IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
33. Gosip



_QUEEN JEWELRY GROUP_


Pagi itu Aluna kembali menjalani aktivitas sebagai desainer. Langkahnya ringan dalam balutan dress tunik lengan pendek berbahan sifon, motif bunga-bunga berwarna merah putih sangat pas untuknya yang berkulit putih, rautnya tenang dengan rambut berwarna hitam sedikit bergelombang, dipadukan dengan sepatu bersol datar jenis d' orsay flat berwarna merah.


Alun terus melanjutkan langkahnya yang ringan menuju ruangan, perlahan memelankan langkahnya dan berhenti saat melihat para staf yang ia lewati atau pun yang berpapasan dengannya. Mereka terlihat memandangi dirinya dengan sinis, lebih kejam saat berita foto pernikahan Arlan dan Nindia tersebar kala itu.


"Lihat wajahnya polos tapi tidak dengan kelakuannya!"


"Bener, perutnya bahkan sudah terlihat!"


"Aku nggak nyangka Bu Aluna yang pintar dan mahir dalam membuat desain, ternyata seperti itu!"


Para staf itu saling berbisik seraya menatap sinis kepadanya. Aluna pun melirik mereka secara bergantian merasa sedikit tertekan. Iapun seperti menyadari akan hal yang mungkin terjadi dan kembali menyeretnya hanya dengan melihat tingkah dan tatapan mereka.


Aluna kembali melanjutkan langkahnya walaupun hatinya mulai tidak tenang. Sampai pada saat dia berada di depan ruangannya. 3 karyawan wanita terlihat sedang fokus menatap layar ponsel lalu saling berbisik.


"Wajahnya cantik, tapi sayang tukang selingkuh!"


"Nggak nyangka banget yah!"


Alun merasa geram, akhirnya tanpa berpikir panjang ia merebut ponsel salah satu karyawan itu sontak membuatnya terkejut membulatkan mata.


Ketiga karyawan itu pun saling melirik dengan wajah tegang. Bahkan mulai saling sikut menyikut, merasa khawatir akan hal apa yang dilakukan Aluna kepada mereka.


Seketika tubuh Aluna bergetar memandangi fotonya bersama dengan Leo yang tersebar di staf kantornya. Dalam foto itu mereka terlihat akrab sedang tersenyum satu sama lain saat di rumah sakit. Sekilas dari foto itu terlihat normal, namun caption nya yang sangat tidak masuk akal.


Tertulis kalau mereka sedang menjalin hubungan, dan mengisukan penyebab perceraian mereka karena pihak ketiga dalam foto itu.


"Siapa yang mengirimkan ini?" Tanya Aluna seraya mengangkat ponsel, sontak membuat pemiliknya bergetar.


"Sa,, saya tidak tahu Bu! Foto itu saya ambil dari staf lain!" Balasnya terbata - bata.


Aluna mengerutkan dahi, "Staff lain?"


"Iya Bu, kami tidak tahu dengan pasti siapa yang mengirimkan, foto itu tiba - tiba sudah tersebar tanpa ada yang mengetahui sumbernya." Balas karyawan lain.


Foto itu merupakan foto yang diambil oleh Nindia saat di rumah sakit. Ia sengaja membayar salah satu staf untuk mengirimkan ke kontak karyawan dengan menggunakan nomor private.


Aluna pun mengembalikan ponsel itu, ketiga karyawan itu pun sedikit menunduk memundurkan langkahnya.


'


"Prok."


'


"Prok."


'


"Prok."


'


Suara tepukan yang terdengar perlahan tiba - tiba muncul dari belakang. Aluna berbalik menatap 2 karyawan wanita yang juga merupakan desainer di QUEEN JEWELRY GROUP.


"Ngakunya tidak bisa punya anak, tapi lihat sekarang perutnya sudah membesar!" Sahut Lauren yang merupakan rival Aluna.


Sebenarnya, hanya Lauren saja yang menganggapnya rival karena Aluna sendiri selalu bersikap baik kepadanya dan tidak pernah merasa bersaing dalam berkarier.


Penyataan Lauren sontak membuat beberapa karyawan yang berjalan disekitar mereka menghentikan langkahnya, perlahan karyawan itu mendekat merasa tertarik akan tonton itu.


Saat ini ada sekitar 10 orang karyawan yang mengelilingi Aluna, sontak membuatnya semakin bergetar bahkan kedua matanya mulai memerah.


"Pantas saja dia diceraikan, dia tukang selingkuh dan kemungkinan besar anak dalam kandungannya itu bukan anak pak Arlan!" Lanjut Lauren semakin menaikkan volume suaranya.


Sontak membuat karyawan yang berkerumun membulatkan mata bahkan beberapa sampai menutup mulut saking syoknya.


Aluna perlahan memegangi perutnya yang memang sudah semakin terlihat, matanya bergetar melirik para karyawan yang mengelilinginya dengan tatapan sinis.


"Nggak nyangka banget sama wajah polosnya!"


"Pantas pak Arlan memilih menikah dengan wanita lain!"


"Wanita seperti ini pantas diceraikan, aku jadi kasian sama calon anaknya. Jangan sampai dia seperti ibunya!"


Aluna merasa kedua kakinya terasa lemas, tenggorokannya tercekat. Dengan susah paya ia menelan saliva. Seketika ruangan itu terasa sempit menghimpit tubuh kecilnya, dirinya hanya mampu berdiri di tengah lingkaran orang - orang yang menatap sinis dan menghakiminya.


"Cukup Lauren!" Sahut Helen dengan lantang seraya berjalan mendekati Aluna yang sudah menitihkan air mata dalam tubuh bergetar.


