
"Helen?" Sahut Kris menghampiri Helen yang masih bersandar di dinding.
"Kris,, Arlan dimana?" Tanya Helen seraya menyeka wajahnya.
"Pak Arlan masih di jalan!" Balas Kris dengan wajah khawatir.
'
"Ceklek!"
Pintu IGD terbuka, sontak membuat Helen dan Kris terlonjak berlari kecil menghampiri Leo.
"Apa ada yang bergolongan darah B diantara kalian?" Tanya Leo, melirik keduanya bergantian.
Helen dan Kris pun kompak menggeleng kecil.
"Aluna butuh donor darah, stok di rumah sakit ini habis!" Helen pun semakin membulatkan mata, perlahan menelan salivanya dengan susa paya.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Helen.
"Dia mengalami kehilangan darah yang banyak dalam perjalanan. Ini bisa membahayakan nyawa juga anak dalam kandungannya!" Balas Leo menatap serius Helen.
Sontak Helen menutup mulutnya, buliran jernih kembali menetes di kedua pipinya.
"ANAK?" Batin Arlan yang baru saja memasuki ruangan.
Helen memegangi kepalanya yang berdenyut, kembali membulatkan mata saat dia melihat Arlan memasuki ruangan.
"Arlan, Aluna butuh donor darah! Kalian memiliki golongan dara yang samakan?" Sahut Helen seraya menghampiri Arlan.
Arlan tertegun melihat darah di baju Helen yang cukup banyak. Wajahnya menegang saat itu juga.
"Arlan! Aluna butuh darah dia sedang mengandung anakmu!" Ucap Helen menggoyahkan lengan Arlan dengan panik.
'
"DUG!"
'
Sontak Arlan merasa lemas di sekujur tubuhnya, kelopak matanya bergetar terasa pedih mendengar perkataan Helen.
'
"Pak Arlan ikut saya sekarang!" Seru dokter Leo dan Arlan pun mengikuti.
Diruang yang bercat putih itu, Arlan melakukan proses donor darah. Untungnya ia memenuhi syarat sehingga bisa dengan mudah mendonorkan darahnya.
'
'
'
Di dalam ruangan tindakan itu, Aluna terbaring tidak sadarkan diri, terlihat kantong darah dari Arlan tergantung mengalir ke tubuhnya.
Sedangkan Arlan duduk di kursi depan ruangan, wajahnya memucat dan bergetar, ia terus memanjatkan doa agar Aluna dan calon anaknya selamat. Ia tidak bisa membayangkan jika hal buruk terjadi kepada Aluna. Hatinya gelisah sehingga ia beranjak dari duduknya sesekali mendekati pintu ruangan tindakan, hal itu terus ia lakukan sepanjang dokter melakukan pertolongan untuk Aluna.
'
'
'
Dokter laki - laki itu di dampingi oleh dokter Leo terlihat sedang melakukan tindakan bersama dengan beberapa perawat. Mereka mencoba menghentikan pendarahan lalu melakukan penjahitan pada bagian kepala.
Perawat wanita itu terlihat sedang memantau monitor. Dokter Leo sendiri bertugas untuk memastikan keadaan kandungan Aluna. Ia terus memantau denyut jantungnya janinnya.
Beruntung kondisi Aluna bisa stabil dengan cepat, sehingga melalui proses tindakan itu dengan baik.
'
'
Hampir sejam berlalu, Arlan masih mondar mandir gelisah di depan ruangan berharap dokter segera keluar memberikan kabar baik. Sesekali melirik jam tangannya.
"Ini sudah hampir sejam, kenapa dokter belum keluar!" Ucapnya bergetar terus memandangi jam tangannya itu.
"Pak Arlan mohon tenang!" Sahut Kris.
'
"Ceklek"
'
Suara pintu terbuka sontak membuat Arlan bersama dengan yang lain menoleh menatap dokter laki - laki itu bersama dengan dokter Leo di ambang pintu.
"Dokter bagaimana keadaannya?" Tanya Arlan dengan wajah panik.
