IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
40. Terapi Syok



_QUEEN JEWELRY GROUP_


Sinar sang mentari kembali menjalankan tugasnya menyinari seluruh sudut kota pagi itu.


Pagi itu seluruh staf yang berada di lantai 4 kembali dihebohkan dengan berita yang tidak mengenakan, sehingga mereka saling berbisik satu sama lain.


"Hust. Orangnya dateng!"


"Ternyata dia penyebabnya!"


Staf itu saling berbisik seraya melirik wanita yang berlenggak dengan santainya, sebelum menyadari semua perhatian tertuju ke padanya.


"Ada apa sih?" Tanya Lauren melirik beberapa staf berada di sekelilingnya. Namun mereka tidak menjawab hanya menggeleng melihat kelakuannya.


"Kalian tuli yah?" Tanyanya dengan dengan ketus.


'


"Dasar Pencuri!" Sahut salah satu karyawan wanita. Lauren pun mengerutkan dahi keheranan mendengar jawaban staf itu.


Tanpa berpikir panjang, ia merebut salah satu ponsel staf sontak membuatnya membulatkan mata. Video pembicaraannya dengan Nindia di telpon ternyata sudah tersebar di gedung kantor. Selain itu, berita klarifikasi tentang foto Aluna dan dokter Leo pun juga telah tersebar, yang mengatakan jika mereka hanya sebatas teman dan kebetulan dokter Leo itu dokter obgyn sekaligus konsultan Aluna.


'


"Prok,"


'


"Prok,"


'


Suara tepukan yang menggema menghiasi ruangan tiba - tiba terdengar, sontak membuat Lauren berbalik dan melihat Aluna bersama Helen yang sudah berdiri di dekatnya. Dalam sekejap para staf itu sudah mengerumuni Laure.


Lauren menatap masam Aluna, "Ini semua pasti ulah kalian kan? Kalian sengaja menjebak ku!" Ucapnya bergetar.


"Menjebak?" Tanya Aluna mengernyit lalu saling melirik dengan Helen sambil menyunggingkan senyuman semakin membuat Lauren menatap masam.


"Anggap aja ini sebuah terapi syok, untuk membersihkan jiwa - jiwa kotor!" Balas Aluna dengan nada ringan namun diakhir dengan senyum mengejek.


Sontak saja membuat Lauren mengangkat tangannya. "Kurang ajar!" Sahut bersiap menampar.


"Akh!" Ringisnya saat Aluna menahan tangannya yang mengudara.


"Dengar ya, aku tidak suka main fisik. Tapi jika kamu memaksa aku bisa bersikap lebih kejam!" Bisiknya dingin memelintir pergelangan tangan Lauren.


"Akh!!" Lauren pun kembali meringis merasakan denyutan di pergelangan tangannya itu.


Aluna kemudian melepaskan tangan Lauren dengan sedikit kasar sehingga membuatnya sedikit terhuyung.


"Dasar tukang fitnah!"


"Hampir aja kita tertipu dan berpikiran buruk dengan Bu Aluna!"


"Cantik - cantik suka nyuri!"


"Jangan deket - deket deh sama dia nanti barang kita di ambil lagi!"


"Bener tuh!"


Para staf itu mulai memaki membuat Lauren bergetar, dan semakin memucat menanggung malu, bahkan buliran keringat dingin sudah membasahi dahinya.


"LAUREN!"


Tegur Dirut Piola dengan nada keras sontak membuat para staf terdiam, lalu melirik Dirut Piola yang terlihat berjalan mendekati mereka.


"Kamu benar - benar bikin malu saya! Sekarang juga ikut saya ke ruangan!" Tegas Dirut Piola, membuat Lauren terpaksa mengikuti.


"TOS!"


Aluna dan Helen pun melakukan tos ala mereka. Sebenarnya Aluna sudah menebak jauh - jauh hari tentang kemungkinan yang akan direncanakan oleh mereka, sehingga di hari ketiga ia di rawat dia meminta desain perhiasan aslinya di kirim secepatnya. Dan di hari pertamanya memasuki kantor pasca di rawat, Helen diam - diam mengikuti segala pergerakan Lauren dan berhasil mengambil video pembicaraannya dengan Nindia.


Aluna sengaja diam untuk mengenali bulu di setiap lawannya itu. Agar ia bisa membalikkan keadaan. Karena baginya bermain fisik secara langsung tidak selamanya menyelesaikan masalah.


'


'


'


'


Di sebuah kamar hotel yang mewah bernuansa abu - abu basah itu, tampak seorang laki - laki yang sedang berdiri menghadap kaca jendela dalam balutan kimono dengan tato berbentuk bintang di leher.


