IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
47. Rasa Bersalah



Kembali ke rumah kosong tempat ke 4 suruhan pak Harun. Mereka sedang menunggu jemputan untuk berpindah ke lokasi yang belum mereka ketahui tempatnya.


Sebuah mobil hitam telah terparkir di lorong rumah kosong itu. Perlahan sang supir turun, namun tanpa ia ketahui seseorang telah mengikutinya sejak tadi.


Selang beberapa saat, ke 4 orang itupun datang dan langsung memasuki mobil. Dengan cepat supir itu melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu, begitu juga dengan orang yang diam - diam mengikuti mereka.


'


'


'


Usai memergoki Nindia di hotel, Arlan meninggalkan hotel dengan menggunakan mobil sport hitam miliknya. Ia terus mengemudi dengan kecepatan tinggi melintasi sepanjang jalan raya ibu kota.


Wajahnya masam memancarkan aura dingin, kedua matanya memerah menatap lurus.


"Kamu tenang saja, meski kali ini ia berhasil lolos. Tapi aku pastikan secepatnya ia akan disingkirkan, dengan begitu tidak ada lagi penghalang untuk kita bersama calon anak kita!" Hatinya berkecamuk mengingat perkataan Rama.


"BROOMMmmmm...."


Arlan menginjak gas menambah kecepatan mobilnya menyalip setiap kendaraan yang ia lalui. Setelah beberapa saat, Arlan memarkir mobilnya di pinggir jalan yang berada di dekat sebuah jembatan.


Arlan turun dari mobil tanpa mengenakan jas. 2 kancing teratas kemejanya terbuka sementara dasinya sudah ia longgarkan sehingga penampilannya terlihat sedikit lusuh.


Kemudian berdiri di depan mobilnya dengan mata memerah, memandangi kendaraan yang lalu lalang. Suara bising juga cahaya lampu dari setiap kendaraan yang lewat seperti gemuruh yang menggema mengantarkan kilat yang menghantam dadanya.


Kedua matanya perlahan berkaca - kaca hingga membuat pandangannya kabur, bahkan dadanya terasa sesak.


"HHAAAAA!" Teriaknya merasakan setiap sayatan di dadanya.


"HHAAAAA! Hiks. Hiks. Hiks."


Arlan berteriak dalam tangisnya, perlahan menjatuhkan tubuhnya berlutut, Hiks. Hiks. Hiks." Ia terisak sambil tertunduk tidak berdaya.


Buliran jernih mengalir dikedua sudut matanya. Ada rasa sakit bercampur emosi hingga membuatnya nyaris sesak. Ia terus terisak merasakan ketidak adilan dalam takdir hidup yang dijalani.


"hiks. hiks. hiks." Buliran - buliran jernih terus menetes membasahi aspal pinggir jembatan.


Ia menangis bukan karena penghianat Nindia. Namun, ia menangis atas kebodohannya yang selama 5 bulan ini telah termakan oleh tipu dayanya.


Baginya, Nindia tidak pernah ada dalam hatinya. Tapi anak dalam kandungannya selalu ia jaga karena telah mengira itu adalah benihnya, sampai darah dagingnya sendiri terlantar tanpa perlindungannya. Bahkan saat Aluna mengalami kesulitan ia tidak pernah ada. Rasa penyesalan dan bersalahnya kini jauh lebih besar.


'


'


'


"Tidak. Ini tidak mungkin!" Ucap nyonya Wijaya.


"Apanya yang tidak mungkin ma?! Jelas - jelasa manager hotel sendiri yang memberitahu papa!" Balas tuan Wijaya.


"Pa, mama tahu Nindia telah melakukan kesalahan. Tapi dia tidak mungkin setega itu dengan mama."


"Buka mata mama lebar - lebar dan lihat ini!" Balas tuan Wijaya dengan nada tegas seraya meletakkan iPad di atas meja.


Perlahan nyonya Wijaya mengambilnya, sontak membuatnya menutup mulut dengan kedua bola mata membulat.


"Nin,,dia!" Lirihnya bergetar memandangi layar melihat foto Nindia bersama Rama di kamar hotel. Kedua matanya berkaca - kaca.


