IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
53. CEO



"Tuan nyonya, kebetulan sekali kami memasak bubur kacang hijau!" Pelayan wanita itu meletakkan 2 mangkuk kacang hijau.


"Em enak!" Ucap Aluna, barulah tuan Wijaya ikut memakannya.


"Iya benar rasanya enak, kamu harus makan yang banyak!"


Bohong keduanya, sebenarnya buburnya memang enak tapi perasaan mereka yang tidak enak. Keduanya hanya berpura - pura menikmati saja karena tidak ingin ada rasa kekhawatiran di antara mereka. Bisa dibayangin kan bagaimana rasanya jika kehilangan seseorang yang kita cintai, tentu saja semua makanan akan terasa hambar.


Meski demikian. Setidaknya mereka masih makan agar memiliki tenaga sehingga tidak sakit.


Disaat Aluna saling menghibur dengan tuan Wijaya. Lain halnya dengan nyonya Wijaya yang sepanjang hari hanya murung dalam kamarnya, tanpa makan dan minum.


Tapi, Aluna seakan lupa dengan sosoknya, ia hanya datang untuk menemui tuan Wijaya. Jangankan menanyakan kabar, menyebut namanya saja tidak pernah.


'


'


'


Malam itu Aluna kembali berada di pinggir kolam, hembusan angin terasa lebih kencang dan dingin bahkan beberapa kali merapikan helaian rambutnya yang berterbangan.


"Non, ayo masuk di sini dingin!"


"Ia mang!"


Perlahan Aluna meninggalkan kolam renang saat mang Hasim memanggilnya.


'


"Wah masak apa bi?" saat mencium aroma wangi dari dapur.


"Heheh sup ayam ginseng non!"


"Bibi hebat, bisa masak ala Korea!"


"Hehehe" Ketiganya kompak terkekeh.


"Ayo bi, mang kita makan!"


Aluna selalu senang jika bi Inem dan mang Hasim menemaninya makan bersama. Dari kecil ia menganggap keduanya sebagai keluarga sendiri.


'


'


'


_BERITA TERKINI_


"Pemirsa dimana pun anda berada. Saat ini saya kembali melaporkan terkait pencarian CEO ternama dalam negeri. Hari ini hari ke 7 pencarian dilakukan, namun tidak ada satupun tanda kemunculan dari sang CEO."


"Pemirsa mengingat cuaca juga Medan yang cukup berbahaya, dan tidak ada tanda - tanda kemunculan korban telah diputuskan untuk menghentikan pencarian tepat dihari ke 7 ini!"


'


'


'


"Yes!" Batin Nindia mengulas senyum licik begitu juga dengan Rama saat mereka menyaksikan berita di tv.


"Sepertinya Dewi Fortuna berpihak kepada kita mas! Mas Arlan tidak akan kembali dan dinyatakan meninggal!"


"Kamu Benar!"


"Hehehe!" Kompak.


'


'


'


"ARLAN,,,, Hiks. Hiks. Hiks."


"Arlan anak mama. Hiks. Hiks. Hiks."


Nyonya Wijaya kembali histeris dan kembali pingsan mendengar keputusan untuk menghentikan pencarian Arlan.


Sedangkan tuan Wijaya sendiri sudah tidak mampu berkata apa - apa lagi. Ia harus berlapang dada mengikhlaskan kepergian sang putra tercintanya.


Berita itu terus bergulir membuat semua orang membicarakannya. Mereka tidak pernah menyangka jika CEO mudah dari perusahaan ternama di negeri telah pergi begitu cepat.


'


'


'


Aluna kembali bergetar dengan berita itu. Namun tidak banyak yang harus ia lakukan, ia hanya terus berdoa agar Arlan berada ditempat yang layak dimana pun saat ini.


"Hey, kamu baik - baik aja kan?" Tanya Helen melihat Aluna sedikit murung.


"Tentu!" menyunggingkan senyum kecil.


Aluna tidak ingin menumpahkan air matanya terlalu banyak, demi anaknya ia harus melanjutkan hidup karena ia meyakini Arlan pun akan menginginkan hal yang sama.


Aluna tetap menjalani rutinitasnya di gedung QUEEN JEWELRY GROUP hari itu, meski sedikit tidak semangat.


'


'


'


_PT. PERKASA WIJAYA_


Esok hari. Pagi itu usai berita penghentian pencarian Arlan menghiasi seluruh negeri. Para dewan kembali menggelar rapat, dan Rama pun ikut dalam rapat itu.


"Bagaimana ini? Pak Arlan tidak ditemukan dan telah dinyatakan tewas?!"


"Kita tidak mungkin hanya berdiam diri tanpa pemimpin!"


