IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
22. Makan Malam



Malam itu langit terlihat terang di hiasi jutaan bintang yang bersinar berpadu dengan cahaya lampu dan kendaraan, terlihat indah menghiasi seluruh kota.


Aluna sedang berjalan kecil menyusuri pinggir jalan raya, wajahnya terlihat lebih segar mengulas senyum kecil, sudah lama ia tidak berjalan menikmati hembusan angin malam.


Dalam balutan kemeja sepasang celana kain dipadukan outer blazer berbahan beludru, ia melanjutkan langkahnya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku blazer menghangatkan diri saat merasakan dinginnya angin malam menusuk.


Hembusan angin lebih kencang menerbangkan rambutnya yang terurai, Aluna terus berjalan sesekali melirik orang sekitar yang juga terlihat berjalan kaki, juga kendaraan yang lalu lalang. Malam itu ia berencana ke swalayan terdekat untuk membeli beberapa cemilan.


Tanpa ia sadari saat menikmati setiap langkahnya sambil sesekali menatap langit, sebuah mobil sport hitam melaju melewatinya. Di dalam mobil itu ada Arlan yang duduk dengan pandangan ke depan, dalam balutan stelan jas terlihat tampan meski rautnya datar.


Namun, baik Aluna maupun Arlan tidak ada yang menyadari momen itu sehingga terlihat seperti orang asing yang berlalu begitu saja. Jarak diantara mereka terlihat lebih besar dan mungkin akan semakin membesar seiring berjalannya waktu.


'


'


'


"Selamat datang tuan dan nyonya!" Sambut laki - laki paru baya berambut putih itu yang tak lain kepala pelayan kediaman keluarga Wijaya, saat Arlan dan Nindia melangkah menaiki anak tangga pintu utama.


Arlan hanya mengangguk kecil tanpa suara menyapa kepala pelayan, sementara Nindia sendiri memasang badan dengan tatapan lurus ke depan.


"Tolong ambilkan bingkisan hadiah untuk nyonya besar di mobil!" Sahutnya tanpa melirik berlenggak masuk ke dalam ruang tengah yang luas itu.


Kepala pelayan itu sontak menunduk menerima perintah, lalu perlahan melirik Nindia yang terus berlenggak dengan hentakan heels menghiasi ruangan.


Kepala pelayan itu memicingkan mata, ia dapat merasakan aura dari Nindia yang glamor, terlihat angkuh serta lebih agresif. Sangat berbeda dengan Aluna yang terkesan tenang dan rendah hati.


"Selamat malam Ma, Pa, Rama dan juga Bibi!" Sahut Arlan saat berada di meja makan yang luas itu sambil menarik kursi.


"Malam Ma, dan semuanya!" Susul Nindia yang juga menyalami mereka mengulas senyum dengan wajah yang terlihat polos.


"Malam!" Kompak.


"Akhirnya menantu dan calon cucu mama datang!" Sahut nyonya Wijaya memeluk Nindia sementara Rama dan ibu hanya saling melirik.


"Nyonya ini hadiahnya!" Sahut kepala pelayan itu kepada Nindia.


"Aku bawain hadiah kecil untuk mama!" Ucap Nindia memberikan bingkisan itu sebagai bentuk pencitraannya, membuat tuan Wijaya memandangi seperti menaruh curiga kepadanya.


"Wah kamu memang dari dulu perhatian ke mama!" Balas Nyonya Wijaya mengelus kepala Nindia tanpa sadar membuat suami dan anaknya melirik sedikit mengerutkan dahi.


"Sini duduk, mama sudah menyiapkan semua hidangan mewah yang bergizi untukmu!" Lanjutnya memanjakan Nindia.


"Terima kasih ma!" Balas Nindia mengulas senyum.


"Nindia Kamu harus makan yang banyak, supaya bayi dalam perut kamu sehat!" Sahut bibi Meryam mengulas senyum.


"Terima kasih Bi!" Balasnya kembali mengulas senyum.


Nindia mulai mencicipi makanan yang di hidangkan untuknya, begitu juga dengan yang lain yang terlihat makan dengan lahap.


"Bagaimana kemajuan proyek kita Lan!" Tanya tuan Wijaya dengan suara berat.


"Sejauh ini lancar pa, pembangunan sudah sekitar 25%." Balas Arlan menghentikan makannya menatap tuan Wijaya.


"Hem bagus!" Mengangguk.


"Rama kamu harus tetap bekerja keras, agar bisa mendapatkan lebih banyak proyek lagi! Hehehe!" Lanjutnya menatap Rama sambil terkekeh.


"Terima kasih paman, Rama akan terus bekerja dengan baik!" Balasnya mengulas senyum begitu juga dengan bibi Meryam.


"Bagus, anak muda tidak boleh lemah dan mudah menyerah!" Ucap tuan Wijaya memotivasi mereka.


Semua terlihat mengangguk mengulas senyum mendengarkan ucapan tuan Wijaya, terkecuali Arlan yang hanya menatap dengan datar sesekali mengangguk kecil.


"Hoek,,!"


Tiba - tiba Nindia menutup mulutnya merasa sedikit mual.


"Kamu kenapa sayang? Mual?" Tanya nyonya Wijaya menggosok kecil punggung Nidia dan Nindia hanya mengangguk.


"Arlan antar Nindia ke toilet!" Seru nyonya Wijaya dan Arlan pun mengikuti tanpa suara langsung menuntun Nindia.


