
_KEDIAMAN WIJAYA _
Pagi itu, Arlan memenuhi panggilan dari tuan Wijaya, setelah mendengar kabar dari Aluna.
"Apa benar Aluna hamil?" Tanya tuan Wijaya menatap putranya yang duduk di sofa ruang tengah.
"Benar pa, Aluna sedang mengandung anak kembar dan sudah memasuki 19 minggu!" Balas Arlan serak sontak mengejutkan tuan Wijaya.
"Arlan kamu tidak bercanda kan?" Tanya nyonya Wijaya dengan nada terkejut seraya menghampiri mereka.
"Tidak ma!" Balas Arlan serak.
Nyonya Wijaya tertegun beberapa saat, ia tidak menyangka akan perkataan Arlan.
"Ini semua gara - gara mama! Mama terlalu terlena dengan menantu kesayangan mama sampai calon cucuku harus hidup sendiri tanpa perlindungan keluarga Wijaya!" Ucap tuan Wijaya menunjuk istrinya dengan nadar keras.
"Pa,, papa kenapa menyalakan mama?? Aluna sendiri yang meminta cerai dari Arlan! Papa tahu itukan?" Balas nyonya Wijaya kesal.
"Tapi karena mama yang tidak sabaran! Dengar ma, menantu kesayangan mama itu berani mendatangi Aluna di rumah sakit sampai membuat kekacauan!" Sahut tuan Wijaya!
Sontak nyonya Wijaya memicingkan mata, "Kekacauan? Kekacauan apa maksud papa? Nindia itu masih saudara Aluna pa, jadi tidak mungkin dia membuat kekacauan!" Balas nyonya Wijaya tidak percaya akan dikatakan suaminya.
"Nindia menuduh Aluna selingkuh dan anak di dalam kandungannya itu bukan anak Arlan! Dan Arlan sendiri yang mendengarnya! APA MAMA MASIH MEMBELANYA?" Ucap tuan Wijaya membentak istrinya.
"Tidak mungkin Nindia seceroboh itu!" Balasnya bergetar.
"Terserah mama! Tapi jangan pernah menyesal kalau ternyata dia tidak sebaik yang terlihat!"
"Tapi,,,"
"MA STOP!" Bentak Arlan sontak membuat tuan Wijaya maupun nyonya Wijaya menatapnya.
"Mama tidak perlu membela Nindia lagi! Karena yang dikatakan papa itu benar! Dan mama tahu sendiri kalau aku tidak pernah mencintainya, jadi setelah anak itu lahir aku akan segera menceraikannya!" Ucap Arlan dingin lalu berbalik meninggalkan ruangan tengah.
Arlan melangkahkan kakinya yang jenjang dengan wajah masam. Setiap kali mengingat perbuatan Nindia kepalanya seperti mendidih.
"Arlan?"
"Arlan?"
Meski nyonya Wijaya memanggil berulang kali, namun Arlan tidak peduli ia terus melangkah meninggalkan kediaman Wijaya dengan masam.
"Pa,,?" Lirih nyonya Wijaya, namun tuan Wijaya pun pergi enggan berbicara dengannya.
'
'
'
Kembali ke gedung tua yang terbengkalai itu.
"PLAK!"
Laki - laki bertopi itu memegangi wajahnya merasakan tamparan yang mendarat di pipinya.
"Dasar tidak becus! Kamu bilang akan menyelesaikan sesuai dengan perintah, tapi nyatanya apa? Aluna dan anaknya masih selamat sampai saat ini!" Ucap ibu Nindia seraya menunjuknya.
"Lalu kenapa bukan ibu saja yang melakukannya?" Balas laki - laki itu dingin.
"Kamu berani melawan?" Balasnya menatap tajam.
'
"Harusnya ibu tahu, nyawa itu ada ditangan Tuhan! Jadi ibu tidak bisa memastikan kematian seseorang!"
Sahut laki - laki yang bertato bintang itu menghampiri mereka. Sontak membuat ibu Nindia memicingkan mata.
"Tidak perlu banyak alasan! Seharusnya aku tidak mempercayai mu saat itu!"
"Ambil uang ini dan jangan pernah lagi muncul di depanku!" Ucapnya melemparkan amplop lalu meninggalkan mereka.
'
'
'
"Tok,, tok,, tok,,"
Suara ketukan pintu sontak membuat Aluna menoleh menatap Kris bersama dengan Leo yang berjalan menghampirinya.
"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Leo mengulas senyum menawan khasnya.
"Sudah mendingan!" Balasnya mengulas senyum.
"Nyonya, boleh saya tanya sesuatu?" Sahut Kris dan Aluna pun mengangguk kembali mengulas senyum.
