
Arlan duduk bersama Aluna menatap cahaya bintang yang bertaburan menemani sang rembulan menghiasi gelapnya malam.
"Kau tahu, selama hampir 6 bulan aku mengira tidak akan melihat lagi indahnya cahaya bintang dan merasakan hangatnya hembusan angin malam."
"Aku memahami maksudmu. Aku bahkan merasakan langit seakan runtuh saat mendapatkan kabar kehamilan ini setelah 1 bulan perceraian."
Arlan menoleh menatap dalam Aluna, "Aku minta maaf! Walau aku mengira telah memberikanmu kebahagiaan selama bertahun - tahun, tapi aku tahu luka selama hampir 6 bulan terakhir akan lebih besar rasanya!"
Aluna pun perlahan menoleh dan tatapan mereka bertemu. "Semua sudah menjadi garis takdir kita. Tidak ada gunanya lagi jika terus tenggelam dan larut dalam masalah. Yah, ku akui tidak akan mudah untuk menghapus luka ini, tapi secara perlahan aku menyadari, bukan hanya luka yang membuatku seperti ini tapi juga ego."
"Aku tidak memaksa dan menuntut mu kembali ke dalam lembah permasalahan ini. Aku hanya ingin kamu tahu, lukaku akan jauh lebih besar jika kamu tidak menemukan kebahagiaannya dan titik keluar dari masalah ini!" Mata Arlan memerah menggenggam tangan Aluna.
Sontak Aluna bergetar, merasakan kehangatan genggaman yang ia rindukan, namun juga belum cukup jika hanya sekejap membuat lukanya tertutup rapat. Sekali lagi egonya harus ia kendalikan walau membutuhkan waktu untuk memulihkan lukanya.
Aluna mengulas senyum dan kelopak matanya bergetar terasa pedih. Perlahan merogoh saku sweater nya mengeluarkan kalung milik Arlan. Aluna membuka telapak tangan Arlan lalu meletakkan kalung itu secara perlahan.
"Awalnya aku berniat menyimpannya bersama kenangan kita. Tapi kamu sudah kembali, jadi kalung dan cincinnya aku kembalikan!"
"Aku tidak tahu takdir apa yang digariskan untuk kita dimasa depan. Tapi aku harap jika waktunya tiba, cincin ini akan kembali menjadi pasangan untuk cincin yang ada padamu!" Balas Arlan.
Keduanya mengulas senyum kecil namun dalam.
'
'
'
Liburan telah berlalu, mereka harus kembali menjalani rutinitas sehari-hari. Arlan yang kembali memimpin rapat di perusahaan, dan disambut hangat oleh para karyawan juga dewan atas kembalinya sang pemimpin.
Media kembali dihebohkan dengan kemunculannya sebagai CEO. Sedangkan Edward, kali ini memilih untuk membantu perusahaan dan memimpin bersama dengan Arlan. Kris yang masih setia tentu saja dengan senang hati menjalani pekerjaannya bersama kedua rekannya itu.
Rama bersama ibu Nindia beserta komplotannya kini sudah menjalani hidup mereka dengan mendekam dipenjara setiap harinya. Mereka telah merasakan pahitnya hidup diluar kebebasan, sama seperti yang di rasakan oleh tuan Redan Wijaya.
Aluna dan Helen kembali menuangkan ide - idenya menghasilkan karya - karya indah dan murni. Tuan dan nyonya Wijaya hidup sehat, bibi Meryam sendiri perlahan menata hidupnya dan tidak terlarut dalam masalah hidupnya. Beruntung keluarga Wijaya masih tetap menerima mengingat selama ini ia tidak pernah berbelok dan memihak pada suami dan anaknya dalam setiap kejahatannya.
Waktu terus berlalu, kini kehamilan Aluna memasuki 28 Minggu, kedua bayinya sehat Arlan selalu menjaganya begitu juga dengan Leo yang selalu siap mendengar keluhan dalam masa kehamilannya lalu memberikan tips - tips untuk mengurangi masalah disetiap keluhannya.
Aluna masih aktif menghasilkan karya untuk kliennya. Sore itu ia kembali menemui salah satu kliennya di sebuah cafe. Pertemuan mereka bukan untuk pertama kalinya, dan seperti biasa kliennya itu selalu senang dan puas .
'
_PT. PERKASA WIJAYA_
"Pak, nyonya Nindia kembali muncul!" Lapor Kris membuat Arlan memicingkan mata.
"Dimana Aluna?"
"Tadi aku mengantarnya ke cafe seperti biasa untuk menemui klien!"
Sontak Arlan beranjak dari duduknya meninggalkan ruangan kerjanya, bahkan tidak memberikan kesempatan kepada Kris untuk menyelesaikan omongannya.
"Ka,," Edward mengangkat dokumen di tangannya.
"Pimpinan rapat. Aku harus menemui Aluna!" Serunya berjalan melewati Edward yang hendak masuk ke dalam ruangannya.
"Derr,, Derr,,"
Arlan melangkahkan dengan terburu - buru seraya terus menghubungi Aluna, namun yang dihubungi sedang berbincang dengan klien sampai ponselnya di silent.