'


'


'


Disaat Nindia berada dalam perhatian keluarga Wijaya, lain halnya dengan Aluna yang kini sedang berdiri di depan toko kecil menatap penjual sosis bakar.


Aluna terus menatap binar sosis bakar itu, Aromanya yang wangi menusuk hidung, terlebih saat melihat penjual itu memberikan topping saos dan mayonaise yang lumer menggugah selera.


"G-LUK!" Tanpa sadar Aluna menelan salivanya masih menatap sosis yang menggiurkan lida.


'


'


'


Aluna perlahan mengangkat pandangannya menatap laki - laki dewasa yang cukup tampan mengulas senyum menawan kepadanya.


"Memangnya boleh?" Tanya Aluna dengan lirih.


"Tentu, sesekali kamu boleh memakannya dan ini termasuk kategori ngidam!"


"Ngidam?" Tanya Aluna sedikit mengerutkan dahi.


"Iya, saat kamu tiba - tiba ingin memakan sesuatu, itu termasuk ngidam! Jadi mungkin ke depannya kamu akan lebih sering makan dan menginginkan berbagai jenis makanan!" Jelas Leo tak lupa memancarkan senyuman menawan khasnya.


"Ambil ini dan makan!" Lanjutnya.


"Terima kasih!" Balasnya dengan tatapan binar mengulas senyum seperti anak kecil yang kegirangan mendapat mainan baru.


Terlihat manis dan menggemaskan sampai membuat Leo tersenyum lebar memperlihatkan barisan gigi depannya yang rapi.


'


'


'


"hoek,, hoek,, hoek,,"


Nindia mulai memuntahkan isi perutnya hingga membuatnya merasakan sakit bahkan tenggorokannya terasa pahit.


Rasanya sangat menyiksa setiap kali ia harus memuntahkan isi perutnya, beruntung karena dia masih ada Arlan yang selalu siap siaga menemaninya seperti saat ini.


"hoek,, hoek,,!" Arlan menggosok perlahan punggung Nindia sampai rasa mualnya mereda. Walau dirinya tidak mencintai Nindia, tapi Arlan tidak pernah mengeluh dan selalu menjaganya dengan baik sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai suami dan calon ayah.


'


'


'


"Bagaimana sayang kamu baik - baik ajakan?" Tanya nyonya Wijaya saat Arlan menuntun Nindia ke ruang tengah.


Nindia perlahan duduk di sofa, wajahnya terlihat sedikit pucat membuat nyonya Wijaya dan bibi Meryam memandang dengan mimik khawatir.


"Nindia apa kamu mau minum? bibi bawakan air hangat!" Tawar bibir Meryam seraya duduk di sampingnya.


"Terima kasih Bi!" Ucapnya meneguk kecil gelas yang diberikan oleh bibi Meryam.


Saat ini perhatian semua orang tertuju kepada Nindia. Semua keluarga Wijaya di rumah itu merasa khawatir dengan keadaan Nindia yang sedikit pucat. Namun tanpa mereka ketahui, kondisi Nindia cukup baik bahkan jauh lebih baik dibanding dengan kondisi yang di lalui Aluna.


'


'


'


Di sebuah taman mini sekitar kompleks, Leo yang duduk santai di kursi besi tidak hentinya mengulas senyum menatap binar Aluna yang duduk di sampingnya.


Aluna terus memakan sosis bakar yang berikan oleh Leo, dia terlihat menikmati setiap gigitan sosis goreng itu secara bergantian di tangan kanan dan kirinya.


"BURRRPP!!"


"Hehehe!" Leo terkekeh kecil saat Aluna tidak sengaja bersendawa.


Sontak Aluna memalingkan wajah, kedua alisnya mengkerut dan terlihat menutup mulutnya dengan kedua tangan. Terasa kikuk sampai kedua pipinya memerah menanggung malu. Entah seperti apa pandangan Leo terhadap dirinya? Yang jelas dia meyakini kalau dirinya saat ini jauh dari kesan anggun.


Akibat ulahnya suasana berubah hening dan terasa canggung selama beberapa saat. Tapi itu hanya untuk Aluna, Leo sendiri justru menanggapinya dengan santai.


'


'


'


"Kamu tidak perlu malu!" Sahut Leo memecah keheningan itu.


"M-aaf!" Lirihnya perlahan menegakkan kepala lalu mencoba menatap Leo yang juga menatapnya.


"Aku sudah sering melihat wanita yang sedang makan seperti sedang kelaparan!" Lanjut Leo sontak membuat Aluna membulatkan mata sedikit tidak enak hati alias tersinggung.


"Maaf,, maksudku aku sudah sering melihat ibu hamil yang ngidam memakan sesuatu dengan lahap! Itu wajar!" Jelasnya membalikkan suasana, saat menyadari dirinya mungkin salah memilih kata.


Aluna tersenyum kecut menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal semakin membuat Leo mengembangkan senyuman.


Meski sama - sama mengandung keturunan keluarga Wijaya, namun hidup yang di jalani Aluna sedikit miris. Dibandingkan Nindia yang selalu mendapat perhatian dan pengawasan sehingga dia tidak kekurangan apapun.


Sedangkan Aluna justru harus menyembunyikan kehamilannya dari keluarga Wijaya, menahan sakit seorang diri bahkan harus menjalani perawatan tanpa di dampingi oleh Arlan.


Belum lagi dengan pandangan orang sekitar ketika perutnya semakin membesar, yang kemungkinan besar menuai kontroversi dan harus kembali menguji mentalnya.


Bersambung,,,