IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
55. Bergabung di Perusahaan



Assalamualaikum!


Halo,, teruntuk semua para reader yang masih setia dan yang sempat mampir, mohon maaf jika upnya sedikit tertunda akhir - akhir ini, karena author sibuk dengan kerjaan di dunia nyata, jadi dunia halu-nya sedikit tertunda. 🙏


'


Sebelum menemui Helen, Aluna bersama Leo bertemu dengan Kris di parkiran. Lalu mereka duduk di taman rumah sakit.


"Dari mana nyonya mendapatkan foto ini? Bukannya ini mobil lama tuan Wijaya pertama?"


"Benar. Leo yang memberikan dan wanita yang berdiri di samping mobil itu Nindia, aku yakin orang di dalamnya pasti Rama!"


"Waktu itu aku tidak sengaja melihat mereka di hotel, aku berencana memberitahu pak Arlan, tapi saat aku datang ke perusahaan dia tidak ada. Sedangkan Aluna sibuk dengan persiapan untuk menghadiri pameran di Paris." Jelas Leo.


"Aku juga sibuk di rumah sakit hingga lupa untuk menghubungi pak Arlan kembali. Jadi aku memutuskan untuk memberitahu setelah pulang dari Paris, tapi tidak disangka kejadiannya seperti ini!"


"Tidak papa, malam itu pak Arlan sudah memergoki mereka." Balas Kris menatap keduanya.


"Lalu apa rencana nyonya?"


"Penuhi keinginan papa Wijaya dan dampingi Edward untuk bergabung di perusahaan!"


"Tentu. Lalu apa yang akan kita lakukan dengan foto ini?"


"Aku yakin kamu juga akan berpikir sama. Aku tidak peduli kamu melakukan cara apa yang jelas aku tidak ingin dia tenang!" Balas Aluna dan Kris pun mengangguk.


'


'


'


_PT. PERKASA WIJAYA_


Waktu terus berlalu, tanpa terasa 2 minggu pun telah berlalu. Arlan belum kembali, tuan Wijaya masih terbaring lemah, Rama masih menikmati posisinya sebagai CEO.


Para dewan kembali berkumpul di ruang rapat, dan kali ini pemimpin mereka bukan lagi Arlan tapi Rama. Para dewan terlihat tenang, sedangkan Rama sendiri terlihat jelas rautnya yang memancarkan aura kebahagiaan.


"Terima kasih kepada para dewan, hari ini kita akan kembali melakukan ra,,,"


Ucapan Rama terhenti saat mendengarkan suara langkah kaki menggema menuju ruangan.


"Tak."


'


"Tak."


'


"Tak."


Rama cukup terlonjak melihat sosok yang berdiri di ambang pintu ruangan, begitu juga dengan para dewan.


"Ibu Aluna?" Sahut salah satu dewan.


"Selamat pagi semuanya, mohon maaf jika kehadiran saya tiba - tiba dan mengejutkan kalian!" Mengulas senyum.


Para dewan itu saling melirik mencoba menebak maksud kedatangan mantan istri CEO lama. Sementara Rama memicingkan mata dan rautnya sedikit menegang. Nalurinya berkata jika kedatangan Aluna bukanlah sebuah hoki untuknya.


"Maaf, kalau boleh tahu ada keperluan apa ibu datang ke perusahaan setelah sekian lama?"


"Apa ini masalah pak Arlan?" Lanjut yang lain.


"Atau mungkin ibu akan bergabung di perusahaan?"


Aluna kembali mengulas senyum. "Bukan saya yang akan bergabung, tapi ada yang lebih berhak!"


Para dewan kembali saling melirik mencoba menebak siapa yang dimaksud, tentu saja membuat Rama semakin terlonjak saat melihat sosok Edward yang memasuki ruangan di dampingi oleh Kris.


"Pak Edward." Ucap salah satu dewan.


"Apa? Apa benar dia pak Edward?" Bisik yang lain.


Dalam ruangan itu hanya beberapa orang yang mengenal Edward. Membuat yang lainnya hanya menyimak tanpa berkomentar.


"Betul dia adalah pak Edward, cucu sah dari keluarga Wijaya. Hari ini saya datang untuk mengantarnya bergabung di Perusahaan!" Aluna melirik Rama.


"Apa ada yang keberatan? Pak Rama, sepertinya anda sedikit pucat. Apa anda tidak setuju dan akan menolak saudara sendiri di depan para dewan?"


Rama menarik rautnya yang mulai masam menggantikan senyum kecil yang terpaksa.


