IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
50. 02 : 00



"Prok. Prok. Prok."


Suara tepukan dari laki - laki bertopeng yang nyaring menghiasi ruang bawah tanah menyambut Arlan. Saat dirinya memasuki ruangan yang di sekat itu.


Arlan memicingkan mata melihat laki - laki tegap di depannya. Wajahnya tidak terlihat namun, ia merasa tidak asing dengan sosoknya. Arlan melirik sekitar melihat beberapa peti yang sama dengan yang pernah diperlihatkan oleh Kris, juga beberapa orang yang mengelilinginya.


Lalu kembali memandangi laki - laki bertopeng itu. Arlan dapat menebak 100%, kalau dia merupakan ketua gangster yang sebenarnya.


Tak butuh waktu lama laki - laki bertopeng itu memberikan kode kepada kawanannya menyerang Arlan.


"BUG!"


"BUG!"


"BUG!"


Arlan kembali beradu dengan 3 orang sekaligus. Ia memberikan beberapa pukulan kepada mereka, namun mereka juga cukup kuat hingga membuat Arlan ikut mendapatkan 2 pukulan di wajahnya.


'


Sementara di atas, Kris dan Edward pun sudah memukul habis kawanan mereka. Dengan cepat mereka pun berlari ke ruang bawah tanah.


"BUG!"


"BUG!"


Arlan berhasil membuat 2 orang lawannya tergeletak hingga membuat laki - laki bertopeng itu pun maju menendang pinggang Arlan yang sedang bertarung dengan satu orang lagi.


Sontak Arlan tersungkur ke lantai. Dan tak lama kemudian kawanan yang tergeletak di tangga bangkit menyerang Arlan.


"HYAK!"


Teriaknya berlari dan,,


"BUG!"


Laki - laki itu kembali tersungkur saat Edward melompat dari tangga menendangnya.


Kini Arlan, Edward dan Kris berdiri di depan laki - laki bertopeng itu, juga 4 bawahan Arlan yang ikut memasuki ruangan bawah tanah. Sekilas sepertinya kemenangan sebentar lagi berada di tangan mereka. Namun,,,


"Prok! Prok!"


Laki - laki bertopeng itu kembali menepuk tangannya, namun dengan irama yang lebih cepat.


Tak butuh waktu lama 5 orang berbadan kekar penuh tato pun muncul dari dalam. Bisa ditebak mereka merupakan orang terkuat dari anggota gangster mereka.


Sontak membuat Arlan, Edward juga Kris membulatkan mata.


"BUG!"


"BUG!"


"BUG!"


5 Orang itu pun mulai menyerang dan langsung di balas oleh komplotan Arlan. Pertarungan mereka terlihat sengit, namun Arlan lebih memilih bertarung dengan laki - laki bertopeng itu.


Ruangan bawah tanah itu dipenuhi dengan suara gemuruh kedua kubu yang saling menyerang.


"BUG!"


"BUG!"


Arlan terus memukul laki - laki bertopeng itu. Namun ia cukup kuat hingga mereka sulit saling menjatuhkan. Akhirnya setelah beberapa saat Arlan menendang kaki kirinya dengan keras sebanyak 2 kali hingga membuatnya terjatuh.


Sementara Edward dan Keris juga masih saling melawan dengan yang lain. Ke 5 kawanannya itu tak kalah kuat hingga membuat komplotan Arlan sulit menjatuhkannya.


Arlan kembali bersiap memukul namun ia tiba - tiba dipukul dari belakang oleh salah satu kawanan gangster itu. Laki - laki bertopeng itu mengambil kesempatan untuk menaiki tangga bermaksud melarikan diri.


Dengan cepat Arlan menendang kawanan yang memukulnya lalu menaiki tangga menarik laki - laki bertopeng itu. Sontak membuatnya terperosok. Namun ia menendang Arlan hingga membuatnya kewalahan.


Arlan tidak menyerah. Ia menggunakan kekuatannya berusaha menarik topengnya, tapi laki - laki itu terus meronta hingga Arlan hanya mampu mencengkram bagian lehernya dan,,,


Arlan terlonjak membulatkan mata saat tangannya tidak sengaja menarik kulit palsu pada bagian leher memperlihatkan tato bintang di lehernya.


Laki - laki itu terpaku dan terlihat panik selama beberapa saat. Lalu dengan cepat menendang bahu Arlan sebelum kembali menaiki tangga. Arlan pun menyusul dan,,


"DOR!"


"DOR!"


Laki - laki itu menembak ke arah Arlan, sontak membuat Arlan sedikit menunduk berlindung di tangga.


"DOR!"


"DOR!"


