
"BERITA TERKINI"
"Pemirsa dimana pun anda berada, saat ini saya berada di PT. PERKASA WIJAYA. Setelah beberapa hari akhirnya akan dikonfirmasi tentang peristiwa runtuhnya salah satu bangunan yang dibawahi konstruksi PT. PERKASA WIJAYA, yang sempat menyeret nama sang CEO telah melakukan pembangunan dengan menggunakan bahan juga material yang tidak memenuhi standar. Kini telah beredar video terbukti pelaku yang sebenarnya."
"Beliau tak lain adalah Pak Harun, paman pak Arlan sendiri. Dari keterangan yang didapat, demi mendapatkan pembagian saham yang lebih besar ia telah tega memfitnah keponakannya sendiri!"
"Cekrek!"
"Cekrek!"
"Pak mohon berikan konfirmasi kepada kami!" Sahut salah satu wartawan itu saat melihat Arlan berjalan keluar dari lobi bersama Kris juga beberapa bodyguard.
"Saya selaku CEO telah mengkonfirmasi, jika berita video itu benar. Saat ini pelaku telah diamankan, dan untuk pembangunan akan segera dilanjutkan dengan menggunakan bahan yang berkualitas sesuai dengan pembangunan awal!"
"Cekrek!"
"Cekrek!"
"Pak bagaimana dengan beberapa pelaku yang terlibat?"
"Saat ini kami masih mencari 4 orang yang ada dalam video! Bagi yang menemukan mohon segera melaporkan! Dan satu lagi, untuk keluarga korban yang mengalami luka telah kami tanggung seluruh pengobatannya. Mereka akan kembali bekerja di proyek jika kesehatannya sudah pulih!" Lanjutnya.
Arlan pun bergegas masuk ke dalam mobil bersama Kris.
'
'
'
"Sial! Pak Harun sudah tertangkap!" Sahut laki - laki yang tak lain arsitek yang Arlan cari.
"Kalau begini kita tidak akan bebas kemana - mana!" Balas kepala mandor menatap arsitek. "Foto kita bahkan sudah tersebar!" Lanjutnya dengan wajah gusar.
Sedangkan 2 orang lainnya hanya diam menegang.
"Seharusnya kita tidak menerima tawaran pak Harun!" Balas salah satu yang dinyatakan sebagai korban meninggal itu.
Mereka saat ini berada dalam sebuah rumah kosong. Sejak kejadian itu mereka telah melarikan diri untuk sementara, namun setelah melihat video itu ternyata malah harus selamanya melarikan diri jika masih ingin tetap hidup tanpa di penjara.
"Derr,, Derr,, Derr,,"
Suara getaran ponsel khusus yang mereka gunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang mereka sebut bos telah berbunyi.
"Halo,, baik. Baik bos!". Ucapnya seraya memutus telepon.
"Bos bilang, kita harus pindah dari sini!" Lanjut arsitek itu menatap ketiga temannya.
"Tapi kemana? Di luar tidak aman lagi!" Tanya kepala mandor.
"Ada bawahan lain yang akan menjemput kita sejam lagi balasnya.
Walau awalnya mereka berempat bekerja dengan jujur, namun setelah beberapa kali mendapat tawaran imbalan yang cukup besar oleh pak Harun, akhirnya mereka tergiur hingga menyebabkan berada dalam masalah besar.
'
'
'
_STAR HOTEL_
Tepat jam 19 : 00 malam, seperti yang dilaporkan oleh Kris, Nindia telah berada di lobi hotel, ia menggunakan dress dipadukan dengan mantel selutut, tak lupa menggunakan syal yang tebal yang menutupi hidung dan mulutnya, juga kacamata hitam.
Dengan langkah ringan ia terus berlenggak seraya menundukkan kepalanya.
"Cekrek!"
"Cekrek!"
Tanpa ia ketahui, salah satu bawahan Arlan sudah duduk di sofa dekat kaca jendela sudut pintu utama, sekilas terlihat sedang membaca sebuah buku, namun bagian tengahnya sudah diberi lubang kecil dan di balik buku itu ada sebuah ponsel yang terpasang, sehingga dengan mudah memotretnya.
Selang 5 menit, seorang laki - laki berpostur tegap, dalam balutan hoodie berwarna hijau dipadukan dengan jeans hitam menyusul. Wajahnya tidak terlihat karena ia menutupi kepalanya.
"Cekrek!"