"Ah, bukan begitu. Saya hanya terkejut karena Edward tiba - tiba ingin bergabung."


"Tidak perlu se kaget itu! Pak Edward datang bukan untuk menjadi CEO."


Rama menelan saliva menenangkan diri, ucapan Aluna terlalu belak - belakan.


"Heheh,, sepertinya anda suka bercanda. Tentu saja aku sangat senang jika akhirnya saudaraku ikut membantu kami!" Mengulas senyum, menatap Aluna dan Edward bergantian.


"Wah perusahaan akan lebih maju jika para pewaris bergabung untuk membantu perusahaan."


"Tentu."


Para dewan pun tidak melakukan penolakan dan hari itu juga Edward resmi bergabung dalam perusahaan.


'


Kini Aluna meninggalkan ruangan rapat usai mengantar Edward. Langkahnya terhenti saat melewati ruangan CEO, setelah sekian lama ia baru menginjakkan kakinya lagi di perusahaan. Sulit dipercaya jika Arlan telah tiada.


"Nyonya tidak papakan?"


"Aku tidak papa. Kamu tidak perlu mengantarku Kris, cukup dampingi Edward saja!"


"Baik."


Kris menatap punggung Aluna yang berlalu, lalu menatap pintu ruangan Arlan. "Kami akan melakukannya dengan baik!" Batinnya.


'


'


'


"Yuni, apa barang - barang pak Arlan masih ada di dalam?"


Bukannya menjawab, tapi Yuni tertegun memandangi wajah tampan di depannya saat Edward menghampiri.


"E'hem!"


"Akh, ti,, tidak pak. Barang pak Arlan sudah di pindahkan ke ruangan lain. Sekarang ruangan itu di penuhi barang milik pak Rama."


"Kalau begitu beritahu dimana ruangan itu!"


"Mari pak saya antar!"


Yuni sedikit gugup menyodorkan kunci. Sedangkan Edward sama sekali tidak memperhatikan wajah Yeni yang memerah menyerupai tomat.


Yuni memandangi punggung Edward dalam balutan jas dengan rambut di kuncir, sambil memegangi dadanya yang berdebar. Hari itupun para karyawan heboh dengan kehadiran sosok Edward yang tampan, namun kali ini ia datang bekerja dengan serius, sifatnya berubah cuek hampir sama dengan Arlan yang terkesan dingin.


Edward membuka pintu ruangan, sedangkan Kris berdiri di depan ruangan memainkan ponselnya, namun mata dan telinganya tidak tertuju kepada ponselnya, ia mengamati sekitar secara halus.


"Halo Calista, bagaimana liburannya di rumah nenek?"


"Owh yah? Wah seru sekali heheh!!"


Kris berpura-pura sedang vc dengan sang putri, padahal ia sedang mengaktifkan camera belakang ponselnya. Dan benar saja di sudut lorong ia dapat menangkap bayangan seseorang yang sedang mengintip, walau wajahnya tidak terlihat jelas namun ia dapat melihat warna bajunya yang kebetulan sedikit terlihat di samping dinding tembok tempatnya berlindung.


Sementara Edward mulai terlihat mencari sesuatu. Tidak perlu waktu lama ia langsung berjongkok di bawah meja kerja Arlan. Perlahan ia melepaskan kertas pos it yang sengaja Arlan tempelkan di bawa meja kerjanya. Kertas warna warni itu Edward masukkan ke dalam saku jasnya.


'


Di ruang CEO, Rama duduk di kursi putar miliknya, perlahan mengelus kecil dagunya mencoba berpikir mengapa Edward tiba - tiba ingin bergabung di perusahaan dan kenapa Aluna juga ikut mengantarkannya. Meskipun Edward lebih dekat dengan Arlan dibanding dengannya, tapi tetap saja Aluna saat ini orang luar.


Semakin memikirkan semakin membuat kepalanya pening. Untungnya Edward masih baru jadi ia tidak memiliki banyak pengalaman di dunia bisnis, tapi Kris? Ia sudah menyatu dengan Arlan, tentu saja ia mengetahui banyak informasi mengenai perusahaan dan bisa saja menjadi ancaman baginya kelak.


"Tok. Tok. Tok."


"Masuk!"


Rama kembali terlonjak melihat Edward di ambang pintu.


"Duduklah! Ada apa?"


"Em, aku ingin menempati ruang tempat penyimpanan barang kak Arlan."


Rama sedikit mengerutkan dahi, "Kamu yakin? Apa kamu tidak ingin ruangan yang lebih luas?"


