IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
26. Dunia kerja Arlan



"Jaga diri mu baik - baik!" Ucap Tuan Wijaya melepaskan pelukannya.


"Tuan juga harus jaga kesehatan!" Balas Aluna mengulas senyum.


"Tentu!"


"Tuan harus pulang beristirahat, tidak perlu mengantarku!" Ucapnya ringan.


"Kamu yakin?" Tanya tuan Wijaya dan Aluna pun kembali mengangguk.


Tuan Wijaya lalu berbalik meninggalkan Aluna yang berdiri memandanginya. Sontak supir tuan Wijaya pun langsung membuka pintu mobil yang terparkir di pinggir jalan.


"Ingat tetap panggil saya papa! Bukan tuan!" Ucapnya berbalik menatap sambil menunjuk halus Aluna saat hendak masuk ke dalam mobil.


Aluna kembali mengulas senyum mengangguk kecil. Dari dulu tuan Wijaya lebih suka jika Aluna memanggilnya papa, dan ia tidak pernah menyangka meskipun dirinya dan Arlan sudah berpisah tuan Wijaya tidak keberatan dengan panggilan itu.


Karena sejatinya tuan Wijaya selalu menganggap Aluna seperti putrinya sendiri. Dulu Aluna selalu menemaninya makan bubur bersama, memancing bersama juga berolahraga kecil.


Aluna sedikit menunduk mengelus perutnya, karena menggunakan model baju yang mengembang sehingga menutupi bentuk tubuhnya dan untungnya tuan Wijaya tidak menyadari. Lagi pula, kalau dipikir - pikir tuan Wijaya tidak akan mungkin dengan muda curiga dengannya karena sangat tidak mungkin jika dirinya tiba - tiba hamil, sementara alasan perceraiannya dengan Arlan disebabkan karena ia belum mampu memberikan keturunan.


Terbesit rasa bersalah karena telah menyembunyikan kehamilannya kepada tuan Wijaya yang begitu baik kepadanya. Kedua matanya kembali memerah, namun Aluna menarik napas dalam - dalam lalu menegakkan kepala. Ia tidak boleh terlalu cengeng, tanpa berlama - lama diapun meninggalkan tempat itu.


'


'


'


Aluna berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya menyetop taxi. Dengan cepat Aluna masuk kedalam taxi itu. Selang beberapa detik mobil sport hitam milik Arlan pun melaju melewati, dan lagi - lagi mereka tidak menyadari hal itu kembali terlihat seperti orang asing.


Entah kebetulan diantara mereka yang terlalu banyak atau karena sejatinya mereka mungkin tidak akan terpisahkan hanya dengan jarak yang secara kebetulan, hingga akan terus bergulir dalam sebuah tempat yang sama sampai takdir benar - benar mempertemukan.


'


'


'


Hari itu Arlan mengantar Nindia ke apartemen sebelum kembali ke kantornya bersama dengan Kris.


"Bagaimana hasil pemeriksaan hari ini? Tanya ibu Nindia yang baru saja pulang dari arisan seraya menghampiri putrinya yang duduk di sofa ruang tengah.


"Bayinya sehat Bu, bahkan denyut jantungnya sudah terdengar!" Ucap Nindia menatap binar ibunya yang kini sudah duduk di sampingnya.


"Oh ya?" Lalu apa dokter memberitahu jenis kelaminnya?"


"Belum terlalu jelas Bu, tapi katanya kemungkinan besar laki - laki!" Balas Nindia menggenggam kedua tangan ibunya tersenyum lebar, tentu saja sontak membuat ibunya membulatkan mata kagum.


"Bagus Nindia! Dengan begini nyonya Wijaya akan semakin menyukaimu, karena dia telah memiliki pewaris untuk PERKASA WIJAYA!"


Keduanya kompak menunggingkan senyum licik khas mereka, merasa seperti sedang berada diatas awan. Terutama Nindia, walau Arlan belum meliriknya tapi dia meyakini dengan adanya bayi dalam kandungannya yang berjenis kelamin laki - laki itu akan membuat Arlan memfokuskan perhatiannya kepada mereka dan segera mungkin melupakan Aluna.


