
"Bu, aku kesal dengan mas Rama. Bisa - bisanya dia menyembunyikan tentang komplotan gangsternya itu!" Ketusnya saat memasuki kamar ibunya.
"Kamu tenang ya. Mama juga nggak nyangka, tapi apa gunanya kamu marah sekarang? Kamu hanya perlu ingat, kalian sendiri yang memulai hubungan ini dan sekarang kalian akan memiliki anak!"
"Cek!" Decaknya melipat tangan.
"Sekarang itu tidak penting. Coba kamu lihat berita ini!"
Nindia sontak membulatkan mata menatap layar ponsel ibunya.
"Bu jangan - jangan gangster yang dimaksud...?" Ibu Nindia langsung mengangguk.
Nindia menyunggingkan senyuman liciknya. Jika Arlan tidak ditemukan besar kemungkinan Rama akan menjadi CEO. Dengan begitu langkahnya lebih mudah, dia tidak perlu lagi khawatir dengan Aluna.
"Mau ke mana?" Tanya ibunya saat Nindia berlenggak meninggalkan kamar.
Nindia bergegas ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya, lalu meminta anak buah Rama mengantarnya ke suatu tempat.
'
'
"Nyonya makan dulu! Anda belum memakan apapun sejak pagi."
"Aku tidak berselera, Arlan belum ditemukan. Hiks. Hiks. Hiks."
Wanita paru baya itu kembali terisak di kamar, wajahnya pucat terlihat malang.
Di balik pintu kamar yang tidak tertutup rapat, tuan Wijaya berdiri memandangi istrinya. Namun ia tidak mengganggunya, dia memilih untuk berjalan menuju ruangan pribadinya dituntun oleh kepala pelayan.
'
'
'
Saat ini Nindia sedang berada di sebuah mall, ia terlihat sedang asyik memilih brand. Setidaknya ada 3 buah tas yang ia pilih.
"Mba saya mau bayar!" Seraya mengeluarkan kartunya.
"Maaf bu kartunya di tolak."
"Ya udah pake yang ini aja!"
"Maaf yang ini juga tidak bisa!"
"Kok bisa sih? Coba sekali lagi deh!"
"Maaf Bu tetap nggak bisa. Semua kartu ibu di tolak!" Menyodorkan kartu miliki Nindia.
"Kok bisa mba? Nggak mungkin, isinyatuh banyak!" Ketusnya.
"Bu saya nggak ada waktu buat main-main. Kartu ibu ditolak! Ibu sebenarnya punya uang nggak sih?" Tanya karyawan itu.
Nindia pun terdiam sejenak, kartunya ditolak sudah pasti ini semua karena Arlan. Dan parahnya lagi, ia tidak memiliki uang cash. Sementara dia sudah memegang 3 buah tas, jika harus dikembalikan akan sangat malu, tapi ia juga tidak memiliki uang.
"Ini jadi nggak bu? Kalau tidak, silahkan simpan barangnya! Pelanggan lain juga mau bayar." Ucap karyawan itu melihat beberapa pelanggan yang berkerumun.
"Hey Bu kalau tidak punya uang nggak usah berlagak kaya masuk di brend."
"Iya ni, nggak mampu bayar juga!"
Beberapa pelanggan itu mulai mengeluarkan kata yang tidak pantas di telinga Nindia.
"Cek. Cek." Decak Helen yang kebetulan berada di tempat itu.
"Katanya istri CEO ternama, tapi tidak mampu bayar!"
Nindia melirik Helen dengan tatapan tidak suka.
"Mba saya mau bayar!" Helen menyodorkan kartunya.
"Terima kasih Bu! Ditunggu kedatangan selanjutnya yah!" Ucap karyawan itu usai menggesek kartu Helen.
"Bye miskin!" Bisiknya lalu berlenggak membuat Nindia mengepalkan tangannya.
Sementara yang lain mulai saling berbisik dengan tatapan sinis. Dengan terpaksa Nindia mengembalikan barang, lalu meninggalkan tempat itu menanggung malu.
'
'
'
"Aluna, tiket penerbangan sudah ada!"
"Terima kasih. Apa kamu juga akan pulang?"
"Tentu, aku ke sini karena mendapat undangan dari salah satu penyelenggara pameran, sekalian jalan - jalan. Tapi apa gunanya jalan sendiri!" Mengulas senyum.
Aluna mulai merapikan penampilannya, lalu meninggalkan hotel bersama Leo.
