IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
64. Liburan



Liburan telah tiba,,,


Sore itu, senja mulai menghiasi seluruh pantai. Irama desiran ombak yang berkejaran berpadu dengan hembusan angin yang seolah meniup jejeran pohon kelapa.


Ke empat laki - laki dewasa itu duduk dibibir pantai memandangi warna jingga senja sambil menikmati sejuknya angin yang membelai wajah mereka. Setelah melalui hari-hari yang cukup melelahkan beberapa bulan, hari itu mereka seperti merasakan kebebasan dalam hidup untuk menghirup udara segar. Beban yang selama ini dipikul seakan sudah terkuras tergantikan semangat baru.


Sementara, 3 wanita cantik terlihat sedang asyik bermain di ujung. Oh yah, Yuni tak ketinggalan ikut serta dalam liburan mereka. Selama ini Yuni cukup setiap bekerja kepada Arlan, Sebelum menjadi sekretaris ia sudah lebih dulu menjadi karyawan di perusahaan dan Aluna cukup mengenalnya.


Senyuman bahagia yang terpancar dari mereka terlihat tulus. Aluna terlihat sibuk memunguti beberapa kerang yang lucu, sesekali memperlihatkan kepada yang lain. Sementara Helen dan Yuni membuat istana pasir. 


Meski perutnya sudah semakin membesar, namun Aluna tidak merasa kelelahan saat bermain di pantai saat itu. Ia seperti telah menemukan ruang yang terbuka dan luas untuknya berpijak serta bernapas lega.


"Luna jangan jauh-jauh!" Sahut Helen sedikit berteriak.


Aluna hanya tersenyum mendengar teriakkan Helen, ia terus melangkah menyusuri bibir pantai. Sesekali mengangkat pandangannya melihat sekitar, merasakan hembusan angin sejuk yang menerpa wajahnya.


"Akh!"


Aluna sedikit terkejut saat ia merasakan sentuhan lembut pada tangan kanannya. Langkahnya terhenti lalu melirik tangan kanannya yang sudah berada dalam genggaman Arlan, yang tiba - tiba sudah berdiri di sampingnya.


"Boleh ku temani berjalan?" Mengulas senyum.


Aluna diam sejenak sebelum membuat Arlan tersadar dan langsung melepaskan genggamannya itu.


"Maaf!" Canggung.


Aluna mengulas senyum mengangguk sontak membuat Arlan berbinar ikut mengulas senyum. Setidaknya Aluna tidak menolaknya walau jarak perpisahan dalam pernikahan telah memisahkan mereka.


Pada akhirnya Arlan bersama Aluna melanjutkan langkah mereka dengan ringan, jejak kaki keduanya yang berjalan selaras telah terukir disepanjang bibir pantai, bahkan Arlan sesekali menunduk menggantikan Aluna memunguti kerang lucu yang menarik perhatian Aluna.


Terlihat tenang dan damai, namun siapa sangka sebelumnya mereka dua insan yang saling mencintai menjalani takdir yang cukup kejam, dengan perpisahan yang terpaksa mereka lalui hingga menyebabkan sebuah celah pemisah yang dalam juga menyakitkan.


Meski perlahan celah itu terlihat seperti tertutup, namun belum mampu menghapus jejak sepenuhnya. Tidak ada jaminan untuk kebahagiaan yang abadi juga kebersamaan yang kekal untuk mereka. Seperti itulah takdir!


Leo, laki - laki dewasa yang humoris juga cukup perhatian yang ditemui Aluna beberapa bulan terakhir memiliki cukup banyak kenangan bersamanya. Tidak dipungkiri sosoknya selalu membawa energi positif kepada Aluna, namun juga tidak ada jaminan untuk hubungan mereka akan menjadi teman selama ataukah justru menjadi sosok pengganti dimasa depan. Sekali lagi takdir seperti itulah adanya, tidak ada kepastian yang diketahui oleh manusia, mereka hanya mampu menjalani setiap takdir yang entah seperti apa kedepannya.


Lao menatap punggung keduanya yang masih terus melangkah ringan. Perlahan mengulas senyum lalu melempar pandangan menatap gulungan ombak kecil yang seolah menari - nari.


'


"Mungkin nggak sih mereka kembali bersama?" Gumam Helen.


"Semua tergantung takdir yang digariskan untuk mereka." Balas Edward yang tiba - tiba sudah berada di dekatnya bahkan cukup dekat.


Helen melirik wajah tampan di depannya yang berjarak beberapa centi. Wajahnya tiba - tiba memanas, terlebih saat Edward menatapnya dengan senyuman kecil tapi mampu membuat jantungnya berdebar seakan melompat keluar. Edward sendiri seperti telah menemukan kebahagiaan baru dalam hidupnya saat ini.


