
Pagi itu Aluna kembali menjalani rutinitasnya, dengan langkah ringan dia berjalan anggun dalam balutan dress berwarna krem yang berkerah pita, di padukan dengan aksesoris yang berkilau dan heels yang sedang berwarna kecoklatan.
Rambutnya bergelombang di kuncir satu sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang dan putih.
"Bu Aluna?" Panggil security saat dirinya berjalan melewati pintu masuk.
Aluna menghentikan langkahnya lalu berbalik melihat security itu, "Ada apa pak?" tanyanya saat security itu menghampiri.
"Ini ada titipan untuk ibu!" Jawab security itu menyodorkan bingkisan yang belum diketahui isinya.
"Dari siapa pak?" Tanyanya seraya meraih bingkisan itu.
"Saya tidak tahu Bu, dia tidak menyebutkan namanya." Balas security itu.
Aluna melirik sekitar halaman kantornya, tapi tidak ada sesuatu yang mencurigakan atau sesosok yang ia kenal.
Aluna mengangkat kedua alisnya "Terima kasih pak!" Ucapnya lalu melanjutkan langkahnya.
'
'
'
Sedangkan Arlan, hari itu melakukan kunjungan di lokasi proyek FAMILY RESIDENCE di dampingi oleh Kris.
"Selamat datang pak Arlan!" Sambut kepala mandor dan arsitek yang ada di sana sambil berjabat tangan.
"Bagaimana proses pembangunan, semua berjalan lancar?" Tanya Arlan serak meneliti sekitar termasuk para buruh yang sedang bekerja.
"Lancar pak, saat ini pembangunan sekitar 25 %." Jawab kepala mandor itu.
"Mari pak saya antar untuk berkeliling!" Ajak arsitek dan Arlan pun mengikutinya begitu juga dengan Kris.
Arlan berjalan mengelilingi lokasi melihat bagian - bagian bangunan, berbincang dengan beberapa buruh mengenai proses pembangunan termasuk kendala- kendala yang mereka alami.
Arlan termasuk tipikal teliti dan mendahulukan kepentingan bersama, termasuk memastikan kenyamanan dan keselamatan para pekerja di bawa proyeknya.
"Bagaimana pak apa ada sesuatu yang menurut bapak kurang atau perlu di perbaiki?"
"Mhh sejauh ini saya melihat masih aman dan sesuai dengan perencanaan!" Balasnya serak sambil bertolak pinggang.
Saat Arlan berbincang dengan arsitek itu, berbeda dengan Kris yang hanya diam namun tidak dengan matanya, dia meneliti sekitar bahkan mengamati para pekerja itu memastikan semua yang bekerja terlihat baik.
Kris merupakan sosok laki - laki dewasa yang sebaya dengan Arlan, berstatus duda beranak 1 karena istrinya meninggal saat melahirkan sang putri tercinta.
Berkulit sedang bisa dikatakan tidak putih juga tidak hitam, hidung mancung, memiliki netra hitam dan bibir sedang, cukup tampan terlebih posturnya tergolong tinggi tegap.
Dia cukup cerdas dan pemikirannya selaras dengan Arlan, sehingga menjadikan mereka bukan hanya sekedar rekan kerja tapi menjadi satu - satunya orang terdekat Arlan di perusahaan.
"Kalau begitu kami permisi dulu pak!" Pamit Arlan.
"Baik pa, silahkan!"
Arlan dan Kris melangkah meninggalkan arsitek itu menuju ke lokasi parkir. Sambil melepaskan helem yang berwarna kuning di kepalanya.
"Bagaimana Kris?" Tanya Arlan saat sudah berada dalam mobil sehingga hanya mereka berdua yang mengetahui percakapan diantara mereka.
"Aman pak, semua sudah berada pada posisinya!" Balas Kris.
Entah apa yang mereka maksud, namun yang pasti Arlan selalu memiliki rencana dan pemikiran tersendiri yang sulit untuk ditebak sebagai bentuk perlindungan untuk dirinya.
Mereka pun meninggalkan lokasi proyek dan kembali ke perusahaan untuk melanjutkan pekerjaan yang lain.
Arlan tahu kalau saat ini posisinya sangat tidak aman, sudah banyak perkara yang selalu ia hadapi selama menjabat sebagai CEO, tapi ia selalu berhasil melewati dan menyelesaikan setiap masalah.
'
'
'
Kembali ke Aluna yang sudah berada di dalam ruangan, ia terlihat sedang bekerja bersama dengan Helen menyelesaikan sebuah set perhiasan pesanan dari klien.
Klien yang satu ini memiliki keunikan tersendiri, dia tidak pernah memesan hanya satu perhiasan saja tapi selalu memesan 1 set lengkap yang berisi sepasang anting, kalung, cincin juga gelang.
Hanya Helen dan Aluna yang selalu siap siaga menyelesaikan pesanannya yang terkesan sedikit rumit juga pemilih. Bahkan Aluna yang sudah menjadi desainer populer di perusahaannya terkadang harus melakukan beberapa kali revisi.
"Bagaimana kalau permatanya sedikit lebih besar?" Tanya Helen.
"Boleh, tapi ingat dia tidak suka jika modelnya terlalu runcing!" Balas Aluna.
"Ok!"
"Untuk gelangnya lebih baik di tambahkan beberapa titik permata berwarna biru!" Lanjutnya Aluna.
"Bisa, tapi jangan lupa dia tidak suka jika warnanya terlalu mencolok juga terlalu gelap!" Balas Helen yang juga mengingatkan.
"Beres semua sudah ku catat, nanti tinggal disesuaikan dengan warna yang pas saat proses produksi!" Balas Aluna.