"LIHAT! APA YANG BISA DIBANGGAKAN DENGAN MENANTU RENDAHAN ITU!" Ucap tuan Wijaya memanas seraya menunjuk ke arah istrinya.


"SYUKUR - SYUKUR MANAGER HOTEL MENCEGAH AGAR BERITA INI TIDAK MENYEBAR LUAS. KALAU TIDAK. MAU DITARUH MANA MUKA PAPA INI!!" Lanjutnya memaki.


"Hiks. Hiks. Hiks,, ini kenapa bisa begini pa?" Balasnya terisak. Sementara tuan Wijaya memasang wajah masam.


"Cucu dalam kandungan Nindia, anak Rama!" Ucap tuan Wijaya dingin.


"DUG!"


Nyonya Wijaya sontak semakin membulatkan mata, sekujur tubuhnya terasa bergetar bahkan kedua kakinya lemas mendengarkan ucapan suaminya.


"Hiks. Hiks. Hiks. Pa bagaimana ini? Arlan pasti sangat kecewa,, Hiks. Hiks. Hiks. Nyonya Wijaya terus terisak seraya memegangi tangan tuan Wijaya.


"Akh!" Ringisnya saat tuan Wijaya menghempas kasar tangannya hingga membuatnya terhuyung.


"Mama berhutang maaf kepada Arlan dan Aluna 2 x lipat sekarang! Karena ego mama mereka terpaksa terpisahkan!" Balasnya serak seraya meninggalkan ruang tengah.


"Pa,, Hiks. Hiks. Hiks.!" Nyonya Wijaya terus terisak merasakan rasa sakit di dadanya atas penghianat Nindia. Perlahan membuat kepalanya berdenyut bahkan penglihatannya menguning.


Nyonya Wijaya memegangi kepalanya, perlahan matanya pun menutup dan,,


"Bug!"


"Nyonya, nyonya?" Teriak 2 orang pelayanan wanita yang sedari tadi berdiri melihat perdebatan mereka.


Mereka berlari menghampiri majikannya yang sudah tergeletak pingsan di lantai.


Sontak tuan Wijaya menghentikan langkahnya lalu berbalik melihat istrinya yang sudah tidak sadarkan diri.


"Bawa saja ke kamar!" Ucapnya datar tanpa menghampiri.


Rasa kesalnya masih terlalu besar hingga mengalahkan rasa khawatirnya. Dibandingkan dengan keadaan istrinya, ia lebih mengkhawatirkan Arlan saat ini. Beruntung pihak hotel memiliki hubungan baik dengan keluarga Wijaya sehingga mereka masih melindungi privasi keluarganya. Jika tidak, keluarga mereka akan menjadi bahan olokan dan akan semakin sulit bagi Arlan.


Perlahan tuan Wijaya memegangi dadanya yang berdebar kencang.


Kepala pelayan itupun kemudian menuntun tuannya menuju lantai atas. Dalam keadaan bertongkat, langkahnya terlihat sedikit berat. Laki - laki paru baya itu menaiki tangga secara perlahan dan terlihat sedikit malang, di usianya yang terbilang tidak mudah, namun terlalu banyak cobaan yang terjadi di dalam kehidupan anak dan menantunya. Tentu membuatnya merasa cemas dan bersedih sebagai seorang ayah.


'


'


'


Setelah berada di pinggir jembatan selama setengah jam, Arlan pun sedikit tenang lalu kembali masuk ke dalam mobil.


Perlahan Arlan merogoh ponselnya, beberapa panggilan tidak terjawab dari tuan Wijaya dan Kris. Lalu ia memilih untuk menghubungi Kris.


"Halo pak." Sahut Kris dalam telepon.


"Pak, bapak tidak apa - apa kan? Tuan Wijaya mengkhawatirkan bapak, dia meminta bapak pulang ke rumah utama!" Lanjutnya.


"Saya tidak papa, baik!" Balasnya.


"Apa ada informasi?" Lanjutnya serak.


"Pak Edward bilang, ke empat tersangka telah meninggalkan persembunyiannya. Mereka telah dipindahkan ke lokasi lain, namun saat ini pak Edward masih terus mengikuti mereka.!" Balasnya membuat Arlan mengerutkan dahi.


Jadi orang yang diam - diam mengikuti tersangka itu adalah Edward.


