
_PT. PERKASA WIJAYA _
Esok hari,,, pagi itu Arlan kembali menjalani rutinitasnya sebagai seorang CEO, tapi suasana sedikit berbeda.
Saat Arlan memasuki area perusahaan, para media sudah menunggu untuk mendapatkan klarifikasi mengenai insiden proyek.
Saat itu Arlan mengenakan stelan jas berwarna navy dipadukan dasi senada. Wajah datar khasnya terpancar dan terlihat dingin saat Kris membuka pintu mobil untuknya.
Security dan beberapa bodyguard terlihat berjejer memberikan jalan, sekaligus memberi jarak dari para media yang sedari tadi bersiap meliput.
"Cekrek!"
"Cekrek!"
"Pak, bagaimana perkembangan kasus keruntuhan proyek bapak?
"Pak apa benar kualitas yang bapak gunakan tidak memenuhi standar?
Arlan berjalan menaiki tangga pintu utama dengan memancarkan aura dingin tanpa mengeluarkan sepatah katapun, membuat beberapa wartawan semakin menghujaninya pertanyaan.
"Cekrek!"
"Cekrek!"
"Pak bagaiman dengan pertanggung jawaban perusahaan terhadap korban?"
"Pak tolong berikan penjelasan!"
"Maaf, untuk saat ini kami belum bisa memberikan jawaban!" Balas Kris menghalau mereka.
"Pak,,? Pak,,?"
Arlan dan Kris di dampingi bodyguard itu berhasil melewati pintu utama tanpa insiden yang tidak diinginkan.
'
'
'
Diam - diam Rama yang berada di lobi perusahaan sedang mengamati mereka, wajahnya terlihat tenang menatap Arlan yang berjalan memasuki lift.
'
"Kris bagaimana dengan hasil pemeriksaan kemarin di lokasi?" Tanya Arlan serak saat berada di ruangannya.
"Dari penyidik menemukan beberapa bahan yang kita gunakan tidak memenuhi standar pak."
"Bagaiman ini bisa terjadi? Jelas - jelas kita sudah memilih bahan yang berkualitas!" Balas Arlan beranjak dari duduknya dengan gusar, sementara Kris hanya diam.
"Bagaimana dengan gudang penyimpanan bahan material? Apa mereka menemukan bahan yang sama?" Lanjutnya seraya menunjuk ke arah Kris.
"Sudah pak, mereka telah menggeledah semua bahan yang tersisa yang kita gunakan, dan menemukan bahannya yang tidak sesuai!" Balas Kris.
Arlan mengusap kasar wajahnya yang mulai menegang, kalau dari cerita Kris ia akan berada dalam masalah besar.
"Apa kamu sudah melihat CCTV lokasi gudang?" Tanyanya menatap Kris.
"Sudah pak. Tapi,, CCTV nya mati!" Lagi - lagi Kris memberikan jawaban yang tidak mengenakkan.
"BRENGSEK! PLAK!!"
Arlan memukul meja merasa geram, seperti merasakan didihan yang hampir melelehkan kepalanya. Tatapannya tajam memancarkan aura yang kuat mampu menekan ruangan sehingga Kris dapat merasakan hawa yang lebih dingin dan mencekam
'
Diam - diam ada seorang karyawan yang menguping pembicaraan mereka, yang tak lain adalah pak Harun. Salah satu dewan direksi. Beliau masih kerabat keluarga Wijaya yang merupakan paman Arlan, namun ia sepupu dari ayahnya.
'
Setengah jam kemudian,,
"Tok,, Tok,, Tok,,"
Suara ketukan dari balik pintu sontak membuat mereka menoleh, dan melihat Yuni yang berjalan memasuki ruangan.
"Ada apa?" Tanya Arlan serak dengan wajah datar yang dingin.
Yuni dapat merasakan hawa mencekam ruangan itu. "Maaf pak, dewan komisaris telah datang untuk melakukan rapat bersama dengan dewan direksi mengenai proyek FAMILY RESIDENCE!" Lirihnya sedikit menunduk ketakutan.
Arlan mengerutkan dahi, Belum cukup 24 jam peristiwa berlalu. Baru beberapa menit lalu dia menghindari para media yang terus meminta klarifikasi, bahkan pertanyaan mereka masih terngiang dibenaknya, belum lagi dengan laporan bukti yang tidak masuk akal dari Kris yang cukup membuatnya tertekan.
