IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
49. Markas Bawah Tanah



_PT. PERKASA WIJAYA_


Hari itu Arlan kembali ke perusahaan, usai dari apartemen. Dia kembali mengerjakan beberapa dokumen termasuk daftar proyek yang pernah di tangani oleh Rama.


Wajah datarnya terlihat serius memeriksa setiap dokumen di depannya, auranya dingin mampu menekan seisi ruangan hingga terasa sedikit mencekam.


Ia terus meneliti dokumen tersebut sesekali menuliskan sesuatu di kertas post it yang berwarna warni itu. Tidak ada yang mengetahui isi tulisannya, karena saat ini dia hanya seorang diri di dalam ruangan itu.


'


'


'


"Tok, Tok, Tok,"


Suara ketukan dari balik pintu sontak membuat Arlan menarik bundel, menutupi kertas post it di tangannya seperti sedang berjaga - jaga.


"Siapa?" Tanyanya serak.


"Saya Kris pak!" Balas Kris berdiri di balik pintu.


Mendengar suara Kris wajahnya sedikit lebih rileks. "Masuk!" Serunya serak.


"Ceklek!"


Arlan memandangi Kris yang berjalan menghampirinya.


"Ada informasi apa?" Tanyanya seraya menyusun bundel juga kertas post intinya, membuat Kris sedikit mengerutkan dahi melihat post it itu. Namun ia tidak terlalu memikirkannya dengan cepat menatap wajah Arlan.


"Jadwal pembongkaran barang di percepat sekitar jam 00 : 00 tengah malam pak." Balasnya serak.


"Baiklah, aku akan ikut dengan kalian!" Balas Arlan dengan raut tegas.


"Bapak yakin?" Tanya Kris memastikan, mengingat bosnya sedang banyak masalah dan pikiran.


"Em, aku harus melihat siapa bos mereka yang sebenarnya, dan apa hubungannya dengan kecelakaan Aluna!" Balasnya dingin menatap Kris.


"Mm,, ada satu lagi pak." Balas Kris.


"Apa itu?" Tanyanya sedikit penasaran.


"Pak Edward bilang, ke empat tersangka yang kita cari itu, telah dibawa ke pemukiman kumuh." Ucap Kris membuat Arlan mengerutkan dahi.


"Pemukiman kumuh?" Tanyanya sedikit terkejut. Entah kenapa perasaannya tidak tenang.


"Kalau begitu, beritahu yang lain untuk bersiap secepatnya! Kita tidak boleh telat sampai ke sana!" Lanjutnya bergetar.


"Baik pak!" Ucap Kris seraya meninggalkan ruangan!"


Arlan mengepalkan kedua tangannya mempertajam tatapannya.


'


'


'


Malam itu, Arlan kembali mengunjungi rumah utama. Dalam balutan kemeja berwarna hitam di padukan dengan celana kain hitam, ia terlihat berdiri memandangi tuan Wijaya yang sedang tertidur di kamar pribadinya, melalui celah pintu kamar yang terbuka setengah.


"Bagaimana keadaan papa?" Tanyanya sedikit berbisik kepada kepala pelayan yang baru saja keluar dari kamar.


"Tuan baru saja tertidur setelah meminum obatnya!" Balasnya.


"Beberapa hari ini, tuan sering merasa jantungnya berdebar lebih kencang dan cepat kelelahan. Namun, ia tidak ingin memeriksakan diri kepada dokter!" Lanjutnya sedikit menoleh melihat tuan Wijaya yang tertidur begitu juga dengan Arlan.


Arlan memandang sendu sang papa yang semakin menua, bahkan kondisi kesehatannya terbilang menurun membuatnya khawatir.


"Pak, tolong jaga papa saya dengan baik!" Ucapnya serak menatap kepala pelayan yang berambut putih di depannya.


"Tentu tuan muda!" Balasnya.


"Terima kasih!" Balas Arlan menepuk kecil bahu kepala pelayan itu seraya mengulas senyum kecil, lalu berbalik meninggalkan ruangan.


Kepala pelayan itu menggeleng kecil menatap punggung lebar dari laki - laki tegap itu yang perlahan menghilang dari pandangannya. Ia merasa prihatin dengan apa yang menimpanya, walau wajahnya datar dan terlihat cuek, namun Arlan tidak pernah menggunakan kekuasaannya untuk memperlakukan para pelayan di rumah dengan tidak baik.


