IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
42. Menyusup



_PT. PERKASA WIJAYA_


Hari itu Arlan kembali ke kantor meski dalam keadaan kurang sehat, ia tetap memimpin rapat.


Arlan duduk menautkan kedua tangannya di atas meja mendengar beberapa pendapat dan laporan dari peserta rapat. Perlahan melirik jam tangannya lalu sedikit menoleh ke luar dinding kaca jendela memandangi sebuah pesawat terbang.


Tentu saja itu penerbangan Aluna menuju Paris. Ia mengulas senyum kecil yang samar, berharap Aluna bersama anaknya selamat sampai tujuan. Lalu kembali fokus ke rapatnya.


'


'


'


Kembali ke sebuah hotel, laki - laki berpostur tegap itu hanya mengenakan handuk sepinggang, terlihat memandangi pantulan tubuhnya. Tidak, lebih tepatnya hanya memperlihatkan bagian dagu dan lehernya saja di cermin berbentuk bundar yang tergantung di kamar mandi.


Perlahan ia mengelupas kulit pada bagian leher, tapi sebenarnya itu sebuah striker berwarna kulit dengan berbahan karet untuk menutupi lehernya. Tak butuh waktu lama tato berbentuk bintang pun muncul dalam pantulan cermin itu.


'


'


'


Tengah malam, keadaan di sebuah pemukiman yang terlihat kumuh terletak di pinggir kota itu sangat tenang. Hampir tidak ada pergerakan dari warga setempat. Anak buah Arlan berhasil mengikuti salah satu kawanan gangster yang lolos malam itu sehingga malam ini mereka kembali menyusup.


Suasana yang gelap itu, hanya terdapat beberapa penerangan kecil. Terlihat 2 orang laki - laki yang berpakaian serba hitam dan lusuh sedang berlindung di balik dinding rumah kayu sedang memantau keadaan.


Sedangkan 3 orang lagi bahkan sedang berada di atas pohon besar, mereka memantau keadaan dari atas sehingga memudahkan melihat kondisi yang ada pada bagian tengah pemukiman.


Selain itu terlihat juga 2 orang yang sedang berjalan santai memasuki pemukiman itu. 1 diantaranya menggunakan kaos oblong yang sobek dipadukan dengan celana kain selutut yang juga terlihat sobek pada bagian bokong. Lengkap dengan topi berwarna coklat juga masker, dia adalah Edward.


Sedangkan yang satunya lagi mengenakan kaos oblong berwarna putih di padukan dengan celana kain. Meski tidak sobek namun terlihat penuh lumpur, juga mengenakan topi lengkap dengan masker berwarna hitam dan dia adalah Kris.


Keduanya berjalan santai sambil membawa sebuah karung di pundak masing - masing, yang berisi botol plastik. Mereka terlihat tidak ada bedanya dengan warga pengumpul sampah setempat.


Edward dan Kris berjalan menuju ke sebuah gudang, akses ke gudang itu sedikit sempit karena hanya berupa lorong kecil. Setelah keduanya sampai di ujung lorong, mereka melihat 3 orang yang sedang berjaga di depan gudang sambil bermain catur.


Perlahan para penjaga itu seperti merasakan suatu pergerakan, bahkan mulai menggerakkan kepala seraya menggosok kecil bagian belakang kepala, dan satunya lagi mulai melirik sekitar.


Dengan cepat Edward menyemprotkan sesuatu ke arah mereka dan dalam sekejap ketiganya pun tertunduk tidak sadarkan diri.


Edward memberikan kode kepada Kris dan 2 orang lagi untuk lebih mendekat. Tak butuh waktu lama Edward dan Kris memasuki gudang itu, sementara 2 lainnya berjaga di depan. Begitu juga dengan yang diatas pohon masih fokus memantau dari atas.


Gudang itu cukup gelap sehingga Edward memanfaatkan senter dari ponselnya. Ia meneliti sekitar, terlihat 3 buah meja yang terbuat dari kayu, beberapa botol miras tergeletak juga kartu remi yang tersebar. Dengan mudah Edward memahami kalau tempat itu juga merupakan tempat perjudian.


Sementara Kris mulai menyenter dinding yang terbuat dari seng itu, lalu menyenter lantainya, ia sedikit mengerutkan dahi merasakan pijakan kakinya yang seperti ada bunyi menyerupai lantai papan, sementara lantai sekitarnya sudah disemen.


"Edward?" Lirihnya dan Edward pun langsung berbalik lalu Kris menyorot lantai menggunakan senter ponselnya.


Sontak Edward pun memahami lalu dengan cepat menghampiri Kris kemudian berjongkok.


'


"Tok, Tok, Tok,"


Dan benar saja saat Edward mengetuk kecil lantai, mereka mendengar seperti suara ketukan pada papan yang memiliki ruang di bawahnya.


Edward dan Kris saling melirik merasakan pemikiran yang sama, tanpa berlama - lama mereka segera membuka karpet berbahan plastik di lantai. Keduanya membulatkan mata melihat papan berwarna coklat yang berukuran sekitar 2 x 2 meter.


Sementara kedua temannya yang merupakan bawahan Arlan masih setia berjaga di depan memantau ketiga penjaga yang masih tidak sadarkan diri.


'


Perlahan mereka mengangkat papan itu, lalu Edward kembali menyenter ke bawah, sontak membulatkan mata melihat ruang bawah tanah yang belum diketahui isi dan kegunaannya. Edward menuruni tangga disusul oleh Kris.


