IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
29. Rindu Jangan di Tahan!



Tepat 3 hari dirawat, kini Arlan sudah diperbolehkan untuk pulang. Harusnya dirinya senang karena sudah bisa meninggalkan tempat yang membuatnya seperti terkurung. Namun tidak dengan raut wajah yang terlihat datar.


Arlan berjalan dilobi rumah sakit bersama ibu juga Nindia. Meski hubungan mereka semakin tidak harmonis tapi Nindia harus menurunkan egonya demi menarik simpati dari mertuanya.


Selama nyonya Wijaya memberi lampu hijau maka Arlan tidak akan bertingkah lebih jauh.


"Paman Arlan?"


Teriak seorang gadis kecil yang berdiri tepat di samping mobil Van hitam milik tuan Wijaya, saat melihat Arlan berjalan menuruni tangga. Rambutnya di kepang terlihat lucu terlebih dirinya memegang sebuah buket mawar merah dan putih.


Arlan berjalan mendekati gadis kecil itu berdiri di depannya, gadis kecil itu pun mendongak menatap Arlan yang juga sedikit menunduk menatapnya.


"Untuk paman!" Ucapnya menyodorkan buket dan Arlan pun langsung mengambilnya.


"Terima kasih tuan putri!" Balas Arlan serak berjongkok mensejajarkan tubuhnya sambil mengelus lembut kepalanya dan gadis kecil itu sontak mengulas senyum memperlihatkan gigi depannya yang ompong terlihat lucu membuat Arlan ikut mengulas senyum.


"Bagaimana keadaan pak Arlan?" Tanya Kris dan Arlan pun kembali berdiri.


"Baik!" Balasnya serak.


Oh yah gadis kecil berusia 4 tahun itu bernama Calista, putri semata wayang Kris dan dia cukup akrab dengan Arlan. Bahkan Arlan sendiri memiliki nama panggilan tuan putri untuknya.


Karena memiliki schedule padat Arlan hari itupun langsung masuk kantor. Arlan berangkat bersama dengan Kris juga Calista menggunakan mobil sport hitam miliknya.


Sedangkan nyonya Wijaya dan Nindia pulang bersama di antar oleh supir pribadi.


"Pak tolong antar ibu dan istri saya pulang!" Seru Arlan kepada supir seraya masuk ke dalam mobil.


"Baik pak!" Supir itu mengangguk.


Nindia menatap mobil milik Arlan melaju hingga hilang dari pandangannya. Rasa kesalnya masih belum padam saat melihat sikap cuek dari suaminya yang bahkan lebih mementingkan kerjaan dihari pertamanya keluar dari rumah sakit.


"Silahkan nyonya!" Sahut Supir itu seraya membuka pintu mobil.


Nyonya Wijaya pun langsung masuk di susul oleh Nindia. Sepanjang jalan Nindia berpikir akan sikap Arlan yang mulai terang - terangan tidak memperhatikannya. Dia seakan lupa kalau Nindia mengandung anaknya.


'


'


'


Saat ini Arlan duduk di kursi putar milikinya memandang gedung di luar. Meski terlihat kecil namun Arlan cukup hafal lokasi gedung QUEEN JEWELRY GROUP, entah kenapa sejak Nindia mengirimkan foto Aluna bersama Leo hatinya semakin tidak tenang.


Meski awalnya ia tidak berniat mengganggu kehidupan Aluna, namun rasa penasaran akan hubungan Aluna dengan Leo semakin membesar. Ada rasa takut jika apa yang dikatakan oleh Nindia benar.


Selama beberapa saat Arlan termenung tanpa menyadari gadis kecil berusia 4 tahun itu menyelinap masuk ke dalam ruangannya. Sementara Kris sedang membantu Yuni menyusun beberapa dokumen.


Gadis kecil dengan rambut di kepang itu perlahan menjulurkan kepalanya mengintip ruangan, dia melirik ke kanan dan ke kiri memastikan keadaan aman.


Calista kembali mengulas senyum memperlihatkan gigi ompong-nya setelah memastikan hanya ada Arlan di dalam ruangan. Perlahan dia melangkah menghampiri Arlan yang membelakanginya.


