
"Jawab aku! Siapa anak dalam kandungan kakak?!" Lanjutnya dengan suara bergetar bahkan kedua matanya memerah.
Sontak Aluna mengalihkan pandangan, menatap tajam kepada Nindia.
"Apa kewajibanku menjawab pertanyaan mu itu?" Balas Aluna dingin semakin membuat hati Nindia berkecamuk.
Nindia membulatkan mata seketika mendengar jawaban Aluna yang terkesan menantang baginya.
"Jawab aku! atau kakak akan menyesal telah bermain - main denganku!" Ucap Nindia menggertak disertai tatapan yang tajam merasakan didihan amarah di kepalanya.
Aluna tiba - tiba menarik kertas itu dari tangan Nindia yang masih mengudara, sontak membuat Nindia kembali membulatkan mata terkejut lalu menurunkan tangannya dalam keadaan mengepal.
"Apa kamu yakin ingin mendengar siapa ayah dari anak dalam kandunganku ini?" Balas Aluna seraya mengelus kecil perutnya memamerkan kepada adiknya, semakin membuat Nindia menggila.
Disaat keduanya masih terus berdebat dalam perkara kehamilan Aluna. Arlan sendiri terlihat berjalan menyusuri lorong rumah sakit mencari keberadaan Nindia.
Arlan terus melangkahkan kakinya yang jenjang menyusuri lorong sesekali melirik sekitar memastikan keberadaan Nindia.
Semakin lama langkahnya semakin mendekati pada titik keberadaan Aluna dan Nindia yang tengah berada di ujung lorong.
Tak butuh waktu lama akhirnya Arlan melihat Nindia yang sedang berdiri di ujung pertigaan lorong rumah sakit.
Arlan sedikit memicingkan mata melihat Nindia sedang berdiri sambil berbicara dengan seseorang. Hanya saja karena mereka berdiri di pertigaan sehingga ia tidak melihat dengan jelas Aluna yang secara tidak sengaja posisinya berlindung di tiang lorong yang berwarna putih keabu - abuan.
Arlan pun semakin melanjutkan langkahnya itu.
"T'ak!"
"T'ak!"
"T'ak!"
Ketukan langkah dari Arlan perlahan semakin terus berpijak mendekati Nindia dan Aluna sampai,,,
"Brengsek!" Ucap Nindia seraya mengangkat tangannya untuk menampar Aluna. "Akh!" Ringisnya seketika Nindia mengerutkan dahi saat seseorang telah menahan tangannya yang mengudara, sedangkan Aluna sendiri memasang wajah dengan tegak.
"Derr,,, Derr,,,, Derr,,,"
Suara getaran dari ponsel Arlan sontak membuatnya menghentikan langkah, lalu dengan cepat merogoh ponselnya.
"Halo, ada apa Kris?" Ucap Arlan mengangkat telpon dari Kris.
"Apa seperti ini sikap nyonya dari CEO ternama?" Sahut Leo yang kebetulan melihat mereka saat dirinya juga tengah mencari keberadaan Aluna.
Nindia melirik Leo, perlahan sorot matanya melemah. "Ini bukan urusan dokter!" Balasnya memperingati.
"Mas Arlan ada di sini!" Balas Aluna melirik Arlan yang terlihat membelakangi mereka sedang berbicara dalam telepon dan diikuti oleh Nindia.
"Apa kamu yakin ingin memperlihatkan angsa putih berubah menjadi seekor singa?!" Lanjutnya seraya mengangkat kedua Alisnya menggertak Nindia.
"Agkh!" Sontak Nindia menarik paksa tangannya dari genggaman Leo.
Leo mengambil tas Aluna yang masih tergeletak dilantai, lalu menggandeng Aluna meninggalkan Nindia. Nindia memandangi keduanya berlalu dengan masam sambil mengepalkan kedua tangannya sampai kukunya memutih. Tapi, bukan Nindia namanya kalau menerima kekalahan begitu saja.
"Kupastikan kalian akan menerima akibatnya!" Batinnya.