"Aku hanya mengingatkan sebelum nanti dia berkata,,,"
"Aku tidak suka modelnya. Ini terlalu tua dan norak, aku juga tidak suka warnanya yang kampungan!" Ucapnya mereka kompak menirukan gaya kliennya lalu saling melirik.
"Hehehe!" Kompak terkekeh kecil.
Kurang lebih seperti itulah karakter kliennya yang istimewa itu. Namun telah menjadi klien tetap selama beberapa tahun ini hingga sulit untuk menolak setiap permintaannya.
Setelah menyelesaikan beberapa gambar Aluna dan Helen duduk berisitirahat di sofa panjang yang masih berada dalam ruangannya.
Keduanya duduk berdampingan bersandar di sofa sambil meluruskan kaki ke depan meregangkan otot. Menjadi seorang desainer tidaklah mudah, mereka harus mengikuti tren, memiliki ciri khas tersendiri dalam setiap karya, mengenali karakter dan gaya klien agar lebih mudah menemukan desain yang cocok.
Mereka juga harus siap menerima permintaan atau keluhan klien yang terkadang membuatnya melakukan revisi beberapa kali, agar klien tetap mempercayai mereka. Dan hal yang tidak kalah penting adalah ego, desainer harus tetap menjaga attitude juga selalu berpikiran terbuka.
"KRUYUK,, KRUYUK,,"
"Bentar deh, aku seperti mendengar sesuatu?" Sahut Helen mendekatkan kupingnya ke perut Aluna bermaksud menggodanya saat mendengar perutnya yang keroncongan.
"Helen,,,!" Lirih Aluna sedikit cemberut.
"Hehehe!" Terkekeh kecil, "Kamu lapar?" Tanya Helen melirik jam tangannya yang baru menunjuk angka 11:00 jelang siang.
"Ia nih, beberapa hari ini gue lebih sering laper!" Balas Aluna memegangi perutnya.
"Mh,, terus mual muntahnya?" Tanya Helen menatap sahabatnya penasaran.
"Udah dua hari ini sih nggak muntah, tapi masih sering mual." Jelas Aluna dan Helen pun mengangguk.
"Baguslah, itu artinya kondisi kamu semakin membaik!" Helen mengulas senyum begitu juga dengan Aluna.
Aluna melirik bingkisan di atas meja kerjanya lalu beranjak mengambilnya sebelum kembali duduk di samping Helen.
"Apa itu?" Tanya Helen mengerutkan dahi sedikit penasaran.
"Aku juga belum tau isinya apa, tadi security yang memberikan katanya titipan dari seseorang."
Aluna pun membuka bingkisan itu, membuatnya sedikit terkejut saat melihat isinya.
"Salad buah?!" Sahut Helen ikut memandangi isi bingkisan.
"Ting!"
Aluna mengambil ponsel diatas meja saat mendengar notifikasi ponselnya berbunyi.
"Halo nyonya,, buah sangat baik untuk memenuhi nutrisi ibu hamil, kuharap mual muntahnya berkurang dan napsu makannya lebih meningkat!" 😸
"Dokter Leo."
Untuk yang kesekian kalinya notifikasi dari dokter Leo masuk, bahkan kali ini mengantarkan makanan untuknya, memang sedikit unik.
Aluna mengulas senyum kecil membaca chat dari Leo. Entah kenapa Leo selalu memberi energi positif baginya sejak saat pertama kali bertemu.
"Owh jadi namanya dokter Leo!" Sahut Helen yang diam - diam ikut membaca chat dari Leo sontak membuat Aluna terkejut menarik ponsel ke arah dadanya.
"Helen,,!" Lirih Aluna mengalihkan pandangan sedikit salah tingkah.
"Coba jelaskan ke gue ada hubungan apa kamu dengannya?" Seru Helen menopang dagu.
"Apaan sih, dia itu dokter yang direkomendasikan oleh dokter Citra." Balasnya.
"Yakin?" Kembali Helen bertanya sedikit memicingkan mata meneliti mimik Aluna.
"Yakinlah!" Balas Aluna singkat.
"Tapi,,,"
"Helen Kliennya! Dia pasti sudah menunggu!" Ucap Aluna mengingatkan rencana janji temunya dengan Klien sambil mendorong tubuh Helen beranjak dari sofa.
"CK!" Decak Helen, "Ok. Ok. Gue pergi sekarang!" Balas Helen beranjak dari duduknya sambil menenteng tasnya yang bermotif macan favoritnya.
"Ingat kamu berhutang penjelasan denganku!" Lanjutnya menunjuk Aluna dengan nada ringan dan Aluna hanya memutar bola matanya terkesan mengabaikan perkataan Helen.
'
'
'
_KEDIAMAN KELUARGA WIJAYA_
"Bagaimana semua sudah dipersiapkan?" Tanya nyonya Wijaya saat memasuki dapur keluarga yang bergaya victorian itu dengan nuansa warna krem.
Berbagai furniture mewah menghiasi isi dapur seperti lampu gantung kristal yang besar, beberapa kursi yang sengaja ditata di bagian tengah ruangan dan peralatan dapur lainnya.
"Sudah nyonya, semua menu makan malam sesuai dengan permintaan nyonya!"
"Bagus, pastikan semua bahan dan peralatan yang digunakan tetap steril!" Serunya mengingatkan para pelayan.
Terlihat beberapa bahan mentah berupa daging segar, sayuran dan beberapa bahan lain yang dapat menunjang kesehatan ibu hamil.
Hari itu nyonya Wijaya berencana mengadakan makan malam bersama dengan anak juga menantunya. Rasa bahagia terpancar dari wajahnya yang lebih bersinar mengingat dirinya sudah menjadi calo nenek.
Bersambung...