Arlan memasuki mobilnya lalu mengemudi dalam rasa khawatir, ia masih terus mencoba menghubungi Aluna di sepanjang jalan.
"Derr,, Der,,"
"Aluna, angkat!"
"Aluna, Alunaa cek!" Decaknya meletakkan ponselnya secara kasar lalu menambah kecepatan mobilnya.
'
'
'
"Terima kasih bu atas kepercayaan dan kerjasamanya. Pesanan ibu akan segera saya selesaikan!"
"Sama - sama Bu. Kalau begitu saya permisi dulu!" Menjabat tangan Aluna.
Aluna merasa sedikit mengantuk, sejak kehamilannya memasuki 7 bulan ia merasa lebih cepat mengantuk juga lebih mudah lelah jika duduk lama. Aluna memutuskan untuk ke toilet membasuh wajahnya terlebih dahulu.
Kini Aluna menatap pantulan wajahnya di cermin, rasanya lebih segar perlahan memperbaiki riasan wajahnya. Setelah selesai, ia melangkah keluar sera memainkan ponselnya. Ia berdiri di depan pintu toilet yang terlihat sunyi, dahinya sedikit mengerut saat melihat panggilan tidak terjawab dari Arlan.
"Derr,, Derr,," Aluna menghubungi kembali.
'
"Halo, Aluna kamu di mana?" Panik seraya memarkir mobilnya di sekitar cafe.
"Aku masih di sekitar toilet cafe mas, ada apa?"
"Aluna dengar kamu harus,,"
"Aaaaa! Tut. Tut. Tut." Teriak dari balik telepon secara tiba-tiba sebelum terputus membuat Arlan terlonjak.
"Aluna? Halo? Halo?"
Arlan berlari sekencang mungkin memasuki cafe mencari keberadaan toilet. Dalam keadaan panik mengecek setiap sisi toilet yang dalam keadaan sunyi itu. Lalu berlari menyusur lorong menghubungkan halam belakang.
'
'
'
"Brengsek,, akh" Nindia dalam balutan baju serba hitam itu berusaha menampar Aluna, namun telah di tahan.
Aluna berdiri mendekati pintu, namun Nindia menarik lengannya dengan kuat membuatnya terhuyung nyaris terjatuh ke lantai.
"Kali ini tamat riwayat mu!" Mengeluarkan sebotol cairan yang belum diketahui isinya itu.
"Akh!" Ringis Nindia saat Aluna berusaha merebut botol itu dari tangannya.
Kedua ibu hamil itu telah memperebutkan botol itu selama beberapa saat. Bahkan membuat keduanya terlihat lusuh, Nindia berusaha sekuat tenaga untuk membuka tutup botol sedang Aluna berusaha merebutnya.
"Minggir kamu, aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang!" Gertak Nindia.
'
Arlan mendengar suara mereka secara samar saat berada di sekitar gudang. "Aluna? Aluna" Teriaknya berlari.
"Aaaaa!" Teriakan dari dalam.
"Aluna?" Panggilannya memasuki gudang yang tidak terkunci, seketika membuatnya bergetar.
"AAAA, PANAS! PANAS!"
Arlan menatap wanita di depannya itu dengan mata memerah, napasnya hampir saja terhenti dengan cepat berlari menghampiri.
"Aluna! / Mas!" Berpelukan.
"Kamu tidak papa?" Tanyanya dan Aluna hanya menggeleng.
"PANAS,, AAAA PANAS, Hiks. Hiks. Hiks." Nindia terus berteriak memegangi wajahnya yang tersiram alkohol.
Aluna berlindung di belakang Arlan melihat Nindia yang merasakan panas saat alkohol membakar wajahnya itu. Tubuhnya bergetar, bahkan matanya memerah, meski sudah memutuskan hubungan tapi mereka masih tetap saudara tentu akan ada sedikit rasa iba yang tersirat.
Beruntung dia berhasil mengalahkan Nindia sampai secara tidak senga Alkohol yang direncanakan untuk menyiram wajah Aluna malah mengenai wajahnya sendiri.
"PANAS,, HIKS. HIKS. HIKS. IBU,, IBU,, PANAS!"
Aluna mencengkram kuat pada jas Arlan lalu membenamkan wajahnya. Teriakan Nindia terlalu keras menghiasi gudang hingga membuatnya merinding. Arlan kembali memeluk Aluna menenangkannya.
Arlan membawa Aluna meninggalkan tempat itu, sedangkan Nindia di bawah oleh anak buah Arlan yang menyusul ke cafe.
'
'
'
"Hiks. Hiks. Hiks."
Arlan memicingkan mata menatap wanita hamil dengan wajahnya yang dipenuhi luka bakar itu, meringkuk menangis seorang diri dalam ruang perawatan.
"Ma,, mas Arlan?" Lirihnya tersenyum seraya menggenggam tangan Arlan namun Arlan menghempaskan tangan secara kasar.
"Akh!"
"Mas, hiks. hiks. hiks. tolong aku mas, aku tidak ingin sendiri, kasihani anak dalam perutku ini!" Memohon.