"Baik. Baik saya akan segera kesana! Lanjutnya serak seraya memutuskan teleponnya.
Arlan pun kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya yang lebar mendekati Nindia.
"Nindi,,a?" Sahutnya mengerutkan dahi saat melihat tidak ada orang lain ditempat itu selain Nindia yang berdiri membelakanginya.
Sontak Nindia pun melemahkan tatapannya seraya melepaskan kepalan tangannya, Dengan cepat merubah rautnya menjadi tenang lalu berbalik melihat Arlan. Beruntung Leo membawa Aluna pergi tepat waktu.
"Iya mas?" Balasnya mengulas senyum seperti sedang tidak terjadi apa - apa, dan itu sudah menjadi keahliannya.
Arlan sendiri tidak memperhatikan raut Nindia, melainkan dia sedang meneliti sekitar lorong yang terlihat sunyi merasa sedikit janggal.
"Mas ada apa?" Tanya Nindia seraya ikut meneliti sekitar.
Arlan menarik pandangannya menatap Nindia, "Ayo pulang! Aku harus segera ke kantor!" Balasnya melangkah meninggalkan tempat itu disusul oleh Nindia.
_AREA PARKIR RUMAH SAKIT_
Saat ini Aluna sedang berada di dalam mobil sport putih bersama Leo. Sedangkan Arlan dan Nindia baru saja sampai di parkiran, kebetulan mobil sport hitam milik Arlan berdampingan dengan mobil Leo.
Tentu saja membuat kedua mantan suami istri itu terkejut saling menatap satu sama lain.
Seketika Aluna bergetar menggenggam seatbelt yang melingkar di pinggangnya itu. Tenggorokannya tercekat, padahal hanya duduk didalam mobil serasa memicu adrenalinnya saat itu juga.
Arlan pun ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Aluna, kedua kakinya terasa lemas melihat Aluna yang sedang bersama Leo dalam satu mobil. Kedua matanya memerah seraya mengepalkan kedua tangannya merasakan sayatan di dadanya.
Cemburu? sudah pasti! sakit apalagi! semua bercampur menjadi satu hingga hampir meledakkan dadanya.
Nindia memanfaatkan kesempatan saat itu juga. Dengan cepat dia melingkarkan kedua tangannya di lengan kanan Arlan sedikit menyenderkan kepalanya sambil menunggingkan senyum licik khasnya.
Sontak membuat Aluna seperti menggila saat itu juga, dengan susah paya menelan saliva, kelopak matanya bergetar menahan pedihnya buliran jernih yang berlinang.
"Brom, Brom, Brom,,,,,,,,"
Leo pun melajukan mobilnya meninggal mereka yang masih berdiri diparkiran.
"Benarkan mas dugaanku, Aluna itu tidak tulus mencintaimu! Dia bahkan terang - terangan di depan kita" Lirih Nindia mencuci otak Arlan.
Arlan pun hanya bisa menelan saliva dengan mata yang memerah mengiringi mobil Leo membawa orang yang ia cintai di depan mata.
Arlan mengantar Nindia kembali ke apartemen, sepanjang jalan keduanya tidak saling melirik apalagi berbicara. Arlan mengemudi dengan wajah datar yang menegang, hatinya berkecamuk mengingat Aluna bersama Leo.
Arlan mengatupkan gigi, sesekali menginjak rem jika diperlukan atau hanya melirik lampu merah saja. Sedangkan Nindia? Tentu saja dia juga sedang dalam mood yang buruk.
Sepanjang jalan dia hanya termenung menatap keluar, pikiran akan anak dalam kandungan Aluna mendominasi isi kepalanya hingga membuatnya seperti mendidih.
Setelah sampai di depan apartemen Arlan masih saja masam, bahkan dia enggan membuka pintu untuk Nindia, sehingga Nindia sendirilah yang membuka pintu mobil lalu turun.
"BROM,, BROM,, BROM,,,,,,"
Nindia memandangi mobil sport Arlan yang melaju dengan kencang meninggalkannya seorang diri, sangat jelas jika Arlan sedang dalam suasana hati yang buruk merasakan kecemburuan. Nindia dapat merasakan rasa cinta Arlan yang cukup besar untuk Aluna, semakin membuatnya khawatir.