'


'


'


"Paman Arlan?" Lirih Calista dengan suara khas anak kecil yang menggemaskan membuyarkan pandang Arlan sontak berbalik meliriknya.


Arlan memandangi wajah chubby yang sedang menatapnya dengan binar.


"Paman merindukan bibi Aluna?" Tanyanya polos mengedipkan matanya yang bulat.


Arlan mengerutkan dahi, "Bibi Aluna?" Tanya Arlan sedikit terkejut dengan perkataan Calista yang seakan bisa membaca isi pikirannya.


"Kata ayah bibi sedang bekerja ditempat yang jauh, itu sebabnya dia tidak pernah lagi membelikan Calista ice cream!" Balasnya polos dengan bibir yang sedikit mengerucut.


selain dengan Arlan, Calista juga cukup dekat dengan Aluna. Terkadang Aluna membelikan ice cream untuknya jika mereka bertemu diluar.


Selama 3 bulan Calista tidak pernah bertemu dengan Aluna, itu sebabnya dia bertanya kepada ayahnya dan Kris memberikan jawaban yang cukup logis untuk seusianya.


"Kalau rindu untuk apa ditahan! Paman punya banyak uang tinggal naik pesawat saja!" Jelasnya dengan bibir mengerucut, "dan jika paman bertemu dengannya katakan aku juga merindukannya! Hieh!" Lanjutnya terkekeh kecil kembali memperlihatkan gigi ompong-nya.


Arlan mengulas senyum kecil namun cukup menambah ketampanannya. "Anak kecil tau apa urusan orang dewasa?!" Balas Arlan mengelus kepala Calista.


Namun tiba - tiba Calista memeluknya membuat Arlan terkejut saat tubuh kecil itu memeluknya. Arlan kembali mengulas senyum menyambut pelukan Calista.


Perlahan Calista melirik ke arah pintu mengacungkan jempol, tanpa sepengetahuan Arlan ada Kris dan Yuni yang juga tersenyum mengacungkan jempol.


Sebenarnya Kris sengaja membawa Calista ke kantor untuk menghibur Arlan. karena ia tahu kalau perkataan anak kecil sangatlah polos namun selalu benar, bahkan saking polosnya terkadang orang dewasa saja tidak sampai berpikir seperti itu. Kris sangat meyakini kalau saat ini Arlan sebenarnya sangat merindukan Aluna hanya saja ia berada diposisi dilema.


'


'


'


Sore itu, hembusan angin sejuk menerpa membelai lembut wajah Aluna yang sedang berjalan kecil di taman komplek perumahan.


Aluna melirik kursi besi panjang di bawah pohon taman. Perlahan melangkah dan duduk di kursi itu. Aluna sedikit menunduk mulai memijat kecil kedua betisnya.


Setelah beberapa pijitan rasa kram-nya mulai hilang, Aluna kembali menegakkan badannya memandangi orang - orang yang terlihat menikmati sejuknya hembusan angin.


'


'


'


"Ice cream,," Batin Aluna, "G-luk!" kemudian menelan saliva saat melihat anak kecil yang sedang duduk diatas rumput hijau, terlihat asyik menikmati ice creamnya.


Selama beberapa minggu ini selain napsu makannya yang mulai meningkat, dia juga lebih mudah nguler setiap melihat makanan di depannya. Selama beberapa saat terpaku memandangi bocah itu dan,,,


"Boleh duduk?"


Suara serak laki - laki secara tiba - tiba membuyarkan pandang Aluna, sontak menarik pandangannya mendongak menatap laki - laki yang mengulas senyum menawan menatapnya.


"Dokter Leo." Lirih Aluna terkejut.


Leo pun langsung duduk di samping Aluna, "Untuk nyonya!" Sahut Leo memberikan ice cream coklat kepada Aluna.


Sontak Aluna mengulas senyum menatap binar ice cream itu, "Terima kasih!" langsung mengambilnya.


Aluna perlahan memakan ice cream yang terasa lembut dan manis itu.


"Dokter kok ada di sini?" Tanya Aluna sesekali menggigit ice cream ditangannya, mengingat dokter Leo selalu muncul secara tiba - tiba.