"Cekrek!"
Kembali memotret, lalu mengirimkan kepada Arlan.
Diam - diam, bawahan Arlan mengikuti laki - laki itu masuk ke dalam lift.
"Ting!"
Pintu lift terbuka di lantai 3, laki - laki itu pun keluar dengan langkah terburu - buru. Sementara bawahan Arlan yang juga keluar dari lift langsung berjongkok berpura - pura memperbaiki tali sepatunya yang sengaja ia lepas. Sesekali melihat targetnya yang berjalan menuju kamar yang berada di pojok.
Setelah laki - laki itu mengetuk kecil pintu, Nindia pun membuka pintu dan hanya memperlihatkan kepalanya lalu keduanya masuk bersama.
Setelah pintu terbuka, dengan cepat bawahan Arlan menghampiri pintu kamar mereka.
'
'
'
"Ting!"
"104!" Gumam Arlan memicingkan mata saat membuka chat dari bawahannya itu.
"Kris aku harus ke hotel sekarang! Beritahu jika ada informasi lain!" Ucapnya beranjak dari duduknya.
"Baik pak!" Kris mengangguk. Sementara Edward sudah tidak diketahui keberadaanya.
"BROM. BROM. BROOMM...."
Arlan mengemudikan mobilnya meninggalkan kediaman Kris. Kali ini ia tidak melibatkan Kris dan Edward, ia ingin turun tangan langsung untuk urusan Nindia.
'
'
'
"Pak, ini kuncinya!" Sahut bawahan Arlan seraya menyerahkan duplikat key card kamar Nindia.
Dengan kekuasaannya, bukan hal sulit bagi Arlan jika ingin meminta informasi pengunjung di hotel juga duplikat kunci.
"Baik. Kamu bisa pergi!" Serunya dan bawahannya pun langsung meninggalkan tempat.
'
Sementara di dalam kamar 104, tampak laki - laki yang berpostur tegap dalam balutan kemeja, beberapa saat lalu baru saja ia lepaskan hoodie-nya. Ia berdiri memandangi cahaya lampu yang menyinari seluruh sudut kota malam itu, sambil memegang gelas bening ditangan kanannya yang berisi minuman sejenis whisky.
Tak lama kemudian, wanita yang mengenakan dress berwarna putih berambut maroon yang tak lain Nindia memeluknya dari belakang.
Laki - laki yang belum menampakkan wajahnya itu mengulas senyum.
"Apa kamu merindukan ku? Setelah beberapa minggu kita baru bisa bertemu?!" Tanya laki - laki itu.
"Tentu!" Balas Nindia masih memeluk laki - laki di depannya.
"Heheheh" Kompak terkekeh kecil.
'
"Ting!"
Pintu lift terbuka, dengan cepat Arlan melangkahkan kakinya yang lebar menuju kamar tempat Nindia dan laki - laki itu berada.
'
"Tak."
'
"Tak."
'
"Tak."
'
"104!"
Arlan berdiri tepat di depan kamar 104 dengan wajah datarnya, perlahan menempelkan key card pada pintu.
"Ceklek!"
Tak butuh waktu lama pintu pun bisa dibuka. Saat ini ia masih belum tahu sejauh apa hubungan Nindia dengan laki - laki yang berada dalam kamar itu yang belum diketahui indentitasnya.
"Hhhhhhh!"
Arlan menarik napas dalam - dalam, perlahan mengangkat tangan kanannya membuka pintu, ada rasa tegang menyelimuti. Namun, ia menghentikannya saat pintu mulai terbuka sedikit. Ia berdiri mengintip kelakuan dan pembicaraan mereka.
'
"CUP!"
Dari balik pintu Arlan dapat melihat laki - laki yang berdiri membelakangi pintu itu mengecup lembut dahi Nindia, lalu mengelus kecil perut Nindia.
"Kamu tenang saja, meski kali ini ia berhasil lolos. Tapi aku pastikan secepatnya ia akan disingkirkan, dengan begitu tidak ada lagi penghalang untuk kita bersama calon anak kita!" Suara yang tidak asing itu membuat Arlan terkejut.
"DUG!"
Arlan merasakan getaran di sekujur tubuhnya mendengar obrolan mereka. Kedua tangannya mengepal merasakan amarah yang kuat.
Sudah dipastikan anak dalam kandungan Nindia bukanlah anak Arlan, melainkan laki - laki itu.
