
Siang itu Helen berjalan menuju ruang rawat inap tempat Aluna. Ia berlenggak membawa bingkisan kecil menyusuri lorong. Langkahnya terhenti saat melihat Edward yang berjalan pincang di ujung lorong, begitu juga dengan Edward yang dengan sigap menegakkan badannya.
Di depan Helen ia menahan rasa sakit pergelangan kakinya yang terkilir. Bahkan ia berjalan biasa membuat Helen sedikit mengerutkan dahi. Keduanya tidak saling bicara hanya berjalan saling melewati.
Selang beberapa langkah, Edward kembali berjalan pincang, disaat bersamaan Helen yang menaruh curiga berbalik dan benar saja ia mendapati laki - laki bertubuh tegap dengan rambut di kuncir itu melangkah pincang dan,,,
"Akh!"
Edward terkejut menghentikan langkahnya saat Helen menahan lengangnya. Bahkan setelah kepergok ia masih sempat berdiri tegap membuat Helen sedikit memalingkan wajahnya menahan tawa.
"Tidak perlu berpura - pura! Aku sudah melihatnya."
Edward membulatkan mata, selama ini ia selalu merundung Helen, rasanya agak aneh jika ia terlihat lemah didepan Helen disaat seperti ini.
"Apa, apa maksudmu? Aku baik - baik saja, kaki ku juga baik - baik saja!" Ucapnya menegakkan kepala.
Helen kembali mengerutkan dahi, "Aku tidak mengatakan kakimu sakit." Godanya.
Sontak Edward mengepalkan tangannya menyadari kesalahannya, bisa - bisa dia yang selalu cerdik malah menggali lubang sendiri didepan wanita parahnya wanita itu Helen. Malu? Tentu, rasanya ia ingin berlari dan bersembunyi di dalam lubang. Helen yang menyadari sikap Edward yang mulai salah tingkah mengembangkan senyuman.
'
'
'
"DUG! DUG! DUG!"
Suara detakan yang indah menggema kembali menghiasi ruangan rawat inap tempat Aluna. Dua kehidupan yang masih berada dalam kandungannya terdengar indah menyejukkan hati.
Aluna mengembangkan senyuman bahagia mendengarkan detakan jantung kedua bayinya dan keduanya sehat. Disaat yang bersamaan, Arlan berdiri dibalik pintu yang tidak tertutup rapat itu. Kedua kelopak matanya bergetar, setelah sekian lama akhirnya ia kembali mendengar detakan jantung anak - anaknya.
Rasanya masih seperti mimpi, 3 bulan lagi anaknya akan lahir. Penantiannya selama 5 tahun akan terbayarkan dengan kehadiran sang buah hati. Rasa bahagia menyelimuti sampai membuat kedua matanya berlinang haru.
Perawat itu keluar sontak Arlan berbalik memunggungi pintu. Selang beberapa saat ia kembali mengintip ruangan itu, rautnya berubah sendu melihat interaksi Aluna bersama Leo.
"Ku mohon izinkan aku pulang hari ini!" Mengangkat kedua tangannya.
Leo melipat kedua tangannya, tentu saja tidak akan membiarkan Aluna pulang sekalipun keadaannya cukup baik. Ia akan dengan senang hati memastikan keadaannya benar - benar baik.
"Ayolah, kita kan teman! Hem Hem!" menggerakkan kedua alisnya.
"Aww!" Ringisnya saat Leo menjitak kecil dahinya.
"Kamu masih harus dirawat hari ini, dan itu artinya jadwal pulang mu besok siang!" Balas Leo mengulas senyum menawan khasnya.
Arlan sedikit bergetar melihat mereka, ia bahagia jika Aluna baik - baik saja. Tapi melihatnya di goda oleh laki - laki lain membuat hatinya tersayat. Ada rasa cemburu, amarah dan emosi yang bercampur, egonya terlalu besar jika itu menyangkut Aluna.
"Baiklah, baiklah!" Mengerucutkan bibir semakin membuat Leo melebarkan senyumannya.
"Aku masih ada kerjaan, Helen bilang dia akan datang menjenguk jadi aku tinggal yah!" Seraya melirik jam tangannya.
Aluna memandangi punggung Leo meninggalkan ruangan, tiba - tiba ia merasa bosan sendiri di dalam kamar. Tangannya tidak diinfus membuatnya lebih bebas. Sebenarnya infusnya baru dilepas setengah jam lalu, karena ia tidak hentinya merengek kepada Leo.
Aluna duduk di sofa memainkan ponselnya, mencoba mencari drakor yang bisa ia nikmati untuk menghilangkan kejenuhannya.
"Ceklek!"