'


'


'


2 Hari berlalu, Hari itu Arlan kembali mengunjungi proyek FAMILY RESIDENCE tentu didampingi oleh Kris.


"Selamat datang pak Arlan dan pak Kris!" Sahut kepala mandor itu.


"Bagaimana dengan pembangunannya? Tanya Arlan serak.


"Lancar pak, sekarang sudah berjalan 50 %!" Balasnya.


Arlan pun membuka kertas berisi shop drawing bangunan sambil sesekali melihat bangunan di depannya.


Arlan berjalan mengelilingi seluruh bagian bangunan bersama Kris sambil mencocokkan dengan shop drawing yang dia pegang.


Dengan bantuan Kris dia mulai mencatat hal - hal penting yang mereka dapatkan selama berkeliling, tak lupa juga kembali berbincang ringan dengan beberapa buruh secara acak untuk memastikan proses dan perkembangan pembangunan.


Dari informasi yang didapat dari para buruh itu masih tergolong normal, tidak ada keluhan dan kendala mendasar. Sehingga Arlan mengambil kesimpulan bahwa proyek berjalan dengan baik sampai 50 % pembangunan.


Dari dulu Arlan selalu meminta Kris menemaninya di setiap kunjungan proyeknya, karena dia merasa pemikiran mereka selaras dan itu terbukti di setiap proyek yang mereka jalankan selalu mendapat bantuan masukan dari Kris.


Sementara untuk urusan dokumen dan janji temu klien yang tidak terlalu mendesak semua dia serahkan kepada asistennya yang selalu standby di kantor.


'


'


'


Sore itu, Aluna terlihat duduk di gasebo halaman rumahnya sambil membaca buku. Hembusan angin yang sejuk menerbangkan rambutnya yang sedikit bergelombang terurai.


Aluna sesekali mengelus perutnya sambil terus membaca buku di tangannya. Selang beberapa saat, Aluna sedikit terkejut saat merasakan seperti ada kedutan halus yang samar di bagian perut. Rasanya seperti memberi sensasi gelitik kan pada bagian perutnya. Dan kedutan itu sebenarnya muncul beberapa kali sejak tadi pagi, hanya saja ia tidak terlalu menanggapi.


Namun, sore itu ia kembali merasakannya, sehingga ia berpikir kemungkinan bayi sedang menendang meski dirinya belum terlalu yakin. Aluna terus menempelkan telapak tangan kirinya meraba perutnya merasakan kedutan itu.


Perlahan mengulas senyum kecil, rasa hangat tiba - tiba menyelimuti. Aluna kembali mengingat usia kehamilan yang sudah 4 bulan begitu juga janjinya dengan dokter Leo untuk melakukan USG.


'


'


'


Malam yang berbintang telah berganti pagi yang cerah, sinar sang mentari kembali melaksanakan tugasnya menyinari seluruh sudut kota.


_PT. PERKASA WIJAYA _


Arlan selaku CEO kembali menjalankan rutinitasnya. Bahkan selama seminggu terakhir dia bekerja ekstra karena memiliki banyak tender baru dan aktif melakukan kunjungan lokasi yang bahkan sebagian berada di luar kota. Dia di hadapkan dengan beberapa dokumen yang harus ia baca dan teliti, tak lupa juga memberikan goresan tinta berwarna hitam di setiap dokumen itu.


"Yuni bawakan semua dokumen selama seminggu ini!" Serunya saat melewati Yuni seraya membuka pintu ruangannya.


"Baik pak!" Dengan cepat Yuni mengambil tumpukan dokumen perusahaan yang berada di atas mejanya.


Hari itu Arlan mulai membuka setiap lembaran dokumen membaca isi laporan sebelum memberikan tanda tangan. Sedikit berbeda dari hari sebelumnya, karena ia hanya duduk sendiri tanpa di dampingi Kris.