Ia buka tipe anak konglomerat yang manja dan arogan. Dia sosok laki - laki dewasa yang berpikiran terbuka dan selalu mendengarkan pendapat orang lain.


'


'


'


Di sisi lain, terlihat seorang laki - laki lain yang berpostur tubuh tegap dalam balutan hoodie hitam dipadukan jeans hitam, memakai masker dan topi.


Ia tidak menampakkan wajahnya, terlihat memasuki sebuah mobil hardtop hitam dengan sedikit terburu - buru. Lalu dengan cepat ia melajukan mobilnya itu.


'


'


'


Saat ini Arlan bersama Kris sedang berada di dalam mobil sedan hitam.


"Kamu sudah membawanya?" Tanya Arlan.


Dengan cepat Kris membuka koper yang ada di pangkuannya memperlihatkan sebuah pistol.


Arlan mengambil pistol itu lalu menyelipkan di pinggangnya, sebelum mereka menuju lokasi, bersama dengan mobil hardtop berwarna hijau milik bawahan Arlan.


'


Tepat jam 01 : 00 tengah malam, Arlan bersama Kris dan 4 orang bawahannya telah sampai di pemukiman kumuh itu. Di sana sudah ada Edward yang menunggu mereka.


.


"Bagaimana, kalian siap?" Tanya Edward serak seraya menghampiri mereka.


Sontak Arlan terkejut melihat adik sepupunya yang berpakaian serba hitam dan dipenuhi beberapa robekan, bahkan wajahnya pun dipenuhi warna hitam. Ia nyaris tidak mengenalinya jika tidak mendengar suaranya.


"Edward? Kamu yakin masuk dengan seperti ini?" Tanya Arlan memastikan.


"Memangnya ada yang salah?" Tanyanya dengan santai.


Arlan mengerutkan dahi menatap adik sepupunya. "Kupikir saat ini wajahmu tidak ada bedanya dengan penggorengan gosong." Balasnya.


"Heheheh!" Sontak membuat semua terkekeh kecil mendengar ucapan Arlan.


"Cek!" Decak Edward, "Ini namanya penyamaran kak. Coba lihat dirimu, mau menangkap ketua gangster tapi berpakaian seperti ingin memasuki ruangan rapat!" Balas Edward.


Sontak Arlan melirik semua orang disekitarnya yang terlihat berpakaian biasa dan lusuh. Dan memang benar, dirinya paling rapi dan santai berbanding terbalik dengan Edward yang totalitas sampai wajahnya tidak dapat dikenali jika tidak mendengar suaranya.


"Pakai ini!" Ucap Edward memberikan masker juga topi kepada kakak sepupunya itu.


'


Terlihat sebuah mobil hardtop yang terparkir di depan, membuat Arlan memicingkan mata. Terbesit dalam hati jika kemungkinan itu milik salah satu dari mereka. Lalu Arlan semakin memfokuskan pandangannya melihat pick up tua yang berisi beberapa karung.


Karung - karung itu berisi sebuah sampah plastik. Namun siapa sangka selain sampah plastik dalamnya juga terdapat paketan sabu yang siap di edarkan kepada tuannya masing - masing.


Setidaknya sekitar 15 karung yang mereka angkut. Satu persatu anggota gangster yang berpakaian lusuh itu bergantian mengangkut karung tersebut, dan membawanya melewati lorong kecil.


Sedangkan, 2 orang lainnya terlihat berdiri berjaga di samping mobil. Setelah semua karung terangkut. Kedua penjaga itu masih berdiri memastikan keadaan, sesekali melirik sekitar.


'


"Bentar, gue kebelet nih!" Sahut salah satunya.


"Ya udah sana gih di balik pohon! Bos udah nunggu!" Balas temannya.


Dengan cepat laki - laki itu berlari ke bawah pohon bersiap buang air kecil dan,,


"BUG!"


1 pukulan dari Edward pada bagian tengkuk, membuatnya tergeletak tidak sadarkan diri. Tak lama kemudian kawanannya menghampiri saat mendengar sesuatu yang tidak beres.


Laki - laki itu berjongkok di samping temannya bersiap memeriksa keadaannya, sedang Arlan Kris dan yang lain berlari memasuki lorong dan,,


"BUG!"


Edward kembali memberikan pukulan yang sama kepada kawannya hingga membuat keduanya tergeletak di bawah pohon. Edward pun menyusul mereka memasuki gudang.


