IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
28. Pertengkaran Arlan Nindia



_QUEEN JEWELRY GROUP_


24 jam telah berlalu, siang itu Aluna diminta ke ruangan ibu Piola, beliau adalah direktur utama QUEEN JEWELRY GROUP.


"Tok,, Tok,, Tok,,"


"Masuk!" Sahut wanita berkacamata yang berumur sekitar 40 tahun itu mendongak menatap pintu.


"Ceklek!"


Aluna membuka pintu ruangan dirut Piola. "Permisi bu, ibu memanggil saya?" Tanya Aluna berdiri di ambang pintu.


"Oh, Silahkan masuk Aluna!" Balasnya dan Aluna pun langsung duduk di kursi berhadapan dengan ibu Piola.


"Apa kamu sudah tahu kalau desain kamu terpilih untuk pameran di Paris nanti?" Tanyanya langsung pada inti.


"Sudah Bu, Helen memberitahu ku!"


"Hem,," Ibu Piola memperbaiki posisi kacamatanya, "Bulan depan kamu akan berangkat, jadi sekarang kamu bisa mengurus visa, pasport dan lain - lainnya!" Lanjut ibu Piola menatap Aluna.


Aluna menatap ibu Piola dengan wajah sedikit menegang. Hari itu Aluna berencana memberitahu kepada atasannya perihal kehamilannya yang sudah memasuki 17 minggu dan akan semakin sulit disembunyikan nanti.


"Apa ada masalah?" Tanya ibu Piola menautkan kedua tangannya di atas meja, kedua alisnya sedikit mengkerut menatap Aluna yang terlihat seperti menegang.


Aluna semakin berdebar saat ibu Piola bertanya, tubuhnya bergetar, entah harus memulai dari mana harus mengatakannya. Namun, ia juga tidak bisa terus menyembunyikan, terlebih para staff kantor nantinya akan semakin curiga, meski saat ini mereka belum menyadari karena Aluna selalu memakai pakaian longgar.


"G-luk!" Aluna menelan salivanya menatap ibu Piola, kedua tangannya mencengkram kuat dress-nya.


Ibu Piola semakin mengerutkan dahi, "Aluna,, apa ada yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Ibu Piola dengan nada ringan menatap Aluna.


'


'


'


Akhirnya setelah beberapa saat, Aluna mengatupkan gigi memberanikan diri untuk menceritakan semua kepada Ibu Piola.


Aluna membuka tasnya, lalu perlahan menyodorkan secarik kertas kecil hasil foto USG-nya di atas meja untuk ibu Piola.


Ibu Piola pun langsung mengambilnya, sontak membuatnya terkejut melihat mama yang tertulis di kertas foto itu. Ibu Piola membulatkan mata sambil menutup mulutnya, sementara Aluna menatap sendu ibu Piola.


"A,, Aluna kamu ha,,mil?" Tanya ibu Piola terbata - bata saking terkejutnya.


Aluna pun mengangguk, "Sudah 17 minggu, dan kata dokter kembar!" Lirihnya dengan mata berkaca - kaca, ada rasa takut menyelimuti.


Ibu Piola menatap iba kepada Aluna, karena ia tahu kalau hubungannya dengan Arlan sudah berakhir. "Bagaimana bisa ini terjadi, bukankah kalian sudah berpisah?" Tanya ibu Piola sambil menggenggam kedua tangan Aluna yang di letakkan diatas meja.


"Kehamilan ini baru saya ketahui setelah 2 bulan perceraian kami!" Balas Aluna dengan lirih dan bergetar, menatap Ibu Piola.


"Apa pak Arlan mengetahuinya?" Kembali ibu Piola bertanya dan Aluna pun hanya menggeleng kecil.


Seketika hati Ibu Piola ter-cubit, ia menatap lekat wajah wanita yang terlihat malang di depannya. Usianya sama seperti anak perempuannya yang juga sedang hamil, hanya saja anaknya masih berstatus istri sah. Sedangkan Aluna, dia sudah di ceraikan dan harus menjalani hidup tanpa suami dalam keadaan hamil terdengar miris.


"Lalu kenapa baru menceritakannya sekarang?" Tanya ibu Piola memandangi wajah Aluna yang selalu terlihat tenang namun kini terlihat malang.


"M-aaf, aku hanya takut jika nanti akan mempengaruhi pekerjaanku!" Balas Aluna bergetar.


"Ibu mengerti perasaanmu. Putriku yang seusiamu juga sedang hamil jadi aku sangat tahu seperti apa perasaanmu saat ini!" Balas ibu Piola mengelus kecil tangan hangat yang ada dalam genggamannya.


"Terima kasih!" Lirih Aluna menatap lekat wajah ibu Piola, dan tanpa sadar air matanya kembali menetes membuat ibu Piola menatap dengan mata berlinang.


Beruntung ibu Piola merupakan pemimpin yang berpikiran terbuka dan keibuan sehingga tidak ada perlakuan diskriminasi darinya. Jika Aluna berada di tempat lain mungkin saja nasibnya tidak sebaik sekarang, bisa jadi pimpinannya akan bersikap semena - mena.


Namun, meski ibu Piola begitu baik, bukan berarti tidak ada rintangan untuk Aluna. Dia tetap harus berhadapan dengan para staff kantor yang memiliki berbagai macam karakter, dan bisa saja di antara mereka akan ada yang bersikap tidak adil kepadanya kelak.


'


'


'


2 Hari Arlan berbaring di kamar bernuansa putih yang terletak di lantai 2. Rasanya seperti terpenjara karena harus berbaring tanpa melakukan pekerjaan sedikit pun, sementara dirinya orang yang disiplin dalam pekerjaannya dan selalu sibuk di setiap harinya.