Kris yang masih duduk bersama Leo ikut tersenyum, ia cukup mampu memahami keduanya yang semakin menunjukkan ketertarikan masing - masing. Selain Arlan dan Aluna, jangan lupa Kris juga menjadi salah satu korban dari sebuah perpisahan dalam hubungan. Hanya saja cerita perpisahan mereka yang sedikit berbeda, dari segi memiliki Kris sangat tahu jika sang istri yang meninggalkannya ke alam yang berbeda telah membawa cinta mati untuknya. Ia tetap cukup bahagia karena setidaknya cinta mereka masih abadi sampai saat ini, ia juga telah menitipkan putri kecil yang cukup mirip dengannya untuk mengobati rasa rindunya juga menjadi penyemangat disetiap harinya.


'


"Suatu saat aku ingin hidup dalam ikatan cinta yang tulus, lalu saling berpegangan disetiap langkah!" Ucap Yuni memeluk tubuhnya seolah membayangkannya.


"Heheh!" Sontak membuat Helen dan Edward terkekeh kecil.


Sementara Yuni. Ia yang paling muda diantara mereka. Fase kehidupannya mungkin belum serumit yang lainnya, ia hanya dihadapkan dengan kerjaan saat ini. Namun, bukan berarti ia tidak akan mengalami pahit manisnya kehidupan. Karena akan ada cerita disetiap fase dalam menjalani kehidupan.


"Mau berenang?" Tantang Kris dan tanpa terduga Leo langsung berlari masuk ke dalam air mendahuluinya.


Kris pun ikut melompat dan mereka berenang bersama, sontak memancing Helen juga Yuni ikut berlari melompat ke dalam air. Mereka saling memercikkan air sambil tertawa lepas.


Edward yang awalnya enggan karena takut jika kakinya akan kembali sakit, namun setelah melihat keseruan mereka terlebih saat Kris memanggilnya.


"Pak Edward kemari!" 


Edward sedikit berpikir seraya menggaruk kecil kepalanya yang tidak gatal. Dan pada akhirnya perlahan ia ikut nyemplung dalam air. Mereka tahu kondisi Edward, jadi tidak memaksanya untuk bermain berlebihan, namun tetap saja ia bisa saling memercikkan air menikmati kebersamaan mereka. Dan tanpa terduga,,


"Hyaaak!!" Teriak Arlan yang berlari lalu melompat kearah mereka.


"AAA!" Kompak saat melihat Arlan yang sudah mengudara.


"JLEB!" Gelombang air tercipta seketika saat Arlan masuk ke dalam air.


"Hahahah!" Kompak saat percikan air yang menerpa mereka ketika Arlan masuk ke dalam air. Bahkan Aluna menggeleng kecil melihat tingkah Arlan, meski sebentar lagi akan menjadi orang tua, namun tingkahnya menjadi yang paling kekanak -kanakan saat itu.


Mereka pun kembali melanjutkan kebersamaan mereka, sesekali menyelam ke dalam air. Bahkan Leo dan Kris berlomba untuk menyelam bersama.


"Lagi - lagi!"


"Huuuu!"


"Hahahah!"


Bahagia? Sudah pasti mereka bahagia menjalani kebersamaan itu. Aluna menjadi satu - satunya yang tidak ikut berenang, ia duduk di dekat istana pasir memandang mereka yang kini sudah menjadi teman juga seperti keluarga untuknya. Senyumannya terus mengembang melihat keceriaan mereka, terlebih saat mereka melambaikan tangan kepadanya secara bergantian.


'


'


Aluna mengambil beberapa gambar menggunakan camera.


'


'


Foto bersama kembali di abadikan saat mereka mendekati Aluna yang masih duduk di dekat istana. Bahkan mengambil lebih banyak.


'


'


Mereka mengambil beberapa pose lucu, seperti Arlan dan Edward yang berbaring di samping istana, sementara yang lainnya berdiri. Aluna bersama Helen juga Yuni seolah-olah menunjuk kearah istana, beberapa pose candid, saling berpelukan satu sama lain dan masih banyak lagi.


'


'


"Hahaha!"


Foto terakhir yang membuat mereka tertawa kala melihat hasilnya. Dalam foto itu ada Kris yang terkubur dalam pasir hanya memperlihatkan kepalanya, lalu Edward bersama Yuni menopang dagu dengan kedua tangan terlihat lucu, Aluna memperlihatkan kerang yang ada di tangannya sementara yang lainnya duduk mengelilingi.


