
Masih di restoran yang sama, Rama kembali bertemu dengan pak Hadiaksa Permana. Suasana cukup tenang, Rama menuangkan secangkir teh hijau ke dalam gelasnya, lalu menyeruput dengan pelan.
"Bagaimana pak? Apa bapak bersedia menerima tawaran saya?"
"Maaf pak, sepertinya saat ini saya belum bisa menerima!"
"Kenapa? Apa tawarannya kurang besar?" Mengerutkan dahi.
"Bukan begitu pak. Hanya saja saat ini akan diadakan audit di perusahaan saya, saya hanya tidak ingin mengambil resiko. Kami sedang dipantau saat ini!" Bohongnya.
"Hem, baiklah saya bisa mengerti!"
Setidaknya ada 3 klien yang Rama ajak kerjasama hari itu, dan semuanya menolak karena mendapat ancaman dari Edward. Setiap klien akan langsung melaporkan pembatalan kerja sama kepada Edward yang diam - diam memantau mereka.
Rama duduk terdiam dalam ruangan private itu seorang diri, ia merasa sedikit aneh karena ketiga klien itu menolaknya secara bersamaan, padahal perusahaannya merupakan perusahaan besar dalam negri.
Tak butuh waktu lama, ia merogoh saku jasnya dan langsung menghubungi salah satu bawahannya.
"Halo pak!"
"Cari tahu penyebab pembatalan kerja sama klien kita, dan laporan malam ini juga hasilnya!" Serunya penuh penekanan.
"Baik pak!"
'
'
'
Nindia sedang menikmati secangkir susu sambil memainkan ponsel di kamarnya, lebih tepatnya kediaman utama keluarga Wijaya.
Dua pelayan wanita terlihat sedang melayaninya. Salah satu pelayan sedang memijat kakinya, sedangkan satunya lagi memegang nampan yang berisi beberapa buah segar.
Lagaknya seperti yang punya rumah. Tidak, bahkan yang punya rumah tidak pernah meminta para pelayan melayaninya berlebihan.
"Derr,, Derr,, Derr,,"
Panggilan dari nomor yang tidak dikenal mengusik ketenangannya berselancar di sosmed.
"Halo,,, Tut. Tut. Tut."
Nindia mengerutkan dahi saat panggilan terputus. Namun tak lama kemudian panggilan itu masuk untuk kedua kalinya.
"Halo? halo? Tut. Tut. Tut."
Lagi -lagi panggilan terputus, hal itu berulang sebanyak 3 kali membuat Nindia sedikit tidak senang. Wajahnya mengerut.
"Pijit yang benar bisa kan?!" Ketusnya kembali memandangi layar ponsel.
'
"Ting!"
"Ting!"
Notifikasi chat WhatsApp berbunyi sontak membuatnya terlonjak. Nindia membulatkan mata memandangi foto yang dikirim oleh nomor itu.
"Pembunuh!"
"Penghianat!"
Nindia sontak menarik kakinya beranjak dari duduknya. Tubuhnya bergetar.
"DUG! DUG! DUG!"
Detak jantungnya berubah lebih cepat kala ia membuka kiriman foto wajah laki laki dari nomor yang tidak dikenal. Yah, laki - laki dalam foto itu tidak lain merupakan suruhan Nindia yang ia perintahkan untuk menyebarkan rumor pernikahannya bersama Arlan, juga yang telah ia bayar untuk menabrak Aluna.
Dalam foto itu, terlihat suruhannya dalam keadaan babak belur, dengan kedua tangannya yang terikat. Tentu saja membuat Nindia ketar ketir melihat suruhannya menjadi tawanan. Iapun menyadari jika rahasianya telah diketahui oleh seseorang.
Wajahnya memucat menggenggam erat ponselnya, sontak membuat kedua pelayan saling melirik kebingungan.
"Nyo,,"
"Keluar!" Serunya dingin membuat kedua pelayan itu bergegas keluar.
"Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan!"
"Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan!"
Nindia semakin frustasi saat nomor tersebut tidak bisa dihubungi, ia bahkan tidak bisa bertanya siapa dan bagaimana bisa foto itu ad kepadanya.
"AKH!" Kesalnya melemparkan ponsel ke sofa.
"Apa pelajaran yang ku berikan beberapa hari ini, masih kurang bagimu?!"
Nindia membulatkan mata mengingat bisikan Aluna saat itu, ia berpikir mungkinkah jika ini semua perbuatan Aluna? Jika memang benar, maka keputusan yang diambil oleh ibunya itu sudah sangat tepat.
"Kita lihat saja, hari ini akan menjadi hari terakhirmu di dunia!" Gumamnya.
