
"Tit. Tit. Tit."
Perlahan Aluna memasuki ruangan itu, ia melihat tuan Wijaya yang terbaring tidak sadarkan diri, beberapa alat terpasang di tubuhnya termasuk alat bantu pernapasan penasaran. Kondisinya lebih buruk dari sebelumnya.
"Aluna?" Lirih nyonya Wijaya bergetar.
Aluna tidak menjawab, hanya melirik nyonya Wijaya yang terlihat pucat, bahkan sedikit kurus, wajahnya tidak berseri seperti sebelumnya. Ia terlihat sederhana tanpa riasan bahkan sedikit lusuh.
Aluna memalingkan pandangannya menatap tuan Wijaya. Digenggamnya tangan kanan yang berkeriput itu.
"Papa Wijaya? Aku datang membawa cucu anda, tolong segera bangun! Kami ingin melihatmu sehat kembali!" Batinnya dan tanpa sadar matanya meneteskan buliran jernih.
Sudah cukup Arlan yang meninggalkannya, ia tidak ingin jika tuan Wijaya juga meninggalkan dirinya. Rasa takut menyelimuti, ia takut jika kehilangan sosok pengganti ayahnya.
'
'
'
Aluna duduk di taman rumah sakit, tatapannya sendu.
"Nyonya."
Aluna mendongak menatap Kris. "Ada apa Kris?" Lirihnya.
Perlahan Kris ikut duduk di sampingnya, lalu merogoh sakunya mengeluarkan sebuah kalung.
Aluna mengambil kalung itu, lalu menatap lekat liontin cincin berwarna keemasan itu. Aluna sangat ingat, dimalam sebelum keberangkatannya ke Paris, Arlan mengenakan kalung berliontin cincin kawinnya.
"Pak Arlan menitipkan sebelum kami memasuki markas!"
Aluna menatap Kris dengan berkaca - kaca. "Coba ceritakan apa yang terjadi sebelumnya!"
"Malam itu, pak Arlan memergoki nyonya Nindia di hotel bersama dengan pak Rama. Pak Arlan marah. Ia marah bukan karena perselingkuhannya tapi karena anak dalam kandungannya ternyata anak pak Rama!"
Aluna terlonjak, tubuhnya kembali bergetar.
"Pak Arlan tetap bersih keras untuk ikut kami memasuki markas, karena ia sangat ingin menemukan pelaku yang sudah menabrak nyonya!"
'
"Nyonya,,?" Menatap Aluna.
"Pak Arlan tidak pernah ingin nyonya mengetahuinya, karena ia tidak ingin nyonya khawatir. Dia sangat mencintai nyonya, bahkan saat kalian berpisah dia menghabiskan waktu bekerja lebih banyak, ia juga pernah meminta saya untuk mengawasi nyonya secara diam - diam. Bahkan pernah beberapa kali ia datang di depan rumah nyonya secara diam - diam saat dia merindukan nyonya!" Jelasnya.
Tenggorokan Aluna tercekat, menggenggam kuat kalung ditangannya. Dengan berat menelan saliva.
"Bahkan saat Anda berada di rumah sakit dan membutuhkan donor darah, pak Arlan yang memberikan donor. Setiap malam ia menyelinap memasuki kamar nyonya untuk menemani nyonya, ia takut jika nyonya melihatnya dan marah, jadi sebelum nyonya bangun ia akan meninggalkan ruangan."
Perlahan buliran jernih kembali menetes membasahi kedua pipinya. "Apa dia juga memberikan bubur?" Tanyanya menebak saat mengingat rasa bubur yang ia makan saat Kris menjemput Arlan di rumahnya.
"Benar. Dia selalu meminta ku untuk membelikan bubur dan makanan sehat untuk nyonya. Tapi selalu di titipkan kepada perawat yang jaga!"
"Saat mengetahui anda hamil, ia merutuki dirinya dan merasa sangat bersalah karena telah membiarkan nyonya hidup sendiri dan melewati kesulitan seorang diri! Percayalah nyonya, dia sangat mencintai anda!"