"Hele,,," Aluna menarik rautnya yang berbinar menjadi sendu saat dirinya melihat sosok Arlan dalam balutan hoodie berwarna hijau botol berdiri menatapnya.
Perlahan Arlan mendekati Aluna yang membeku. Entah harus bahagia atau sedih, yang jelas hatinya bergejolak seketika.
Arlan berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan Alunan yang masih belum mengatakan apapun. Keduanya saling menatap bahkan mata mereka terlihat memerah.
"PLAK!"
"PLAK!"
Aluna menampar wajah Arlan sebanyak dua kali, tapi tidak membuat Arlan berbicara atau pun mengeluh meski pipinya terasa panas dan berdenyut.
"Kenapa? Kenapa kamu kembali sekarang? Untuk apa? Hiks. Hiks. Hiks." Aluna meronta memukul dada Arlan seraya terisak.
Aluna terus memukul hingga Arlan hanya mampu meneteskan air mata tanpa suara.
"Jawab aku! Untuk apa kamu kembali sekarang? Bukankah kamu lebih suka melihatku menangisi mu dan meninggalkanku dengan anak - anak kita! Hiks. Hiks. Hiks."
"Hiks. Hiks. Hiks." Arlan pun terisak menahan kedua tangan Aluna yang masih berusaha memukulnya.
"Hiks. Hiks. Hiks." Keduanya terisak, Aluna membenamkan wajahnya di bahu Arlan sedangkan Arlan, ia memeluk tubuh Aluna dengan erat.
Rindu? Tentu saja rasa rindu keduanya teramat dalam. Walau mereka tahu hubungan pernikahan sudah berakhir dan berusaha untuk tidak saling mengganggu tapi tetap saja hati tidak bisa berbohong. Rasa cinta masih besar menyelimuti.
'
Kini giliran Leo yang memandangi keduanya. Rautnya datar, tidak ada emosi yang terpancar. Entah apa yang ada dipikirannya, ia tidak bahagia juga tidak terlihat sedih. Leo menghela napas mengangkat kedua alisnya lalu berbalik meninggalkan mereka yang masih saling memeluk dalam tangis.
'
'
'
_UGD_
Edward berdiri mematung memandangi tulisan yang tertempel itu. Wajahnya menegang terlebih saat Helen memaksanya masuk.
"Ayo!" Seru Helen mulai membuka pintu.
"Helen sepertinya kaki ku sudah sembuh!" Berbalik namun Helen menarik lengannya.
"Tidak mungkin. Kamu jelas - jelas pincang!"
"Helen, ak, aku baru ingat ada urusan di kantor! Jadi periksanya besok saja!" Mengulas senyum kecut kembali berbalik dan lagi - lagi Helen menahannya!"
"Ta, tap,,"
"Sudah turuti saja!" Helen tidak melepaskan tangan Edward.
"Edward tamatlah riwayat mu!" Batinnya masih berdiri di depan pintu UGD, bahkan wajahnya mulai dipenuhi keringat dingin juga sedikit bergetar dan Helen pun baru menyadarinya.
"Edward?" Lirihnya melihat ketegangan Edward yang menatap pintu ruangan.
"Akh, yah? Hee" seraya menyeka keringatnya.
Entah kenapa Helen merasa bahagia melihat reaksi seorang Edward. Perlahan menautkan jemarinya dengan jemari Edward lalu menggenggamnya. Sontak rasa hangat menyelimuti keduanya.
Edward sedikit menunduk menatap tangannya dalam genggaman Helen, lalu menatap wajah Helen yang terlihat manis mengulas senyum. Dadanya seperti tersengat.
"Celaka, perasaan apa ini? Edward tenang, tenang!" Kembali membatin.
Dengan mudahnya Edward melangkah memasuki ruangan yang paling ia takuti semasa hidupnya itu hanya karena pesona Helen. Lagi - lagi Edward merutuki diri, kenapa mesti di depan Helen lagi.
"Aww, akh!"
Edward meringis saat dokter mulai menggerakkan kakinya itu. Meski tidak terlalu bengkak karena sudah ia kasih obat sebelumnya, tapi tetap saja meninggalkan rasa sakit.
"Dok? Anda mau apa? Dok jangan ada adegan suntik menyuntik yah! Saya nggak mau!" Panik langsung duduk.
Sontak membuat Helen terkejut menutup mulut. Ia tidak menyangkan Edward yang suka dunia luar, berprofesi Intel hebat, kerap bermain senjata dari yang dia dengar dari cerita Aluna, dan yang ia lihat selama ini sosoknya yang tengil bertubuh tegap ternyata takut jarum suntik yang berukuran kecil.
