IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
32. Belum Sanggup Melepaskan



Tidak jauh berbeda dengan Arlan, Aluna pun sepanjang jalan hanya terdiam menyandarkan kepalanya menatap keluar kaca mobil. Tatapannya sendu memandangi sepanjang sisi jalan yang ia lewati.


Leo cukup memahami perasaannya tidak berani menegur, hanya sesekali meliriknya melalui spion. Hampir 4 bulan mereka bercerai, namun perasaan ia miliki untuk Arlan masih sangat besar. Setiap mengingat bayangan Nindia bersama Arlan, dadanya kembali tersayat.


Aluna kembali mencengkram kuat seatbelt yang melingkar di pinggangnya. Meski sudah berusaha menahan namun tetap saja kedua matanya kembali menetes kan air mata untuk Arlan. Ia menggigit kecil bibir bawahnya yang bergetar menangis tanpa suara, dadanya terasa penuh dan sesak.


Aluna terus menangis dalam diam selama beberapa saat, hingga pada akhirnya Leo yang masih fokus menyetir mengulurkan sebuah sapu tangan berwarna biru langit berbahan sutera dan wangi. Perlahan Aluna mengambil lalu menyeka wajahnya menghapus air mata yang sudah membanjiri kedua pipinya.


'


'


'


Setelah sampai di perusahaan, Arlan langsung disambut oleh Kris yang berdiri di tangga pintu utama bersama beberapa penjaga. Dengan langkah lebar Arlan memasuki gedung perusahaan memasang wajah datar khasnya, di iringi oleh Kris.


Wajah datar dan sedikit menegang, sepanjang jalan memasuki lift menuju lantai 15, ia tidak berbicara sedikit pun dan Kris sudah bisa menebak isi hatinya.


"Ting!"


Pintu lift terbuka, Arlan keluar di dampingi Kris kembali melangkahkan kakinya yang jenjang menuju ruangannya. Beberapa karyawan menyapanya, namun jangankan anggukan, melirik saja tidak dia hanya terlihat menatap lurus seraya melangkah. Meski hanya dalam balutan training sepasang, namun Aura dinginnya mampu menekan seisi ruangan yang ia lewati, hingga membuat karyawan tertunduk segan melihat rautnya.


Arlan langsung memasuki ruangan lalu mengganti pakaiannya dengan stelan jas yang di sediakan oleh Kris. Dalam balutan jas yang berwarna krem dipadukan dengan kemeja coklat juga dasi berwarna senada memancarkan ketampanannya.


Arlan memasuki ruangan rapat, tanpa basa basi dia mulai memimpin rapat dalam keadaan suasana hati yang bisa dibilang buruk, terlihat dari wajah datar yang menegang. Rapat hari itu mengenai pemaparan kuartal keuangan PT. PERKASA WIJAYA dan Arlan tidak banyak bicara, bahkan tidak ada sesi diskusi yang berlangsung seperti biasanya.


Arlan terlihat tidak konsen dan terkesan terburu - buru dalam mengakhiri rapat, tentu saja Rama menjadi orang paling peka di ruangan itu, tidak dipungkiri jika dirinya selalu merasa senang jika melihat Arlan yang terlihat frustasi dengan begitu ia bisa leluasa mengacaukan pikirannya.


'


'


'


Di sebuah bangunan tua yang bisa di bilang sedikit terpencil itu, terlihat 3 orang yang sedang berdiri di tengah bekas bangunan yang runtuh. Bahkan tempat itu dipenuhi semak belukar yang menjalar memanjat dinding yang terlihat usang.


"Bagaimana? Apa kamu sanggup melakukannya?" Tanya seorang wanita itu serak kepada laki - laki berkemeja hitam sepasang dengan celana kain juga topi hitam khasnya. Wanita itu tak lain adalah ibu dari Nindia.


"Baik, tapi saya minta bayaran kali ini naik 2x lipat!" Tawar laki - laki yang tidak terlihat wajahnya dalam balutan masker juga topi hitam.


"Apa kamu gila? Beberapa hari lalu aku baru saja mengirimkan 20 juta untukmu!" Balas ibu Nindia.


"Apa ibu sadar dengan permintaan ibu sekarang? Ini menyangkut nyawa!" Sahut laki - laki yang tiba - tiba muncul di antara mereka seraya menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Laki - laki yang bertato bintang pada leher kanannya itu merupakan kawanan dari suruhan ibu Nindia.


Sontak membuat Nindia bersama ibunya membulatkan mata. Mereka tidak menyangka ada orang lain lagi yang mengetahui rencana mereka.


"Apa maksudmu membawa orang lain?" Tanya ibu Nindia serak dan dingin.


"Dia temanku, dia sudah menyelesaikan tugas serupa dan semuanya berhasil. Itu sebabnya aku membawanya kemari!" Balas laki - laki bertopi itu.


Ibu Nindia mengerutkan dahi melirik laki - laki bertubuh tegap, lalu mengamati tato yang berbentuk bintang dileher, sorot mata dan wajahnya dingin. Perawakannya seperti anggota mafia kelas kakap membuat ibu Nindia mampu merasakan aura mencekam darinya.


"Jika setuju dengan tawaran, kami akan melakukannya sesuai perintah! Jika tidak, silahkan cari orang lain!" Lanjut laki - laki bertopi itu.


Ibu Nindia terdiam sejenak menimbang tawaran mereka. Jika sebelumnya dia menghabiskan sekitar 50 juta setiap rencananya, maka sekarang berkisar 100 juta, belum termasuk dengan permintaannya yang terkadang tiba - tiba meminta tambahan.


"Tapi,,,"


"Nindia!" Bisik ibunya, "Apa kamu gila? Mereka bisa memeras kita!" Lanjutnya.