"Betul, kita haru memilih CEO baru!"


Mereka saling mengeluarkan pendapat. Tentu saja membuat Rama kegirangan.


"Lalu siapa yang harus menggantikannya? Tuan Wijaya sendiri sakit - sakitan.


"Bukankah masih ada pak Rama? Beliau masih pewaris sah keluarga Wijaya!" Sahut dewan itu. Sontak semua mengangguk setuju.


"Kalian jangan lupa, masih ada pak Edward yang juga merupakan pewaris!" Balas Salah satunya.


Mereka semua kembali berpikir membuat Rama sedikit masam.


"Pak Edward? Memang benar dia juga pewaris, tapi wajahnya saja kita tidak pernah terlihat di perusahaan! Bahkan sebagian besar orang perusahaan tidak mengenal wajahnya!"


"Benar juga yah!" saling berbisik.


"Kalau begitu kita putuskan saja pak Rama untuk menjadi CEO, demi kelangsungan PT. PERKASA WIJAYA"


"Terima kasih para dewan, tapi saya rasa saya kurang pantas untuk menerimanya. Kakak sepupu saya baru saja dinyatakan tewas dalam kecelakaan. Saya takut jika orang - orang berpikiran lain!" Sahut Rama berpura - pura.


"Pak ini sudah keputusan bersama, dan sekali lagi ini demi kelangsungan perusahaan!"


'


"Baiklah, jika itu keinginan kalian. Saya akan berusaha menjadi pemimpin yang lebih baik!" Balasnya mengulas senyum.


"Prok. Prok. Prok."


Gemuruh tepukan menghiasi seluruh ruangan rapat. Membuat Rama seakan berada di atas awan.


Sejak hari itu pun berita pengangkatan Rama sebagai CEO tersebar luas dan menuai kontroversi. Beberapa pihak setuju, beberapa lagi menilai seperti mengambil keuntungan atas musibah saudaranya.


'


Siang itu juga langsung diadakan konferensi pers oleh Rama. Beberapa media telah berkumpul di aula yang luas itu.


"Cekrek!"


"Cekrek!"


"Terima kasih kepada teman media telah bersedia menghadiri konferensi pers ini. Pada hari ini, saya Rama Reda Wijaya mengumumkan jabatan baru saya sebagai CEO dari PT. PERKASA WIJAYA!"


"Saya tahu mungkin banyak di antara kalian berpikir mungkin ini terkesan terburu - buru, tapi para dewan telah setuju dan memutuskan untuk mempercayakan posisi CEO kepada saya, demi kelangsungan Perusahaan!"


"Terima kasih!" Ucapnya langsung meninggalkan aula.


"Cekrek!"


"Cekrek!"


"Pak apakah pak Edward kali ini akan bergabung dengan perusahaan?"


"Cekrek!"


"Cekrek!"


"Pak?"


"Pak?"


Para reporter itu bertanya, namun Rama seakan tutup telinga. Baginya pertanyaan itu tidak penting dan ia tidak mau tahu, yang terpenting saat ini dia sudah resmi menjadi CEO.


'


'


'


"Apa ini pa? Belum cukup 2 Minggu Arlan hilang sekarang Rama sudah menjadi CEO?!" Ketus nyonya Wijaya.


Wajah tuan Wijaya memucat, jantungnya berdebar kencang melihat tayangan di tv. Sebenarnya ia sangat tidak ingin posisi CEO jatuh ke tangan Rama, tapi mereka tidak mampu melawan pemegang saham lantaran Edward yang tidak pernah tersentuh dengan dunia bisnis. Bahkan ia tidak pernah sekalipun terlibat dalam proyek apapun.


"PA? Papa kenapa diam saja?" Mama tidak rela Rama penghianat itu menjadi CEO! Mau dikemanakan perusahaan kita?!"


"Ma, papa tidak ingin membicarakan ini!" Tuan Wijaya berbalik meninggalkan istrinya sambil memegang dadanya yang mulai terasa sakit.


Selang beberapa menit, Kris datang mengunjungi tuan Wijaya seorang diri di ruang pribadinya.


'


"Ukhuk, Ukhuk,"


"Tuan!" Panggil Kris sedikit khawatir.


"Duduklah!"


Kris menatap tuan Wijaya yang duduk di sampingnya itu.


"Tuan sudah melihat beritanya, apa tuan baik - baik saja?"


"Emm,, saat ini kita tidak punya pilihan lain."


"Lalu apa kita hanya berdiam diri tuan?"


Tuan Wijaya berpikir sejenak, lalu menatap Kris. "Kamu tahukan Arlan tidak menganggap mu sebagai atasan dan bawahan, tapi seperti teman. Kalian memiliki pemikiran yang selaras!"