"AAAAA!!!!" Teriak Nindia, "BRAKKK!!!" Disusul suara pecahan saat dirinya dengan sengaja menyapu bersih benda yang ada diatas meja riasnya.
"NINDIA??"
Panggil ibunya seraya berlari memasuki kamar, sontak membulatkan mata terkejut saat melihat anaknya berdiri di tengah - tengah pecahan botol parfum dan beberapa benda lain yang berserakan di lantai.
"Nindia, ada apa nak?" Tanyanya menghampiri seraya menggenggam kedua tangan Nindia. "Apa yang terjadi?" Kembali bertanya dengan nada khawatir melihat anaknya yang menegang menatap lurus juga bergetar.
Perlahan menuntun anaknya duduk di pinggir kasur. "Katakan kepada ibu, apa yang terjadi?" Membelai lembut kepala Nindia. "Apa Arlan bersikap buruk lagi kepadamu?" Lanjutnya menatap lekat Nindia yang terlihat sendu tidak berdaya.
"Aluna hamil Bu!" lirih Nindia seraya meneteskan buliran jernih di kedua matanya, sontak membuat ibunya membulatkan mata saat itu juga.
"Tidak. Ini tidak mungkin Nindia!" Ucap ibunya seraya berdiri dengan wajah masam. "Aluna tidak mungkin hamil!" Lanjutnya dengan tatapan menyala menggertakkan rahangnya.
"Tapi aku melihat sendiri dan bertemu dengannya bu saat mengikuti kelas. Bahkan perutnya suda terlihat!" Balas Nindia bergetar mengingat saat Aluna mengelus perutnya, semakin membuatnya mengalirkan buliran jernih membasahi pipinya.
"Apa Arlan sudah mengetahui ini?" Tanyanya dingin.
"Belum!" Nindia menatap punggung ibunya yang perlahan berbalik kepadanya.
"Bagus!" Balas ibunya seraya kembali duduk di samping anaknya. "Nindia, kita harus segera bertindak sebelum Arlan mengetahui semuanya!" Lanjutnya menatap anaknya.
"Maksud ibu?" Tanya Nindia yang juga menatap ibunya.
"Selama anak itu tidak diketahui keberadaanya oleh Arlan dan tidak pernah lahir, maka kita tetap akan memegang remote kontrolnya!" Jelasnya penuh penekanan sambil memikirkan sebuah rencana licik.
"Ibu yakin bisa melakukannya?" Kembali Nindia bertanya seraya menghapus air matanya secara perlahan.
"Tentu saja, selam 5 tahun ibu membuatnya sulit mendapatkan keturunan! Meski pada akhirnya dia tetap hamil, tapi bukan berarti ibu tidak bisa menghilang anak dalam kandungannya kalau perlu dengan Aluna sekalipun jika itu menjadi satu - satunya cara agar Arlan melupakannya!" Balas ibunya dingin seraya menyunggingkan senyum licik khasnya.
"Ibu benar!" Balas Nindia juga menyunggingkan senyum licik khasnya.
Ibu dan anak itu pun semakin berambisi, dan sudah pasti menjadi awal kehidupan yang mencekam bagi Aluna.
"Derr,,, Derr,,, Derr,,,"
Suara getaran dari ponsel mengusik laki - laki yang sedang berbaring diatas kursi kayu tua, yang berada di salah satu teras rumah petak.
"Halo,," Sahutnya serak khas bangun tidur.
"Temui aku di tempat biasa!" Seru seseorang dalam telepon.
"Baik!" Balasnya seraya mematikan ponsel lalu kembali berbaring dengan menutup wajah menggunakan topi hitam.
Iapun kembali tertidur di tengah - tengah keseruan anak - anak warga sekitar yang sedang bermain kelereng, bahkan beberapa lagi terlihat sedang berlari saling kejar - kejaran menikmati keseruan mereka di sore itu.
Bersambung,,,