Sekarang bahkan dewan komisaris datang, entah apa hasil yang akan mereka dapatkan. Yang jelas Arlan merasa semuanya terjadi seperti sudah direncanakan.
"Antarkan mereka ke ruangan, dan minta karyawan untuk mengumpulkan semua dokumen dari awal pembangunan sampai dengan laporan yang sudah berjalan! Untuk antisipasi jika ada permintaan dokumen mendesak!" Serunya dengan serak.
"Baik Pak!" Dengan cepat Yuni meninggalkan ruangan untuk melaksanakan perintah dari Arlan.
Arlan duduk di kursi putar miliknya seraya merebahkan kepalanya ke belakang yang terasa berdenyut, otaknya terus berjalan memikirkan masalah proyek. Semuanya terlalu mendadak saat itu.
'
'
'
"Semua,, tolong persiapkan dokumen yang terkait dengan proyek FAMILY RESIDENCE,, ini perintah pak Arlan!" Seru Yuni menghampiri para karyawan yang sedang duduk menatap dengan layar komputer masing - masing.
Lalu Yuni melangkah dengan sedikit terburu - memasuki ruangan lain.
"Persiapkan ruangan rapat sekarang, akan di adakan rapat!" Serunya lagi mengejutkan karyawan yang terlihat sedang mengerjakan beberapa dokumen.
Pagi itu pun menjadi pagi yang tersibuk bagi karyawan dilantai 15 itu. Beberapa dia antara mereka terlihat mengeluarkan tumpukan bundel, ada yang sedang melakukan foto copy berkas, ada juga yang sementara mencocokkan berkas fisik dengan file yang ada di komputer dan beberapa lainnya membantu Yuni mempersiapkan ruang rapat.
'
'
'
Saat ini dewan komisaris beserta dewan direksi telah duduk di ruang rapat berdinding kaca yang luas itu. Aura para peserta rapat terlihat menegang dan serius, suasana menjadi hening juga lebih mencekam.
"Ceklek!"
"Tak!"
"Tak!"
"Tak!"
Suara langkah dari sang CEO menggema memenuhi seisi ruangan, saat ia memasuki ruangan. Wajahnya yang datar dalam balutan jas navy memancarkan aura tegas dan dingin semakin membuat suasana mencekam.
Sontak semua orang mengiringi langkahnya menuju ke kursi kepemimpinan yang sudah ia tempati selama beberapa tahun.
"Maaf pak, kami terpaksa mengadakan rapat. Para pemegang saham mulai resah dan terus mempertanyakan mengenai temuan penyidik di lokasi terkait proyek kita!" Ujar salah satu dewan.
Arlan hanya diam dengan wajah datarnya mendengar perkataan itu.
"Saat ini beberapa media telah memberitakan bahkan mempertanyakan kualitas dari perusahaan kita!"
"Beberapa kolega PT. PERKASA WIJAYA bahkan ragu dengan kita sekarang pak! Mereka berencana menarik investasi jika masalah ini tidak diselesaikan dengan cepat!"
"Saya minta maaf atas kejadian ini. Tapi saya jamin kualitas yang kita gunakan itu memenuhi standar. Dan semua laporan dari tim audit sudah sesuai dengan proyek yang berjalan!" Balasnya serak.
"Tapi kenyataan di lapangan tidak sesuai pak! Bahkan gudang sudah di periksa dan sisa bahan dan material tidak sesuai dengan dokumen yang ada pak!" Balas salah satu dewan.
"Saya mengerti. Tapi saya sudah memastikan sebelumnya dan semua bahan yang digunakan sudah sesuai! Saya yakin pasti ada yang sengaja menyabotase semua ini!" Balasnya melirik para peserta rapat bergantian mengamati wajah mereka.
"Tapi bagaimana bapak bisa membuktikannya? Sedangkan hasil penyidik sudah ada!" Balasnya dengan nada khawatir.
"Maaf pak! Bukannya saya lancang tapi jika hanya berdalih tidak ada gunanya. Para pemegang saham, investor, masyarakat, bahkan media hanya akan melihat yang ada. Dan apa yang mereka lihat itulah adanya!" Sahut pak Harun sedikit memancing.
Arlan mengerutkan dahi mendengar perkataannya, yang jika dipertimbangkan memang ada benarnya. Namu tetap saja ia meyakini kalau dirinya sedang dijebak.