"Tidak perlu, aku orang baru dan barang di sana sudah tersusun rapi. Jadi aku bisa menggunakannya sebagai tempat untuk belajar."


Rama berpikir sejenak, kalau dipikir - pikir dengan berada di ruangan itu yang berjauhan dengan ruang CEO, maka Rama tidak terlalu khawatir dengan keberadaan Edward jika ia sedang mengerjakan tugasnya.


Sebaliknya, Edward sengaja meminta ruangan itu agar ia dan Kris bisa bekerja tanpa gangguan para komplotan Rama yang lalu lalang di dalam gedung.


"Baik."


"Terima kasih!"


"E, Edward?" Panggilannya saat Edward berbalik.


"Iya!" Kembali menatap Rama.


"Boleh aku tahu, kenapa kamu tiba - tiba ingin bergabung di perusahaan?"


"Owh itu, ak-u hanya tidak ingin membuat kak Arlan dan paman Wijaya bersedih, karena selama ini aku selalu menolak keinginan mereka!" Lirihnya dengan tatapan sendu.


" Aku hanya tidak ingin menyesal jika suatu saat mereka benar - benar meninggalkanku. Kalian tahu sendiri kan aku sama sekali tidak mengerti tentang dunia bisnis, menurutmu dengan usiaku yang sekarang apa mungkin aku masih mampu belajar sedangkan dalam otakku hanya pekerjaanku yang berhubungan dengan dunia luar!" Jelasnya dan cukup masuk akal bagi Rama.


"Baiklah, kamu tidak perlu bekerja keras. Biar aku yang bekerja kamu hanya perlu memberikan dukungan saja!" Ucapnya mengulas senyum menatap raut sendu Edward.


Edward pun meninggalkan ruangan CEO, rautnya yang sendu berganti dengan tatapan binar namun tidak ada senyum yang tergambar. Tentu saja ia tidak ingin menampakkan setiap kebahagiaannya di depan mereka.


'


'


'


_QUEEN JEWELRY GROUP_


24 Jam telah berlalu, Aluna dan Helen kembali menjalankan rutinitasnya sebagai seorang desainer. Ia terlihat lebih baik bahkan anak-anak dalam kandungannya semakin aktif. Tentu menjadi semangat baru untuknya.


"Helen coba lihat ini!"


"Wah cantik sekali, aku yakin klien kita akan senang."


"Terima kasih Helen."


"Oh yah, Edward mengajak kita untuk makan siang bersama!"


"Edward?" Aluna mengangkat Alisnya mengulas senyum kecurigaan.


"Aluna,, ayolah ini tidak seperti yang kamu pikirkan."


"Ok. Ok. Kalau begitu ayo kita kesana!"


Tidak dipungkiri hubungan Edward dan Helen semakin adem, mereka terlihat layaknya orang dewasa yang saling menghormati setiap kali bertemu. Tidak ada kata ejekan, ucapan ketus dan perdebatan dari mulut keduanya lagi.


'


'


'


Siang itu mereka memilih sebuah restoran mewah yang berada di tengah kota. Edward sudah memesan ruang privat, jadi hanya mereka berempat yang berada di ruangan itu.


"Bagaimana hari keduamu di perusahaan?"


"Mhh lumayan, tapi aku belum mengenal banyak orang. Aku juga masih harus mempelajari sifat mereka lebih dalam."


Edward dan Aluna sedang berbincang mengenai perusahaan, sesekali Kris menambahkan sedangkan Helen terlihat tidak banyak bicara, namun pandangannya lebih banyak tertuju kepada Edward. Tidak dipungkiri, Edward mewarisi gen keluarga Wijaya dengan postur yang bagus juga tampan, dia cukup cerdas terlebih saat dirinya berbicara.


Mereka menghabiskan waktu makan siang di selingi pembicaraan serius juga beberapa candaan.


'


Masih di restoran yang sama, namun ruangan private yang berbeda. Nindia bersama beberapa temannya terlihat sedang menikmati makan siang.


"Wah kamu beruntung Nindia, sebentar lagi kamu akan menjadi istri CEO."


"Benar, aku jadi iri."


"Ah, kalian benar. Setelah pesta perayaan Perusahaan yang ke 35 tahun. Mas Rama berjanji akan mengumumkan hubungan kami." Mengulas senyum.


"Wah hebat, kapan pestanya?"


"2 Minggu lagi. Kalian harus datang!"


"Tentu saja."


"Hehehe!" Kompak terkekeh.


"Ting!"


Nindia membuka ponselnya saat notifikasi chat WhatsApp masuk. Sontak rautnya berubah pucat dan menegang.


Bersambung...