
"Semoga harimu menyenangkan!"
Nindia berdebar memandangi caption juga foto dirinya yang berdiri di samping mobil sport milik tuan Wijaya pertama. Tentu saja foto itu yang diambil oleh Leo saat selesai mengikuti seminar.
Ia sama sekali tidak tahu siapa yang mengirimkan foto itu. Selama ini ia selalu hati - hati setiap kali bertemu dengan Rama.
"Nindia Kamu kenapa?"
"Akh nggak papa, aku harus kembali masih ada urusan!"
Nindia meninggalkan ruangan menuju parkiran dengan langkah terburu - buru. Hatinya mendadak gelisah. Ia kembali membuka ponselnya memastikan isi foto itu saat berada di dalam mobilnya. Namun ia lupa jika kaca mobilnya ia turunkan setengah membuat Aluna yang juga berada di parkiran memandanginya.
'
'
'
Malam itu, Edward berada di sebuah villa yang berada di pinggir laut. Ia mengeluarkan beberapa kertas post it milik Arlan menunjukkan kepada Kris.
Kertas itu berisi informasi beberapa proyek yang pernah ditangani oleh Rama. Kali ini bukan bahannya yang tidak sesuai, melainkan jumlah anggarannya yang terkesan dimanipulasi.
Dengan kata lain, besar kemungkinannya jika Rama telah melakukan korupsi di setiap proyeknya secara bertahap, sehingga tidak nampak jelas perbedaan anggaran itu.
"Sepertinya kita harus mengambil beberapa dokumen milik pak Rama untuk membuktikan kecurigaan pak Arlan."
"Benar."
"Tapi bagaimana caranya? Kita tidak tahu dimana dia menyimpan berkas berharganya."
"Kamu tenang saja. Kak Arlan pernah bilang, terkadang seseorang yang terlihat sangat baik ternyata dialah musuh yang sebenarnya, dan alih - alih menyimpan berkasnya di tempat yang tersembunyi, mereka lebih memilih menyimpannya di tempat yang kita lihat setiap hari untuk menutupi dan mengalihkan kecurigaan seseorang!"
"Em, benar!" Kris mengangguk setuju.
"Oh yah, tadi saat memasuki ruang penyimpanan barang pak Arlan, aku melihat seseorang."
Edward memicingkan mata melihat hasil jepretan Kris memperlihatkan bagian lengan baju seseorang yang mengintip mereka.
"Bajunya tidak asing."
"Benar pak, besar kemungkinannya dia salah satu karyawan perusahaan, jika dilihat teliti warnanya seperti pakaian para OB!" Kris menatap Edward yang juga menatapnya.
"Bagus, besok jangan terlalu pagi datang ke perusahaan. Sementara aku sendiri datang lebih awal!"
"Baik Pak!"
'
'
'
Pagi itu, seorang OB laki - laki memasuki ruang kerja Edward. Ia membawa sebuah nampan berisi secangkir kopi. Tak lupa juga ia membersihkan debu - debu meja, lalu menyusun rapi beberapa berkas yang terlihat berantakan. Semakin lama ia semakin terlihat aneh, ia bahkan terlihat mencoba membuka laci dan juga lemari yang memang tidak terkunci.
Tangannya terhenti saat membuka lemari, ia mengambil sebuah map yang berisi berkas lalu mulai membukanya. Dan,,,
OB itu membulatkan mata saat merasakan cengkraman di bahunya. Perlahan menelan saliva, sekujur tubuhnya bergetar.
"Siapa yang memerintahkanmu?" Tanya Edward dingin.
OB itu sontak mengangkat tangannya berbalik menatap Edward. Tatapannya seperti mata elang yang siap menerkam membawa aura penekanan yang mencekam. Edward sengaja datang lebih awal dan bersembunyi di balik pintu dari tadi.
"A,, ampun pak. Sa,, saya hanya disuruh!" Balasnya terbata - bata, keringat dingin mulai menghiasi wajahnya.
"Kalau begitu katakan!" Meremas bahu OB.
"Pak Rama!"
"Sudah ku duga!" Batinnya.
"Pak saya mohon, janga beritahu siapa - siapa. Saya takut pak Rama akan memecat saya, saya mohon pak! Saya terpaksa melakukanya!" Mengangkat kedua tangannya memohon.
"Atas dasar apa kamu terpaksa melakukannya?"
"Keluarga saya tidak punya, saya butuh biaya untuk anak dan keluarga di rumah!"
"Baik. Tapi mulai saat ini kamu tidak bekerja untuk pak Rama, tetapi untukku!" Serunya serak.