Lauren mengerutkan dahi, "Owh wanita bar - bar sok jadi pahlawan, sangat cocok untuk tukang selingkuh!" Balas Lauren memandang remeh kepada Aluna juga Helen.


"Dengar Lauren! Sekali lagi kamu mempermainkan Aluna dan menuduhnya dengan hal yang tidak berdasar akan kupastikan kedua kakimu itu patah!" Ucap Helen yang berdiri di depan Aluna, tatapannya tajam melihat Lauren.


"Uuuww,, takut!" Balasnya seraya menutup mulut mengejek, "Kamu takut nggak?" Lanjut Lauren melirik temannya yang juga merupakan desainer itu.


"Nggak!" Balas temannya singkat menantang.


"Hehehe!" Keduanya terkekeh mengejek semakin membuat Helen terbakar. Sementara para karyawan yang berkerumun terlihat sedang menyimak.


"Kenapa berhenti? Coba aja tampar!" Pancing Lauren.


Namun Helen menggertakkan rahangnya, perlahan menurunkan tangannya. Ia sadar jika ada banyak karyawan yang melihat juga beberapa cctv terpasang disudut ruangan. Jika dia terlalu arogan makan tetap saja dirinya dan Aluna akan terlihat salah saat ini. Posisi mereka sedang tidak menguntungkan sehingga Helen berbesar hati menekan emosinya.


Helen pun menarik Aluna ke dalam ruangan mereka, meninggalkan kerumunan itu.


'


'


'


"Haa,,hahahah!" Nindia yang duduk bersantai di sofa dalam kamar, terkekeh puas saat memandangi layar ponselnya. Dia sangat puas melihat video dari Lauren memperlihatkan wajah malang Aluna yang menanggung malu.


"Ini belum seberapa!" Gumamnya seraya memasukkan buah anggur merah ke dalam mulutnya.


'


'


'


"Hiks.! Hiks.! Hiks.!" Aluna terisak dalam pelukan Helen. Hatinya terasa sesak.


Belum cukup kemarin ia harus bercerai karena sulit mendapatkan keturunan. Bahkan luka perceraiannya belum memudar, kini ia harus di tuduh selingkuh dan hamil anak orang lain.


"Aluna, kamu yang sabar yah!" Sahut Helen menepuk kecil bahu Aluna.


"Tapi kenapa mereka tega melakukan ini, hiks. hiks. hiks." Aluna terus mengalirkan buliran jernih dalam pelukan sahabatnya.


"Sekarang kamu tenang yah! Aku yakin ada yang sengaja melakukan ini!" Balas Helen menenangkan.


'


'


'


Setelah menangis selama beberapa saat dan merasa tenang, Aluna pun melepas pelukannya, lalu perlahan menyeka wajahnya yang sedikit pucat.


"Minum dulu!" Sahut Helen menyodorkan air mineral.


Perlahan Aluna meneguk kecil, tenggorokannya yang terasa kering sedikit lebih legah.


"Menurut mu siapa yang sudah tega melakukan ini?" Tanya Helen menatap sahabatnya yang terlihat termenung.


"Aku tidak tahu pasti. Tapi,," Aluna menghentikan perkataanya tiba - tiba mengingat Nindia yang baru saja mengetahui kehamilannya.


Helen mengerutkan dahi melihat Aluna yang terlihat sedang berpikir. "Ada apa Lun?"


"Helen!! Nindia,, Nindia sudah mengetahui kehamilanku. Kami tidak sengaja bertemu saat kelas!" Balas Aluna menatap Helen.


Sontak Helen membulatkan mata. "Nindia tahu semuanya?" Tanyanya dengan nada terkejut dan Aluna pun mengangguk.


"Dasar Wanita ular! Aku yakin hanya dia tidak suka dengan kehamilanmu ini! Aluna dengar, mulai saat ini kamu harus lebih hati - hati!" Lanjutnya memperingati sahabatnya.


Saat itu juga dada Aluna kembali berdebar. Nindia memang sangat licik dan tidak menutup kemungkinan semua ini adalah ulahnya dan akan terus membuatnya dalam masalah. Ada rasa takut juga khawatir menyelimuti, tapi demi anak - anaknya dia harus kuat.


Aluna mengelus kecil perutnya, "Anak - anaknya mommy, kamu tidak perlu takut yah! Maaf telah membuatmu khawatir!" Batinnya memandangi perutnya itu dengan mata memerah.


Helen pun sedikit mengerutkan wajahnya, merasa kasihan melihat calon ibu yang tak memiliki suami di depannya, terlihat malang.


'


'


'


2 Hari telah berlalu, Aluna masih melakukan rutinitasnya sebagai desainer. Ia memilih menutup mata dan telinganya ditengah lingkaran orang - orang yang terus menggosipkan dirinya di perusahaan.


Meski hangat - hangatnya gosip itu, beruntung tidak menyebar luas ke luar perusahaan tempatnya bekerja. Jika tidak, makan akan menyebabkan masalah yang lebih besar.


"Masih nggak nyangka yah?"


"Iya, yah semoga aja sih itu nggak benar!"


"Aku juga perihatin deh, diakan lagi hamil!"


"Tapi buktinya sudah ada!"


"Iya juga sih!"


Aluna dapat mendengar jelas bisikan para karyawan itu. Terdengar kontroversi, ada yang masih belum percaya sepenuhnya, sebagian lagi meyakini kebenarannya, dan sisanya hanya berasumsi berdasarkan foto yang mereka lihat.


Aluna mengatupkan gigi lalu menegakkan langkahnya memasuki ruangan. Meski terdengar tidak adil, namun tidak ada gunanya meladeni mereka. Aluna memilih menelan rasa pahitnya itu.


Bersambung,,,