Belum selesai semua di baca, Yuni kembali membawakan beberapa bundel sehingga menjadi beberapa tumpukan di mejanya.


Sina mentari semakin tinggi dan memancarkan hawa panas menembus kaca dinding kaca lantai 15. Meski berada di dalam ruangan ber-AC, Arlan tetap saja sedikit gelisah karena terlalu banyak dokumen di depannya, bahkan badannya terasa sedikit kram.


Hari itu beberapa dokumen laporan tender perusahaannya diberikan secara bersamaan dan merupakan tender yang besar sehingga membutuhkan konsentrasi penuh.


Arlan mulai melonggarkan dasinya lalu kembali meneliti lembaran dokumen sesekali meneguk secangkir kopi yang telah disiapkan oleh Yuni.


Beberapa menit kemudian, Arlan tiba - tiba merasa kepalanya sedikit berdenyut. Namun ia tetap melanjutkannya pekerjaannya sesekali mengetuk kopi yang terletak diatas meja. Sementara menu makan siangnya sama sekali belum ia sentuh.


Buliran keringat dingin perlahan muncul di dahinya, Arlan pun menyeka wajahnya dengan sapu tangan. Kembali ia mengambil bundel terakhir berwarna biru dan merasakan keanehan pada pandangannya.


Arlan menandatangi bundel terakhir itu, lalu beranjak dari duduknya. Pandangan kabur seperti melihat kilatan kekuningan yang remang, semakin lama semakin menguning.


Arlan tiba - tiba oleng dan hampir terjatuh, dengan cepat dia berpegangan di sudut meja kerjanya.


"Pak doku,,," Yuni sontak membulatkan mata saat dia membuka pintu ruangan dan melihat atasannya tertunduk dengan kedua berpegangan di sudut meja seperti menahan sakit.


"Pak, bapak tidak papakan?" Tanya Yuni seraya berlari menopang Arlan dan menuntutnya kembali duduk di kursi putar.


Yuni terkejut melihat wajah Arlan memucat dipenuhi buliran keringat dingin. Bahkan napasnya terlihat sedikit tersengal bersandar di kursi.


"Bapak tunggu sebentar saya panggil bantuan!" Ucap Yuni lalu berlari keluar ruangan memanggil beberapa staf.


"Tolong pak Arlan sakit!" Sahut Yuni sedikit berteriak dan beberapa staf yang sedang berjalan melewati sekitar ruangan sontak berlari termasuk Rama.


"Ada apa Yun?" Tanya Rama.


"Pak Arlan sakit, se,, sepertinya dia sedang kesakitan!" Balas Yuni terbata - bata dan panik sambil menunjuk ruang Arlan.


Rama memasuki ruangan di susul oleh Yuni dan beberapa staff. Rama melihat Arlan yang sudah dalam keadaan pingsan di kursi putar miliknya.


"Kak, kak Arlan?" Panggil Rama sambil menggoyang kecil lengan Kaka sepupunya.


"Cepat hubungi ambulance!" Seru Rama!


"Dan Yuni pun baru berlari mengambil ponselnya lalu menghubungi ambulance!" Dia terlalu panik hingga tidak berpikir untuk segera menelpon ambulance sebelumnya.


'


'


'


"Mas?" Suara panggilan terdengar sama di telinganya saat perlahan Arlan membuka mata melihat sekeliling ruangan yang bercat putih.


"Akh!" Ringisnya sambil memegangi kepalanya yang serasa berat.


"Mas kamu tidak papakan?" Arlan perlahan berbalik menatap Nindia yang sedang berdiri sedikit menunduk di samping kanannya, lalu menggeleng kecil.


"Nak apa ada yang sakit?" Tanya nyonya Wijaya yang berada di samping kirinya dengan posisi serupa dengan Nindia, sambil mengelus kecil kepala putra tunggalnya.


"Perut Arlan terasa sedikit peri ma. Tapi mama tidak perlu khawatir!" Balasnya berat.


Bersambung,,,