
Malam itu, Nindia terlihat memesona dalam balutan lingerie berbentuk terusan sepaha, berbahan tipis dengan warna merah terang senada dengan warna rambutnya yang dibiarkan tergerai.
Secara samar memperlihatkan dua titik kecil bagian dadanya. Perlahan mengoles lipstik berwarna senada di kedua bibirnya secara bergantian sambil melihat pantulan Arlan di cermin yang sedang berdiri membelakanginya di balkon.
Kemudian, Nindia perlahan menyemprotkan parfum ke bagian lehernya. Aroma perpaduan grasse jasmine dan may rose memberikan sentuhan sensual dan seksi, membangkitkan hasrat.
Nindia melangkah secara perlahan mendekati Arlan yang masih berdiri di balkon.
"Mas,," Lirihnya serak dan seksi memeluk Arlan dari belakang sambil menyenderkan wajahnya di punggung bidang milik Arlan.
Arlan memicingkan mata saat merasakan pelukan dari Nindia, perlahan melirik kedua tangan Nindia yang melingkar di pinggangnya, Arlan dapat merasakan dengan jelas bagaimana yang menonjol milik Nindia.
Hembusan angin malam menyebarkan aroma grasse jasmine yang bercampur dengan may rose dari Nindia, aroma yang sensual dan seksi menyelimuti mampu membangkitkan percikan hasrat yang kuat diantara mereka.
Arlan memejamkan mata menikmati semerbak parfum dari Nindia yang semakin lama semakin menusuk dan liar, sementara Nindia sendiri perlahan melepaskan pelukannya.
Perlahan Arlan membuka mata dan berbalik menatap sosok Nindia yang terlihat seksi. Nindia perlahan menuntun Arlan masuk ke dalam kamar.
'
'
'
Disisi lain, Aluna terlihat sedang membuat segelas susu coklat, lalu perlahan membawa ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Malam itu Aluna juga mulai membuat sebuah desain cincin dan kalung di diatas kertas HVS. Ia terlihat serius menyelesaikan setiap detail gambarnya sambil sesekali meminum susunya.
Tak cukup dengan meminum segelas susu, Aluna justru merasa tiba - tiba lapar dan tanpa berpikir panjang dia pun kembali menuruni tangga mencari sesuatu yang bisa ia makan.
Aluna membuka kulkas lalu mengeluarkan beberapa cemilan, kemudian kembali menaiki tangga menuju kamarnya. Sejak kemarin napsu makannya mulai membaik dan sering menginginkan sesuatu secara tiba - tiba.
'
'
'
Kini Arlan dan Nindia sedang berdiri di dekat sudut ranjang, Nindia perlahan mengalungkan kedua tangannya di leher Arlan, dan Arlan pun tidak melakukan penolakan melainkan menatap dalam Nindia.
Dengan sedikit liar, Nindia meraba lembut bibir bawah Arlan semakin membuat yang punya bibir menatap lekat.
"CUP!"
Kecupan lembut dari Nindia mendarat di bibir Arlan, sontak Arlan terpancing memeluk tubuh Nindia hingga mereka dapat merasakan kehangatan satu sama lain.
Tak butuh waktu lama keduanya terlibat ciuman bibir yang lembut, namun semakin lama Nindia semakin agresif, dia semakin mengeratkan pelukannya sehingga Arlan semakin merasa bagian dadanya yang menonjol bahkan sampai meraba dan membuka kanci piyama yang Arlan kenakan malam itu.
Kanci pertama telah terbuka, di susul dengan kanci kedua dan Arlan pun tidak menolak sampai perlahan Nidia meraba lembut membuka kanci ketiga sambil memperdalam ciumannya dan,,,
"Akh!" Nindia sedikit terkejut saat Arlan menahan tangannya dan menghentikan ciuman mereka.
Nindia perlahan mendongak menatap Arlan yang kini juga menatapnya. Terlihat jelas raut Arlan memerah dan tatapannya berubah sedikit tajam entah apa yang sedang ia pikirkan.
Nindia sedikit bergetar menatap kedua netra Arlan, ia dapat melihat seakan ada emosi yang dipancarkan dari tatapan Arlan.
Tanpa sepatah kata pun, Alena perlahan melepaskan tangannya Nidia yang masih menempel di dadanya lalu keluar meninggalkan Nindia seorang diri di kamar.
Nindia memandangi punggung Arlan yang perlahan menghilang dari pandangannya, tubuhnya bergetar mengepalkan kedua tangannya hingga kukunya memutih seperti tidak memiliki aliran darah.
Sorot matanya tajam dan berkaca - kaca, amarah yang kuat hingga membuat kepalanya mendidih menyelimuti menekan seisi ruangan hingga terasa lebih dingin dan menyempit.
Untuk kesekian kalinya ia mendapatkan penolakan dari Arlan. Nindia menatap tajam pantulan wajahnya di cermin, dengan kesal ia menghapus kasar makeup terutama bagian lipstiknya yang merona.
Nindia terus menggosok secara kasar bibirnya sambil meneteskan buliran jernih. Sudah 3 bulan mereka menikah, namun sikap Arlan masih saja dingin, tidak ada pelukan hangat dan kata romantis yang diberikan di setiap malamnya.
Sejak menikah Arlan baru 2 kali menyentuhnya, itupun pada saat diawal pernikahan mereka. Dimana saat itu adalah masa - masa keterpurukan Arlan, itu sebabnya Arlan menyentuhnya karena dalam keadaan mabuk. Namun, saat ini Arlan sudah tidak mabuk - mabukan setiap malamnya melainkan ia menghabiskan waktunya lebih banyak dengan kerjaannya.
