IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
45. Klarifikasi



Arlan dan Kris melanjutkan langkahnya ke gudang memeriksa beberapa bahan yang tersisa, salah satunya besi yang memiliki ukuran yang tidak sesuai dengan pesanannya, juga beberapa bahan yang lainnya yang tidak sesuai.


"Kris apa mereka belum bisa dihubungi?" Tanya Arlan melirik Kris.


"Belum pak. Keduanya menghilang!" Balas Kris.


Kris dan Arlan pun melirik sekitar memastikan keadaan aman. Lalu mereka pun perlahan mengambil sesuatu yang menempel di dinding. Lebih tepatnya seperti tertanam di celah lubang kecil yang sengaja Kris bikin. Benda itu merupakan sebuah camera pengawas yang berukuran kecil, mereka sengaja menyimpannya disebuah lubang kecil agar permukaannya terlihat lebih datar dan sulit dikenali, bahkan dengan warna yang sedang dengan dinding gudang, sehingga siapapun tidak menyadarinya.


Orang yang lalu lalang masuk ke dalam gudang itu hanya fokus dengan CCTV yang tergantung di atas dinding ruangan. Arlan sengaja memerintahkan Kris memasang camera itu secara diam - diam saat awal pembangunan.


Mereka berharap rekaman yang tertangkap dalam camera itu memberikan petunjuk kepadanya.


Mereka terus mengelilingi lokasi tersebut selama beberapa jam, memeriksa setiap sisi bangunan hingga tidak terasa waktu telah menunjukkan 15 : 00 jelang sore hari.


'


'


'


10 : 00 Paris,,,


Saat ini Aluna telah berada di lokasi pameran yang telah diadakan di salah satu galery. Setidaknya ada sekitar 20 desainer berbakat dari beberapa negara yang ikut berpartisipasi dalam pameran tersebut, juga beberapa dari desainer berbakat yang ada di Paris.


Dalam balutan dress A-line tunik berwana merah dengan lengan model setengah balon sesiku, bagian kerah jenis off shoulder sehingga memperlihatkan bagian bahu juga lehernya yang jenjang, di padukan dengan wedges hitam. Sedangkan model rambutnya bergaya ponytail, tak lupa memakai anting dan kalung berliontin mutiara putih sepasang, juga hand bag berwarna senada.


Terlihat manis tanpa menghilangkan kesan elegan. Meski awalnya ia merasa kurang percaya diri dengan bentuk tubuhnya dan khawatir jika menyebabkan masalah. Namun, pada hari itu, ia telah memulainya dengan rasa percaya diri, ia datang sebagai wanita karir untuk memperkenalkan karya kepada jejeran orang - orang penting dan berpengaruh.


Saat ini ia bukanlah wanita hamil yang tidak bersuami, atau wanita biasa yang memiliki beban hidup berat. Semua ia lepaskan saat itu. Setidaknya selama 3 hari ke depan ia harus fokus dengan tujuan utamanya ke Paris.


Aluna terlihat sedang berbincang ringan dengan ibu Ambar dan beberapa tamu yang ada. Meski saat ini pameran dibuka untuk umum, namun dalam pengawasan ketat.


Aluna terlihat sedang berbagi informasi dengan beberapa orang yang ada di sana, bahkan ibu Ambar telah memperkenalkannya kepada kerabat dan orang - orang penting yang terlibat dalam pameran tersebut.


Aluna sangat tidak menyangka jika karyanya mendapat kesempatan untuk bersanding dengan karya - karya memukau lainnya. Ia sangat tahu jika pameran itu diadakan bukan hanya sekedar ajang promosi untuk menarik minat kalangan luas dan memperluas bidang perdagangan.


Namun, juga terlah memberikan kesempatan kepada dirinya aga karyanya dikenal luas, serta membuatnya lebih dipandang dan lebih dihargai.


'


Aluna berjalan kecil melihat beberapa karya indah yang terpajang, ia menghentikan langkahnya mengulas senyum kecil merasa takjub dengan karya - karya itu.


"Karya yang cantik! Tapi wanita yang memandanginya jauh lebih cantik!" Suara serak dari belakang tiba - tiba terdengar.