"Pendarahannya sudah berhenti, dan kami sudah melakukan penjahitan pada bagian kepala. Sekarang kondisinya sudah stabil, tapi masih harus diobservasi! Ucap dokter itu menatap Arlan dan yang lain bergantian.
Sontak Arlan mengusap wajahnya menarik napas panjang. Sementara Helen dan yang lain mengulas senyum bahagia.
"Terima kasih dokter!" Sahut Arlan dan dokter itu pun meninggalkan mereka.
"Untungnya lukanya tidak terlalu dalam dan tidak ada benturan pada bagian perutnya sehingga kedua bayinya selamat!" Sahut Leo membuat Arlan memicingkan mata.
"Kedua bayi?" Tanya Arlan menatap sendu Leo.
"Aluna mengandung anak kembar!" Sahut Helen sontak membuat Arlan kembali bergetar bahkan kedua matanya memerah.
Seketika Arlan merasa sekujur tubuhnya lemas,
"Berapa umur kehamilannya sekarang?" Tanya Arlan bergetar dengan mata berkaca - kaca.
"Sudah memasuki 19 minggu!" Sahut Leo semakin membuat Arlan lemas perlahan bersandar di dinding putih itu seraya memegangi dadanya. Kelopak matanya bergetar.
"Kenapa,,?" Lirihnya.
"Kenapa dia tidak memberitahuku?" Ucap Arlan lirih seraya menjatuhkan tubuhnya berlutut di lantai.
"Hiks.! Hiks.! Hiks.!" Arlan terisak di depan ruangan dalam keadaan berlutut, "Apa kamu lupa berapa lama kita menantikan kehadirannya? Hiks.! Hiks.! Hiks.!" Arlan terus terisak sambil menepuk kecil dadanya yang terasa sakit dan sesak.
Dalam sekejap dunianya gelap. Kemana sja dirinya selama ini? sampai membiarkan Aluna tinggal sendiri dalam kehamilan yang sudah memasuki 19 minggu.
"Pak, bapak harus tenang!" Sahut Kris memegangi tubuh Arlan yang terlihat lemas dan memucat mengalirkan buliran jernih.
Helen, bi Inem juga Leo hanya terdiam memandangi Arlan yang terlihat menyesali dirinya karena baru mengetahui kehamilan Aluna disaat dia sedang terbaring tidak sadarkan diri.
'
'
'
Perlahan Nindia memundurkan langkahnya, wajahnya memucat, ia berbalik meninggalkan tempat itu dan hanya Leo yang menyadari keberadaannya.
Leo mengerutkan dahi memandang bayangan Nindia yang berlalu. "Nindia?" Batin Leo.
Leo kemudian melirik Arlan yang masih terisak, dari awal ia merasa kalau Nindia seperti memiliki aura buruk sehingga dengan mudah Leo menyadari kalau saat ini dia cukup berbahaya untuk Aluna.
'
'
'
Saat ini Aluna sudah berada di ruangan perawatan, di dampingi oleh Helen juga bi Inem. Sedangkan Arlan sendiri berada di ruangan Leo.
Arlan bergetar memandangi kertas ditangannya yang berisi riwayat pemeriksaan kehamilan Aluna, beserta foto USG.
"Aku memberitahu karena anda adalah ayah dari anak dalam kandungan Aluna! Tapi bukan berarti bapak bebas mendekati Aluna!" Sahut Leo.
"Apa maksud dokter?" Tanya Arlan memicingkan mata.
"Kalian sudah bercerai, dan pak Arlan sudah menikah! Apa bapak pikir nyonya Nindia bisa menerima dengan mudah?" Sahut Leo.
"Tapi aku berhak atas anak itu!" Balas Arlan menatap tajam Leo lalu beranjak dari duduknya.
'
'
'
Arlan melangkahkan kakinya yang jenjang meninggalkan ruangan Leo menyusuri lorong rumah sakit di dampingi oleh Kris. Wajahnya datar dan menegang.
"Kris cari tahu tentang kejadian kecelakaan Aluna!" Serunya serak dan dingin.
"Baik Pak!" Balas Kris.