"Tentu tuan!"


"Kalau begitu, bimbang Edward untuk Arlan. Aku tidak ingin Rama menarik perusahaan ke jalur yang salah. Kamu tidak ingin kan kerja keras kalian selama ini dihancurkan oleh Rama?"


"Aku tidak ingin perusahaan menjadi kotor, selama ini kita menjalankannya dengan jujur, kita selalu menolak kerja sama dari perusahaan yang hanya mencari keuntungan sendiri!"


"Baik tuan!"


"Terima kasih! ukhuk, ukhuk," kembali terbatuk.


Dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, ada Edward yang mendengar percakapan mereka. Tatapannya sendu, sejak dulu pamannya dan Arlan selalu mengajaknya untuk bergabung di perusahaan. Namun ia selalu menolak demi kesenangannya sendiri, ia selalu merasa perusahaan keluarga mereka menjadi terkuat, ia tidak pernah berpikir kemungkinan terjadi hal seperti yang sekarang.


'


Beberapa jam kemudian, sore itu nyonya Wijaya yang berada di ruang tengah duduk dengan murung di tengah kesunyian. Tiba - tiba,,


'


"Tak."


'


"Tak."


'


"Tak."


Suara langkah kaki sontak membuyarkan pandangnya, "Arl,,,," Lirihnya berbalik membulatkan mata.


'


"Apa - apaan ini?" Tanyanya dingin saat melihat Rama, Nindia juga ibu Nindia berada di depan matanya.


"Ma,,"


"Jangan panggil aku mama dari mulut kotor mu itu!" ucapnya dingin.


"Ok. Tante, mas Rama inikan sekarang sudah menjadi CEO, dan aku sedang mengandung anaknya. Jadi sudah sepantasnya kami berada di rumah ini!"


"INI BUKAN RUMAH KALIAN! KALIAN TIDAK PUNYA HAK!" Bentaknya menunjuk.


"Tante, ini rumah kakek Wijaya jadi kami juga punya hak!" Ucap Rama.


"RAMA!" Teriak bibi Meryam menghampiri mereka.


"Apa ini??" Tanyanya seraya menarik Rama dari pelukan Nindia.


"Ma, mama tidak perlu ikut campur. Mama hanya perlu duduk saja ini urusan Rama!" Balasnya.


"Tante, mas Rama be,,"


"PLAK!" Satu tamparan dari bibi Meryam untuk Nindia.


"MA!" Bentak Rama.


Bibi Meryam menatap Rama dengan mata berkaca - kaca, hatinya sakit melihat kelakuan anaknya bahkan berani membentak dirinya hanya demi Nindia.


"NINDIA KAMU BETUL - BETUL TIDAK PUNYA MALU! ARLAN SUDAH MENCERAIKAN MU!"


"DAN KAMU, KAMI BAHKAN SUDAH MENGUSIR MU DARI APARTEMEN, TAPI MASIH PUNYA WAJAH DI SINI!" Lanjut nyonya Wijaya menunjuk ibu Nindia.


"TANTE, AKU SEKARANG MENGANDUNG ANAK RAMA, OTOMATIS AKAN MENJADI PEWARIS SAH DARI PERUSAHAAN. BUKAN ANAK DALAM KANDUNGAN ALUNA!"


"Ada apa ini?" Tanya tuan Wijaya menuruni tangga.


"RAMA. KAMU BETUL - BETUL KETERLALUAN!"


"Sayang aku ingin istirahat!" Rengek Nindia sedikit manja kembali memeluk lengan Rama.


"Baiklah, akan ku tunjukkan kamar untuk mu!" Rama menuntun Nindia menaiki tangga.


"RAMA?! RAMA?!"


Teriak tuan Wijaya. Namun Rama seakan tutup telinga dengan perkataan pamannya itu.


"AGKH!" Tuan Wijaya memegangi dadanya yang semakin sakit hingga terjatuh pingsan.


"PA?!"


"Pak Wijaya?! Tuan?!"


Semua orang di ruangan sontak mengerumuninya.


'


'


'


_RS_


Malam itu Aluna mendapat kabar kalau tuan Wijaya drop dan berada di rumah sakit.


Aluna berjalan dengan tergesa - gesa sambil memegang perutnya, bahkan wajahnya sedikit berkeringat menyusuri lorong rawat inap.


Langkahnya terhenti di depan pintu kamar VIP, di sana ada Edward, bibi Meryam juga Kris. Mereka duduk di kursi panjang depan kamar.


"Aluna?" Lirih bibi Meryam.


Perlahan Aluna mendekati mereka, "Bagaimana dengan papa Wijaya?"


"Dia belum sadar!"


'


"Ceklek!"


Bersambung,,,