IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
66. Nathan & Nala



Di dalam ruangan yang dingin itu, Aluna kembali terbaring dalam pengaruh bius. Perjuangan untuk melahirkan secara caesar telah di mulai.  


Untuk kesekian kalinya Arlan kembali gelisah menantikan kabar baik dari dokter. Ia mondar mandir seraya memanjatkan do'a.


Selama beberapa saat dokter melakukan tindakan proses persalinan, bayi pertama telah lahir berjenis kelamin perempuan dengan berat 2400 gram dan bayi kedua berjenis kelamin laki-laki dengan berat 2300 gram. Meski beratnya kurang 2500 gram, tapi mereka sehat dan pada umumnya bayi kembar akan lahir dengan berat rendah.


'


"Dokter bagaimana persalinannya?"


"Persalinannya lancar, bayi pertama anda berjenis kelamin perempuan dan kedua laki-laki." Dokter Citra mengulas senyum.


Sontak Arlan tersenyum haru dengan mata berkaca-kaca. Senyuman haru dari keluarga Wijaya telah terpancar saat itu juga, nyonya Wijaya bahkan menitihkan air mata bahagia dan saat itu juga ia telah berjanji untuk tidak melakukan hal bodoh lagi.


'


2 hari telah berlalu, Aluna berada diruang nifas VIV tak hentinya mengulas senyum saat bidan membawa kedua bayinya kepadanya. Karena kedua bayinya sehat, jadi dokter memutuskan untuk memberikan kepada Aluna tanpa harus dirawat di inkubator lagi.


Arlan pun tidak hentinya memandangi kedua malaikatnya yang tertidur pulas itu. Keduanya kembali tersenyum haru, akhirnya setelah melewati segala rintangan dan cobaan juga penantian selama hampir 6 tahun, akhirnya mereka bertemu di dunia.


Tuan Wijaya bersama nyonya Wijaya yang datang untuk menjenguk dan melihat cucu mereka pun ikut terharu. Kini mereka memiliki penerus. Helen dan Edward pun datang menjenguk mereka.


"Wah selamat ya Aluna kamu sudah jadi ibu!" 


"Terima kasih Helen!" Keduanya saling berpelukan.


"Aluna terima kasih kamu telah melahirkan cucu kami. Sekali lagi ibu minta maaf karena kebodohan ibu selama ini!" 


Aluna mengulas senyum seraya mengangguk kecil, lalu melirik tuan Wijaya yang terlihat berlinang.


"Papa Wijaya, kamari dan lihat cucu anda!" 


Tuan Wijaya pun melangkah mendekati boks bayi, ia menatap seksama wajah kedu cucunya bergantian. Tatapannya hangat, seperti tatapan sayang seorang ayah kepada putra putrinya. Dan Aluna selalu merasakan hal itu dari tuan Wijaya membuat hatinya terasa tenang juga menghangat.


Sedangkan Arlan, tak sedikitpun ia mengalihkan pandangannya dari kedua malaikat kecilnya itu. Dulu ia selalu merasa bahagia dan mendambakan jika hari kelahiran malaikatnya itu tiba. Namun, siapa sangka ternyata perasaan itu jauh lebih bahagia dari bayangannya sampai tidak mampu ia ungkapkan dalam kata, hanya tatapan dan senyuman yang tidak pernah terlepas darinya yang mampu menjelaskan.


"Boleh kuberi nama?"


"Tentu saja!" Kembali Aluna mengulas senyum.


"Kakek beri nama kalian Nathan dan Nala, yang artinya hadia dari Tuhan! Kalian adalah hadia terbesar untuk di keluarga Wijaya."


Perlahan nyonya Wijaya mendekat melihat cucunya, ia kembali meneteskan air mata haru. Sangat tidak menyangka hari sebahagia itu akan ada di kehidupan-nya. Terlebih ia diberikan sepasang cucu sekaligus.


Kehadiran Nathan dan Nala memang merupakan sebuah kado terindah yang tak ternilai untuk mereka semua. 


'


'


'


1 bulan telah berlalu,,,


Selain Aluna yang masih cuti bersalin, yang lainnya telah kembali menjalani aktivitas mereka sehari - hari dengan lancar. Kebahagiaan telah menghampiri mereka sehingga dapat menjalani hari - hari dengan tenang.


Pagi itu sang mentari kembali memancarkan sinarnya menghiasi seluruh sudut kota. Udara pagi sangat segar.


Aluna duduk di ruang tengah rumahnya di temani kedua bayinya. Tak hentinya mengulas senyum bahagia.


"Tok.  Tok."


Suara ketukan dari balik pintu menyandarkan perlahan mengangkat pandangannya, lalu kembali tersenyum melihat sosok yang berjalan menghampirinya.


"Hey!" Sapanya.