"Apa nyonya mengingat atau melihat sesuatu yang mencurigakan saat sebelum kejadian itu?"
Aluna pun berpikir sejenak kembali mengingat kejadia malam itu.
"Nyonya?" Sahut Kris membuyarkan pandang Aluna lalu menoleh menatap Kris.
"Malam itu,, sangat sunyi dan keadaan gelap. Saat aku sedang berbicara dengan Helen tiba - tiba ada cahaya lampu yang sangat terang menyorotku, lalu dengan cepat mobil itu menabrakku hingga terlempar!"
"Apa hanya itu?"
"Mmm,,," Aluna berpikir sejenak kembali mengingat tatto berbentuk bintang yang terlihat samar sebelum dirinya pingsan. "Oh iya,, aku melihat seperti sebuah tato berbentuk bintang di bagian leher dari seorang laki - laki, tapi terlihat samar!" Balasnya!"
"Tatto?? Gumam Kris seperti sedang mengingat sesuatu.
"Coba lihat ini? Apa seperti ini modelnya?" Tanya Kris seraya memperlihatkan foto tato di bagian leher.
"Aku tidak terlalu ingat!" Balasnya dan Kris pun mengangguk.
'
'
'
"Pak nyonya bilang dia tidak terlalu mengingat kejadia itu, tapi dia seperti melihat ada tato berbentuk bintang pada orang yang menabraknya!"
"Tato bintang?" Gumam Arlan mengerutkan dahi.
"Apa mungkin tato itu seperti punya anggota gengster yang selama ini selalu bikin onar?" Lanjut Arlan.
"Belum pasti pak, tadi saya sudah memperlihatkan foto dari gangster itu namun, nyonya Aluna tidak yakin."
Dengan cepat Arlan membuka situs dilayar laptop yang ada di atas mejanya. Arlan mulai mencari informasi tentang kelompok gangster yang selama ini sudah meresahakn.
Meski anggota mereka sudah ada yang tertangkap beberapa orang, namun sampai saat ini bos mereka selalu saja lolos dan tidak ada yang tahu pasti keberadaannya.
Arlan mengklik satu foto seorang laki - laki bertubuh tegap dengan tato berbentuk bintang di lehernya. Laki - laki itu disebut - sebut sebagai ketua dari gangster tersebut namun sangat misterius, hanya beberapa orang yang mengaku pernah melihatnya di setiap lokasi kejadian, mereka kerap melakukan pembunuhan berencana, perampokan besar dan masih banyak lagi!.
"Harmawan Bramanta!" Gumam Kris yang juga melihat gambar itu.
"Kris apa kamu yakin dia adalah ketua yang sebenarnya?" Tanya Arlan dan Kris pun menggeleng.
"Aku yakin ketua yang sebenarnya berkeliaran bebas di pusat kota ini! Tidak mungkin dengan begitu mudah orang - orang memasang fotonya di sosial media sementara dia tidak pernah terlihat dengan jelas!"
"Lalu apa rencana bapak?" Tanya Kris.
"Kirim orang kita untuk berjaga di sekitar ruangan tempat Aluna di rawat, namun jangan sampai terlihat mencolok! Aku yakin ini seperti disengaja, mengingat Aluna ditabrak dalam keadaan sunyi dan gelap, bahkan tidak mengambil barang apapun darinya."
"Benar pak! Dan besar kemungkinannya dia akan kembali lagi!"
"Jangan biarkan Aluna tahu soal ini! Seru Arlan serak dan Kris pun mengangguk.
'
'
'
Di dalam ruangan yang bercat putih itu, Aluna terlihat sedang berdiri di pinggir jendela kaca memegangi perutnya yang semakin membesar. Ia mengulas senyum merasakan seperti ada tendangan kecil dari perutnya.
"Ceklek!"
Suara pintu terbuka membuat Aluna menoleh, perlahan senyumannya memudar melihat sosok di depannya.
"Aluna?" Lirihnya.
"Untuk apa nyonya datang kemari?" Tanyanya serak menatap nyonya Wijaya yang menghampirinya.
Nyonya Wijaya menutup mulut tertegun selama beberapa saat, melihat perut Aluna yang sudah semakin terlihat itu.
"Jika ingin memastikan seburuk apa keadaanku. Aku katakan saat ini aku dan bayiku baik - baik saja!" Ucap Aluna dingin membuat nyonya Wijaya membulatkan mata.
"Tidak nak, aku ingin melihatmu juga calon cucuku!" Balasnya seraya mengulurkan tangan bermaksud memegangi perut Aluna.
"Akh!"