'
'
'
"Halo,, dengan karyawan PT. PERKASA WIJAYA. Ada yang bisa kami bantu?"
"Maaf pak, kami belum bisa menjawabnya!"
"Halo,, ya pak. Mohon maaf saat ini belum ada keputusan rapat, jadi kami belum bisa memberikan jawaban klarifikasi!"
"Yaa Bu,, mohon maaf belum dipastikan berita itu benar. Jadi tolong jangan langsung memberitakannya!"
"Maaf pak. Sebelum ada konfirmasi langsung dari pihak kami tolong jangan langsung percaya berita - berita itu!"
Kurang lebih seperti itulah percakapan karyawan - karyawan itu saat mereka mendapatkan telepon dari beberapa wartawan, kolega bisnis juga beberapa masyarakat.
Mereka semua mempertanyakan mengenai kebenaran berita dan meminta konfirmasi secepatnya.
'
'
'
Kembali ke ruang rapat yang semakin menegang. Mereka terus menghujani Arlan pertanyaan yang membuatnya pening.
"Pak jika mereka menarik saham atau modal, kita rugi besar. Siapa yang harus bertanggung jawab dengan proyek yang sebesar itu. Bahkan kita sudah menghabiskan banyak modal!" Sahut salah satu dewan mulai memanas.
"Baik. Saya mohon kesabarannya, saya akan membuktikan kepada kalian kebenarannya!" Balasnya serak.
"Berapa lama pak? Berita ini terus bergulir bahkan keluarga para korban akan menuntut kita!" Balas yang lain dengan nada lebih tinggi.
"Pak mohon tenang! Kita disini mencari jalan keluar!" Balas Rama menenangkan. Sementara pak Harun terlihat melirik Arlan seraya tersenyum samar sehingga tidak ada yang menyadarinya.
"Baik! Saya akan mengklarifikasi masalah ini, saya akan mengurus para korban. Dan, saya akan mencari bukti dan membuktikan kepada kalian kalau ini semua sabotase! Balasnya serak namun penuh penekanan.
"Tapi berapa lama? Kami tidak bisa menunggu. Pemegang saham terus mendesak kami!"
"Lalu bagaimana jika bapak tidak bisa membuktikan? Otomatis mereka tidak lagi percaya dengan bapak dan akan meminta pemimpin baru!" Balas dewan itu dengan kesal.
Arlan memicingkan mata menatap laki - laki itu membatin. "Pemimpin baru?!" Adalah poin paling penting yang Arlan dapat dari rapat pagi itu. Ia kembali meneliti mimik wajah peserta yang ada. Sudah jelas ada yang berusaha me-lengsernya dari posisi CEO.
"Saya akan membuktikan dalam waktu 2 hari!" Balasnya dingin, namun rautnya sulit ditebak isi dari pemikirannya.
Rapat pun selesai. Arlan berjalan dengan langkah lebar keluar dari ruangan. Begitu juga dengan yang lain. Terkecuali Pak Harun dan Rama yang berdiri mengiringi punggung lebar dari Arlan. Keduanya saling melirik seraya menyunggingkan senyum licik.
Pak Harun diam - diam menyokong Rama untuk menjadi CEO. Tak cukup tuan Redan yang dipenjara, kini Rama meminta dukungan dari sepupu papanya. Tentu saja Rama telah menjanjikan pembagian saham yang lebih besar untuknya.
'
'
'
Siang itu Arlan kembali ke lokasi proyek di dampingi oleh Kris. Arlan mengenakan kaos oblong biasa dipadukan dengan jeans lengkap dengan topi juga maskernya. Begitu juga dengan Kris yang terlihat lebih santai dan menutup wajahnya.
Arlan berdiri memandangi garis polisi yang membentang mengelilingi proyek itu. Wajahnya sedikit pucat melihat tumpukan beton yang ambruk kemarin siang.
Saat itu lokasi sunyi karena pembangunan terpaksa dihentikan. Hanya ada beberapa pekerjaan yang terlihat sedang membersihkan puing - puing runtuhan.
Arlan Kris mendekati 2 laki - laki itu. "Pak maaf, apa bapak mengenal orang ini?" Tanya Kris seraya memperlihatkan foto.
Mereka pun memandangi layar ponsel secara bergantian, lalu menggeleng menatap Kris.
"Terima kasih pak!"
Bersambung,,,