelah melakukan sedikit konfirmasi di perusahaan. Kris berencana kembali ke lokasi kecelakaan menemui Edward.


"Kris!" Panggil seorang wanita saat dirinya hendak memasuki mobil.


"Helen?!" Sahut Kris melihat Helen berjalan menghampiri dengan sedikit terburu - buru.


"Apa kamu ingin ke lokasi?" Tanyanya dan Kris pun mengangguk.


"Aku ikut!" Ucap Helen dan Kris pun tidak menolak.


'


Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, mereka pun tiba di lokasi. Kris dan Helen menghampiri Edward dan beberapa bawahan Arlan.


"Bagaimana?" Tanya Helen dengan raut khawatir.


"Mobil sudah di angkat!" Balas Edward.


"Arlan?" Kembali Helen bertanya dan Edward hanya menggeleng dengan raut sendu bahkan wajahnya masih setengah cemong dan baju yang dikenakan masih sama.


Helen hanya menutup mulut. Tenggorokannya tercekat, walau bagaimanapun Arlan selalu bersikap baik kepadanya dan saat ini Aluna sedang mengandung anaknya.


"Apa nyonya Aluna mengetahui ini?" Tanya Kris.


"Kurasa belum, dia belum menghubungi ku sejak kemarin!" Balas Helen.


"Semoga saja!" Balas Kris dan Helen pun mengangguk.


Mereka khawatir jika Aluna mengetahui akan mempengaruhi kesehatan bayinya. Meski sebenarnya saat ini Aluna sudah dalam keadaaan tidak baik - baik saja.


_VILLA_


"Nindia? Nindia?" Teriak Rama saat memasuki ruang tengah.


Sontak Nindia menghampirinya, "Mas ada apa?" Tanya khawatir melihat lengan Rama mengalirkan darah dan wajahnya lebam bahkan juga penampilannya yang lusuh.


"Rama, kamu kenapa?" Tanya ibu Nindia.


Oh yah, saat ibu Nindia di usir dari apartemen, ia menghubungi Nindia dan memberitahukan semuanya hingga Rama memerintahkan anak buahnya untuk menjemput dan membawanya ke villa.


Rama mencengkram kuat lengan Nindia. "Siapa orang yang kamu sewa untuk menabrak Aluna?" Tanya Rama dingin.


"M,,mas" Lirih Nindia bergetar.


"JAWAB AKU!" Lanjut Rama membuat Nindia semakin ketakutan sampai memejamkan mata merasakan aura Rama yang penuh penekanan.


Begitu juga dengan ibu Nindia yang bergetar, "Ra,, Rama tolong lepaskan Nindia, dia sedang mengandung anakmu!" Ucap ibu Nindia.


"Kalau begitu jawab aku Bu!" Balas Rama menatap tajam ibu Nindia.


"K,,kami tidak tahu. Kami hanya mendengar informasi kalau ada seorang pembunuh bayaran yang merupakan ang,, anggota gangster berbahaya." Ucapnya terbata membuat Rama mengerutkan dahi.


"Dan,, saat sebelum kecelakaan Aluna, orang itu membawa temannya yang sedikit misterius, tapi memiliki sebuah tata berbentuk bintang di lehernya!" Lanjutnya membuat Rama seketika membulatkan mata.


"Akh!" Ringis Nindia saat Rama melepaskan cengkeramannya dengan kasar.


Rama menatap Nindia dan ibunya dengan tajam. Karena ternyata orang yang diam - diam mereka bayar itu merupakan salah satu kawanan gangster Rama. Dan, laki - laki bertato itu sebenarnya bisa dibilang bertindak sebagai backi-ngan Rama.


"BODOH, KALIAN BODOH!!"


Ucap Rama dengan marah sambil menunjuk Nindia dan ibunya bergantian. Namun secara tidak sengaja Nindia dan ibunya melihat tato berbentuk bintang di lehernya itu.


Nindia membulatkan mata, "M,,mas jangan bilang,,,?" Ucap Nindia bergetar.


Sontak Rama memicingkan mata dan menyadari jika Arlan tadi menarik kulit palsu yang selama ini ia kenakan untuk menutupi tatonya.


"MAS, JAWAB AKU!! APA KAMU JUGA ANGGOTA GANGSTER ITU?!"


Tanya Nindia yang juga ikut memanas, pasalnya selama ini ia tidak pernah mengetahui tentang Rama dan gangster itu.


"Kalau ia kenapa? Balas Rama dingin.


"Akh!" Nindia meringis saat Rama kembali mencengkram lengannya.


"KALAU IA KENAPA? APA KAMU MENYESAL SEKARANG HAH??" Bentak Rama membuat Nindia perlahan menetes air mata dalam emosi dan ketakutannya.


"Rama Nindia sudah, ini bukan saatnya kalian bertengkar! Sekarang kita harus memikirkan cara bagaimana agar ini tidak diketahui oleh siapapun!"


Rama pun perlahan melepaskan cengkraman nya. Keduanya terdiam sejenak memikirkan perkataan ibu Nindia.


'


Saat ini pun Nindia membalut luka Rama. Meski keduanya tidak saling bicara, namun apa gunanya saling bertengkar semua sudah terjadi dan sekarang mereka memiliki tujuan yang sama.


Bersambung,,,