Nyonya Wijaya terkejut saat Alun tiba - tiba menepis tangannya.
"Nyonya tidak perlu repot - repot menjenguk anakku!"
"Aluna, dengar aku ini nenek dari anak - anakmu!" Balas nyonya Wijaya bergetar dengan mata memerah menatap Aluna yang terlihat masam.
"Cucu?!" Ucap Aluna memicingkan mata. "Sejak nyonya memutuskan untuk menikahkan mas Arlan dan Nindia aku sudah bukan menantu anda lagi! Dan Anak ini milikku! Anda tidak punya hak lagi!" Lanjutnya dingin menatap nyonya Wijaya yang bergetar.
"Jangan berbicara seperti itu Aluna, mama tidak pernah memintamu bercerai dengan Arlan, kamu tahu itu kan?" Balasnya membujuk seraya menggenggam lengan kanan Aluna yang terpasang infus.
Sontak Aluna menarik tangannya kembali membuat nyonya Wijaya membulatkan mata melihat penolakan dari Aluna.
Aluna mengatupkan rahangnya hingga mengeras dan wajahnya memerah. "Lalu mengapa waktu aku memohon agar membatalkan pernikahan mas Arlan dengan Nindia anda menolak dan tutup telinga dengan tangisanku saat itu?!" Balasnya dingin lalu berbalik membelakangi nyonya Wijaya.
Nyonya Wijaya merasa sekujur tubuhnya lemas, perlahan menelan saliva dengan susa paya "Tapi,,,"
"Aku tidak butuh pengakuan dari nyonya atau siapapun! Lebih baik nyonya pulang dan urus menantu nyonya, beritahu dia agar tidak mengusikku lagi, karena aku tidak akan tinggal diam mulai saat ini!!" Balasnya bergetar tanpan melirik sedikit pun.
'
Tanpa Aluna sadari ada Arlan yang berdiri di ambang pintu mendengar pembicaraan mereka. Sontak membuatnya bergetar.
"Aluna mama mohon jangan seperti ini! Aluna!" Nyonya Wijaya menggoyang kecil lengan Aluna yang masih membelakanginya memohon, bahkan matanya mulai berkaca - kaca namun Aluna tidak bergeming.
"Ma!" Sahut Arlan sontak membuat nyonya Wijaya dan Aluna berbalik.
"Mas Arlan!" Batin Aluna menatap wajah Arlan yang memucat.
"Arlan, beritahu Aluna agar tidak seperti ini kepada mama! Kita ini keluarga kan?" Ucap nyonya Wijaya memohon kepadanya.
Arlan menatap Aluna yang juga menatapnya. "Mama sabaiknya pulang saja! Biarkan Aluna istirahat!" Balas Arlan menatap mamanya sedangkan Aluna memalingkan wajahnya kembali menatap keluar jendela.
"Tapi lan,,,"
"Arlan mohon ma!" Balasnya serak.
Nyonya Wijaya pun mengangguk, perlahan melangkah meninggalkan mereka, sebelum membuka pintu ia berbalik melirik Alunan yang masih membelakanginya.
Aluna menanggung cukup besar kesedihan dan merasa tidak adil akan perlakuan nyonya Wijaya kepadanya dulu. Rasa sakitnya belum mampu terhapuskan, hanya saja selama ini ia lebih memilih diam namun ternyata tidak memberikan kesembuhan pada lukanya. Itu sebabnya ia merasa belum sanggup jika memaafkan begitu saja!
"Alu,,,"
"Mas juga sebaiknya pulang! Aku tidak ingin berurusan dengan istri mas lagi!" Sahut Aluna memotong perkataan Arlan.
"Tapi mas tetap percaya sama kamu Aluna!" Lirih Arlan.
"Tapi mas tidak bisa menghentikan Nindia kan?" Balasnya.
"Aluna aku berjanji akan segera menceraikannya setelah anak itu lahir!" Balas Arlan bergetar.
"Sebaiknya mas pulang saja! Aku tidak ingin membicarakannya lagi!" Ucap Aluna membuat Arlan menatapnya sendu.
"Baik mas pulang! Tapi kamu harus memakan ini! Mas tidak ingin kamu dan bayi kita kenapa-kenapa!" Balas Arlan bergetar seraya meletakkan bingkisan itu diatas meja lalu dengan berat melangkah meninggalkan ruangan.
Aluna sedikit bergetar, untuk pertama kalinya mendapatkan perhatian oleh Arlan selama kehamilannya, namun ia tidak ingin terlena. Ia sudah memutuskan untuk tidak bergantung dengan siapapun termasuk Arlan!.
Bersambung,,,