'
'
'
"AAAAA!!!" Teriak Nindia memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Nindia! Tenang!" Sahut ibunya menenangkan.
"Tenang? Ibu bilang tenang? Apa ibu tahu, Aluna dan bayinya masih hidup dan sekarang mas Arlan sudah mengetahui kehamilannya!" Balas Nindia bergetar dan wajahnya memerah sementara rambutnya terlihat lusuh.
Sontak ibunya membulatkan mata. "Si bodoh itu sangat tidak berguna!" Sahut ibunya masam.
'
'
'
_PT. PERKASA WIJAYA_
"Ceklek!"
Suara pintu terbuka membuat Arlan yang duduk di ruangannya menoleh menatap Kris yang berjalan menghampirinya.
"Bagaimana?" Tanya Arlan serak.
"Tidak ada saksi mata pak saat kecelakaan terjadi. Suasana malam itu sepi juga gelap!" Balas Kris.
"CCTV?" Tanyanya dan Kris pun menggeleng. Sontak Arlan menghela napas lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tapi pak, sehari sebelum nyonya Aluna kecelakaan, ada yang mengatakan kalau saat itu ada orang yang terlihat mencurigakan seperti sedang memantau keadaan! Dan,,,"
Kris menghentikan perkataannya membuat Arlan menatapnya.
"Ciri - cirinya sama seperti orang yang kita cari pak!" Lanjutnya.
"Beritahu yang lain untuk mengawasi sekitar rumah Aluna!" Ucap Arlan.
"Dan satu lagi pak,, Nyonya Nindia melakukan transaksi sekitar 200 juta beberapa hari lalu. Tapi ini bukan untuk keperluan seperti biasanya!" Lanjutnya Kris.
Arlan mengerutkan dahi mengingat Nindia suka menghabiskan uang untuk urusan kecantikan, jalan bersama teman - teman sosialitanya juga shopping. Dan Arlan tahu semuanya hanya saja dia tidak terlalu memperdulikan mengingat calon anak dalam kandungannya tapi bukan berarti Arlan tidak memantaunya.
"Ada lagi?" Kembali Arlan bertanya.
"Dia juga beberapa kali terlihat di hotel!" Balas Kris.
"Sejak kapan?" Tanya Arlan dingin.
"Sebulan terakhir ini pak di Star Hotel! Kebetulan ada staf kita yang pernah melihatnya, namun dari daftar pengunjung tidak ditemukan nama nyonya Nindia!" Jelas Kris membuat Arlan berpikir sejenak.
"Beritahu staf itu untuk memantau kedatangan Nindia di hotel tersebut! Dan cari informasi juga di beberapa hotel lain!" seru Arlan serak.
"Baik pak!" Kris pun berbalik meninggalkan ruangan.
Arlan melirik jamnya yang menunjukkan jam 12 : 00 siang hari. Tanpa berpikir panjang Arlan pun meraih kunci mobil diatas meja lalu ke luar dari ruangan.
"Yuni jika ada mencari ku katakan aku ada urusan! Dan beritahu klien untuk menunda pertemuan hari ini!" Seru Arlan seraya berjalan melewati Yuni.
"Baik Pak!" Balas Yuni sedikit menunduk. Ia sangat tahu saat ini emosi atasannya itu sedang tidak stabil, hanya dengan melihat wajahnya yang datar menegang.
'
'
'
_RUMAH SAKIT KASIH IBU_
"Helen,, aku haus!" Lirih Aluna membuat Helen yang duduk disampingnya sontak berdiri menuang segelas air lalu memasukkan sebatang pipet ke dalamnya sebelum memberikan kepada Aluna.
Aluna pun langsung meminumnya, setelah 24 jam ia merasa sangat kehausan hingga membuat tenggorokannya kering.
"Terima kasih!" Ucapnya menyodorkan gelasnya kepada Helen.
"Apa kamu baik - baik saja?" Tanya Helen menatap perban di bagian kepala sahabatnya itu.
"Ceklek!"
Mendengar suara pintu terbuka, keduanya kompak berbalik menatap seseorang yang berdiri di ambang pintu.
Bersambung,,,