Arlan membalas tembakan saat laki - laki itu saat ia berlari menuju pintu keluar.


"Akh!" Ringisnya saat tembakan kedua menggores lengannya.


"BUG! BUG!"


Arlan melompat menendang laki - laki itu dan keduanya kembali bertarung di lantai atas 1 lawan 1. Setelah beberapa saat mereka bertarung membuat laki - laki itu terdorong bersandar di dinding seng dengan wajah dipenuhi keringat terlebih merasakan sakit di lengan kanannya.


Arlan yang juga dipenuhi keringat bahkan napasnya tersengal sengaja mengincar wajahnya itu langsung menarik topengnya hingga terlepas.


Arlan kembali membulatkan mata, tubuhnya bergetar seketika memandangi wajah Rama di depannya.


Arlan mencengkram kuat kera baju Rama. "Jadi kamu yang sengaja menabrak Aluna?" Ucap Arlan dingin dengan mata memerah.


Rama mengerutkan dahi mendengar perkataan Arlan. "Aku memang membencimu. Tapi aku tidak pernah berencana membunuh Aluna!" Balas Rama dingin mencoba melepaskan mencengkram Arlan.


"KAMU TIDAK PERLU BERBOHONG!"


Bentak Arlan bergetar dengan mata berkaca - kaca.


"BUG! BUG!"


Arlan memukul perut Rama dengan keras hingga membuat Rama terhuyung seraya memegangi perutnya.


"Aku sudah katakan bukan aku!" Balas Rama seraya melayangkan pukulan ke wajah Arlan.


"BUG! BUG!"


Arlan kembali melawan Rama, dan kini ia mulai mengunci kedua tangan Rama ke belakang hingga membuat Rama tidak memiliki cukup tenaga untuk melawan.


"Kamu tidak perlu berbohong lagi! Jelas - jelas Aluna melihat tato berbentuk bintang di leher salah satu orang yang menabraknya!" Ucap Arlan serak dan bergetar.


Sontak Rama membulatkan mata, "Nindia!" Gumam Rama secara tidak sengaja namun cukup jelas di denger oleh Arlan.


"DUG!"


Jantung Arlan berdetak kencang seketika mendengar Rama. "Apa maksud kamu menyebut Nindia?" Tanyanya bergetar dan,,


"Akh!"


Ringis Arlan, saat Rama membenturkan kepalanya ke wajah Arlan dengan keras. Hingga membuat Arlan terhuyung sontak melepaskan tangan Rama.


Arlan memegangi hidungnya yang berdarah, lalu menggelengkan kepala kembali membulatkan mata saat Rama sudah tidak ada di tempat. Arlan berbalik dan melihat Rama yang sudah berlari menyusuri lorong kecil itu. Arlan berlari mengejar Rama.


Sementara Edward dan Kris baru saja menjatuhkan semua lawannya. Keduanya dipenuhi keringat terlihat sedang berdiri mengatur napasnya yang tersengal. Lalu mulai membantu temannya yang terluka.


"Kak Arlan Kris?" Sahut Edward saat menyadari Arlan dan laki - laki bertopeng itu menghilang.


Mereka pun dengan cepat menyusul ke lantai atas dan terlihat kosong, hanya ada beberapa orang yang tergeletak dan bekas darah.


Edward berjongkok memeriksa bekas darah segar itu. "Kris kita harus membantu kak Arlan!" Seru Edward seraya meninggalkan tempat itu.


'


'


'


Arlan terus berlari mengikuti Rama di sepanjang lorong, hingga Rama memasuki mobil hardtop hitam miliknya. Begitu juga dengan Arlan yang langsung memasuki mobil sedan hitam yang juga miliknya.


"BROM. BROM. BROOMM....."


Arlan dan Rama kini saling mengejar menggunakan mobil.


Namun, 2 orang penjaga yang tadinya pingsan sudah terbangun dan langsung memasuki mobil pickup lalu dengan cepat menyusul keduanya.


Kini ketiga mobil itu saling mengejar dengan posisi mobil Arlan berada di tengah.


'


'


'


Aluna memandangi piramid kaca yang penuh cahaya itu.


"Cantik kan?" Tanya Leo.


"Mm,, iya cantik!" Balas Aluna mengulas senyum.


"Tapi akan lebih cantik jika bentuknya menjadi bulat." Balas Leo membuat Aluna mengerutkan dahi.


"Loh kenapa? Bukankah segitiga dari piramid ini cantik?!" Balasnya menatap Leo.


"Mm ia,, akan lebih cantik jika bentuknya bulat hingga tidak memiliki ujung. Sama seperti pertemanan kita yang tidak akan berujung dan berakhir!" Balasnya menggoda seraya mengulas senyum.