"Apa kamu sadar dengan ucapan mu itu? Dengar, orang berhati busuk sepertimu tidak pantas dimaafkan!" Ucapnya dingin penuh penekanan.
Sontak Nindia membulatkan mata bergetar, deraian air mata semakin mengalir.
"Aku datang kesini untuk mengiri mu ke penjara, tempatmu akan menghabiskan waktu disetiap harinya, tidak ada kemewahan dan kesenangan selain ruangan sempit dalam kegelapan!"
"Hiks. Hiks. Hiks." Terisak menggeleng kecil bahkan wajahnya masih dipenuhi luka yang terasa sakit, bukannya mendapatkan perawatan malah justru akan di penjara dalam kesakitan.
"Pak bawah dia!"
"Tidak. Tidak, aku tidak mau di penjara!" Meronta saat polisi mulai membawanya turun dari ranjang.
"Mas, mas tolong mas aku tidak mau dipenjara. Hiks. Hiks. Hiks." Sekali lagi Nindia memohon berlutut di kaki Arlan.
"Ayo cepat!" Polisi itu menarik paska Nindia.
"TIDAK. TIDAK. MAS HIKS. HIKS. HIKS. MASSSS HAAAA HIKS. HIKS. HIKS."
Arlan mengepalkan tangannya saat Nindia meronta dan berteriak sekencang mungkin memohon pengampunan. Teriakan dan tangisannya menggema menghiasi sepanjang lorong, saat polisi itu membawanya keluar. Arlan tidak akan mudah memberikan pengampunan untuk setiap kesalahan mereka.
'
'
'
Pagi itu, Aluna duduk di taman komplek sambil memegangi perutnya menikmati segarnya udara pagi. Ia terus mengulas senyum kecil menatap beberapa anak kecil yang terlihat bermain di rumput hijau, beberapa juga sedang berlari kecil bersama dengan hewan peliharaannya. Terlihat menikmati tanpa beban, hanya ada pancaran senyum bahagia yang menghiasi setiap tawanya.
"Leo?" Lirihnya saat Leo yang entah ke berapa kalinya muncul secara tiba - tiba.
"Sarapan dulu, karena sejatinya sarapan lah yang menguatkan bukan harapan."
"Heheh!" Kompak.
Aluna mulai mencicipi roti di tangannya begitu juga dengan Leo. Keduanya duduk terlihat tenang sambil ngobrol ringan. Sementara Arlan, tidak lama lagi akan datang untuk menjemputnya ke kantor. Arlan tidak membiarkan Aluna bepergian sendiri tanpa supir dan Aluna tidak menolak mengingat kesehatannya bersama anak dalam kandungannya.
Sejak hari itu kebahagiaan semua orang telah berangsur - angsur kembali, mereka menjalani hidup dengan tenang tanpa gangguan dan masalah. Setiap harinya menjalani rutinitasnya hingga tanpa terasa 2 bulan telah berlalu, kehamilan Aluna sudah memasuki 9 bulan.
_RUMAH SAKIT HARAPAN IBU_
"DUG! DUG! DUG!"
Untuk kesekian kalinya, detakan dengan irama teratur yang terdengar indah di telinga itu kembali menghiasi ruangan pemeriksaan Obgyn.
Aluna yang berbaring dengan perut yang semakin membesar itu tersenyum binar, rautnya sangat berbeda dari saat pertama kali ia diperkenalkan dengan suara detakan itu 8 bulan lalu.
Begitu juga dengan Arlan, matanya memerah tersenyum haru. Tinggal menghitung hari tuan putri dan pangerannya akan lahir di dunia. Bahagia? Sudah pasti bahagia telah menyelimuti mereka bahkan Leo pun merasa bahagia karena sebentar lagi wanita yang selama kurang lebih 8 bulan ia saksikan perjalanan hidupnya yang sulit akan menjadi orang yang paling bahagia menyambut kelahiran anaknya.
"Bagaimana keadaan keduanya?" Arlan terlihat tidak sabar saat mereka duduk di depan meja.
"Ibu dan janinnya sehat. Seperti yang saya katakan sebelumnya, karena janinnya kembar maka persalinan secara Caesar yang paling tepat!"
"Apa kamu merasakan his / sakit perut pada bagian bawah?" Lanjut Leo.
"Ia, beberapa hari ini saya merasakannya!"
"Baik, persalinannya bisa di laksanakan 1 atau 2 hari ini. Sebaiknya kalian persiapkan diri lalu beritahu keluarga di rumah mengenai rencana persalinan ini! Kamu tidak perlu khawatir, akan ada dokter yang menangani!" Mengulas senyum khasnya.
Aluna mengerutkan dahi begitu juga dengan Arlan, mereka masih bingung dengan perkataan Leo.
"Tok. Tok."
Aluna berbinar saat melihat sosok yang berdiri di ambang pintu.
"Dokter Citra?"
Keduanya berpelukan, setelah beberapa bulan akhirnya mereka bertemu lagi. Tentu Aluna sangat bahagia karena dokter yang akan membantu persalinannya itu ternyata dokter Citra.
Bersambung...