Aluna mengerutkan dahi lalu berbalik ke sumber suara. Dan untuk kesekian kalinya senyuman menawan menyambut pandangannya.


"Leo?" Lirihnya sedikit membulatkan mata saat melihat Leo dalam balutan stelan jas putih tengah berdiri di depannya.


"Apa kabar?" Tanya Leo kembali mengulas senyuman menawan khasnya.


"Baik. Kamu kenapa bisa ada di sini sih?" Tanya Aluna masih sedikit tidak percaya.


"Mm,," Leo menyilangkan kedua tangannya, "Kebetulan aku kenal dengan salah satu penyelenggara pameran ini, dan dia memberiku undangan!" Lanjutnya kembali mengulas senyum semakin membuat Aluna terkejut.


"Lalu kenapa kamu tidak memberitahu, Hem?" Tanyanya yang juga ikut melipat tangan.


"Biar terkesan surprise aja!" Candanya.


"Heheheh!" Kompak terkekeh kecil.


'


'


'


Malam itu Arlan juga Edward tengah berada di kediaman Kris. Mereka sedang duduk di sofa bersiap menyaksikan video dari kamera pengawas yang sudah dimasukkan ke dalam laptop. Perlahan Kris memutar video tersebut. Sontak saja membuat mereka terkejut.


"Keluarkan sisa bahan! Lalu masukkan yang baru!" Seru seorang laki - laki berambut putih yang tak lain pak Harun.


"Itu, itu paman Harun kan?" Sahut Edward menunjuk layar laptop.


Dalam Video itu terlihat 4 orang laki - laki yang sedang mengangkat besi keluar dari gudang. Lalu memasukkan besi - besi baru yang tentunya dengan ukuran lebih kecil. Mereka adalah kepala mandor, arsitek juga kedua karyawan yang telah di nyatakan tewas.


Selain itu juga beberapa bahan lainnya termasuk keramik yang juga tidak sesuai dengan permintaan Arlan.


"Pak pelakunya ternyata bukan orang lain!" Sahut Kris.


Arlan mengepalkan tangannya menyaksikan video itu. Dari awal ia selalu merasa jika di dalam perusahaan terdapat orang - orang serakah yang berpura - pura baik.


"Apa belum ada informasi dari mereka?" Tanya Arlan serak menatap Edward dan Kris. Keduanya hanya menggeleng.


"Kita harus menemukan ke empat orang itu! Dan jangan lupa pastikan orang - orang yang berpura - pura sebagai keluarga korban tewas itu tertangkap!" Lanjutnya.


"Soal itu biar aku yang urus!" Balas Edward.


'


'


'


_PT. PERKASA WIJAYA _


2 hari telah berlalu, saat ini para dewan kembali berada dalam ruang rapat menunggu hasil pembuktian Arlan.


Namun hampir setengah jam berlalu yang di tunggu belum muncul juga membuat semua orang saling berbisik.


"Bagaimana ini, sudah hampir setengah jam berlalu tapi pak Arlan belum muncul?!" Tanya pak Harun mulai memprovokasi.


"Iya kita masih banyak urusan lain!" Balas salah satu dengan nada khawatir.


40 menit telah berlalu tapi tidak ada tanda kemunculan Arlan.


"Bagaimana ini? Bagaimana jika pak Arlan tidak dapat membuktikan, kita bakalan rugi besar!" Sahut salah satu dewan direksi.


"Apa ia kita harus bergantung dengan pemimpin yang tidak jujur dan tidak bertanggung jawab?!" Sahut yang lainnya semakin memanas membuat Rama dan pak Harun saling melirik.


Suasana itu semakin gaduh, orang - orang di dalamnya mulai menegang.


"Ceklek!"


Suara pintu terbuka sontak membuat semua orang berbalik. Wajah datar dari Arlan menyambut pandangan mereka. Dalam balutan stelan jas berwarna hitam Arlan berjalan tanpa melirik orang - orang yang ia lalui menuju kursi kepemimpinan nya.


"Para hadirin mohon tenang, maaf jika saya terlambat!" Ucapnya serak.


