
"Ting!"
Pintu lift terbuka, dengan cepat Arlan melangkahkan kaki jenjangnya, sosoknya yang membawa aura mencekam sontak membuat wanita yang diduga Aluna sebagai ART kliennya itu membulatkan mata. Wanita itu sengaja mengunci dan mengawasi keadaan dari luar.
Arlan mencoba membuka pintu, namun terkunci membuatnya semakin masam.
"CEPAT BUKA PINTUNYA!" Bentaknya, namun ART itu hanya hanya berdiri memucat.
Arlan mencengkram lengannya lalu menarik paksa wanita itu berdiri di depan pintu. Dalam keadaan bergetar wanita itu mulai memasukkan sandi apartemen.
'
"Hahahah. Sekarang kita menunggu waktu saja sampai dara dalam tubuhmu itu habis!" Suara tawa kemenangan menggema.
Tubuh Aluna bergetar, wajahnya dipenuhi buliran keringat dingin bahkan kedua bibirnya bergetar juga pucat dan,,,
'
"BRAK!"
Ibu Nindia membulatkan saat Arlan menendang pintu dengan keras.
"Ah,, ka,, kk,,,?" Tenggorokannya tercekat hingga tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kurang ajar!"
"PLAK!"
"PLAK!"
Arlan langsung memberikan tamparan kepada ibu Nindia tanpa ampun hingga membuatnya menjerit.
"Akh!"
Tubuhnya lemas dan bergetar setelah mendapatkan beberapa tamparan, kemudian Arlan mencekik lehernya. Perlahan dadanya terasa sesak saat merasakan pasokan O2 mulai menurun. Arlan terlalu marah sampai ia melewatkan keadaan Aluna yang masih mengalirkan darah.
"Akh!" Ringisnya saat merasakan perutnya sedikit kram.
Arlan melirik Aluna yang memucat memegangi perutnya. Bahkan pergelangan tangannya berdarah juga pandangannya sayu.
"Aluna! Aluna bangun!" Panik.
"Kak! Aluna!" Sahut Edward yang baru saja memasuki apartemen.
"Edward Aluna terluka aku harus membawanya ke rumah sakit. Kamu urus dia!"
Arlan menggendong Aluna yang sudah setengah sadar memasuki lift didampingi Kris. Aluna tidak dapat melihat dengan jelas wajah Arlan, tubuhnya semakin lemas.
'
"Ukhuk, ukhuk, hhhhh, hhhhhh,"
Edwar memandang tajam ibu Nindia yang bersandar di dinding mengatur napasnya yang tersengal. Kemudian mengikat kedua tangannya menggunakan tali. Sementara wanita suruhannya tadi sudah kabur entah kemana.
'
'
'
Kris mengemudi dengan kecepatan tinggi. Sementara dikelas tengah, Aluna terbaring lemah dipangkuan Arlan. Arlan membalut pergelangan tangan Aluna menggunakan sapu tangan untuk menghentikan perdarahan.
Ia terus menggenggam kuat tangan Aluna, wajahnya tidak kalah pucat dengan wajah Aluna bahkan ia bergetar.
"Bertahanlah! Kumohon bertahanlah!" Batinnya dengan mata memerah lalu mengelus kecil perut Aluna.
"Tes."
Buliran jernih menetes dari sudut matanya saat pertama kalinya memegangi perut Aluna dan berada lebih dekat dengannya. Hatinya sakit karena lagi - lagi Aluna mengalami rasa sakit. Jika terjadi sesuatu dengan Aluna juga anaknya, maka ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
"Kris tolong lebih cepat!" Serunya bergetar.
'
'
'
_RS HARAPAN IBU_
Aluna kembali terbaring di dalam ruangan tindakan. Dokter bersama timnya sedang melakukan pertolongan kepadanya. Beruntung Arlan membawanya dengan tepat waktu sehingga perdarahan bisa dihentikan dengan cepat, juga tidak memerlukan transfusi darah lagi.
Hanya sya karena ia hamil sehingga menyebabkan dirinya lebih mudah syok dan kelelahan hingga pingsan. Perutnya yang terasa kram sebagai respon akibat tekanan yang ia dapatkan. Namun, tidak mempengaruhi kesehatan janinnya.
'
Arlan duduk di kursi tunggu ruang tindakan dengan gelisah, sesekali melihat jam ditangannya. 20 menit berlalu, akhirnya pintu ruang tindakan terbuka sontak Arlan berdiri menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaannya dok? Apa dia baik - baik saja? Anak kami sehatkan dok?" Panik.
"Bapak tenang saja! Kondisinya tidak parah, lukanya juga tidak terlalu dalam, ia sedikit syok hingga pingsan. Dan kandungannya sehat!" Menepuk kecil bahu Arlan.