'
Kedua sejoli itu mulai saling mendekat wajahnya bersiap memulai ciuman yang sudah tidak terbendung dan,,,
'
"BRAKK!!"
Suara pintu yang dibanting saat Arlan mendorongnya dengan keras membuat keduanya berbalik terkejut.
"NINDIA!!"
Teriak Arlan memanggil nama Nindia dengan serak menatap tajam kedua sejoli itu. Wajahnya masam berjalan mendekati mereka.
"Mas Arlan? Kak Arlan?" Keduanya kompak.
Arlan semakin bergetar saat memasuki kamar itu, melihat jelas wajah Rama sang adik sepupu yang ternyata menjadi selingkuhan Nindia selama ini.
"Ma,, mas?" Lirih Nindia.
"PLAK!"
Satu tamparan keras dari Arlan mendarat di pipi kanan Nindia, sontak membuat yang punya pipi berdiri mematung merasakan denyutan yang panas itu.
"Kak?" Tegur Rama.
"BUG! BUG!"
Arlan melayangkan pukulan keras ke wajah Rama dengan membabi buta hingga membuat Rama terdorong bersandar di dinding.
"Brengsek kamu!" Ucapnya kembali melayangkan pukulan namun ditahan oleh Rama.
"BUG!"
"BUG!"
"BUG!"
Mereka pun terlibat aksi saling memukul dalam kamar itu. Sedangkan Nindia sudah memucat dan bergetar menyaksikan.
"Mas sudah mas, mas Arlan!" Teriak Nindia namun Arlan tidak peduli.
"BUG! BUG!"
Arlan kembali memukul wajah Rama hingga membuat sudut bibirnya lebam!
"BUG!" Rama pun membalasnya dan mengenai sudut mata Arlan.
"Kurang ajar!" BUG!" Ucap Arlan melawan namun kembali Rama menangkisnya.
Arlan pun menendang kaki kiri Rama sebanyak dua kali hilang membuatnya lemas, lalu Arlan mencengkram kuat kerah baju Rama.
"Dengar, selama ini aku masih menganggapmu saudara, tapi ini balasanmu!" Ucap Arlan dingin.
"Mas tolong lepaskan mas Rama, mas!" Sahut Nindia bergetar seraya menarik lengan Arlan.
Dengan cepat Arlan melirik wajah Nindia yang bahkan memohon pengampunan untuk Rama semakin membuatnya memanas.
"Diam kamu wanita sialan!" Ucapnya mendorong Nindia hingga menyebabkan Nindia terjatuh di lantai.
"Akh!" Ringisnya memegang pergelangan kakinya yang terkilir.
"Nindia?" Sahut Rama melihat wanita yang ia cintai meringis kesakitan.
"BUG!" Rama menggunakan seluruh kekuatannya menendang kaki kanan Arlan hingga oleng dan melepaskan cengkeramannya.
Arlan dan Rama pun saling menatap tajam bersiap untuk saling melayangkan pukulan.
"HYAKK!!"
"BERHENTI!!"
Keduanya pun menahan tangannya masing saat bersiap memukul, namun dihentikan oleh keamanan hotel yang berlari memasuki kamar.
"Ada apa ini? Pak tolong selesaikan di luar urusan bapak! Jangan membuat kekacauan di hotel kami!" Sahut keamanan itu.
Arlan merapikan jasnya, sementara Rama terlihat memegangi sudut bibirnya yang berdarah terasa berdenyut. Keduanya dipenuhi emosi dan bermandikan keringat setelah melewati perkelahian.
Arlan berbalik menatap tajam Nindia yang berdiri dengan wajah pucat.
"Nindia,, kemarin aku mengasihani-mu karena kupikir anak dalam kandunganmu itu darah dagingku!" Ucap Arlan dingin, auranya yang kuat mampu menekan seisi ruangan hingga terasa lebih dingin juga mencekam.
"Mulai saat ini, kamu aku talak! KAMU BUKAN LAGI ISTRI KU! DAN BUKAN LAGI BAGIAN DARI KELUARGA WIJAYA!" Lanjutnya bergetar penuh tekanan.
"Dan kamu Rama, urusan kita belum selesai!" Ucapnya dingin menatap Rama.
Dengan wajah masam Arlan meninggalkan kamar 104. Ada rasa kecewa, sedih dan emosi yang dalam bercampur menjadi satu hingga membuat dadanya hampir meledak saat itu.
Bersambung,,,