'
'
'
Aluna baru saja menemui kliennya, perutnya sedikit lapar namun ia masih harus menemui satu klien lagi. Ia sedikit bimbang apakah harus makan dulu atau langsung ke lokasi saja.
"Ting!"
"Maaf bu hari ini saya kurang sehat jadi tidak bisa menemui ibu. Jika tidak keberatan ibu bisa ke apartemen saya saja untuk membahas detailnya!"
Aluna berpikir sejenak, ia merasa tubuhnya baik - baik saja dan laparnya masih bisa ia tahan. Ia pun memutuskan untuk menemui kliennya itu di apartemen terlebih dahulu lalu mencari makan.
Aluna menyetop taxi setelan kliennya share location melalui WhatsApp. 15 menit kemudian Aluna tiba di lokasi. Apartemen itu berada di kawasan elit, ia mendongak menatap gedung menjulang tinggi, hanya ada 2 unit di setiap lantainya. Mata hari semakin tinggi, membuat Aluna memicingkan mata.
Aluna berjalan memasuki pintu lobi apartemen. Security menyambutnya dengan senyuman, lalu perlahan memasuki lift menuju lantai 3."
"Ting!"
Pintu lift terbuka, Aluna keluar dari lift. Karena hanya ada 2 unit setiap lantai jadi cukup mudah menemukan kamar yang ia cari, keadaan sangat hening. Klien tersebut menjadi pelanggan untuk ke 2 kalinya, itu sebabnya Aluna memberanikan diri untuk menemuinya.
'
"Ting Tong."
"Ting Tong."
'
"Ceklek!"
"Ibu Aluna yah? Silahkan masuk Bu!"
Aluna mengikuti wanita yang kemungkinan besar ART kliennya dan langsung duduk di sofa.
"Maaf, ibu Melisa-nya di mana yah?"
Aluna mengerutkan dahi, jelas - jelas kliennya itu mengatakan kalau ia sedang kurang sehat. Perasaan Aluna mulai tidak tenang merasakan sesuatu yang tidak beres.
'
'
'
"Apa? Cepat kirimkan lokasinya sekarang!" Seru Arlan saat mendapat telepon dari Edward.
Arlan memasang wajah datarnya yang dingin memasuki mobil dan melaju menuju apartemen tempat Aluna berada. Ia mengemudi dengan kecepatan tinggi, bahkan hampir menabrak beberapa kendaraan saat ia menyalip setiap kendaraan di depannya.
'
'
'
"Ibu silahkan di minum!"
Aluna menahan tangan ART itu membuat yang punya tangan terdiam menatap Aluna.
"Katakan apa yang sedang kalian rencanakan?"
"Ma, maksud ibu apa?" Terbata - bata dan Aluna mencengkram kuat tangan ART itu.
'
"Cek. Cek. Jangan galak - galak!"
Aluna sontak membulatkan mata saat melihat ibu Nindia keluar dari dalam menghampiri dirinya yang masih duduk di sofa. Sebenarnya klien yang dimaksudnya itu merupakan kenalan ibu Nindia sehingga ia memanfaatkan situasi untuk mengelabuinya.
"Ibu?" Terkejut seraya berdiri, dan ART itu mengambil kesempatan untuk keluar meninggalkan mereka berdua di dalam unit itu.
"Kenapa terkejut? Aku tidak akan memakan mu anakku sayang!" Menyunggingkan senyum licik.
"Apa yang ibu rencanakan sebenarnya?" Tanya Aluna bergetar.
"Ibu tidak merencanakan banyak hal, selain menyingkirkan mu!" Balasnya dingin seraya membelai lembut kepala Aluna.
"Akh!" Terkejut saat Aluna menepis tangannya secara kasar.
Sontak ibu Nindia mengangkat tangannya untuk menampar, namun Aluna menahannya lalu mendorong ibu sambungnya hingga terjatuh ke sofa.
"Kurang ajar!" Ketusnya.
Aluna berusaha membuka pintu, namun terkunci saat ART itu keluar.
"Akh!" Ringis Aluna saat ibu Nindia menarik kasar rambutnya bahkan menyeretnya ke sofa.
"BUG!" Aluna melawan dengan menendang perut ibu Nindia, namu baru saja ia berdiri ibu Nindia kembali menarik kakinya.
Karena kondisinya sedang hamil, membuat Aluna sedikit kewalahan untuk bergerak lebih bebas. Ia berusaha menarik kakinya seraya memegangi perutnya untuk melindungi kandungannya.
"Lapas! Lepas!" Ucapnya seraya memukul kepala ibu Nindia menggunakan tas.