"Aku tinggal di komplek ini!" Balasannya sontak membuat Aluna membulatkan mata.


"Tidak perlu terkejut nyonya!" Lanjutnya menatap Aluna semakin melebarkan senyumannya.


Aluna mengerutkan dahi mengangguk kecil. "Mm,, dokter Leo tidak perlu memanggilku dengan sebutan nyonya!" Ucap Aluna.


"Ok! Dan tidak perlu juga memanggilku dokter Leo, cukup Leo saja!" Balasnya.


Keduanya pun sepakat dan saling melambungkan senyuman.


"Emm,, aku akan berangkat ke Prancis bulan depan. Apakah aman jika dalam penerbangan jauh?" Tanya Aluna.


"Bulan depan yah, itu artinya umur kehamilanmu sudah memasuki 5 bulan seharusnya sih tidak masalah! Tapi, saya sarankan sebelum berangkat lakukan pemeriksaan untuk memastikan kesehatan janin!" Jelasnya.


"Pasti!" Balas Aluna.


"Oh yah, besok ada jadwal kelas bumil, jangan sampai lupa!" Ucapnya seraya melirik jam tangannya.


"Baik!"


"Aku harus kembali sekarang, mau ku antar sekalian?" Tawarnya, namun Aluna menggeleng.


'


'


'


Di sebuah pemukiman warga yang berada di pinggir kota, tempat itu di penuhi dengan tumpukan sampah plastik yang menggunung, rumah - rumah warga terbuat dari kayu sangat sederhana berbentuk berpetak - petak.


Pemukiman itu cukup padat, memilik banyak lorong kecil dan mayoritas warganya sebagai pengumpul sampah plastik. Namun siapa sangka pemukiman itu di jadikan tempat perjudian oleh sebagian orang - orang setempat bahkan beberapa orang tertentu yang sering masuk ke tempat itu.


Karena tempatnya yang cukup jauh dari pusat kota, dan keadaan lingkungan yang tidak memungkinkan sehingga tempat itu tidak banyak diketahui dan masih terisolasi dari pihak berwajib. Belum pernah ada kasus terlapor dari tempat itu.


Sore itu, para warga beraktivitas seperti biasa. Terlihat beberapa warga sedang duduk berbincang ria, anak - anak kecil sedang bermain, berlari kesana kemari melawati lorong - lorong kecil.


"Ayo, ayo merapat! Masih kurang 1 pemain lagi!" Sahut laki - laki berbadan besar, tubuhnya di penuhi beberapa tato yang sedang berdiri di dekat meja bundar.


Meja itu di kelilingi 4 kursi, 3 di antara sudah terisi. 2 di antaranya terlihat memakai kaos oblong lusuh, sedangkan satunya lagi hanya mengenakan celana jeans.


Sebenarnya mereka orang - orang yang berduit yang sengaja menyamar seperti orang yang tidak punya setiap kali memasuki tempat tersebut.


"Hei baju hitam duduk dan kita mulai permainannya!" Sahut laki - laki bertato itu menunjuk seorang laki - laki yang duduk merokok.


"Hei kamu di panggil, sana!" Sahut temannya yang juga sedang merokok.


Kepulan asap dari kedua menghiasi sehingga wajah mereka tidak terlihat jelas di tempat yang bisa dibilang gelap, cahaya masuk hanya melalui beberapa lubang kecil dari dinding seng, sedangkan pintu tertutup rapat. Jika dilihat dari luar, tempat itu seperti sebuah gudang yang di kelilingi botol plastik dan kotor.


"Uangku sudah hampir habis!" Balasnya menghembuskan asap rokok dari mulut.


"Sudah tidak usah banyak pikir, kalau kalah kamu tinggal minta lagi sama bosmu yang kaya raya itu! Ingat, kamu sudah bersembunyi ditempat ini selama 3 bulan bukan gara - gara dia?!" Jelas temannya mempengaruhi.


"Hei bung! kemari lah bergabung dengan kami!"


Tanpa berpikir panjang dia pun mematikan rokoknya lalu beranjak menghampiri ketiga laki - laki itu.


Bersambung,,,