"Biarkan dia mengikuti sampai tujuan. Aku ingin lihat siapa saja yang berada di atasnya selain paman Harun!" Balasnya memutus telepon.


'


'


'


Sekitar jam 23 : 30 malam hari, Arlan pun datang menemui tuan Wijaya di ruangan pribadinya. Sebenarnya ruangan itu merupakan ruangan kerja tuan Wijaya sewaktu dirinya masih aktif di perusahaan. Namun setelah memundurkan diri, ia menjadikan tempat itu sebagai tempat beristirahat jika ia tengah mengalami banyak pikiran.


'


"Pa?" Lirih Arlan berdiri di samping tuan Wijaya yang duduk di sofa.


"Duduklah nak!" Sahutnya sedikit mendongak menatap wajah pucat sang putra seraya menepuk kecil sopa di sampingnya dan Arlan pun duduk.


"Papa sudah mendengar dari pihak hotel. Apa kamu baik - baik saja?" Tanyanya menatap Arlan.


"Arlan tidak papa pa." Balasnya menatap tuan Wijaya, namun sorot matanya terlihat tidak baik - baik saja.


'


'


'


Jam 19 : 30 Paris,,


Malam itu merupakan penutupan pameran yang dilaksanakan selama 3 hari. Aluna kembali menghadiri acar itu.


Dalam balutan dress berwarna coklat ia terlihat manis dan menawan. Malam itu bukan sekedar penutupan semata, namun juga diadakan jamuan sebagai bentuk perayaan kesuksesan acara sekaligus membangun hubungan yang baik dengan para desainer dan penyelenggara acara.


"Aluna perkenalkan ini tuan Felix dan nyonya Aami. Beliau salah satu penyelenggara pameran, dan sangat mengagumi karyamu." Ucap ibu Ambar kepada Aluna.


"Aluna,," ucapnya menjabat tangan keduanya bergantian mengulas senyum bangga mendengarkan perkataan ibu Ambar.


"Saya sangat menyukai karyamu dan terlihat murni!" Ucap nyonya Aami.


"Terima kasih." Balas Aluna.


"Oh ya Aluna, tuan Felix bilang dia berharap agar kamu bisa bergabung di pameran tahun berikutnya, katanya kamu berpotensi untuk berkembang dengan kemampuan yang kamu miliki." Ucap ibu Ambar membuat Aluna semakin mengembangkan senyuman.


Setelah berbicara dengan Aluna, ketiga orang itu pun menghampiri tamu yang lain. Sementara Aluna sendiri duduk di sebuah kursi yang berada di depan meja bundar mulai mencicipi menu yang disediakan.


"Nyonya ada pesan!" Sahut salah satu panitia penyelenggara memberikan secarik kertas.


"Ayo keluar jalan - jalan!" Aluna mengerutkan dahi membacanya, lalu perlahan menoleh meneliti sekitar.


Aluna mengulas senyum saat melihat Leo dalam balutan jas hitam yang sedang memandanginya mengulas menawan khasnya.


'


'


'


_KEDIAMAN KELUARGA WIJAYA_


"Papa mengajarkan mu menjadi laki - laki dewasa yang kuat. Tapi bukan berpura - pura tegar dan kuat." Ucap tuan Wijaya menepuk kecil bahu Arlan.


Arlan menatap sendu papanya, kedua matanya memerah. "Pa,, Arlan tidak mempermasalahkan Nindia mencintai laki - laki lain. Arlan juga tidak mencintainya. Tapi,,," Alena menghentikan ucapannya merasakan tenggorokannya tercekat.


"Arlan hanya merasa kesal kepada diri sendiri, karena telah mengira anak dalam kandungannya adalah anakku. Arlan merasa bersalah dan malu dengan Aluna pa. Arlan bahkan membiarkan darah daging Arlan sendirian diluar sana, dan tidak mendampingi Aluna disaat dia melewati masa sulitnya!" Lanjutnya dengan mata berkaca - kaca.


"Papa mengerti perasaanmu. Nak, ini bukan sepenuhnya kesalahanmu! Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki!" Balas tuan Wijaya mengulas senyum dan Arlan pun tersenyum tipis.


Bersambung,,,