'
'
'
Di dalam ruangan pribadinya, tuan Wijaya sedang duduk memandangi bingkai foto bocah laki - laki berumur sekitar 5 tahun dalam gendongannya.
Senyumannya lebar mengalunkan kedua tangannya ke leher tuan Wijaya menatap camera. Bocah itu tak lain Arlan, putra semata wayangnya.
24 jam telah berlalu, namun Arlan belum juga ditemukan, sedangkan bangkai mobilnya hancur. Dari keterangan petugas kemungkinannya Arlan bisa ditemukan dalam keadaan selamat sangatlah kecil.
Tentu menimbulkan kekhawatiran yang besar dalam hatinya. Bagaimana jika Arlan benar tidak selamat? Ia bahkan masih ingin melihat anaknya dalam waktu yang lama.
'
'
'
Pagi itu, tepat hari ke tiga pencarian di lakukan. Namun baru jam 10 pagi pencarian terhenti akibat cuaca yang buruk.
"Pak, tim kami sudah menyusuri lokasi, namun tidak ada tanda - tanda keberadaan pak Arlan!" Lapor petugas itu kepada Edward.
"Lokasinya juga sangat berbahaya pak, sekarang musim hujan dan licin, jika terus di lakukan takutnya malah menambah korban."
"Jadi kami terpaksa untuk menghentikan pencarian ini. Jika memang keadaan sudah membaik kami akan melanjutkannya besok!"
Edward bertolak pinggang seraya menghela napas. Kepalanya terasa mumet. Jika di hentikan bagaimana Arlan bisa mendapatkan pertolongan, namun jika dilanjutkan dengan cuaca yang buruk akan mengancam banyak nyawa.
"Lebih baik kita menghentikan sementara waktu pak. Saya yakin jika memang pak Arlan selamat maka dia akan tetap kembali kepada kita." Ucap Kris.
Edward tidak bisa egois, dengan terpaksa ia menyetujui untuk menghentikan pencarian sementara.
Sementara disebrang jalan ada Aluna yang menatap sendu mereka, mendengar obrolan ketiganya. Langkahnya berat mendekati mereka.
"Aluna?" Sahut Helen.
Sontak mereka semua membulatkan mata, sangat tidak menyangka jika Aluna telah berada di lokasi bersama dengan Leo. Tentu saja Leo tidak membiarkannya ke lokasi yang berada jauh dari pusat kota seorang diri.
"A-apa tidak ada tanda - tanda keberadaan mas Arlan?" Lirihnya bergetar.
Aluna melirik wajah mereka satu persatu yang menegang. Lalu perlahan Edward menggeleng, sontak membuat Aluna berkaca - kaca.
Aluna memandangi sekitar, matanya pedih menatap pembatas jalan yang runtuh di depan matanya, serpihan kecil pecahan kaca mobil yang berserakan.
Tubuhnya bergetar saat mengalihkan pandangannya ke tepi jurang yang curam. Daun - duan dan semak belukar terlihat basah bekas guyuran hujan deras kemarin malam.
Tenggorokannya tercekat, perlahan menelan salivanya. Kedua matanya meneteskan air mata. Aluna kembali mengingat malam itu sebelum keberangkatannya ke Paris.
Arlan datang menemui dan memeluknya dalam tangis, bahkan tubuhnya dalam keadaan demam mengucapkan kata maaf. Bisa jadi itu pertemuan terakhir mereka jika Arlan tidak ditemukan dalam keadaan selamat.
"Aluna, kuatkan dirimu!" Helen mengelus bahu Aluna.
"Helen, anak kami bahkan belum lahir. hiks. hiks. hiks."
"Aku mengerti kesedihannmu, tapi tolong ingat kamu tidak boleh lemah! Ingat anak dalam kandunganmu!"
Aluna menatap Helen. Lagi - lagi ia hampir egois karena hanya memikirkan dirinya. Jika ia terus bersedih dan membahayakan anak mereka, tentu Arlan juga tidak akan setuju.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan mas Arlan?" Tanyanya seraya menghapus air matanya.
"Malam itu kami memasuki markas gangster dan terlibat perkelahian di sana. Namun, saat kak Arlan mengejar salah satu dari mereka menggunakan mobil, mereka saling menembak."
Aluna terlonjak menutup mulut mendengar perkataan Edward.
"Naasnya, kami datang terlambat sehingga anggota gangster itu menembak mobil ka Arlan sampai bannya meletus dan terguling hingga masuk ke dalam jurang sekitar jam 2 dini hari"
"Gangster? Tapi untuk apa mas Arlan berurusan dengan orang seperti mereka?"
