IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
38. Kelicikan dibalas Kelicikan



"Mas kamu mau kemana? Jangan bilang kamu mau menemui manta istrimu itu?!" Sahut Nindia sambil menarik lengan Arlan yang hendak membuka pintu keluar.


"Ini bukan urusanmu!" Balas Arlan serak melirik Nindia seraya melepaskan lengannya.


Arlan pun melangkahkan kakinya yang jenjang menuju lift yang berada di ujung lorong pendek unit miliknya.


"Ck, mas Arlan semakin keterlaluan!" Decaknya menghentakkan kaki kanannya.


Malam itu Arlan memasuki ruangan Aluna dirawat sedikit mengendap takut akan membangunkan Aluna. Ia tahu jika Aluna tidak mudah membiarkannya masuk menemaninya diruang bercat putih itu.


Arlan berdiri memandangi Aluna yang terlihat tidur dengan posisi sedikit meringkuk. Aluna terlihat sedikit gelisah seperti kedinginan. Perlahan Arlan memasangkan selimut berwarna abu - abu yang berbahan hangat itu membalut tubuh Aluna hingga hanya memperlihatkan bagian kepalanya saja.


Tak lupa juga Arlan mengatur suhu AC ruangan yang memang terasa lebih dingin dari biasanya. Arlan terus memantau keadaan Aluna sepanjang malam, terbesit rasa bersalah dalam hatinya karena selama ini ia kurang tegas untuk mempertahankan pernikahan mereka. Sejak hari pertama Aluna di rawat Arlan selalu menyelinap di ruangan itu.


Arlan melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 00 : 00. Meski sedikit mengantuk namun ia tetap berusaha terjaga. Waktu terus berjalan hingga jarum jam terhenti pada pukul 05 : 00 dini hari. Arlan pun mengambil jasnya yang berwarna coklat itu lalu menentengnya meninggalkan ruangan itu.


Setiap paginya Arlan meminta Kris untuk membawakan sarapan sehat untuk ibu hamil, namun Kris diperintahkan untuk menitipkan kepada perawat yang jaga agar Aluna tidak mengetahuinya.


"Tok,, Tok,, Tok,,"


"Non, sarapannya!" Sahut bi Inem yang baru saja datang pagi itu.


"Terima kasih Bi!" Balasnya seraya membukanya.


"Mhh,, baunya enak bi!" Balasnya mengulas senyum.


Begitu juga dengan bi Inem. Sebenarnya bi Inem mendapatkan sarapan itu dari perawat.


"Bagaimana non enak?" Tanya bi Inem.


"Enak bi, heh!" Balasnya sambil memasukkan suapan demi suapan bubur ayam ke dalam mulutnya itu.


Tanpa Aluna ketahui, ada Arlan yang melihat nya dari celah pintu kamar yang kebetulan tidak tertutup rapat.


Tepat hari ke lima Aluna di rawat, keadaannya sudah semakin membaik.


"Dok tolong buka infus di tangan saya yah!" Tawar Aluna menatap dokter Leo yang terlihat sedang fokus membuka bingkisan makan siang untuknya.


"Makan dulu!" Sahutnya menyodorkan makan itu.


"Dokter Leo,, saya bilang bukain selang infusnya!" Balas Aluna mengangkat tangan kanannya!"


"Nyonya Aluna Sagita Putri,, anda ini pasien dan dalam masa perawatan. Jadi, selang infusnya tidak bisa dilepas!" Balas Leo menyentil kecil dahi Aluna.


"Aww!"


Sontak Aluna meringis sambil mengelus kecil dahinya, sedangkan dokter Leo mengulas senyum menawan khasnya.


"Makan yah!" Kembali dokter Leo menyodorkan makan itu.


Namun Aluna menggeleng kecil memalingkan wajahnya dengan bibir sedikit mengerucut.


"Sebaiknya turuti saja kata dokter Leo!" Seru Arlan memecah suasana diantara mereka seraya berjalan memasuki ruangan.


Sebenarnya ia cukup lama memandangi keduanya di ambang pintu. Meski sedikit tidak rela namun, Arlan tidak bisa berbuat apa - apa takut Aluna semakin menjauhinya.


