
"Bibi,,,"
"Ia non ada apa?" Tanya bi Inem menatap Aluna yang berdiri di dapur.
"Bi, bajunya banyak nggak muat!" Keluhnya mengangkat beberapa helai baju yang ia bawa.
Bi Inem mematikan kompor, "Itu karena perut non semakin besar, sebaiknya non secepatnya beli baju baru!"
"Em bibi benar!" Meletakkan bajunya di atas meja.
"Bi ke mall yuk!" Ajaknya mengulas senyum.
"Tapi, non sudah lama bibi tidak ke mall!"
"Justru itu bi, ayo sekalian jalan-jalan dan makan!"
"Hee,, boleh deh non!"
'
'
'
Minggu yang cerah itu pun dilalui Aluna dengan berbelanja pakaian. Tak lupa juga ia membelikan untuk bi Inem dan mang Hasim. Sejak hamil, Aluna sangat jarang bepergian. Dan hari itu suasana hatinya cukup tenang.
Setelah berbelanja, Aluna bersama bi Inem makan siang di restoran dalam mall. Mereka menikmati makan siang dengan ngobrol ringan, layaknya anak dan ibu.
Aluna menenteng bingkisan ditangan bersama bi Inem. Mereka berjalan ringan sambil menikmati ice cream masing - masing. Terlihat kekanak - kanakan namun memancarkan kedamaian.
Kebahagiaan mereka sedikit terusik saat tidak sengaja berpapasan dengan Nindia bersama ibunya, membuat Aluna menjatuhkan bingkisan di tangannya secara tidak sengaja..
"Sepertinya kamu cukup bahagia setelah ditinggal suami tercinta!" Pancing Nindia.
Aluna melirik perut Nindia yang sudah membesar. Rasa emosi muncul saat itu juga, terlebih dia mengetahui anak dalam kandungannya itu milik Rama.
"Sepertinya kamu habis berbelanja. Jangan terlalu boros! Suami kamu sudah tidak ada, Perusahaan sudah menjadi milik Rama, dan,,,"
"Dan anak dalam kandungan Nindia adalah anak dari hasil hubungan gelap bersama Rama! Itukan yang ingin ibu katakan?!" Potong Aluna sontak membuat bi Inem menutup mulut menahan tawa.
Nindia bersama ibunya membulatkan mata , wajah keduanya masam merasa terhina dengan ucapan Aluna yang ternyata sudah mengetahui lebih banyak tentang mereka.
"Apa maksud kamu?"
"Heg,, jangan kira karena aku berada di Paris selama beberapa hari, aku tidak mengetahui tentang kebusukan kalian! Aku tahu hubunganmu dengan mas Arlan sudah berakhir, tapi aku bersyukur, setidaknya ia sudah mengetahui sifat busuk mu sebelum dia pergi!" Aluna menatap keduanya bergantian.
"Bereng,,, Akh!" Nindia sedikit meringis saat Aluna menahan tangan Nindia yang hendak menamparnya.
"Tanganmu terlalu kotor untuk menyentuh wajahku!" Ucapnya dingin lalu melepaskan tangan Nindia dengan kasar sampai Nindia sedikit terhuyung.
"Dasar anak tidak tahu diri!" Ibu Nindia mendorong bahu Aluna dengan kasar hingga ice cream di tangannya terjatuh.
"PLAK!"
Tanpa berpikir panjang, Aluna mendaratkan tamparan di pipi kanan ibu Nindia.
"Aluna!" Bentak Nindia kembali mengangkat tangannya dan lagi - lagi Aluna menahannya.
"Aku sudah katakan persaudaraan kita sudah berakhir. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk bersikap baik kepada kalian!" menatap ibu Nindia, lalu menatap Nindia.
"Apa pelajaran yang ku berikan beberapa hari ini, masih kurang bagimu?!" Bisik Aluna membuat Nindia terlonjak, tubuhnya bergetar merasakan deru napas Aluna di telinganya.
Aluna melanjutkan langkahnya bersama dengan bi Inem meninggalkan keduanya yang sudah masam.
Nindia menatap tajam punggung Aluna yang semakin berani, selama beberapa kali terakhir bertemu, Aluna sudah bukan Aluna yang dulu. Ia sudah berani melawan bahkan mengancam.
'
"PEMBUNUH!"
Nindia bersama ibunya kembali bergetar melihat tulisan berwarna merah di kaca pintu mobil miliknya. Nindia memeluk tubuhnya yang mulai merinding, suasana parkiran pun sontak mencekam. Terlebih saat ia seperti merasakan bayangan seseorang yang melintas di belakangnya.
"Ah!" Nindia berbalik melirik sekitar seperti menangkap bayangan hitam yang secepat kilat.