Edward dan Kris saling melirik. Sebenarnya Arlan tidak pernah mengizinkan Aluna mengetahui semua yang ia lakukan. Tapi melihat kondisi sekarang mereka terpaksa membocorkannya.
"Nyonya masih ingat waktu di rumah sakit, anda mengatakan jika salah satu yang menabrak nyonya itu memiliki tanda tato berbentuk bintang di lehernya?" Tanya Kris.
"Tentu."
"Pak Arlan kekeh untuk menemukan komplotan gangster itu, karena meyakini kemungkinan besar mereka adalah pelakunya. Bahkan pak Arlan mengincar ketua gangster tersebut!"
"Sebenarnya kami sudah pernah memergoki anggota mereka, namun mereka semua mati. Itu sebabnya pak Arlan ikut menerobos markas mereka."
Aluna kembali bergetar mendengar perkataan Kris. Meski mereka sudah berpisah, namun tidak menyangka jika Arlan masih peduli dengannya dan anaknya.
"Lalu bagaimana dengan keadaan papa Wijaya?" Tanyanya bergetar.
"Beliau selalu menghabiskan waktunya menyendiri!"
"Kalau begitu antarakan aku menemuinya!" Khawatir.
"Aluna, kamu butuh istirahat!" Balas Helen melihat wajahnya yang pucat.
"Tapi,,,"
"Helen benar, kamu harus kembali istirahat dulu. Jika kamu menemui tuan Wijaya dengan keadaan seperti ini maka dia akan lebih khawatir!" Balas Leo.
"Benar. Kami semua juga harus pulang sekarang. Sepertinya akan hujan lebat!" Kris menatap langit yang menghitam.
Akhirnya, mereka semua meninggalkan lokasi itu. Perlahan gerimis mulai menghiasi lokasi saat mereka meninggalkan tempat itu.
'
'
'
Malam itu Aluna kembali melewati malam yang kelam. Bohong jika dirinya baik - baik saja, dari lubuk hatinya, cinta untuk Arlan masih besar, belum lagi anak dalam kandungannya itu. 5 tahun mereka nantikan dan sekarang Arlan malah hilang dalam sebuah kecelakaan. Takut? Tentu saja rasa takut menyelimutinya.
Aluna merasakan tendangan bayinya dalam perut membuyarkan lamunannya. Perlahan menahan napas menata pikiran. Ia tidak boleh lemah, ia percaya Arlan akan kembali jika Allah mengizinkan, tidak peduli berapa lama pun waktu yang dibutuhkan.
_KEDIAMAN KELUARGA WIJAYA_
24 jam telah berlalu, Aluna kembali menginjakkan kakinya di rumah mewah itu.
"Selamat datang nyonya!" Sambut kepala pelayan itu.
"Papa Wijaya ada di mana pak?" mengulas senyum kecil.
"Di halaman belakang nyonya!"
"Terima kasih!"
'
"Papa Wijaya?" Sahutnya.
Sontak laki - laki paru baya itu mendongak ke sumber suara. "Aluna?" Berbinar.
"Duduklah nak!"
"Bagaimana kabar anda?"
"Papa baik - baik saja. Kamu sendiri bagaimana? Bukannya sedang berada di Paris?"
"Aluna baik pa, awalnya Aluna ingin tinggal seminggu tapi aku mengkhawatirkan papa Wijaya!" Mengulas senyum kecil.
"Terima kasih, kamu harus lebih mengkhawatirkan cucu - cucuku!" Ikut tersenyum.
"Tentu saja!"
Diam - diam kepala pelayan itu memberi kode dengan mengangkat semangkuk bubur kacang hijau favorit tuan Wijaya.
"Anda sudah makan?" Tanya Aluna hati - hati.
Tuan Wijaya menggeleng kecil, dalam keadaan seperti ini napsu makannya seakan hilang.
"Mhh, sepertinya cucu - cucu papa lapar!" Balasnya. Tentu menjadi semangat baru untuk tuan Wijaya.
"Lapar? Ka,, kalau begitu kamu mau makan apa? Papa beritahu pelayan!" Seraya berdiri dari duduknya.
"Pa, papa tenanglah!" Menahan tangannya.
"Aku tidak sekarat, aku hanya sedikit lapar dan rasanya ingin makan bubur kacang hijau!" Lanjutnya membuat tuan Wijaya menatap Aluna berbinar.
Bersambung,,,