IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
36. Tamparan untuk Nindia



Keduanya saling melirik saat melihat Arlan dengan wajah datarnya yang menegang memasuki ruangan.


"Helen kamu harus kembali ke kantor!" Sahut Aluna.


"Baiklah, jaga dirimu!" Balas Helen beranjak dari duduknya dan Aluna pun mengangguk kecil. Helen perlahan melangkah meninggalkan mereka berdua di dalam kamar yang bernuansa putih itu.


Arlan menatap Aluna yang terlihat pucat dengan kepala diperban juga tangan kanannya yang terpasang infus. Hatinya berkecamuk ada rasa sedih bercampur amarah saat itu juga, perlahan mendekati Aluna yang setengah berbaring diatas bed.


"Apa ini?" Tanya Arlan dingin sambil mengangkat kertas yang berisi riwayat pemeriksaan kehamilan Aluna ditangannya.


Aluna sontak membulatkan mata, dalam sekejap seluruh tubuhnya bergetar. Tenggorokannya tercekat, lidahnya kelu.


"Aluna! A,,ku tanya a,,pa ini? HAH!! Arlan kembali bertanya dengan nada bergetar dan diakhiri bentakan.


Wajahnya yang masam dengan sorot mata yang memerah dan tajam membuat Aluna semakin bergetar. Aluna sadar akan kesalahannya, matanya mulai berkaca-kaca. Usahanya selama ini untuk menyembunyikan kehamilannya sudah berakhir. Tapi, dia tidak tahu harus memulai dari mana mengatakan.


"Kamu keterlaluan!" Ucap Arlan dingin sambil meremas kertas ditangannya. "Apa kamu pikir dengan menyembunyikan calon anak ku, hidupmu dan hidupku akan bahagia?" Sambungnya lalu melempar kertas itu ke lantai.


'


"Aku takut!" Sahut Aluna dengan lirih mendongak menatap Arlan.


"Aku takut kehadirannya mengganggu kebahagiaan kalian!" Sahutnya dengan nada bergetar. "Dan.." Aluna menghentikan perkataannya, perlahan menelan saliva yang terasa pahit sebelum melanjutkan "Aku juga takut kalau kalian akan mengambilnya dariku!" Aluna meneteskan air mata membuat Arlan mengepalkan tangannya sampai otot-ototnya mengeras.


"Apa kamu pikir aku ayah yang seburuk itu? Setelah aku melepaskan mu dari ikatan pernikahan kita?" Balas Arlan bergetar dengan mata memerah.


"Apa kamu tahu,, selama 4 bulan ini aku selalu menunggumu untuk kembali!" Ucap Arlan dingin. "Tapi kamu bahkan telah menyembunyikan darah dagingku hingga membuatku seperti orang bodoh yang MENELANTARKAN CALON IBU DAN ANAKNYA DI LUAR SANA!" Lanjutnya dengan masam disertai bentakan.


Arlan merasakan didihan emosi bersama dengan rasa sakit di dadanya. Entah apa yang ada di dalam pikiran Aluna sampai tega menyembunyikan calon anaknya, bahkan ia hampir saja kehilangannya.


Tanpa memikirkan perasaan dan melihat keadaan Aluna yang suda bergetar. Arlan berbalik dengan wajah yang masam. Rasa kesalnya akan sikap Aluna yang menyembunyikan kehamilan dan lebih memilih bungkam membuatnya seperti mendidih. Langkahnya yang lebar meninggalkan Aluna lalu dengan cepat menarik gagang pintu.


"Bagaimana jika aku mengatakan ada yang berusaha menyingkirkan anak ini! Apa kamu percaya?" Sahut Aluna serak dan dingin menatap Arlan yang baru saja membuka pintu ruangan.


Arlan menghentikan langkahnya, tangannya bergetar memegang gagang pintu yang mulai terbuka setengah. Dahinya sedikit mengkerut selama beberapa saat.


Perlahan berbalik menatap tajam Aluna yang juga menatapnya, "Aku bahkan hampir kehilangannya sebelum aku ketahui keberadaannya karena ke egoisan-mu!" Balas Arlan serak dan dingin kemudian melanjutkan langkahnya membuat Aluna merasa lemas. Sebenarnya Arlan kecewa kepada Aluna juga kepada dirinya sendiri.