"Pak mohon langsung pada ininya saja! Kami butuh bukti yang dijanjikan!" Sahut salah satu dewan dan yang lain pun mulai saling mengangguk.


Arlan menatap mereka dengan wajah yang datar, terlihat tenang namun tidak dapat ditebak arti ketenangannya itu.


Arlan mulai menampilkan profil 2 laki - laki di layar, membuat orang - orang mengerutkan dahi sementara Arlan hanya fokus menatap laptop di depannya.


"Kalian bisa lihat, ini ada kedua orang yang dinyatakan tewas dalam peristiwa itu. Namun, tahukah kalian? Wajah mereka tidak ada dalam daftar karyawan yang sedang mengerjakan proyek!" Ucapnya serak mengejutkan yang lain.


"Saya telah memeriksa daftar nama juga profil lengkap karyawan proyek. Dan telah dipastikan mereka tidak ada, jadi dengan artian kedua orang ini meninggal namun bukan karena insiden kecelakaan proyek kita! Mereka hanya menggunakan identitas salah satu karyawan yang sampai saat ini belum di ketahui keberadaannya!" Lanjutnya seraya meneliti para peserta rapat.


"Apa ini?"


"Siapa yang melakukannya?"


Bisik beberapa orang, namun Arlan cukup peka mendengarkannya.


"Aku tahu, kalian bertanya - tanya siapa pelakunya!" Lanjutnya melirik pak Harun yang mulai memucat sedangkan Rama masih berusaha tenang.


"Siapa pak?" Tanya salah satunya dan Arlan pun langsung memutar video yang ia dapatkan.


'


"Keluarkan sisa bahan! Lalu masukkan yang baru!" Seru seorang laki - laki berambut putih yang tak lain pak Harun.


"Cepat sebelum ada yang lihat!"


"Pak semuanya sudah diganti!"


'


"Teruntuk semuanya, saya ingin mengakui jika korban tewas itu bukanlah karyawan proyek dan kami bukan keluarganya!"


"Semua ini kami lakukan atas perintah tuan Harun!"


"Dia telah memberikan kami uang sebagai imbalan!"


Selain video pak Harun, video dari beberapa saksi juga telah di putar di ruang rapat.


"Apa ini pak Harun?"


"Jadi semua ini ulah bapak?"


Orang - orang mulai memaki merasa kesal dengan sikap pak Harun.


"Ini,, ini bisa saya jelaskan!" Balas pak Harun bergetar, wajahnya memucat.


"Buktinya sudah ada, bapak tidak bisa mengelak lagi!"


"Pokoknya bapak harus bertanggung jawab!"


"PAK, TOLONG BAWAH PAK HARUN KELUAR!" Seru Arlan penuh penekanan saat kedua pihak berwajib memasuki ruangan yang memang sudah ia panggil sebelumnya.


"Arlan,, Arlan paman bisa jelaskan!" Ucapnya bergetar saat keamanan mulai memegangi kedua tangannya sementara Arlan enggan melirik.


"Rama, Rama kamu harus bantu paman! Kamu sudah janji sama paman!" Lanjutnya menatap Rama yang hanya duduk tenang.


"Maaf paman, perbuatan paman diluar batas! Rama tidak bisa membantu!" Balasnya seraya beranjak dari duduknya.


"Kurang aja kamu Rama! Kamu yang sudah menyebabkan paman seperti ini! Ini semua salahmu! Balasnya serak saat polisi itu menyeretnya keluar.


'


'


'


"ARRGH! SIAL! PLAK!"


Rama memukul meja kerjanya dengan rasa kesal, karena lagi - lagi Arlan bisa membuktikan jika dirinya tidak bersalah. Wajahnya memerah memancarkan emosi yang kuat mendominasi.


'


'


'


"Pak, malam ini nyonya Nindia memiliki janji lagi dengan seseorang di hotel!" Lapor Kris saat berada dalam ruangan Arlan.


"Baik!"


"Apa saya ikut dengan bapak?" Tanya Kris.


"Tidak perlu! Terus cari 4 karyawan yang hilang itu!" Balasnya dingin.


Bersambung,,,