'


Malam itu, sekitar pukul 19 : 30 malam mereka kembali berkumpul di halaman resort tempat mereka bermalam.


setelah puas bermain air, kini saat untuk barbeque. Semua alat dan bahan yang dibutuhkan sudah berada dihalaman resort, Helen bersama Edward sudah memulai memanggang beberapa potongan daging.


Leo bersama Arlan kompak menyusun meja juga beberapa kursi, sementara Kris bersama Yuni juga Aluna menata beberapa piring juga minuman kaleng diatas meja.


Helen dan Edward kompak memegang seraya curi - curi pandang, tidak ada yang mengusik seolah semuanya sengaja memberikan ruang untuk keduanya yang baru saja mulai merasakan benih cinta. Tak sampai disitu, Kris bersama Leo terlihat sedang memasang beberapa dekor seperti lampu kecil yang berwarna warni sebagai pelengkap acara malam mereka.


Yuni membantu Helen untuk mengangkat beberapa hidangan yang jadi, dan langsung ditata rapi oleh Aluna di atas meja. Sementara Arlan, perlahan memanggang beberapa lobster, tentu saja itu favorit Aluna.


Semua hidangan sudah siap, kini semua berkumpul dalam satu meja bersiap menyantap makanan menggiurkan itu. Mereka semua perlahan mengangkat tangan untuk mengambil hidangan favorit masing - masing dan,,


"Tunggu!" Cegat Helen sontak membuat tangan mereka mengudara serentak menatap Helen.l dengan wajah melongo.


Makan sebelum mengabadikan makanan tentu akan terasa tidak lengkap. Lalu selfie bersama ditemani makanan.


'


Setelah melewati drama jepret menjepret, kini mereka bisa menikmati hidangan itu seraya bercanda bersama. Sekali lagi mereka melepaskan semua beban dan masalah yang telah dialami selama ini untuk momen yang menyenangkan itu. Arlan memberikan lobster ke dalam piring Aluna.


"Terima kasih!" Lirihnya perlahan mencicipinya.


"Enak?" Mengulas senyum.


Aluna mengangguk kecil, membuat Yuni yang melihatnya tiba - tiba menopang dagu mengulas senyum. Yuni selalu terpesona melihat perlakuan Arlan kepada Aluna. Bagaiman tidak, sosoknya yang selalu memasang wajah datar dan enggan melirik wanita lain akan selalu tersenyum dan berbinar setiap kali menatap Aluna. Di sampingnya juga ada Helen yang ikut tersenyum melihat mereka.


Secara tidak terduga, Edward yang menyadari tatapan bahagia Helen itu, turut memasukkan potongan steak ke dalam piringnya sontak membuat pipi Helen kembali memanas. Sementara Edward terlihat memalingkan wajahnya, enggan menatap Helen yang mulai meleleh. Edward menatap kearah lain menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah seperti tomat.


Kemudian, satu persatu dari mereka memilih minuman sesuai dengan selera, bahkan beberapa minuman kaleng. Aluna menjadi orang yang harus paling menahan godaan. Dalam keadaan hamil ia tidak bisa memilih makanan juga minuman seenaknya saja. Contohnya minuman kaleng yang bersoda, ia tidak bisa meminumnya saat itu, membuatnya hanya terdiam mengamati yang lainnya.


"Minum ini, setelah melahirkan aku akan membelikannya!" Arlan menyodorkan segelas air putih.


Sontak Aluna mengulas senyum kecil, perkataan Arlan seperti sedang membujuk anak kecil. Arlan ikut tersenyum binar setiap kali melihat senyuman Aluna.


'


Waktu menunjukkan pukul 21 : 00 malam, acara barbeque nya sudah selesai. Helen bersama yang lain terlihat membereskan peralatan juga sisa makanan di atas meja.


Arlan kembali merapikan kursi - kursi itu. Pandangannya terhenti saat melihat Aluna yang duduk di kursi besi panjang, terlihat sedang memijat kecil betisnya.


'


"Apa sakit?"


Aluna terkejut mendongak menatap Arlan yang berdiri di depannya dengan membawa segelas susu coklat.


"Hanya sedikit keram!"


Aluna mengambil segala susu dari tangan Arlan, "Terima kasih!" Meneguknya perlahan.


Tanpa aba - aba Arlan berjongkok memijat kecil betis Aluna, sontak membuat yang punya betis membulatkan mata sedikit menarik kakinya, sedikit canggung sambil melirik sekitar.


"Tidak perlu sungkan, minum saja susunya!" Kembali memijat.


Aluna perlahan menunduk menatap laki - laki yang terlihat tulus memijatnya itu. Matanya sedikit memerah, mendapat perhatian dari orang yang dicintai tentu sangat membahagiakan, namun hatinya juga masih ada luka yang sesekali muncul menyayat.


Bersambung,,,