Aluna kembali menatap liontin kalung Arlan. "Aku yang menyebabkan perpisahan ini. Aku tidak bisa memberikan keturunan untuknya sampai mamanya mendesak untuk menikahkan mas Arlan dengan Nindia."
"Ia marah dan menolak, tapi aku malah menangis memohon bahkan dengan egoisnya aku meminta cerai darinya!" Ucapnya menyeka air matanya.
"Ak, aku terlalu naif menganggap perpisahan kami menjadi jalan terbaik sebagai pelarianku agar tidak melihat orang lain memiliki suami ku di depan mata. Tapi nyatanya malah membuat kami sama - sama tersakiti, aku ternyata bahkan tidak rela sampai saat ini dan karena keegoisan ku, aku justru kehilangan dirinya untuk selamanya!" Lanjutnya dan lagi - lagi buliran jernih membasahi pipinya.
"Ini bukan salah nyonya! Sekarang yang terpenting adalah kesehatan nyonya, tuan Wijaya juga masih belum sadarkan diri dan PERKASA WIJAYA diambil alih oleh pak Rama, dia bahkan membawa Nyonya Nindia dan Ibunya ke kediaman utama hingga membuat tuan Wijaya drop!"
"Nindia, Ibu!" Batinnya mengepalkan kedua tangannya, tatapannya tajam memancarkan kebencian. Aluna berjanji untuk menurunkan mereka dari tempatnya!
'
'
'
"What? Kamu serius?" Tanya Helen setelah mendengar penjelasan Aluna.
"Em, Kris yang memberitahu!"
"Dasar wanita penjilat. Kalau tahu gitu, kemarin aku jambak aja rambutnya di mall!" Meremas kertas HVS di tangannya.
"Mall?"
"Iya, beberapa hari lalu aku bertemu dengannya. Dia memasuki salah satu brand dan tidak bisa membayar karena kartunya ditolak! Kalau ketemu lagi bakal ku tampar saat itu juga!"
"Helen,, jangan!"
"Ck. Biarin aja Aluna dia pantas menerima!"
"Helen, kertasnya!" Menunjuk kertas.
"Hah? Aluna kok nggak ngomong sih?" Terkejut melihat gambarnya yang sudah jadi tapi malah ia robek sendiri saking kesalnya dengan Nindia.
"Heheh, kan udah dibilangin jangan!"
"CK!" Decak Helen semakin membuat Aluna terkekeh.
"Oh ya, aku mau jenguk tuan Wijaya. Jadi kasian mendengarnya!"
"Mh boleh, tapi hari ini aku ingin menemui dokter Leo dulu. Obat dan vitaminku habis!"
"Si tengil?"
"Iya, pamannya anak dalam perutmu!" Balasnya memutar bola mata.
"Edward?"
"Hem!"
Aluna mengulas senyum. "Kamu hanya tidak mengenalnya dengan baik. Saat ini dia mungkin tidak punya waktu dan tenaga yang cukup untuk bermain - main dengan mu. Dia pasti sangat kehilangan Arlan, sejak kecil orang tuanya bercerai dan ibunya sudah meninggal. Arlan dan papa Wijaya orang terdekatnya!" Tatapan Aluna sendu.
Helen pun seakan ikut merasakan. "Kamu benar, aku bisa melihatnya saat di lokasi, dia terlihat buruk bahkan katanya ia nekat ikut turun mencari mas Arlan di jurang!"
"Hhhfftt.." Menghela napas menatap Helen.
"Eh tapi kita udah berteman lama. Tapi kok aku nggak pernah liat dia sebelumnya?"
"Kamu pernah melihatnya, saat pernikahan ku dengan mas Arlan! Sudah sangat lama, wajar jika kamu lupa. Saat itu ia sedang melanjutkan studinya di luar negeri, dan hanya kembali untuk melihat pernikahan ku dengan mas Arlan! Lucunya, saat kembali ke Indonesia 4 tahun lalu, ia malah menjadi Intel, bukan bergabung dengan perusahaan!"