Kris kembali menyenter dinding beton di bawah tanah, lalu menyalakan saklar. Kebetulan pemukiman itu memiliki aliran listrik, namu sangat minim sehingga ruangan bawah tanah itu juga terdapat listrik di dalamnya.


"Ceklek!"


'


"Waww,,, Cek. Cek." Decak Edward saat membuka peti di depannya.


"Bisa kaya mendadak ini!" Canda Kris yang juga membulatkan mata.


Yang tak kala mengejutkan saat mereka melihat tumpukan emas batangan dalam peti, Kris kemudian membuka peti yang berukuran besar dan ternyata berisi sejumlah uang, lalu di peti yang lain berisi perhiasan.


Mereka pun menduga kalau markas utama mereka adalah ruangan bawah tanah yang luas di sebuah gudang yang terletak di pemukiman kumuh itu. Berada di luar kota dan terisolasi dari pihak berwajib.


"Cekrek!"


"Cekrek!"


Edward dan Kris pun mengambil gambar sebagai barang bukti, tak lupa juga mereka ber selfie sebagai hiburan di tengah tumpukan emas dan uang yang menyilaukan mata itu. Semua barang itu merupakan hasil curian, penjualan sabu, keuntungan judi yang selama ini dilakukan oleh kelompok mereka.


Terakhir Edward dan Kris memasuki ruangan yang di sekat, dalam ruangan itu terdapat meja berbentuk bundar dengan 2 kursi. Edward menatap sebuah bingkai lukisan macan mengaung memperlihatkan taringnya yang tajam, tergantung di dinding terlihat menakutkan.


"Kris?" Sahut Edward dan Kris langsung mendekat.


Keduanya menurunkan lukisan yang berukuran besar itu lalu meletakkannya di lantai. Mereka mengerutkan dahi menatap gambar berbentuk telapak tangan di dinding.


Edward melirik Kris, sementara Kris hanya mengangguk. Perlahan Edward menempelkan telapak tangannya di dinding itu lalu sedikit menekannya.


"Ceklek!"


Sontak suara seperti membuka kunci terdengar, dalam sekejap dinding itu membuka dengan lebar sekitar 30 centi meter dan panjangnya 1 meter, dan dalamnya berupa rak yang bersusun sebanyak 3 sekat.


Edward mengambil kertas yang terlipat lalu membukanya di atas meja, kertas itu merupakan peta yang memiliki beberapa titik penanda. Setiap titik itu merupakan rute pangkalan yang digunakan dalam mengedarkan narkoba jenis sabu.


Juga beberapa titik menjadi tempat penyimpanan barang untuk sementara sebelum di bawah ke markas. Selain peta, mereka juga menemukan daftar anggota yang aktif maupun yang gugur, bahkan beberapa jadwal untuk pembongkaran barang selanjutnya, dan itu artinya sang ketua sudah pasti datang pada saat itu.


"Cekrek!"


"Cekrek!"


Kris kembali memotret bukti - bukti itu. Malam itu markas dalam keadaan kosong, jadi mereka datang untuk menyelidiki keadaan di dalam dan mencari bukti, sebelum kembali untuk menemukan sang ketua.


Setelah selesai mencari bukti mereka kembali menutup tempat yang berupa rak dalam dinding lalu menggantung lukisan seperti semula. Mereka kembali ke ruangan tempat peti - peti itu berada lalu mematikan saklar dan kembali menaiki tangga.


Keduanya menutup rapat akses bawah tanah dengan papan lalu merapikan karpet berbahan plastik. Edward kembali memberikan kode kepada kedua bawahan Arlan yang berjaga untuk segera meninggalkan tempat itu. Mereka terlihat tenang berjalan di lorong kecil itu, begitu juga dengan yang diatas pohon mereka bergegas turun setelah melihat yang lain berjalan keluar. Beruntung malam itu berjalan dengan lancar.


'


'


'


20 : 00 malam Paris,,,


Malam itu Aluna sedang berada di sebuah hotel, ia berdiri memandangi puncak menara Eiffel. Setelah bertahun - tahun ia kembali ke kota itu, namun rasanya sudah berbeda. Meski Paris merupakan tempat honeymoon yang ia pilih dan Arlan 5 tahun lalu, namun ia tidak ingin terlalu memikirkan dan fokus dengan tujuan utamanya.


Perlahan Aluna menutup gorden berwarna putih itu hingga menghilang pandangannya dari menara Eiffel. Aluna kemudian merebahkan badannya di atas kasur. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih hampir 17 jam, akhirnya ia bisa berbaring dan tidur nyenyak malam itu.


'


'


'


Pagi hari untuk kota Paris, pagi itu Aluna berjalan kecil menuju pintu utama hotel tempatnya bermalam, dalam balutan long dress motif bunga berwarna putih kuning di padukan dengan mantel coklat selutut, membuatnya terlihat cantik.


Langkahnya ringan meninggalkan hotel, ia berjalan kecil menenteng tas kecilnya yang berwarna hitam menuju sebuah cafe terdekat untuk menemui ibu Ambar. Beliau merupakan mantan dirut QUEEN JEWELRY GROUP, secara tidak langsung ia menjadi guru Aluna di awal kariernya. Sebelum pindah ke Paris ia kerap mengajari Aluna tentang menggambar yang baik menggunakan hati dan ketulusan sehingga menghasilkan karya indah yang murni, berkatnya juga Aluna selalu memiliki ide - ide yang tidak terbatas untuk disalurkan dalam sebuah karya.


Bersambung,,,