Arlan menarik napas legah mendengar perkataan dokter. "Terima kasih dok!" Mengulas senyum bahagia.
Hari itu pun Aluna dipindahkan ke ruang perawatan VIV, tentu saja Arlan yang mengurus segala administrasi tanpa sepengetahuan Aluna.
'
'
'
_KEDIAMAN KELUARGA WIJAYA_
Waktu telah menunjukkan pukul 19 : 40 malam hari. Bibi Meryam, Rama dan Nindia berada di meja makan.
Ruma luas itu terasa sangat sunyi, membuat bibi Meryam terlihat tidak senang pasalnya yang punya rumah tidak satupun hadir diantara mereka, belum lagi dengan kehadiran Nindia yang sama sekali tidak ia senangi.
Bibi Meryam mengaduk makanannya, berbeda dengan Rama terlihat santai menyantap makan malamnya. Sedangkan Nindia hanya terpaksa menelan makanannya, ia merasa gelisah dan cemas selama beberapa hari akibat teror itu, belum lagi dengan ibunya yang belum kembali sejak tadi siang. Entah rencana mereka berhasil atau tidak.
"Ibu mana?"
Nindia tertegun beberapa saat, ia mulai menegang. Entah jawab apa yang harus diberikan atas pernyataan Rama. Tidak mungkin mengatakan jika ibunya sedang merencanakan sesuatu untuk menjebak dan mencelakai Aluna. Syukur - syukur kalau berhasil, jika tidak? Rama pasti akan marah besar, sudah cukup dulu mereka diam - Dima membayar seseorang dan lebih parahnya lagi orang itu merupakan anggota gangster Rama.
Bibi Meryam memicingkan mata menatap Nindia yang semakin menegang. Ada rasa kesal dalam hatinya, rasanya sangat ingin mencaci tapi apa gunanya, Rama dan Nindia sama - sama memiliki tujuan untuk menjatuhkan Arlan dan keturunannya.
"Nindia?"
"Akh, em,, em,," Menelan saliva.
"Ting!"
"Nindia, malam ini ibu tidak kembali ke rumah nak. Ibu menemui kerabat lama mama di luar kota dan mungkin akan nginap selama beberapa hari!"
Nindia seperti baru saja melepaskan ikatan di dadanya yang nyaris membuatnya sesak, saat mendapat chat dari ibunya.
"Ibu sedang mengunjungi kerabat lamanya dan akan nginap beberapa hari di sana mas!" Mengulas senyum lega dan Rama hanya mengangguk.
Sontak bibi Meryam beranjak dari duduknya dengan wajah masam. Ia tidak tahan dengan wajah sok polos Nindia.
"Mama nggak napsu!" Ketusnya menatap keduanya bergantian.
'
'
'
Di ruang VIV tempat tuan Wijaya dirawat, terlihat nyonya Wijaya sedang menyuapi suaminya. Wajah keduanya jauh lebih segar, meski nyonya Wijaya sendiri belum mengetahui tentang anaknya yang masih hidup, namun melihat suaminya telah berangsur - angsur pulih cukup membuatnya bahagia dan memiliki semangat hidup.
Sedangkan diruang VIV lainnya ada Aluna dan calon cucu mereka yang kembali berada di ruangan bernuansa putih itu. Mereka tidak diberitahu, taku kesehatan tuan Wijaya kembali menurun.
Malam itu Arlan tidak meninggalkan rumah sakit, namun ia juga tidak menampakkan dirinya kepada Aluna. Baginya mendengar Aluna baik - baik saja sudah sangat membuatnya bahagia.
'
'
'
"Halo? Edward bagaimana dengan keadaan Aluna?"
"Dia baik - baik saja, bibi tidak perlu khawatir! Terima kasih berkat informasi bibi, kak Arlan bisa menyelamatkannya!"
Bibi Meryam bernapas lega mendengar Alunan baik - baik saja. Sementara ibu Nindia, ia sama sekali tidak ingin tahu kabarnya.
Bibi Meryam memutus teleponnya, lalu keluar ke ruang tengah mencari keberadaan Rama.
"Apa? Kamu yakin mereka menolak kita tanpa tekanan dari pihak lain?" Ucapnya seraya menuruni tangga serasa tidak percaya dengan laporan bawahannya.
Tentu saja mereka tidak ada yang ingin mengaku, karena Edward sudah mengancam terutama pak Hadiaksa ia tidak ingin mengambil resiko, sudah cukup ia ngompol akibat bidikan senjata di kepalanya beberapa hari lalu.
"Rama, kamu mau kemana?"
"Ma sudahlah, ini bukan urusan mama!"
"Rama? Rama?" Rama tidak peduli tetap berlenggak.
'
"Tolong lepaskan saya! Saya ingin pulang hiks. hiks. hiks." Ibu Nindia memohon di dalam ruangan bawah tanah yang gelap itu.
