
"Tadi kamu pingsan mas, untungnya Rama dan Yuni segera membawamu ke sini!" Sahut Nindia membuat Arlan sedikit mengerutkan dahi.
"Rama?" Tanyanya menatap ibu dan istrinya bergantian.
"Iya, dan dia juga yang menghubungi mama!" Sambung nyonya Wijaya.
"Lalu dimana dia sekarang?"
"Dia sudah kembali, katanya ada klien yang harus dia temui!" Balas nyonya Wijaya, Arlan mengangguk kecil karena memegang dia menugaskan Rama untuk menemui klien hari itu.
'
'
'
"DUG! DUG! DUG!"
Suara detakan jantung janin yang indah memanjakan telinga kembali terdengar di rungan dokter Leo. Kali ini giliran Aluna yang berbaring memandangi layar monitor di dampingi oleh Helen. Bahkan Helen pun ikut terhipnotis dengan suara detakan itu.
"Bayi saya sehat kan dok?" Tanya Aluna sedikit melirik dokter Leo yang terlihat mengamati layar monitor.
"Hem,, keduanya sehat dan beratnya juga sudah bertambah!" Jawab dokter Leo sontak membuat Aluna dan Helen saling melirik sedikit bingung.
"Apa maksud dokter ke-duanya?" Kembali Aluna bertanya dengan wajah bingung dan dokter Leo hanya mengulas senyum.
"Selamat nyonya bayinya kembar!" Ucap dokter Leo enteng sambil menunjuk bagian layar monitor, namun sontak membuat Aluna juga Helen terlonjak.
"Kembar?" Aluna Helen kompak.
"Mm,, iya kembar. Coba liat ini!" Ucapnya menunjuk titik layar monitor, Aluna dan Helen pun kembali menatap layar itu.
"Disini ada dua kantong janin, yang satu berjenis kelamin laki - laki dan satunya lagi perempuan! Lanjut dokter Leo menjelaskan lebih detail.
Aluna dan Helen pun semakin memfokuskan pandangannya ke monitor, karena alat USG yang digunakan saat ini 3D sehingga bisa melihat 2 kantong janin dengan lebih jelas.
Aluna kembali membulatkan mata sangat tidak menyangka dirinya bisa hamil kembar. Rasanya seperti mimpi disiang bolong, perlahan menelan saliva. Sementara Helen hanya mampu menutup mulut tidak kalah terkejutnya dengan Aluna.
Setelah selesai melakukan proses USG, Aluna kembali menurunkan bajunya yang sedikit terangkat pada bagian perut. Lalu beranjak dari pembaringannya. Aluna duduk bersama Helen di kursi yang berada di depan meja, begitu juga dengan dokter Leo.
Raut Aluna masih terlihat sedikit menegang. Dia tidak tahu harus berkata apa, rasa bahagia pasti, namun membayangkan ada dua anak di dalam perutnya sangat mengejutkan. Baru pertama kali hamil langsung 2 janin sekaligus.
"Selamat nyonya anda akan menjadi ibu dari dua anak sekaligus!" Sahut dokter Leo membuyarkan pandang Aluna yang setengah bengong.
"Apa sebelumnya dokter Citra sudah mengetahui?" Tanya Aluna menatap Leo.
"Mm,, sebenarnya terakhir kali kalian bertemu beliau sudah melihatnya, hanya saja dia belum memberitahu karena dia berpikir kesiapan mental lebih penting!" Balasnya.
Aluna pun memahami hal itu, sekarang saja dia masih cukup terkejut.
"Dan perlu diketahui selain ukuran yang perut lebih besar, resiko kehamilan kembar lebih besar!" Lanjutnya.
"Lalu saya harus bagaimana dok?" Tanya Aluna menatap Leo.
"Tidak perlu khawatir, hamil kembar tidak se-menakutkan yang kamu bayangkan. Kamu hanya perlu menjaga asupan gizi, hindari stress dan aktivitas yang berlebihan!" Jelasnya dan Aluna pun mengangguk.