Sontak Aluna memandangi Arlan dan dokter Leo bergantian yang kebetulan dalam posisi melipat tangan, entah kenapa siang itu mereka terlihat kompak.


Aluna mengerutkan dahi mengamati mereka, sementara Arlan dan dokter Leo pun ikut saling melirik sebelum menyadari pose mereka yang terlihat sama. Keduanya pun kompak membuka lipatan tangan masing - masing.


"Hhhhhh!" Aluna menghela napas mengelus kecil perutnya dengan wajah sedikit cemberut.


Akhirnya setelah beberapa saat,,,


" Nyam."


"Nyam."


"Nyam."


Aluna terlihat sedang makan dengan lahap di atas bed, sedangkan selang infusnya terlihat tergantung di tiang yang berada di sampingnya. Itu artinya selang infusnya yang terpasang selama 5 hari sudah dibuka.


Sementara Arlan dan dokter Leo hanya bisa melongo memandangi ibu hamil tersebut. Tak cukup dengan membuka infus, Aluna justru meminta Helen membawakannya peralatan untuk menggambar, sehingga ia terlihat mengisi waktu luangnya dengan menggambar. Ia cukup bosan hanya bisa berbaring tanpa melakukan aktivitas lain. Tanpa terasa usia kehamilannya sudah memasuki 20 minggu.


_QUEEN JEWELRY GROUP_


Malam itu Lauren terlihat sedang mengendap di sebuah ruangan yang gelap, bermodalkan cahaya senter ponselnya perlahan membobol sebuah lemari kaca.


Dengan hati - hati ia membuka kain hitam di dalam lemari itu.


"Wah,, ini dia nih!" Sahutnya menatap sebuah kalung dan cincin perhiasan yang terbuat dari mutiara dan permata indah. Karya itu merupakan hasil dari Aluna yang akan diikut sertakan dalam pameran di Paris.


Lauren pun memasukkan perhiasan itu di dalam ranselnya, kemudian dengan cepat meninggalkan ruangan itu sesekali memantau keadaan yang terlihat sunyi.


"Hahahah,,,!"


Di dalam kamar pribadinya bersama Arlan. Nindia bersama ibunya sedang tertawa puas setelah melihat kiriman video dari Lauren.


"Derr,, Derr,, Derr,,"


Saat ponselnya berdering, dengan cepat Nindia mengangkatnya.


"Halo,, bagaimana Bu Nindia? Apa sudah puas dengan video yang saya kirimkan?" Sahut Lauren dalam telpon.


"Bagus,, bagus! Sesuai janjiku sekarang aku akan transferkan jumlah yang kamu minta!" Balasnya menyunggingkan senyum licik khasnya.


"Ting!"


Lauren pun segera melihat layar ponselnya saat notifikasi bukti transfer dari Nindia masuk. Ia mengulas senyum kecil melihat nominal yang senilai 100 juta masuk saat itu. Bagi Nindia, uang segitu hanyalah angka kecil, karena ia akan mendapatkan lebih banyak lagi keuntungan.


"Aku yakin si bodoh yang cengeng itu tidak akan bisa ikut dalam pameran!"


"Benar ma!" Balas Nindia dan keduanya pun kembali mengulas senyum licik khas mereka.


Tepat 1 minggu Aluna diperbolehkan pulang, namun ia harus tetap istirahat dan melakukan kontrol 3 hari ke depan. Wajahnya terlihat lebih segar.


"Siap?" Tanya Leo dan Aluna pun mengulas senyum terlihat manis.


"DUG,, DUG,, DUG,,"


Suara detakan jantung si kembar dalam perutnya akhirnya ia dengarkan lagi, terdengar Inda telinga.


Sontak membuat Arlan terkejut, kedua matanya memerah. Seperti ada kehangatan yang menyelimuti bercampur rasa haru. Untuk pertama kalinya ia mendengarkan detakan jantung kedua calon anaknya. Tatapannya binar, memandangi layar yang memperlihatkan gambar seperti berdetak.


Walau Aluna terlihat cuek kepadanya, namun ia masih beruntung bisa ikut menemani Aluna melakukan USG, sebelum pulang ke rumah. Tak hanya Arlan tapi juga Helen.