Aluna mengatupkan gigi lalu menghela napas dalam - dalam, memejamkan mata menenangkan pikirannya.


'


'


'


Saat ini Leo baru saja menggelar seminar di sebuah Hotel. Secara kebetulan ia melihat Nindia yang terlihat berjalan dengan langkah terburu - buru menuju parkiran.


Leo pun sedikit penasaran dengannya sontak mengikuti secara diam - diam. Nindia berjalan gontai sesekali melirik sekitar sebelum memasuki sebuah mobil sport berwarna biru itu. Leo belum pernah melihat mobil itu sebelumnya.


Leo pun melangkah semakin mendekat, lalu berlindung di belakang mobil yang terparkir tepat di samping mobil sport biru itu.


"Ini semua gara - gara si bodoh yang tidak berguna itu!" Sahut Nindia dengan nada kesal.


"Tenang, kamu harus tenang!" Balas laki - laki yang tidak terlihat itu dengan serak.


"Bagaimana bisa tenang coba?" Balasnya semakin kesal.


"Aku kan sudah bilang jangan terlalu terburu - buru, tapi kalian sendirikan yang mendahului rencana kita?!" Balas laki - laki itu yang juga mulai kesal.


"Sudahlah nggak perlu marah lagi, ingat besok aku tunggu!" Lanjut laki - laki itu.


"Ok!" Balas Nindia lalu kembali keluar dari mobil itu.


Laki - laki itu pun melajukan mobilnya meninggalkan parkiran sementara Nindia memasuki mobil miliknya sendiri dan meninggalkan parkiran.


Leo pun keluar dari persembunyiannya, meski tidak dapat mendengar dengan jelas obrolan mereka tapi ia sudah memotret mobil tersebut.


'


'


'


2 Hari kemudian,,,


Pagi itu Nindia yang masih merasakan amarah yang membara untuk Aluna terus mengemudi dengan kecepatan tinggi. Dengan cepat Nindia membelokkan mobil di lampu merah itu ke suatu tempat.


'


'


'


"Ceklek!"


Tak butuh waktu lama ia pun memasuki ruangan tempat Aluna di rawat. Sontak membuat Aluna terkejut menatap Nidia yang perlahan mendekatinya.


"Tak.!"


"Tak.!"


"Tak.!"


Langkahnya menggema perlahan mendekati Aluna yang terbaring di atas bed.


"Nindia?!" Sahut Aluna.


"Kenapa kaget?" Sahut Nindia menyunggingkan senyum kecil seraya membelai lembut wajah Aluna.


"Untuk apa lagi kamu datang kemari?" Tanya Aluna dingin seraya menepis tangan Nindia.


"Aku hanya ingin melihat kedua calon keponakan ku!" Ucapnya melirik perut Aluna.


Sontak Aluna berusaha bangun dari pembaringannya seraya melindungi perutnya. "Pergi dari sini!" Seru Aluna bergetar.


Nindia mengerutkan dahi, "Ck, Ck," Decaknya menggeleng kecil. "Masih saja sombong dengan keadaan seperti ini?!" Ucapnya membuat Aluna mengatupkan gigi memandang tajam.


"PLAK!"


Alun sontak mendaratkan tamparan ke wajah Nidia dengan menggunakan tangan kirinya.


Nindia memejamkan mata sejenak merasakan panasnya tamparan itu, lalu menatap tajam Aluna yang juga menatapnya.


"Kurang ajar!" Sahut Nindia mengangkat tangannya.


"NINDIA!"


'


Sontak Nindia menahan tangannya yang mengudara saat seseorang memanggilnya dengan bentakan keras.


Perlahan Nindia menurunkan tangannya lalu berbalik melihat sosok Arlan di ambang pintu depan wajah masam memerah.


Aluna hanya melongo melihat Arlan yang berjalan dengan masa menghampiri mereka.


"M,,mas Arlan." Lirih Nindia bergetar.


"Apa yang sedang kamu lakukan disini?" Tanya Arlan dingin mencengkram lengan Nidia.


"A,,aku,, ini tidak,, tidak seperti yang kamu lihat mas!" Balasnya terbata - bata.


"Jelas - jelas kamu mencoba menamparku,asih saja mengelak!" Sahut Aluna.


"Jelas - jelas kamu sendiri yang mulai menamparku!" Balas Nindia yang tak ingin kalah.


Arlan memicingkan mata menatap mereka bergantian.