"Oh yah?" Terkejut. "Cek. Cek. Memang aneh, punya perasaan keluarga yang besar malah jadi Intel! Pantas saja jarang terlihat."
"Itu sebabnya ia jarang kembali ke rumah, aku hanya sesekali berkomunikasi melalui ponsel. Dia bahkan nyaris tidak pernah menginjakkan kakinya di perusahaan jika bukan untuk mencari mas Arlan. Dia tidak pernah ingin bergabung dalam proyek apapun sampai sahamnya ia gabungkan dengan saham mas Arlan hanya demi menjalankan profesinya tanpa gangguan!"
"W'hhaa! Benar - benar aneh tapi nyata! Pantas saja dia nekat memasuki markas gangster!"
"Kamu benar, dia bahkan sering menangkap penjahat besar, mengejar komplotan penyeludupan senjata, memberantas pelaku kriminal juga menghabiskan waktunya di hutan dan hidup secara liar! Jika dia tidak suka dengan seseorang, akan ia kejar hingga orang itu tidak berdaya alias tidak bernyawa!" Meremas kuat kertas di depan mata Helen.
Sontak Helen membulatkan mata, sedikit merinding membuat Aluna menahan tawa melihat kepolosan Helen.
'
'
'
"Apa ada keluhan akhir - akhir ini?"
"Aku hanya merasa pusing sejak kemarin!"
"Kamu kurang istirahat, minum obat dan vitamin rutin. Usahakan jangan terlalu banyak berpikir, aku tahu saat ini berat tapi stres tidak baik untuk ibu hamil!"
"Iya kamu benar!"
"Oh yah, aku ingi memperlihatkan sesuatu." Leo mengeluarkan ponselnya.
"Ini kan,,,?"
"Iya ini Nindia, saat itu aku Barus selesai mengikuti seminar dan tidak sengaja melihatnya!"
"Aku tidak mendengar dan tidak melihat orang yang ia temui dalam mobil itu. Aku hanya memotret mobil dan Nidia saat hendak memasuki mobil."
"Ini, mobil lama kakek Wijaya. Pasti Rama yang memakainya."
"Rama?" Leo mengerutkan dahi.
"Iya, Kris bilang sebelum kecelakaan mas Arlan memergoki Nindia dan Rama di hotel. Anak dalam kandungannya ternyata anak Rama!" Jadi sudah pasti Rama yang menggunakan mobil itu."
"Mereka memang pasangan serasi." Ketus Leo.
"Leo, bisa kirimkan foto - foto itu?!"
"Tentu!"
Tak butuh waktu lama foto itu pun sudah masuk di ponsel Aluna.
"Apa kamu akan menjenguk tuan Wijaya?"
"Iya, Helen menunggu di sana."
"Kalau begitu biar ku antar, aku juga belum menjenguknya."
"Terima kasih."
'
'
'
Helen melangkah ringan menuju ruangan tuan Wijaya dirawat, langkahnya terhenti saat melihat sosok Edward yang berdiri memandang sendu pintu kamar, sangat jelas ia takut memasuki ruangan itu.
Perlahan menoleh menatap Helen yang berdiri di sampingnya. Keduanya tidak saling bicara hanya menatap selama beberapa saat.
Helen menatap lekat kedua mata yang berkaca - kaca itu.
"Apa kamu akan terus lemah seperti itu?"
"Aku tidak bisa menyelamatkan kak Arlan, aku tidak bisa membantunya di perusahaan. Tidak ada bisa diandalkan dariku!"
"Tapi dengan seperti ini tidak akan mengubah keaadaan. Ingat kamu masih pewaris keluarga Wijaya, kamu juga harus ingat anak dalam kandungan Aluna juga merupakan keturunan sah. Mereka semua membutuhkan mu!" Ucap Helen, lalu memasuki ruangan tuan Wijaya.
Edward mencerna perkataan Helen yang memang ada benarnya. Ia tidak mungkin membiarkan keluarga besarnya berantakan dan Rama menguasai perusahaan begitu saja.
Bersambung,,,