'
'
'
"Tok,, Tok,, Tok,,"
Suara ketukan pintu sontak membuat ketiganya berbalik, terlihat dokter laki - laki di dampingi perawat wanita sedang menghampiri mereka.
"Bagaimana keadaan pak Arlan? Apa anda merasakan sakit pada bagian tubuh?" Tanya dokter laki - laki itu sambil membuka rekam medik di tangannya.
"Saya sudah mendingan dok, hanya saja saya merasa sedikit peri pada bagian perut!" balas Arlan serak.
"Bapak terlalu kelelahan dalam bekerja, sampai lupa waktu makan! Itu sebabnya asam lambung bapak naik!" Jelas dokter itu mengulas senyum.
"Apa perlu perawatan lebih lanjut dok?" Tanya nyonya Wijaya khawatir.
"Kondisi pak Arlan sedikit lemah, saya sarankan sebaiknya dirawat 2 atau 3 hari agar bisa beristirahat dengan benar!" Balas dokter itu.
"Baik dok!" Balas nyonya Wijaya mengulas senyum lalu menatap putranya yang sedikit pucat dengan tangan kanan yang terpasang selang infus.
"Oh yah, saya minta keluarga pasien ikut ke keluar, ada berkas yang harus ditanda tangani!" Lanjutnya berbalik dan langsung di ikuti oleh Nindia.
'
'
'
"Sus saya istri dari pasien atas nama pak Arlan, katanya ada harus di tanda tangani!" Sahut Nindia kepada perawat yang jaga.
"Silahkan Bu!" Balas perawat itu menyodorkan kertas persetujuan rawat inap dan langsung di tanda tangani oleh Nindia.
Setelah selesai melakukan tanda tangan, Nindia pun langsung berbalik. Dengan langkah ringan wanita berambut putih maroon tergerai itu berlenggak menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar PIV tempat Arlan dirawat.
Secara tidak sengaja, saat ingin berbelok ke kiri dia melihat Aluna bersama dengan dokter Leo juga Helen yang dari arah berlawanan sedang berdiri tepat di depan ruangan poli Obgyn, sontak Nindia menghentikan langkahnya mengamati mereka dari jarak beberapa meter.
Itu sebabnya Nidia hanya melihat wajah Aluna dengan jelas, bukan bagian perutnya. Meski dia tidak dapat mendengar dengan jelas obrolan mereka, tapi Nindia cukup penasaran untuk apa Aluna berada di tempat itu bahkan terlihat akrab dengan dokter Leo.
'
'
'
"Helen, kamu pulang saja aku bisa naik taxi nanti!" Sahut Aluna mengingat Helen ada acara keluarga hari itu, sedangkan dia masih harus menebus obat di apotek.
"Kamu yakin?" Tanya Helen menatap sahabatnya dan Aluna pun mengangguk.
"Biar saya yang antar pulang! Lagian hari ini saya sudah ijin untuk pulang lebih awal!" Sahut dokter Leo mengulas senyuman menawan khasnya yang membuat Helen menatap terpukau.
"Apa tidak merepotkan dokter?" Tanya Aluna dan Leo pun menggeleng kecil.
Tanpa berlama - lama Helen meninggalkan mereka. Sementara Aluna dan Leo masih berdiri dengan posisi yang sama mengiringi langkah Helen sambil mengulas senyum.
Nindia langsung merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel melihat kesempatan yang kemungkinan bisa dimanfaatkan untuk membuat Aluna berada dalam masalah.
"Cekrek!"
Nindia berhasil mengambil satu foto mereka. Nindia pun menunggingkan senyum licik sambil berlenggak meninggalkan tempat itu.
'
'
'
Malam itu, di sebuah bar yang berada di tengah pusat kota. Tampak dua laki - laki dewasa yang sedang duduk di sofa berwarna merah sambil menghisap rokoknya.