"Mas,, mas jangan percaya sama dia! Mas ingat dia sudah berkhianat bisa saja anak dalam kandungannya bukan anak mas Arlan tapi orang lain!" Lanjutnya membuat Arlan membulatkan mata.


"Jaga ucapan mu Nindia! Aku tidak serendah itu!" Balas Aluna geram.


"Lalu mengapa kamu menyembunyikan keberadaannya dengan mas Arlan?" Tanya Nindia menatap tajam!"


Aluna terdiam sejenak membuat Arlan menatap dengan wajah pucat.


"Kenapa diam? Takut jika itu memeng benar?" Lanjutnya Nindia yang semakin meninggikan suaranya.


"Bawah istri mas dari tempat ini!" Seru Aluna dingin.


"LIHAT! LIHAT MAS, DIA BAHKAN TIDAK BERANI MENJAWAB!" Balas Nindia membentak.


"CUKUP NINDIA!" Bentak Arlan, sontak membuat Nindia terdiam sejenak, matanya memerah memandangi Arlan yang justru membentaknya.


"Ikut aku sekarang juga!" Seru Arlan dingin seraya menarik tangan Nindia.


"Tapi mas,,!"


"IKUT AKU!" Arlan kembali mencengkram lengan Nidia lalu membawanya keluar dari ruangan.


Aluna menarik napas panjang beberapa kali, kepalanya secara memanas akan sikap Nindia. Namun, ia tidak punya cukup bukti jika hanya mengatakan kalau dia berusaha melenyapkan anak dalam kandungannya. Wanita seperti Nindia memiliki banyak akal, jika semakin melawan secara terang - terangan maka akal liciknya pun semakin menjadi.


Itu sebabnya Aluna memilih untuk diam sementara. Ia berusaha memahami seperti apa Nindia sebenarnya.


'


'


'


_APARTEMEN_


"Lepas mas, lepas!" Seru Nidia berusaha melepaskan cengkraman Arlan.


Arlan pun melepaskan dengan kasar hingga membuat Nindia terhempas di sofa ruang tengah.


"Arlan? Ada apa ini?" Tanya ibu Nindia seraya menghampiri anaknya yang meringis kesakitan merasakan denyutan di lengannya.


"Ibu seharusnya tanya kepada dia!" Balas Arlan serak menunjuk kasar Nindia.


"Mas, mas harusnya lebih mempercayaiku dari pada Aluna!" Balas Nindia.


"Arlan yang dikatakan oleh Nindia itu benar. Aluna itu bukan perempuan baik - baik, anak yang dia kandung belum tentu anak mu!" Balas ibunya seraya berdiri menatap Arlan.


Sontak Arlan memicingkan mata, "Jadi, selama ini ibu juga sudah mengetahuinya?" Tanya Arlan dingin sontak membuat ibu mertuanya membulatkan mata terkejut menyadari kesalahannya.


"Sejak kapan kalian mengetahuinya?" Lanjutnya melirik keduanya bergantian.


"Sejak kecelakaan! Iya sejak kecelakaan!" Balas Nindia.


"Jangan bohong! Aku tidak percaya lagi dengan mu!" Balas Arlan menatap Nindia.


"Mas dengar! Mas itu sudah di butatkan oleh Aluna, jelas - jelas dia sudah berselingkuh dengan dokter Leo!" Ucap Nindia dengan nada keras.


"PLAK!"


Arlan sontak menampar Nindia. Nindia pun terdiam memegangi pipinya yang berdenyut dan panas itu.


"ARLAN, PLAK!"


Sontak Arlan pun mendapatkan tamparan balasan dari mertuanya.


"Ibu,," Lirih Nindia melirik ibu yang terlihat masam.


Arlan menatap tajam mereka secara bergantian, seperti merasakan didihan yang hampir melelehkan kepalanya.


"Nindia, aku bersikap baik kepada kalian karena anak dalam kandunganmu! Jika tidak kupastikan kita bercerai!" Ucap Arlan dingin lalu dengan cepat berbalik meninggalkan mereka.


"BRAKK!!"


Arlan membanting pintu dengan keras sehingga Nindia terkejut spontan memejamkan mata. Hatinya memanas merasakan penghinaan untuk dirinya, Nindia mengepalkan kedua tangannya hingga kukunya memutih menahan buliran air mata saat itu.


Bersambung,,,