Sementara ke 5 tawanan lainnya sudah Arlan kirim ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Tak. Tak. Tak."
Ibu Nindia terlonjak bergetar saat merasakan bayangan seseorang berada di depannya, keadaan yang gelap membuatnya tidak bisa melihat apapun, hanya bau amis darah bekas tawanan sebelumnya yang tercium menyengat.
"Siapa kamu? Mau apa??" Meraba dinding mencoba mencari tempat berlindung.
Tubuhnya terasa remuk dan kedua tangannya masih terikat. Meski kakinya tidak diikat tapi ia sudah tidak punya tenaga yang cukup untuk berdiri apalagi berlari. Lagipula kemana ia akan pergi? Sedangkan matanya hanya melihat kegelapan yang sama sekali tidak ia ketahui dimana keberadaannya sekarang.
"Tolong lepaskan saya hiks. hiks. hiks. Saya tidak bersalah!"
Arlan menyalakan pemetik di tangannya membuat ibu Nindia kembali terlonjak. Meski cahayanya kecil namun mampu memperlihatkan wajahnya.
"Arlan? Ma, mau apa ka,,mu?" Tenggorokannya tercekat dan terbata - bata saat Arlan mendekatkan pematik di wajahnya.
"Tolong Arlan, tolong izinkan ibu pulang!"
"Jangan harap kamu bisa bertemu dengan keluargamu lagi!" Ucapnya dingin lalu berbalik.
Ibu Nindia ketakutan dalam kegelapan itu seorang diri, "Arlan? Arlan hiks. hiks. Lepaskan Arlan!" Teriaknya.
Namun Arlan malah berbalik menunggingkan senyum licik lalu meniup pemantiknya. Dalam sekejap ruangan itu kembali gelap gulita. Arlan berjalan menaiki tangga.
"ARLAN? ARLANNN?? HIKS. HIKS. HIKS."
"AAAAAA HIKS. HIKS. HIKS."
Ibu Nindia menangis sejadi - jadinya dalam kegelapan seorang diri, namun tidak satupun yang mendengar kesengsaraannya itu.
_KEDIAMAN KELUARGA WIJAYA _
Malam itu Nindia sedang tidur dikamar seorang diri, perasaannya mendadak gelisah bahkan suasana menjadi lebih dingin padahal suhu AC masih dalam batas normal, jendela kamar juga sudah tertutup rapat.
Nindia meraba ponselnya melihat jam yang menunjukkan pukul 01 : 10 tengah malam.
"tok, tok,"
Ketukan kecil dan samar terdengar dari balik jendela kaca. Sontak Nindia bangun melirik jendela yang tertutup gorden. Hatinya semakin gelisah mulai melirik seisi kamar yang tidak menunjukkan keanehan.
Perlahan melangkah mendekati jendela, meski sedikit takut tapi ia mencoba mengangkat tangan kanannya membuka gorden berwarna putih itu secara perlahan.
'
"HAAAAH!" Teriaknya histeris saat bayangan kepala berambut panjang, dengan wajah penuh darah muncul dibalik jendela. Nindia berlari keluar mengetuk pintu kamar Rama.
"Mas Rama?!". "tok. tok. Mas!!" Seraya melirik sekitar.
"Ada apa? Kamu kenapa?"
"Mas aku takut! Hiks. Hiks. Hiks." memeluk Rama.
"Kamu tenang, ada apa?" menyeka air mata Nindia.
"Mas, tadi ak, aku melihat hantu!"
Rama mengerutkan dahi, melihat wajah Aluna yang pucat namun omongannya terdengar ngaur.
"Di sini nggak ada hantu! Makanya sebelum tidur ber'doa dulu sama Allah! Jangan jahat - jahat!" Sahut bibi Meryam yang juga keluar dari kamarnya saat mendengar kegaduhan Nindia.
"Ma?" Tegur Rama sambil menenangkan Nindia.
'
"Aww!" Ringis laki - laki bertopeng menyeramkan itu saat kakinya terkilir usai melompat dari arah kamar Nindia.
Laki - laki itu tak lain adalah Edward. Sebenarnya ia menaiki balkon lantai 2 menggunakan tangga, hanya saja tangganya licin sehingga membuatnya tergelincir lalu melompat.
'
'
'
24 jam berlalu,,,
"Hahaha!"
"Kalian masih bisa tertawa?" Ketus Edward menatap Kris dan Arlan bergantian.
"Lagian kamu sendiri kan yang nekat manjat ke balkon? kakak tidak menyuruhmu." Ucap Arlan kembali terkekeh begitu juga Kris.
"Yah kan niatnya main - main, kan jarang - jarang Edward pulang ke rumah." Ucapnya sedikit cemberut.
Bersambung,,,