Selain itu, terlihat 2 botol minuman jenis whiskey di atas meja dan juga 2 gelas kecil yang bening.
"Bagaimana? kamu sudah membawakan yang ku minta?" Tanya laki - laki berjas abu - abu itu ditengah - tengah kepulan asap rokoknya yang menghiasi seisi ruangan VIP, yang tidak lain adalah Rama.
"Sudah pak!" Jawab laki - laki berkemeja hitam sepasang dengan celana kainnya sambil menyodorkan sebuah map berwarna biru.
Dengan cepat Rama mengambil dan membukanya.
"Hahahah!" Bagus!" Ucapnya serak terkekeh puas dan laki - laki berkemeja itu pun ikut tersenyum.
Rama kemudian merogoh saku dalam jas nya mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat yang cukup tebal berisi uang tunai.
"Ini bonus yang saja janjikan! Dan ingat, ini rahasia kita, jangan sampai bocor terutama kepada Arlan dan Kris!" Ucapnya mengingatkan suruhannya itu.
"Pak Rama tenang saja, pasti saya akan menjaga rahasia ini!" Balasnya meyakinkan Rama lalu mengambil amplop dari tangan Rama.
Laki - laki itupun pergi, sementara Rama, dia kembali menuangkan minuman ke gelas lalu meneguknya menikmati kesenangannya dalam ruangan itu.
Sebenarnya, Arlan bukan semata - mata pingsan karena asam lambung. Namun, sebelumnya ia sudah memerintahkan kepada salah satu karyawan untuk menambah obat bius ke dalam kopi Arlan.
Rama menunggingkan senyum licik menatap isi gelasnya, kembali mengingat kejadian tadi siang.
"Ap itu untuk pak Arlan?" Tanya Rama kepada OB laki - laki yang sedang membuat secangkir kopi.
"Benar pak!" Balasnya.
Rama melirik sekitar dan terlihat sunyi, dengan cepat mengeluarkan benda berukuran kecil berisi cairan bening.
"Campurkan ini ke dalam kopi itu!" Serunya serak menyodorkan botol kecil di tangannya.
"Ta,, tapi pak?" OB itu terlihat takut.
"Kamu mau ku pecat?" Gertaknya dingin membuat OB itu ketakutan melihat wajah masam dari Rama.
"Lakukan semua perintah ku! Dan aku akan memberimu uang yang banyak!" Lanjutnya mengangkat kedua alisnya.
OB itu kebetulan dalam posisi butuh uang untuk biaya sekolah anaknya, sehingga kemakan dengan tawaran Rama.
OB itu menelan saliva dalam keadaan sedikit bergetar, "Apa yang harus saya lakukan untuk bapak?" Tanyanya sedikit tegang.
Rama pun mulai membisikkan sesuatu ke telinganya dan OB itu langsung mengangguk menyetujuinya.
'
'
'
"Kak, kak Arlan?" Panggil Rama sambil menggoyang kecil lengan Kaka sepupunya.
"Cepat hubungi ambulance!" Seru Rama!
"Dan Yuni pun baru berlari mengambil ponselnya lalu menghubungi ambulance!" Dia terlalu panik hingga tidak berpikir untuk segera menelpon ambulance sebelumnya.
Setelah Ambulance datang beberapa staff yang ada mengangkat Arlan keluar. Tanpa sepengetahuan yang lain, Rama memberikan kode mata kepada OB yang berdiri di dekat pintu ruangan Arlan. Semua orang sudah mulai keluar mengantar Arlan termasuk Yuni sehingga ruangan dalam keadaan kosong. Dengan cepat OB itu masuk mengambil beberapa salina berkas untuk Rama.
Disaat semua panik akan kondisi Arlan, Rama telah berhasil memanfaatkan situasi itu dengan mulus. Berpura - pura menolong bahkan menemani Yuni membawanya ke rumah sakit agar ia tidak dicurigai.
Bersambung,,,