Untuk sementara ia berhasil melepaskan diri dari cengkraman ibu Nindia setelah memberikan beberapa pukulan. Namun tetap saja saat dirinya meraih gagang pintu yang terkunci itu membuatnya kesulitan.
Ibu Nindia kembali berdiri dang menariknya hingga ia terjatuh ke lantai. Dengan perutnya yang membesar membuat Aluna kewalahan untuk berdiri dengan cepat.
"PLAK!"
Akh!" Ringisnya saat satu tamparan di pipinya. Tak hanya itu, ibu Nindia kembali menarik rambutnya bahkan lebih kuat membuat Aluna semakin meringis dengan mata memerah.
"Dengar, aku akan mengirim mu ketempat ayah dan ibumu tercinta!" Ucapnya penuh penekanan.
'
'
'
Arlan baru saja memarkir mobilnya di depan tangga pintu masuk. Lalu berlari menaiki tangga.
"Pak maaf anda tidak bisa memarkir mobil sembarangan!" Cegat security itu.
"Maaf saya sedang buru - buru!" Melanjutkan langkahnya.
"Tapi pak ini sudah menjadi aturan!" Security itu menarik tangannya.
"Pak sya sedang buru - buru!Bentaknya melepas penutup kepalanya sontak membuat security itu membulatkan mata.
Siapa yang tidak mengenali wajah CEO tampan yang datar juga terkesan dingin itu. Dalam keadaan bergetar security itu melepaskan tangannya secara perlahan, sulit dipercaya Arlan yang dinyatakan hilang hampir sebulan tiba - tiba muncul di depannya.
Wajah Arlan terlihat pucat dan masam memancarkan aura mencekam. Dengan tatapan tajam menatap security yang mulai lemas. Arlan kembali berlari memasuki lift sedangkan security itu terjatuh pingsan karena terlalu syok mengira dirinya sedang melihat hantu disiang bolong.
Saat memasuki lift, Arlan kembali memasang penutup kepalanya sehingga membuat wajahnya sedikit tertutup. Meski ia tidak ingin menampakkan dirinya di depan umum, namun jika itu menyangkut Aluna dan anak - anaknya ia tidak akan berpikir 2 kali, sekali pun itu membahayakan nyawanya sendiri.
'
'
'
"Ibu benar - benar tidak punya hati nurani dan balas kasih!"
"Apa itu hati nurani? Dan balas kasih? Heg, balas kasih hanya ada pada orang yang lemah! Sedangkan aku tidak selemah itu, jadi jangan harap aku akan berbalas kasih kepadamu!" Semakin menarik rambut Aluna.
"Kamu benar - benar ibu yang licik!" Ucap Aluna serak.
"Heg. Selama bertahun - tahun aku hanya menerimamu karena menghormati ayahmu. Kamu selalu mendapat yang lebih dari Nindia, termasuk cinta. Apa kamu tidak tahu kalau Nindia pernah memendam rasa kepada Arlan tapi dia justru memilihmu sebagai ratunya bahkan sampai Nindia menjadi istrinya dia tetap tidak bisa melupakanmu!"
"Coba saja kalau bisa menyingkirkan ku. Kamu akan menyesal karena telah membuatku seperti ini!"
"Kamu pikir aku takut? Selama bertahun - tahun kamu bahkan tidak menyadari penyebab dirimu sulit mendapatkan keturunan itu karena aku telah memberikan ramuan untuk mu! Hanya saja aku sedikit lalai sampai kamu bisa hamil setelah 5 tahun!"
Aluna kembali terlonjak membulatkan mata, ia sama sekali tidak menyangka jika ibu sambungnya begitu jahat sejak dulu.
Aluna meronta berusaha melawan dan ia menarik kuat kera baju ibu Nindia membuat yang punya baju sedikit oleng dan ikut terjatuh di lantai.
Namun, Aluna cukup kelelahan. Ia berusaha berdiri dan mengatur napas. Tapi sekali lagi wanita tua itu kembali berdiri bahkan mengeluarkan sebuah pisau kecil yang tajam sontak membuat Aluna memucat membulatkan mata.
"Bu. Apa yang ibu lakukan?" Memundurkan langkah seraya memegangi perutnya.
"Sudah kukatakan aku akan mengirim mu bertemu dengan orang tuamu!"
Ibu Nindia mengayunkan tangannya beberapa kali dan Aluna berusaha menghindar. Tapi justru semakin membuatnya menyerang dengan membabi buta.
"Akh!"
Aluna kembali meringis saat pisau itu menggores pergelangan tangan kirinya dan dalam sekejap mengalirkan darah segar.
Bersambung...