"Bagaimana kabarnya menjadi ibu Selma 1 bulan ini?" Leo meletakkan bingkisan di atas meja.


"Duduklah, aku akan menceritakannya!" 


Leo pun duduk di sofa seraya memandangi kedua bayi menggemaskan itu.


"Bibi, tolong buatkan minum yah!" 


"Siap non!" Bi Inem berjalan menuju dapur.


"Coba ceritakan pengalamanmu!"


"Baiklah, pertama - Tama aku bahagia bahkan sangat bahagia." Keduanya mengulas senyum.


"Kamu tahu, tidurku sedikit tidak nyenyak, karena aku selalu memikirkannya. Aku takut jika saat aku tertidur pulas aku tidak bisa mendengar tangisannya, jika ia lapar atau popoknya basah."


"Wah hebat!" Leo mengacungkan jempol.


"Walau memang sedikit agak berat karena ini pengalaman pertamaku, tapi Aku juga sedikit - sedikit sudah bisa memandikannya sendiri, yah tentu dalam pengawasan bi Inem heheh. Aku juga rutin menggantikan pakaian juga popoknya.  Aku juga rutin memberikan ASI seperti perkataanmu!" 


Leo tersenyum mendengarkan celoteh temannya itu. Sedangkan Aluna ia bercerita dengan begitu semangatnya. Keduanya berbicara seraya tertawa, dan Leo selalu memberi beberapa informasi mengenai perawatan bayi baru lahir kepadanya.


'


'


_PT. PERKASA WIJAYA_


Hari itu Arlan baru saja selesai memimpin rapat, proyek FAMILY RESIDENCE telah resmi selesai bahkan sudah dihuni. Kawasan elit dengan harga unit yang terjangkau bertema keluarga itu, dibangun dengan tujuan membantu para konsumen baik dari segi biaya, waktu untuk berkumpul dengan keluarga, meminimalisir polusi akibat penggunaan bahan bakar berlebihan, juga menjadikan para pekerja kantoran untuk tetap disiplin kehadiran karena mereka tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh untuk ke tempat kerja.


Kesusksesan itu telah membuat PT. PERKASA WIJAYA semakin dikenal dengan keramahannya dalam bidang kerja. Namun tidak membuat Arlan beserta yang lainnya berbesar kepala, justru mereka akan semakin bersemangat dalam menciptakan terobosan - terobosan baru yang bermanfaat untuk bangsa juga negaranya.


"Yuni, aku ada urusan jika ada sesuatu beritahu pak Edward!"


"Baik pak!"


"Kris, kamu tidak perlu mengikuti ku kamu bisa tinggal di sini dan beritahu jika ada sesuatu mendesak!"


"Baik pak!"


'


'


'


'


"Aku harus kembali!" Leo melirik jam tangannya.


"Hati - hati, terima kasih kunjungannya!"


Tak lama setelah Leo pergi, mobil sport biru milik Arlan pun telah tiba. Arlan terlihat menenteng bingkisan dikedua tangannya. Dengan semangat memasuki halaman rumah berlantai 2 itu.


'


Aluna terdiam menatap bingkisan dari Arlan yang terletak di atas meja.


Arlan mengerutkan dahi, "Kenapa? Apa kamu tidak menyukainya? Atau masih kurang?" 


"Mas, mereka masih berumur 1 bulan bahkan belum duduk dan merangkak. Tapi mas setiap hari membawa mainan, bahkan sudah menumpuk!"


Arlan sontak menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "Maaf, aku tidak tahu harus membeli yang mana dan memilih yang seusianya, jadi aku hanya mengambil setiap yang kulihat!"


Aluna mengulas senyum, "Ya sudah, besok - besok tidak perlu membeli lagi, mas bisa membelikan mereka sesuai dengan yang diperlukan saja!"


"Baiklah. Lalu dimana kedua malaikatku?"


"Dia sedang tidur, kamu bisa masuk melihatnya tapi jangan berisik nanti dia bangun!"


"Ok. Ok."


Arlan memasuki kamar di lantai satu dengan langka pelan,. setelah melahirkan Aluna memilih tinggal dilantai satu.Binar bahagia kembali menghiasi wajahnya, ia sudah berjanji kepada Aluna untuk tidak berisik dan membangunkannya, tapi setelah melihat wajah menggemaskan keduanya yang tertidur pulas itu, Arlan tidak bisa menahan untuk tidak menyentuhnya.


Arlan menyentuh pipi mereka bergantian membuat keduanya menggeliat merasakan sentuhan itu. Sontak Arlan mengulas senyum.


"Mas,," Bisik Aluna berdiri di ambang pintu.