Tidak ada tumpukan dokumen, tidak ada kunjungan proyek, tidak ada rapat dan janji temu dengan klien. Arlan dalam posisi setengah baring menatap keluar jendela kaca memandangi gedung - gedung bertingkat yang terlihat cerah dibawa sinar sang mentari.


'


'


'


"Ceklek!"


Saat mendengar pintu di buka Arlan menoleh melihat Nindia yang berlenggak masuk sambil menenteng sebuah bingkisan di tangannya.


Nindia meletakkan bingkisan itu di atas meja, lalu mulai membuka isinya, sementara Arlan sendiri kembali memandangi gedung - gedung di luar.


"Mas makan dulu yah!" Sahut Nindia menunjukkan bubur di tangannya mengulas senyum, tapi Arlan hanya menggeleng.


"Mas,, ingat kata dokter kamu tidak boleh telat makan!" Lanjut Nindia dan Arlan hanya diam tampan meliriknya.


"Aku suap yah, aaaaa!" Aluna mendekatkan sesendok bubur ke Arlan!"


"Aku tidak lapar!" Balas Arlan serak sontak membuat Nindia tersenyum kecut, perlahan menurunkan tangannya yang masih mengudara.


Nindia menyimpan bubur itu di atas meja, lalu mengambil buah apel segar yang baru saja ia beli bersama dengan bubur.


"Kalau gitu aku kupa sin buah yah!" Ucapnya kembali mengulas senyum memulai mengambil pisau kecil bersiap mengupas buah apel di tangannya.


"Sudah ku bilang aku tidak lapar!" Ucap Arlan serak berbalik menatap Nindia.


Sontak Nindia merasa kesal dengan sikap Arlan yang selalu saja menolaknya setiap mereka sedang berdua. Nindia menggenggam kuat apel dan dan pisau di tangannya.


"Kenapa? Apa karena bukan Aluna sehingga mas bersikap seperti anak kecil?" Tanya Nindia yang juga berbalik menatap Arlan.


Arlan memicingkan mata mendengar perkataan Nidia yang semakin berani kepadanya. Nindia kemudian meletakkan buah apel dan pisaunya, lalu beranjak dari duduknya.


"Kenapa diam mas? Benar kan yang ku katakan?" Lanjutnya Nindia seraya menyilangkan kedua tangannya membuat Arlan menatap tajam.


"Nindia!" Ucap Arlan dingin. "Ini tidak ada hubungannya dengan Aluna!" Lanjutnya penuh penekanan tapi justru membuat Nindia semakin memanas.


"Lalu kenapa mas Arlan selalu menolak semua hal yang kulakukan? Mas hanya baik kepadaku jika menyangkut masalah anak dalam kandunganku, mas tidak pernah peduli dengan perasaanku!" Balas Nindia setengah teriak, kedua matanya memerah.


"Nindia jaga sikapmu!" Balas Arlan serak dan dingin.


"Jaga sikap??? bukan aku yang harus jaga sikap" Menunjuk dirinya, "Tapi mas Arlan yang harusnya jaga sikap!!" Lalu menunjuk Arlan yang terlihat masam.


"Apa kamu lupa kita menikah bukan karena saling mencintai??! HAH!!" Balas Arlan diakhir dengan bentakan.


Nindia mengepalkan kedua tangannya hingga kukunya memutih, kedua matanya berlinang merasakan didihan di kepalanya. Nindia melirik ponselnya di atas meja lalu dengan cepat dia meraih ponselnya.


"Ting!"


Notifikasi ponsel Arlan berbunyi, sontak Arlan mengerutkan dahi melirik ponselnya yang berada di sampingnya saat notifikasi chat WhatsApp dari Nindia masuk.


Arlan meraih ponselnya sontak membulatkan mata melihat foto Aluna dan dokter Leo yang di kirimkan oleh Nindia. Dalam foto itu terlihat keduanya saling melambungkan senyuman. Tangan Arlan bergetar melihat foto itu.


"Apa wanita seperti itu yang kamu inginkan?? Buka matamu dan lihat baik - baik! Baru 3 bulan kalian bercerai sekarang dia sudah terlihat akrab dengan laki - laki lain, dan aku yakin ini bukan pertama kalinya mereka bersama!!" Ucap Nindia dingin, kedua matanya berkaca - kaca menatap tajam Arlan yang terpaku dengan layar ponselnya.


"Ke...lu...ar sekarang!" Perintah Arlan penuh penekanan, namun Nindia masih memasang badan bahkan menggertakkan rahangnya menatap Arlan yang sama sekali tidak meliriknya.


"KELUAR!" Bentak Arlan sontak membuat Nindia memejamkan mata lalu menghentakkan kaki berbalik meninggalkan Arlan.


"BRAKKK!"


Nindia membanting pintu dengan keras meluapkan emosi yang menyelimuti hampir meledakkan kepalanya.


'


'


'


Arlan masih menatap tajam ponsel di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya yang terpasang infus mencengkram kuat pada kasur hingga membuat selang infusnya mengalirkan sedikit darah karena pergelangan tangannya tertekuk.


Arlan pun kembali mengingat saat Kris memberikan foto Aluna yang sedang bersama dengan laki - laki, perlahan Arlan mengingat wajah di foto itu terlihat sama dengan foto yang dikirim oleh Nindia. Dan Arlan baru menyadari jika laki - laki itu tidak lain dokter kandungan Nindia. Hatinya seperti tersayat, ada rasa sakit bercampur amarah menekan dadanya hingga membuatnya hampir sesak.


Bersambung,,,