Wajahnya memucat, begitu juga dengan ibunya yang merasakan hal yang sama. Keduanya saling berpegangan tangan sambil berbalik beberapa kali saat merasakan bayangan itu yang seakan berpindah dari sudut ke sudut, namun mereka tidak dapat melihat dengan jelas seperti apa wujudnya.
"DUG! DUG! DUG!"
Semakin lama suasana semakin mencekam, membuat jantung mereka berdebar kencang, seakan melompat keluar.
"Derrt,, Dertt,,"
"Akh!"
Suara getaran ponsel Nindia mengagetkan mereka. Dengan cepat Nindia bersama ibunya memasuki mobil lalu menjawab telepon dari Rama.
"Halo mas!" Serak dan bergetar.
"Kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu?"
"Nggak papa mas, aku dan ibu baru saja dari mall dan akan segera pulang!"
"Baiklah, malam ini kita akan makan malam di hotel!"
"Baik!" Memutus telepon lalu mulai melajukan mobilnya.
'
'
'
Genap 3 minggu Arlan tidak ada kabar. Aluna kembali mengunjungi ruang rawat inap tuan Wijaya.
Saat memasuki ruang, tatapan binar nyonya Wijaya menyambutnya. Aluna memandangi sejenak waja tua yang semakin kurus. Penampilannya terlihat buruk dan lusuh.
Aluna kembali menggenggam tangan tuan Wijaya, kali ini tidak ingin meneteskan air mata.
"Papa Wijaya, bangunlah! Cucu anda sudah 24 minggu dan semakin aktif, apa anda tidak ingin melihatnya lahir?" Lirih Aluna bergetar.
Nyonya Wijaya meneteskan air mata mendengar ucapan Aluna. Ia juga merasakan rasa penyesalan dan rasa bersalah yang besar.
"Apa anda tidak takut jika mas Arlan bersedih, karena anda terus seperti ini? Edward sudah bergabung di perusahaan seperti keinginan papa. Apa papa Wijaya juga tidak ingin melihat sehebat apa anak yang selalu papa panggil nakal itu bekerja?" Aluna terus berbicara sambil mengulas senyum kecut.
"Apa papa Wijaya akan tetap seperti ini jika mas Arlan telah kembali? Apa papa Wijaya tidak ingin memukul kedua kakinya dengan tongkat?" Lanjutnya mengulas senyum dengan mata berkaca - kaca.
Walau berusaha tersenyum, tapi relung hatinya tersayat. Aluna sangat ingat tuan Wijaya yang selalu menyayanginya sampai tidak membiarkan dirinya memanggil tuan kepadanya.
"Tit. Tit. Tit. Tit."
Tanpa terduga jemari tuan Wijaya dalam genggamannya bergerak, sontak Aluna menatap wajah tuan Wijaya, dan melihat pergerakan di kedua kelopak matanya.
"Papa, papa sadar!" Ucapnya mengulas senyum bahagia.
Sontak nyonya Wijaya menghampiri lalu kedua mata tuan Wijaya pun mulai terbuka. Dengan cepat Aluna menekan bel memanggil petugas yang jaga.
"Pa,, ini mama. Syukurlah papa sudah sadar, hiks. hiks. hiks." Terisak menggenggam tangan suaminya.
'
"Bagaimana dok dengan keadaan suami saya?"
"Keadaan beliau sudah stabil, namun ia belum boleh terlalu banyak bicara, usahakan jangan memberikan tekanan yang berat yang bisa membuatnya stress!" Ucap dokter laki - laki itu usai memeriksa tuan Wijaya.
Setelah dokter itu pergi, Edward bersama Kris pun telah tiba setelah mendapatkan kabar dari Aluna.
"Paman, bagaimana keadaan paman?" Edward menghampiri pamannya dengan mata berkaca - kaca.
Tuan Wijaya menatap semua orang disekelilingnya. Terlihat wajah - wajah bahagia mengelilingi.
Perlahan mengulas senyum kecil menatap Edward dalam balutan jas hitam, terlihat tampan dan berwibawa mengingatkannya pada Arlan.
Lalu menatap Aluna yang semakin chubby juga perutnya yang semakin membesar. Nyonya Wijaya yang terlihat kurus tidak hentinya meneteskan air mata bahagia, dan di antara mereka juga ada Kris yang tersenyum.
"Aku tidak apa - apa." Lirihnya dalam.
"Paman, a-aku minta maaf!" Ucap Edward bergetar, ia sangat merasa bersalah dan takut terjadi sesuatu kepada pamannya itu.
"Dasar anak nakal, apa yang kamu tangisi? Pamanmu ini masih kuat!" Lirihnya membuat Edward mengangguk tersenyum kecil.