"Baik pak baik!"
'
'
'
"Nyonya, ada paket untuk anda!"
"Dari siapa?" Nindia menatap kepala pelayan lalu mengambil paket.
"Saya tidak tahu nyonya, saya menemukannya di depan tangga dan tulisannya ditujukan kepada nyonya!"
"Baiklah, kamu bisa pergi!"
'
"HAAA!" Teriaknya sambil melempar kotak.
"Nindia ada apa?" Berlari menghampiri anaknya.
Dalam keadaan bergetar menunjuk kotak di atas tanah halaman belakang.
"Astaga, apa ini?" Ibu Nindia tidak kalah terkejutnya melihat boneka dengan mata membelalak yang di penuhi lumuran darah.
'
"Kamu tenang yah!"
"Tapi bu itu sangat mengerikan." Memeluk tubuhnya yang terasa dingin saat berada di dapur.
"Sekarang kamu minum dulu! Lalu kembali ke kamar!"
'
'
'
Aluna mengikuti setiap gerakan dari bidan Arianti. Kali ini perasaannya jauh lebih baik, ia semakin menguatkan dirinya untuk menerima kenyataan untuk masalah hidupnya.
Lagi - lagi Leo duduk memandangi wanita hamil yang memiliki kecantikan alami itu. Bahkan wajahnya sedikit lebih chubby karena pertambahan berat badan efek hamil.
"Aluna, apa kamu memiliki kesulitan atau keluhan?"
"Aku sering merasakan sakit pada bagian pinggang, juga terkadang sembelit!"
"Itu sering dialami oleh ibu hamil, saya sarankan jangan duduk terlalu lama, kamu bisa berbaring di selah aktivitas untuk meregangkan otot dan usahakan berbaring miring yah agar pasokan O2 ke janin berjalan normal!" Jelas bidan Arianti.
"Lalu sembelitnya?"
"Usia kehamilanmu sudah memasuki trimester 2, janin semakin bertumbuh terlebih kamu mengandung anak kembar tentu tekanan pada rektum lebih besar sehingga menyebabkan sembelit. Tapi kamu tidak perlu khawatir, kamu hanya perlu memperbanyak asupan serat, seperti makan sayur, buah dan perbanyak minum air putih!" Lanjutnya.
"Terima kasih, aku akan melakukannya dengan baik!"
Keduanya terlihat nyaman saat ngobrol, sedangkan Leo tidak menganggu. Ia hanya dienyimak pembicaraan mereka di dalam ruang kelas saat kelas selesai.
"Sekarang kamu bisa pulang, sepertinya sudah ada yang menunggu dari tadi!" Ucapnya melirik Leo.
Aluna ikut melirik Leo lalu memandang bidan Arianti seraya mengulas senyum kecil.
'
'
'
"Apa kamu menemukan sesuatu?"
"Tidak pak. Saya menggeledah tapi belum menemukan sesuatu yang berharga, dan lemarinya terkunci" Bohong OB itu saat berada di ruangan CEO.
"Tidak masalah, kita bisa melakukan lain hari. Oh yah aku harus keluar menemui klien, tolong bersihkan ruang ini!"
"Baik Pak!" Sedikit menunduk saat Rama berdiri melewatinya.
Setelah keadaan aman, OB itu memulai aksinya merapikan ruangan lalu sambil mencari berkas yang Edward minta. Sesuai perkataan Arlan kepada Edward, berkas penting milik Rama telah ditemukan dengan mudah dalam ruangannya. Berkas - berkas itu telah diselipkan secara terpisah di antara tumpukan buku - buku yang tertata rapi di atas rak.
'
"Ok kerja kamu bagus!" Edward menyodorkan amplop coklat berisi uang.
"Terima kasih pak!"
"Ingat, laporaksn setiap rencana pak Rama kepada saya!"
"Baik pak!"
Setelah OB itu keluar, Edward membuka berkas ditangannya di dampingi oleh Kris. Mereka mencocokkan berkas itu dengan catatan Arlan juga beberapa arsip laporan keuangan yang diberikan oleh Yuni.
Tidak butuh waktu lama, mereka menemukan perbedaan laporan keuangan. Anggaran yang sebenarnya dikeluarkan oleh setiap proyek lebih kecil dari anggaran yang tertulis itu. Bahkan Rama memiliki harga perbandingan setiap bahan yang ia gunakan. Singkatnya, Rama sengaja memanipulasi setiap harga yang digunakan menjadi lebih tinggi juga seakan melebihkan jumlah kebutuhan setiap bahan.