Beruntung dirinya bisa hamil sehingga saat ini posisinya masih tergolong stabil di keluarga Wijaya. Tugasnya saat ini adalah mencari cara agar Arlan biasa mencintainya dan segera melupakan Aluna secepat mungkin.
'
'
'
Arlan kembali memasuki ruang kerja pribadinya, dengan kasar membuka pintu lalu menguncinya rapat. Selain dirinya tidak ada lagi yang bisa masuk ke dalam ruangan itu saat ini.
Arlan duduk di kursi putar menyandarkan kepalanya kebelakang, wajahnya memerah merasakan kepalanya yang berdenyut dan panas.
Arlan memejamkan mata menenangkan pikirannya. Selama ini ia tidak pernah berniat mengkhianati cintanya untuk Aluna itu sebabnya ia selalu menolak setiap kali Nindia menggodanya.
Sudah cukup karena kebodohan dan kecerobohannya saat mabuk sampai ia tidak bisa membedakan dengan benar wajah Nindia dan Aluna saat itu, hingga menyebabkan Nidia hamil.
Tak cukup menenangkan diri di dalam ruang kerjanya, Arlan berniat menghirup udara malam untuk menenangkan hati juga pikirannya.
Tanpa berlama - lama Arlan beranjak dari duduknya meraih kunci mobil lalu keluar dari ruangan menuju parkiran.
"BROM!"
"BROM!"
Nindia mengintip dibalik jendela kaca apartemen mengiringi mobil sport hitam Arlan melaju meninggalkan apartemen. Tatapannya tajam, bahkan ia mencengkram kuat gorden berwarna gold itu dengan kuat merasakan amarah yang membara di hatinya.
'
'
'
Setelah kurang lebih 1 jam, akhirnya Aluna berhasil menyelesaikan sebuah karya baru. Sebuah cincin dan kalung yang indah berhasil ia selesaikan dengan baik.
Aluna melirik jam diatas meja yang sudah menunjukan jam 22 : 00 malam, ia teringat aturan tidur yang baik untuk ibu hamil dalam catatan dokter Citra.
Tanpa berlama - lama Aluna mulai mencuci wajahnya, menggosok gigi lalu memakai body losion. Aluna menyisir rambutnya sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.
Wajahnya jauh lebih baik, terlihat segar dan tidak tirus seperti bulan lalu. Begitu juga perasaan dan mentalnya sudah jauh lebih baik.
Aluna mematikan lampu utama lalu beranjak ke kasur membaringkan badannya yang sudah terasa sedikit kaku. Perlahan memejamkan mata bersiap memasuki alam mimpi indah.
'
'
'
Diam - Diam ada Arlan yang berdiri bersandar di pintu mobilnya sambil memandangi jendela kamar Aluna. Selama beberapa saat ia melihat bayangan dari Aluna saat dirinya sedang menyisir rambut di depan cermin.
Lampu yang tadinya menyala menerangi kamar kini sudah padam, itu artinya Aluna sudah tidur. Meski tidak melihat secara langsung, namun cukup membuatnya bahagia. Setidaknya, dengan begini ia bisa mengetahui keadaan Aluna yang baik - baik saja.
'
'
'
Pagi itu sinar sang mentari kembali memancarkan cahaya yang hangat menyinari kamar yang berada dilantai dua.
Aluna berdiri di depan cermin menatap pantulan tubuhnya sambil memutar badannya ke kanan dan ke kiri.
Pagi ini ia sedikit terkejut menyadari perutnya membesar, bahkan sulit disembunyikan jika ia harus memakai dress yang ketat.
Aluna mengernyit memandang perutnya dalam posisi menyamping. Bagian tengah terlihat lebih bulat, tidak seperti sebulan yang lalu dimana dirinya masih bisa mengenakan dress ketat.
"Bi,, Bibi?" Panggilnya setengah teriak memanggil bi Inem yang berada di lantai 1.
'
'
'
"Ceklek!"
"Ada apa non?" Tanya bi Inem berdiri di ambang pintu setelah beberapa saat mendengar panggilan dari Aluna.
Sontak Aluna berbalik memperlihatkan perutnya kepada bi Inem.
"Bi, Aluna kegendutan. Bajunya aja udah nggak cocok!" Sahutnya sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Hehehe,, Perut non Aluna membesar karena bayi non juga semakin besar!" Jawab bi Inem terkekeh.
Aluna kembali memandangi perutnya yang membuncit itu. Kalau di ingat - ingat sudah sebulan pasca dirinya dirawat inap. Itu artinya kehamilannya sekarang sekitar 4 bulan.
"Terus aku haru pake baju apa bi? Masa ia ke kantor gini?" Tanyanya.
"Mhh,, pakai yang sedikit mengembang non biar ketutup, apasih sih istilahnya? Bibi lupa!" Balas bi Inem.
"Ball gown bi?" Tanya Aluna menunggingkan senyum.
"Boleh tuh non di coba!" Balas bi Inem tersenyum lebar.
Aluna mulai membuka pintu lemarinya mencari beberapa model yang serupa untuk menutupi perutnya yang mulai membesar.
Sebua dress berwarna kuning dengan model bal gown selutut, jenis kera berdiri dan lengan panjang dimana bagian ujungnya berbahan karet.
Sangat cocok dengannya yang berkulit putih semakin membuatnya bersinar, dipadukan dengan sendal sepatu berwarna putih dengan sol setinggi 3 centimeter dan datar.
Sejak mendapatkan catatan dari dokter Citra Aluna mengurangi penggunaan heels yang tinggi, untuk mengurangi beberapa resiko kesehatannya selama masa kehamilan.
Akhirnya pagi itu Aluna menjalani rutinitasnya sebagai seorang desainer populer dengan bantuan bal gown saran dari bi Inem sehingga membuatnya lebih pede dan bersemangat.
Bersambung,,,