"Cepat masukkan barang!" Seru laki - laki bertopeng itu memerintahkan kepada 3 anggotanya yang berjalan menuruni tangga bawah tanah membawa paketan kecil yang bersusun itu.


Sementara 4 orang lagi sedang membongkar isi karung, hanya bagian atasnya saja yang berisi plastik selebihnya bungkusan paket kecil yang bertumpuk. Satu persatu mereka keluar kan, lalu di oper ke pada 3 orang yang sedang menunggu di tangga.


"BRAK!"


Suara nyaring dari pintu seng yang di tendang oleh Arlan sontak mengejutkan ke empat orang itu. Mereka membulatkan mata menatap Arlan dan 5 orang di belakangnya.


"Siapa kalian?" Tanya salah satu gangster itu seraya menunjuk ke arah Arlan.


"Kalian tidak perlu tahu siapa kami!" Balasnya serak.


"HYAK!"


Ke empat orang itu menyerang dan langsung di ladeni oleh komplotan Arlan.


"BUG!"


'


"BUG!"


'


"BUG!"


Kedua kubu itu pun saling menyerang.


"BUG! BUG!"


Arlan memukul beberapa kali anggota gangster itu namun dia juga cukup kuat untuk menahan pukulan Arlan. Namun setelah beberapa kali, Arlan pun memukul wajah dan perutnya hingga terjatuh.


Sedangkan Kris dan 4 orang lainnya masih saling memukul. Tak lama kemudian Edward pun memasuki ruangan dan langsung ikut membantu Kris dan yang lain.


"Bos di atas ada penyusup yang menyerang gudang kita!" Lapor salah satu kawanan gangster itu yang berada di ruangan bawah tanah.


"APA?"


Tanyanya terkejut namun wajahnya tidak terlihat dibalik topeng.


'


'


'


20 : 00 Paris,,,


Malam itu, Aluna bersama Leo sedang berada di Louvre Museum. Salah satu objek wisata iconic yang populer, bersiap memanjakan mata di malam hari.


Bangunan arsitek perpaduan klasik yang elegan juga modern terlihat menawan. Ada banyak koleksi karya seni dan artefak yang dapat di lihat saat berkeliling.


Yang tak kalah menarik adalah, bangunan piramid kaca-nya yang sangat iconic. Hingga membuat para pengunjung mengabadikan momen di piramid dengan ber foto.


Mengingat kondisi Aluna yang sedang hamil, dan tidak memungkinkan jika ia harus berjalan masuk ke dalam museum yang luas itu untuk melihat karya - karya indah di dalamnya.


Leo pun tidak memaksa, walah hanya menikmati pemandangan piramid kaca sudah membuatnya cukup senang terlebih melihat Aluna yang juga cukup menikmati malam itu.


Dibawa langit yang berbintang itu, Aluna berdiri memandangi piramid kaca yang memancarkan kilauan cahaya lampu menghiasi seluruh piramid.


"Aluna?"


Panggil Leo, sontak membuat Aluna berbalik mengulas senyum menatap Leo yang berada beberapa meter di belakangnya.


"Cekrek!"


Satu foto dari wanita hamil yang cantik itu berhasil Leo abadikan di ponselnya.


"Leo,,," Lirih Aluna sedikit mengerucut bibirnya, sedangkan Leo sendiri mengembangkan senyuman khasnya sampai memperlihatkan barisan gigi depannya.


Perlahan Leo mendekati Aluna. "Sorry,, gimana biar adil kita selfie bareng aja deh!" Tawar Leo sedikit menggoda.


"Mhh boleh!" Balas Aluna.


"Cekrek!"


Leo kembali mengabadikan satu foto dan kini berdua dengan Aluna. Dalam foto itu memeng terlihat biasa saja karena keduanya hanya berdiri berdampingan, namun senyuman keduanya terlihat lepas.


'


'


'


Arlan berlari menuruni tangga bawah tanah dan,,


"BUG!"


"BUG!"


Ia langsung di hadang oleh kawan gangster itu yang berada di bawah. Keduanya saling menyerang. Arlan menendang beberapa kali leher lawannya hingga membuatnya terjatuh.


Dengan cepat Arlan menuruni tangga, ia ingin menemukan ketua gangster itu secepatnya agar bisa mencari tahu kebenaran dibalik kecelakaan Aluna.


Bersambung,,,