Hari itu Aluna diantar oleh Helen, karena menolak tawaran Arlan. Namun, Kris tetap memantau sepanjang perjalanan hingga sampai ke rumah.


Setelah 3 hari istirahat di rumah Aluna pun kembali ke rumah sakit untuk mengontrol luka di kepalanya sebelum kembali ke kantor.


"Lukanya sudah kering, apa ibu Aluna merasakan sakit bagian ini?" Tanya dokter itu sambil menekan kecil bagian kepalanya.


"Tidak dok!" Balasnya.


"Bagus, penyembuhan lukanya berjalan normal! Saya sarankan ibu untuk tetap berhati - hati, hindari benturan dan jika ada keluhan segera periksa!" Jelas dokter itu.


"Baik dokter, terima kasih!"


_QUEEN JEWELRY GRUP_


Pagi itu Aluna kembali menginjakkan kakinya di kantor tempatnya bekerja. Aluna berjalan santai seperti tidak ada beban, bahkan perutnya sudah membesar.


Sebelum memasuki ruangan, Lauren sudah menghadangnya bersiap merundung.


"Masih punya muka juga masuk kantor?" Sahutnya saat Aluna berjalan melewatinya.


Sontak Aluna menghentikan langkah berbalik menatapnya, "Maaf ada masalah apa ya?" Balasnya membuat Lauren masam.


"Kamu,,," Ucapnya geram menunjuk wajah Aluna.


"Aluna!" Sahut dirut Piola yang berjalan menghampiri mereka membuat Lauren segera menurunkan tangannya.


"Iya Bu!" Balas Aluna mengulas senyum.


"Ikut saya ke ruangan!" Seru dirut Piola dan Aluna pun mengikuti.


Namun bukan Lauren namanya jika ia tidak kepo di setiap urusan Aluna. Perlahan ia mengikuti keduanya bermaksud menguping pembicaraan mereka.


Tak butuh waktu lama keduanya pun telah berada di ruangan yang cukup luas itu, Aluna terlihat duduk di kursi yang berhadapan dengan dirut Piola. Kebetulan pintu tidak tertutup rapat, sehingga memudahkan Lauren menguping.


"Bagaimana keadaan kamu?" Tanya dirut Piola menautkan kedua tangannya di atas meja.


"Seperti yang ibu lihat, saya cukup sehat!" Balasnya mengulas senyum.


"Syukurlah, oh yah kamu siapkan minggu depan penerbangan ke Paris?" Tanya dirut Piola memastikan.


"Siap Bu. Oh yah bagaimana dengan desain kalung juga cincinnya?" Tanya Aluna.


"Oh kamu tenang saja, barangnya sudah sampai dengan selamat! Bahkan ibu Ambar sangat menyukainya!"


"Terima kasih Bu. Berkat bantuan ibu akhirnya barangnya sudah sampai di Paris!" Balas Aluna.


"Ya itu juga berkat ide dari kamu, yang meminta untuk mengirimkan barang aslinya secara diam - diam beberapa hari lalu!"


Aluna pun sedikit mengerling memastikan Lauren mendengar dengan baik obrolan mereka.


"DUG!"


"What?? Jadi desain asli dari Aluna sudah dikirim ke Paris?" Batin Lauren membulatkan mata. Dengan wajah masam Lauren bergegas meninggalkan ruangan itu.


Saat ini Lauren berada di sekitar gudang kantor dengan gelisah terlihat sedang menghubungi Nindia secara diam - diam.


"Halo,, Bu Nindia saya punya berita penting!" Sahutnya.


"Apa itu? Apa si bodoh yang cengeng itu sekarang sedang menangis karena desainnya hilang?" Balas Nindia terdengar antusias.


"Bukan bu! Sa,, saya ingin memberitahukan kalau perhiasan desain Aluna yang kita curi ternyata palsu!" Balasnya terbata.


"APA? KAMU GIMANA SIH?" Bentak Nindia sontak membuat Lauren sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Iy,,iya Bu, soalnya barang aslinya sudah di kirim ke Paris beberapa hari lalu!" Balas Lauren dan Nindia pun langsung memutus telponnya.


Bersambung,,,