"Ibu, mereka sudah mengetahui semuanya. Jika kita meminta orang lain melakukannya, yang ada mereka menjadi ancaman besar!" Balas Nindia setengah berbisik.


Laki - laki bertopi itu hanya mengerutkan dahi sambil melipat kedua tangannya melihat ibu dan anak itu berdiskusi. Sementara laki - laki dengan tato binatang itu asyik menikmati kepulan asap rokok dari mulutnya yang sesekali ia hembuskan.


"Katakan berapa yang kalian minta!" Tanya Nindia serak menatap kedua laki - laki itu.


"200 juta!" Balasnya singkat!"


"200 juta? Kamu ingin memeras?" Sahut ibu Nindia sedikit kesal.


"Hey Bu,, kamu pikir pekerjaan ini kecil? Dan ingat gara - gara ibu, teman saya harus bersembunyi di sebuah tempat kumuh selama berbulan - bulan karena ibu!" Balas laki - laki bertato bintang itu.


Ibu Nindia kembali melirik mereka bergantian. Memang benar karena ia menyuruh laki - laki bertopi itu menyebarkan isu rencana pernikahan Arlan dan Nindia, juga menyebarkan foto pernikahan di sosial media membuat Arlan melaporkan kepada pihak berwajib dan kasusnya belum bersih.


"Baik saya terima tawaran kalian, dan ingat saya tidak ingin kegagalan dan jangan pernah meninggalkan jejak!" Ucapnya penuh penekanan.


"Deal!" Laki - laki bertopi itu menjabat tangan Nindia dan ibunya bergantian. Bagi Nindia uang 200 juta bukanlah apa - apa dibandingkan dengan apa yang ia dapat dari Arlan. Meski Arlan tidak mencintainya tapi tetap saja secara finansial dia tidak kekurangan apapun.


Dia bahkan memiliki saldo milyaran dalam ATMnya. Menjadi istri dari CEO ternama di dalam negri tentu saja ia tidak harus memikirkan seberapa banyak ia harus bekerja untuk mendapatkan uang atau seberapa besar yang ia keluarkan dalam sehari. Dia hanya menggesek sesuai keinginan di setiap harinya dan Arlan tipe laki - laki yang tidak mempermasalahkan keuangan. Dunianya saat ini hanya kerja dan kerja.


Lalu apa kabar dengan Aluna? Posisi yang selama 5 tahun harus ia serahkan dengan saudara se-licik Nindia yang bersiap menghabiskan seluruh kekayaan Arlan.


Aluna menjadi wanita yang menemani Arlan di awal kariernya sebagai CEO, meski sejak awal PT. PERKASA WIJAYA merupakan perusahaan ternama, namun dibawa kepemimpinan Arlan justru membuatnya menjadi perusahaan nomor 1 dalam negeri dan mampu bersaing dengan perusahaan asing.


'


'


'


_ARLAN - ALUNA_


Dibawa sinar sang rembulan yang dihiasi taburan bintang kecil, terlihat indah menyinari seluruh kota di malam itu, mampu memikat setiap yang melihat.


Namun tidak dengan Arlan juga Aluna. Saat ini keduanya menikmati dinginnya hembusan angin malam diselimuti kegelisahan.


Aluna terlihat sedang berjalan kecil di pinggir kolam renang. Dalam balutan dress Tunik berwarna hijau ia berjalan mendekati kursi berwarna putih di pinggir kolam.


Perlahan duduk menatap rembulan yang berbentuk sabit itu. Sangat serasi dengan jutaan cahaya bintang kecil. Tatapannya sendu perlahan menunduk mengelus lembut perutnya, ingatan tentang Arlan bersama Nindia kembali melintas membuat matanya memerah. Rasanya tidak rela harus melihat Nindia yang terus bermanja kepada Arlan. Ia menyadari kalau ternyata perasaanya untuk Arlan masih sama dan entah sampai kapan ia harus menanggung sayatan di dadanya itu.


Sedangkan Arlan melewati malam itu di ruangannya yang terletak dilantai 15. Arlan masih mengenakan kemeja kerjanya sepasang dengan celana. Sedangkan jasnya yang berwarna krem diletakkan di tas sandaran kursi putar milikinya.


Arlan berdiri menatap keluar jendela kaca melihat jutaan cahaya lampu gedung dan kendaraan yang lalu lalang menghiasi seluruh kota. Tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku, sementara tangan kanannya memegang sebuah cincin berwarna keemasan.


Perlahan menunduk menatap sendu cincin pernikahannya bersama Aluna, dalam cincin itu terukir inisial A & A yang merupakan inisial nama mereka. Kelopak matanya bergetar menahan pedihnya buliran jerni di kedua sudut matanya itu.


Arlan menggenggam kuat cincin itu, lalu sedikit mendongakkan kepalanya, bibirnya bergetar menahan agar tidak menjatuhkan buliran jernih. Namun, semakin kuat ia menahan justru semakin membuatnya sakit.


"hiks. hiks. hiks." Isakan kecil darinya pun terdengar, Arlan membekap kecil mulutnya dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya semakin menggenggam kuat cincin pernikahan.


Tidak ada cahaya rembulan, tidak ada cahaya bintang yang menghiasi, hanya rasa sakit dan kehampaan yang menyelimuti. Sesulit inikah berada di tempat yang sama dengan orang yang dicintai, dan harus melihatnya bersama yang lain? Tidak. Arlan tidak sanggup jika Aluna akan dimiliki oleh orang lain, namun ia juga tidak punya hak lagi! Malam itu Arlan pun semakin meyakini kalau hatinya masih untuk Aluna sepenuhnya.


Bersambung,,,