Namun pada kenyataannya laporan asli yang ia pegang, harga bahan juga jumlah kebutuhan lebih kecil. Ia melakukan secara bertahap dalam kurung waktu yang lama sehingga perbedaan anggarannya tidak mencolok jika tidak diteliti dengan baik. Arlan awalnya selalu memantau proyek Rama, namun setelah menyelesaikan 3 proyek semuanya berjalan tanpa kesalahan.
Sehingga Arlan memilih mempercayai adik sepupunya itu. Namun, siapa sangka itu merupakan taktik Rama. Setelah mendapatkan kepercayaan ia baru mulai berbuat curang di proyek selanjutnya dan saat itu Arlan sudah tidak menaruh kecurigaan kepadanya. Arlan baru kembali mencurigainya setelah masalah konferensi pers ke 2 dan insiden keruntuhan proyek.
Edward dan Kris juga menemukan beberapa daftar klien yang akan Rama temui beserta jadwal pertemuan mereka.
"Hadiaksa Permana." Gumam Edward.
"Mereka akan bertemu hari ini. Itu artinya saat ini pak Rama menuju ke sana!" Ucap Kris.
"Kris pantau keadaan di sini, aku akan mengikuti mereka!"
'
'
Edward memasuki toilet lalu melepaskan semua pakaiannya, ia mengenakan pakaian biasa, rambutnya di urai lalu mengenakan topi juga kacamata.
Tak butuh waktu lama, Edward pun berada di sebuah restoran mewah, sedangkan Rama bersama Kliennya terlebih dulu memasuk ruangan private.
Edward berdiri di lorong ruangan tempat Rama bersama Kliennya itu. Hampir 1 jam akhirnya mereka pun keluar.
Rama terlebih dulu meninggalkan restoran, sedang kliennya itu memilih memasuki toilet. Selang beberapa menit kemudikan, laki - laki itu keluar dan cukup terkejut melihat sosok Edward berdiri menghadangnya.
"Kamu siapa?" Panik.
"Aku ingin bicara dengan anda!" Seraya mengangkat sebuah kertas yang berisi informasi tentang laki - laki itu.
Laki - laki itu bergetar, namun toilet sunyi terlebih Edward mengeluarkan pistol. Sebenarnya itu hanya untuk menakutinya saja. Dengan terpaksa laki - laki itu menurut.
"Putuskan kerja sama kalian!" Seru Edward serak saat berada di dalam mobil.
"Apa maksud mu? Apa yang harus diputuskan?"
"Jangan berpura-pura, aku melihatmu bersama pak Rama!"
Laki - laki itu kembali terlonjak, bahkan mereka baru ingin memulai membahas rencana kerjasama namun sudah mendapatkan kecaman mengerikan.
"Memangnya apa yang salah jika pebisnis saling kerja sama?"
"Cih,, jangan sok lugu! Aku tahu, perusahaan anda selalu menghindari pajak dan kerap melakukan kerja sama bisnis ilegal, Hadiaksa Permana."
Laki - laki itu bergetar dipenuhi keringat dingin. Tidak menyangka jika Edward mengetahui kegelapan bisnisnya.
"Jika kamu tidak ingin mendekam dipenjara, maka batalkan kerja sama kalian dengan PT. PERKASA WIJAYA! Karena aku tidak akan membiarkan perusahaan yang jujur membelok ke bisnis ilegal!" Edward mengangkat pitol membidik tengah jidat pak Hadiaksa Permana.
Edward telah mengantongi beberapa informasi para penjahat besar dalam negri, dan sudah banyak ia lumpuhkan. Namun, kali ini ia lebih memilih menyelamatkan bisnis keluarganya dari pada harus meringkus penjahat - penjahat itu. Jadi, langkah pertama yang ia buat adalah menjauhkan perusahaannya dari kerja sama ilegal, lalu dengan begitu akan lebih mudah memukul mundur Rama kemudian meringkus tikus - tikus elit yang berkeliaran."
"Ba,, baik!"
"Aku ingin dijadwal pertmuan kalian berikutnya, pastikan pembatalan kerja sama! Jika tidak aku akan membocorkan kepada media dan dalam sekejap perusahaan anda akan hancur!"
"Tidak, tidak. Jangan lakukan itu!" Memohon dalam keadaan bergetar.
"Hem!"
Laki - laki itupun turun dari mobil Edward. Lalu dengan cepat Edward melajukan mobilnya meninggalkan pak Hadiaksa yang mulai mengompol.
Bersambung...