Namun Arlan hanya berhenti sejenak, setelah beberapa saat ia kembali menyentuh keduanya bermaksud bermain dengannya dan,,,


"Hoek.. Hoek.. Hoek.." Nala, Putri pertama Arlan mulai menangis membuat Aluna terkejut.


"HOEK.. HOEK.. HOEK.." Tak lama kemudian Nathan sang putra juga ikut menangis saat mendengar tangisan saudari perempuannya bahkan lebih keras.


"Mas Arlann!" Aluna mulai menggendong Nala. Namun Nathan juga menangis ia pun bingung harus menggendong yang mana dulu.


"Ini semua gara - gara mas Arlan, sudah di bilangin jangan dibangunin!"


"Tapi aku nggak bermaksud membangunkan!"


"HOEK.. HOEK.. HOEK.." Keduanya menangis semakin keras menghiasi seisi kamar.


Saat itu juga Arlan dan Aluna sibuk menenangkan keduanya yang seakan berlomba dalam tangisnya. Nathan di gendong oleh Aluna sedangkan Nala diberikan kepada Arlan, mereka memberikan ASI melalui dot yang sudah Aluna persiapkan jika dalam keadaaan darurat seperti saat itu. Bahkan keduanya tiba - tiba menjadi penyanyi dadakan demi menenangkan bayi mereka.


Setelah beberapa saat kedua bayi kembar mereka kembali tertidur pulas. Perlahan mereka meletakkan ke dalam baby box.


'


"Heheh" 


Keduanya terkekeh kecil saling melirik bahkan terlihat berkeringat, sebenarnya bukan rasa panas dan capek melainkan rasa panik mereka yang menjadikannya terasa lebih panas.


"Aku tidak menyangka menjadi orang tua ternyata sesibuk ini." Arlan kembali menatap kedua bayinya.


"Benar. Terkadang lelah tapi ketika melihatnya rasa lelah itu tergantikan rasa bahagia."


"Kamu pasti kesulitan." Arlan menatap dan yang ditatap hanya menggeleng kecil.


"Permisi pak kopinya!" 


"Terima kasih Bi, simpan di luar saja!"


Arlan mengikuti bi Inem ke ruangan tengah, selama beberapa saat ia menyeruput secangkir kopi. Setelah selesai ia melirik jam tangannya sudah semakin siang dan ia harus segera kembali ke kantor. Arlan kembali memasuki kamar untuk berpamitan namun,


Arlan terdiam sejenak memandangi Aluna yang tertidur di atas ranjang sedikit meringkuk sambil memegang dot si kembar. Perlahan ia melangkah mengambil selimut lalu menyelimuti. Ia menatap dalam wajah yang terlihat kelelahan itu, tangannya pun mulai membelai lembut kepala Aluna.


Bahkan mereka kini sudah memiliki anak, perasaannya untuk Aluna tidak berubah. Namun, pada kenyataannya mereka masih terpisah oleh jarak perpisahan, sedikit miris hanya bisa memandang dan tidak dapat menyentuh lebih jauh orang yang kita sayangi, sedang ia terlihat begitu dekat dengan kita.


'


9 bulan kemudian,,,


Hari demi hari telah berlalu, Arlan yang setiap harinya semakin sibuk dengan kerjaan tetap tidak ingin melewati momen berharga dengan kedua anaknya itu. Beruntung ada Edward yang membantunya dalam perusahaan, sehingga untuk urusan yang tidak terlalu mendesak bisa ia serahkan kepadanya dan membuatnya memiliki waktu untuk bertemu dengan anak - anaknya.


Hari itu, Aluna membawa Nathan dan Nala ke kediaman utama. Tuan Wijaya bersama nyonya Wijaya menyambutnya dengan senang hati.


"Wah cucu kakek datang!"


"Hehehe!" Kompak.


Tuan Wijaya mengendong cucunya satu persatu bergantian dengan nyonya Wijaya. Aluna memandangi wajah keriput itu yang terlihat bahagia bahkan jauh lebih sehat. Sementara Nathan dan Nala tertawa setiap mendengar kakeknya berceloteh bermain dengannya, hatinya menghangat melihat kebahagiaan kakek dan cucu itu.


"Aluna?"


"Bibi Meryam? Bagaimana kabar bibi?"


"Baik, kamu sendiri sehat?"


"Sehat bi, aku membawa Nathan dan Nala berkunjung!" Keduanya mengulas senyum.


Bibi Meryam memandangi tuan Wijaya, nyonya bersama Arlan yang sedang bermain dengan Nathan juga Nala. Ia mengulas senyum kecil, namun disaat bersamaan raut sendu juga menghiasi. Rindu? Tentu saja ia merasa rindu dengan keluarganya, dirinya sudah cukup lama kesepian saat tuan Redan dipenjara ditambah lagi dengan Rama yang ikut mendekam dibalik jeruji besi.


Bersambung...