"Papa Wijaya sebaiknya istirahat. Dokter menyarankan untuk tetap rileks dan banyak istirahat. Besok kami akan datang lagi!"
Tuan Wijaya mengangguk mendengar perkataan Aluna. Aluna bersama yang lainnya sepakat untuk menyembunyikan tentang kondisinya, takut jika ada yang berniat buruk kepadanya.
Edward bersama Kris meninggalkan ruangan, disusul oleh Aluna di belakang mereka.
"Aluna," Panggil nyonya Wijaya saat berada di depan pintu ruangan.
Sontak Aluna menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap wajah pusat yang lusuh itu.
"Aluna,, mama minta maaf kepadamu nak hiks. hiks. hiks." Menggenggam tangan Aluna.
Kris dan Edward pun tidak menganggu, mereka melanjutkan langkahnya memberikan ruang kepada dua wanita beda usia itu.
Aluna tidak mengatakan apapun, bahkan tatapannya lurus mengepalkan kedua tangannya.
"Mama mohon maaf kan mama, hiks. hiks. hiks. Mama tahu, kesalahan mama terlalu besar, mama juga tahu kalau mama salah kepada Arlan. Hiks. Hiks. Hiks." Perlahan menjatuhkan badannya memeluk kaki Aluna.
"Gara - Gara mama kalian terpisah. Gara - gara keserakahan mama membuat hidup kalian menderita, mama tahu mama telah salah karena memilih Nindia untuk hadir di kehidupan kalian!"
"Mama sudah menyesalinya, hiks. hiks. hiks. Arlan juga sudah menghukum mama, tolong maafkan mama. Mama sudah tidak memiliki siapa - siapa, anak mama sudah meninggalkan mama hiks. hiks. hiks." Nyonya Wijaya terus terisak memeluk kaki Aluna.
Aluna bergetar, perlahan menunduk memandangi nyonya Wijaya yang terlihat tulus menyesali perbuatannya. Matanya berkaca - kaca kala mengingat semua masalah yang dihadapi karena keegoisan nyonya Wijaya kepadanya.
Wanita tua itu terlihat malang bersimpuh dikakinya, Aluna bisa memahami seperti apa kehilangan seseorang yang di cintai terlebih itu anaknya. Sekarang Arlan sudah tidak ada, hubungannya dengan Nindia juga sudah berakhir, dendam mungkin tidak akan memberikan ketenangan dalam hidupnya.
Perlahan Aluna menelan saliva, lalu sedikit berjongkok membantu mantan mertuanya untuk berdiri.
"Hiks. Hiks. Hiks." Isakan nyonya Wijaya memandangi wajah Aluna.
"Aku tidak bisa memaafkan anda begitu saja. Aku juga tidak ingin mas Arlan ikut menanggung rasa bersalahnya sampai saat ini. Mulai sekarang aku akan mencoba menghapus secara perlahan kenangan buruk itu!" Ucapnya bergetar.
"Baik, baik. Mama tidak meminta kamu memaafkan mama sekarang. Mama hanya ingin kamu memahami, kalau mama sudah menyesalinya dan mama tidak akan memaksakan segala keputusanmu!" Seraya menyeka air matanya.
"Terima kasih, aku pamit!"
Nyonya Wijaya memandangi punggung Aluna yang berlalu. Rautnya sedikit lebih berbinar, walau tidak mendapatkan maaf secara langsung, setidaknya sebagian bebannya sudah ia lepaskan. Terlebih saat Aluna berjanji akan melupakan permasalahan secara perlahan.
'
'
'
Kembali ke sebuah villa yang berada di pinggir laut. villa itu cukup besar, terdapat ruang bawah tanah. Berbeda dengan ruang bawah tanah markas gangster Rama, ruangan ini gelap, pencahayaan minim hanya ada satu jendela kecil, tidak ada listrik dan menyeramkan.
"Tak. Tak. Tak."
Suara langkah kaki menggema menuruni tangga, membuat ke 5 tawanan bawah tanah itu ketar ketir. Pasalnya tubuh mereka sudah lebam akibat bekas pukulan, mereka juga diberikan makan seadanya dan terbatas. Langkah kaki itu semakin dekat sontak membuat mereka saling mendekat satu sama lain.
'
"Bagaimana keadaannya?"
"Dia sudah sadar pak, 2 hari ini kondisinya membaik!" Jawab laki - laki bertubuh tegap.
"PROK. PROK. PROK."
Tepukan dengan irama penuh penekanan itu menggema dan dalam sekejap pintu ruangan itu di buka lebar. Cahaya dari atas masuk menyinari tangga, namun cahaya itu belum mampu menerangi ruangan.
Bersambung...