"Edward tenanglah, kamu tidak separah itu!"
"Hehehe,, benar kaki anda hanya perlu dibalut sedikit untuk mengurangi pergerakan dan mencegah pergeseran tulang!" Jelas dokter itu.
Edward pun berbaring pasrah memperlihatkan kakinya dibalut. Ia enggan melirik wajah Helen. Entah kenapa hari itu menjadi hari paling tidak mengenakkan baginya. Seumur - umur ia tidak pernah peduli dengan pandangan orang lain tentangnya dalam hal apapun, tapi dihadapan Helen ia merasa canggung juga malu.
'
'
'
"Aku minta maaf telah membuat mu khawatir, aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih. Tapi keadaan yang membuatku terpaksa melakukannya!"
"Apa mas yang menolongku kemarin? Aku tidak mengingat jelas." Arlan pun mengangguk membuat mata Aluna kembali memerah.
Perlahan Aluna menyentuh alis Arlan yang masih meninggalkan bekas luka. Tapi tentu saja wajahnya masih tampan.
"Apa masih sakit?" Arlan menggeleng mengulas senyum kecil.
Lalu Aluna menurunkan Hoodie yang menutupi bagian kepala Arlan. Entah kenapa rasa penasarannya akan kondisi Arlan begitu besar. Benar saja Aluna kembali berkaca - kaca melihat bekas jahitan bagian leher Arlan. Ia seakan merasakan seperti apa rasa sakit yang ditanggung, terlebih saat ia mengetahui jika Arlan terlibat dengan gangster itu hanya demi mencari pelaku tabrak lari atas kecelakaannya.
"Masih bisa mengatakan tidak sakit?" Lirihnya membuat Arlan menatap dalam Aluna.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak mungkin ada disini jika aku sakit!" Balasnya.
Keduanya mengulas senyum kecil. Mereka tahu batasan diantara mereka terlalu besar saat ini, Arlan pun tidak berani menyentuh Aluna lebih jauh meski sangat merindukan.
"Dimana ibu Nindia?"
"Kamu tidak perlu memikirkan, dia berada di tempat seharusnya berada!" Aluna dapat melihat seperti rasa benci Arlan saat membicarakannya.
"Aku sudah tahu dari Kris tentang mereka, aku juga sudah tahu semua yang kamu lakukan untuk ku! Terima kasih!"
Arlan mengerutkan dahi, "Apa kamu juga tahu siapa yang menyuruh seseorang untuk menabrak mu malam itu?" Aluna hanya menggeleng.
"Nindia dan ibunya." Sontak Aluna membulatkan mata.
"Dia juga yang menyebarkan rumor rencana pernikahanku dengan Nindia beberapa bulan lalu, bahkan menyebarkan foto pernikahan itu! Dan,, orang yang mereka bayar merupakan salah satu anggota kelompok gangster Rama." Jelasnya membuat Aluna semakin terkejut.
"Rama?"
"Em! Dia sama saja dengan paman Redan! Menyebabkan kekacauan di perusahaan, menyabotase proyek juga melakukan korupsi!"
"Mas,," lirihnya membuat Arlan kembali menatapnya.
"Kemarin di apartemen, ibu bilang aku tidak bisa hamil selama 5 tahun terakhir karena ia memberiku ramuan yang dapat mengganggu kesuburan!" Arlan mengepalkan tangannya mendengar perkataan Aluna.
"Dia bilang aku selalu mendapat yang lebih dari Nindia membuatnya membenciku, ia hanya terpaksa menerima ku karena ayah! Dia juga bilang Nindia mencintaimu tapi kamu memilih ku sehingga membuatnya semakin membenciku!" Jelasnya bergetar.
"Mereka akan membayar semua kejahatannya!" Aluna kembali mengulas senyum.
"Lalu apa rencana mas?"
"2 hari lagi perayaan perusahaan, aku ingin kamu hadir hari itu!"
"Tentu!"
Aluna sedikit menunduk memegangi perutnya, membuat Arlan mengerutkan dahi sedikit khawatir.
"Apa kamu merasa sakit? Ata,,,,?"
Arlan menghentikan perkataannya saat Aluna menuntun jarinya memegang perutnya itu.
"Apa kamu bisa merasakan kehadiran mereka?"
Arlan kembali meneteskan buliran jernih saat merasakan pergerakan anak - anaknya. Ia merasa saat ini kehadirannya lebih dekat.
"Hey,, kamu akan menjadi ayah! Apa kamu akan masih cengeng seperti ini?"
Sontak Arlan menggeleng, tatapannya binar kembali mengulas senyum. Selama hampir 6 bulan akhirnya binar bahagia menghiasi keduanya.
Bersambung...