"Heheh!" Kompak terkekeh kecil.


'


'


'


Saat ini Edward bersama yang lain berada di jalan masuk pemukiman dan melihat mobil - mobil yang terparkir menghilang.


"SIAL!" Ketus Edward.


"Cepat ambil mobil!" Seru Kris dan salah satu dari mereka pun langsung mengambil mobil hardtop hijau.


Dengan cepat mereka menyusul.


'


'


'


Arlan terus mengejar mobil Rama menyusuri jalan raya yang sunyi itu. Bahkan penerangan lampu jalan minim.


"BROM, BRROMMM,,,,"


Arlan memancarkan aura dingin yang memburu semakin menambah kecepatan mobilnya. Begitu juga dengan Rama semakin melajukan mobilnya.


"DOR!"


"DOR!"


Keduanya mulai saling menembak saat mobil Arlan mulai menyalip mobil Rama.


"DOR!"


"DOR!"


Tanpa terduga tembakan dari belakang juga menghujani mobil Arlan saat anggota gangster Rama mengikuti mereka melepaskan tembakan.


Arlan sedikit berlindung, namun kaca mobilnya sedikit retak.


"DOR!"


"DOR!"


Arlan terpaksa menembak mobil dibelakang dan,,


"AKGHH!" Ketus Arlan lalu melempar pistolnya karena kehabisan peluru.


Arlan berusaha menghindari mobil itu dan,


"DOR!"


"DOR!"


Kini Kris bersama Edward sudah berada di belakang mobil hardtop gangster itu juga melayangkan tembakan.


"DOR!"


Namun, siapa sangka tembakan dari salah satu gangster itu mengenai ban mobil Arlan hingga menyebabkan pecah dan oleng. Sontak sedan hitam itu berputar 160 drjat dan terseret beberapa meter hingga,,


"AAAA!" Teriak Arlan.


"BRAK!" Suara benturan kerasa terdengar menghiasi jalanan yang sunyi itu ketika mobil Arlan menabrak pembatas jalan dan terperosok beberapa meter ke dalam jurang yang gelap itu.


'


'


'


"Akh!" Sontak Aluna yang berdiri memandang piramid kaca sedikit mengerutkan dahi seraya memegangi dadanya.


"Aluna kamu kenapa? Sakit?" Tanya Leo sedikit khawatir.


Aluna pun menggeleng kecil. "Ya Allah ada apa ini?" Batinnya saat merasakan dadanya berdebar, juga seketika membuat hatinya cemas dan gelisah.


'


'


'


"Kris cepat!" Seru Edward saat melihat mobil Arlan masuk ke dalam jurang.


Kris pun menambah kecepatan mengejar mobil hardtop itu dan,,


"DOR!"


"DOR!"


Edward menembak mobil itu membabi buta hingga menyebabkannya terbalik dan 2 orang di dalamnya meninggal di tempat.


'


'


'


Rama cukup terkejut saat melihat di spion mobil Arlan terguling dan terperosok. Namun, ia tidak peduli dan merasa panik hingga membuatnya semakin tancap gas meninggalkan tempat itu.


'


Kris memarkir mobil dipinggir jalan. Ke empat bawahan Arlan berlari memeriksa 2 anggota gangster yang tergeletak itu. Sedangkan Edward melempar senjatanya sambil berlari kepinggir jalan tempat mobil Arlan terperosok.


"KAK ARLAN!!"


"KAK ARLAN!!"


Teriaknya berdiri di pinggir jalan menghadap jurang yang gelap itu.


"CEPAT HUBUNGI POLISI!"


Seru Kris kepada kawannya dengan nada keras dalam kepanikannya.


Edward kalut hingga tidak berpikir jernih ia bahkan berencana menuruni jurang gelap namun di tahan oleh Kris.


"Pak Edward jangan!" Ucap Kris menarik Edward yang mulai menurunkan kaki kanannya.


"Tidak aku harus menolong ka Arlan!" Balasnya berusaha melepaskan diri.


"Pak. Pak. Jangan!"


"TIDAK! TIDAK!" AKU HARUS TURUN KRIS!!" Balasnya meronta namun Kris bersama yang lain menariknya hingga terhuyung ke tengah jalan.


"PAK INI BERBAHAYA DAN GELAP!". Bentak Kris berusaha menyadarkannya.


Sontak Edward tertegun perlahan menjatuhkan tubuhnya diatas aspal berlutut.


"AAAAA, Hiks. Hiks. Hiks." Teriaknya terisak.


Kris pun mulai terdiam memandangi Edward, perlahan kedua matanya meneteskan buliran jernih.


Bersambung,,,