"Tuan ada telepon!" Sahut bawahannya mendekati dan ia hanya menengadahkan tangan kanannya menerima ponselnya tanpa melirik.


"Bagaimana?" Sahutnya.


"Barangnya sudah sampai tuan!" Balas lawan bicaranya dalam telepon.


"Bagus! Beritahu yang lain lakukan pembongkaran di markas lama!" Serunya seraya memutus telepon.


'


'


'


"Pak besok anggota gangster itu akan melakukan pembongkaran barang berjenis sabu di sebuah gedung tua!" Sahut Kris.


"Beritahu mata - mata untuk terus berjaga di sana!" Seru Arlan serak.


"Lalu, apa kita langsung menyerangnya tanpa melibatkan polisi?" Kembali Kris bertanya.


"Jangan! Kita butuh bantuan Edward!" Balas Arlan menatap Kris.


"Pak Edward? Sudah lama kita tidak menjalankan misi dengannya!" Ucap Kris menunggingkan senyum yang nyaris tidak pernah terlihat diwajahnya.


"Bagaimana dengan Nindia?" Kembali Arlan bertanya.


"Nyonya Nindia melakukan check in di hotel menggunakan identitas salah satu temannya pak. Itu sebabnya namanya tidak pernah ada di daftar pengunjung!" Jelas Kris.


"Bagus, biarkan dia berkeliaran sebebas mungkin, cepat atau lambat komplotannya akan bermunculan!" Balas Arlan seraya mengelus kecil dagunya.


"Baik Pak!" Balas Kris seraya meneguk secangkir kopi di atas meja Arlan, sebenarnya itu di siapkan untuk Arlan.


"Haus pak!" Sahutnya membuat Arlan menggeleng kecil.


'


'


'


Di sebuah pantai yang memiliki pemandangan indah, dengan gulungan ombak kecil mengiringi pohon kelapa yang sedari tadi menari - nari diterpa hembusan angin.


"Derr,, Derr,, Derr,,"


"Edward, kakak butuh bantuan mu!" Sahut Arlan dalam telepon.


"Apa ada mangsa?" Tanyanya ringan seraya beranjak dari pembaringannya.


"Mm,, besok malam ada pembongkaran barang jenis sabu di sebuah gedung tua! Kamu bisa kan pulang?" Tanya Arlan.


"Siap taun muda!" Balasnya mengulas senyum memperlihatkan gigi gingsul nya. Seraya memasukkan sebuah pistol ke dalam tasnya sebelum meninggalkan tempat itu.


Edward merupakan adik sepupu dari Arlan, dan masih keturunan keluarga Wijaya. Hanya saja ia tidak tertarik dengan dunia bisnis, kepribadiannya yang suka dengan pertarungan, petualang juga hal - hal menantang lainnya membuat dirinya menjalani profesi sebagai salah satu Intel hebat di dalam negri.


Meski demikian, ia juga masih memiliki bagian saham di perusahaan dan saat ini diserahkan kepada Arlan mengingat dirinya yang tidak memiliki bakat bisnis. Tuan Wijaya pun tidak pernah membedakan cucu - cucunya. Edward berusia setahun lebih muda dengan Arlan, ia lahir dari putri tuan Wijaya. Namun ibunya sudah meninggal, sehingga hanya ada tuan Raden dan Tuan Redan yang tersisa.


_INTERNATIONAL AIRPORT_


Pagi itu Edward dalam balutan kaos oblong hitam dipadukan celana pendek berwarna putih selutut, terlihat sedang berjalan sambil mendorong kopernya. Kulitnya kecoklatan dan tinggi, memiliki pesona yang maco di kalangan wanita.


Ia terus berjalan sambil memainkan ponselnya menuju jalan keluar bersiap menemui Arlan yang sudah menunggunya.


"Akh!"


Ringis seorang wanita yang tidak sengaja bertabrakan dengannya.


"Mas hati - hati dong! Kalau saya lecet gimana?" Sahut wanita itu dengan ketus menatap Edward.


Sontak Edward menurunkan kacamata hitamnya, "Garansi ada?!" Balasnya kembali menaikkan kacamata.


Sontak membuat wanita itu yang tak lain Helen kesal, "Bukannya minta maaf!" Balas Helen seraya menginjak kaki Edward.


"Aww!" Ringisnya merasakan denyutan di kaki kirinya.


"Heheheh!" Arlan dan Kris sontak terkekeh kecil melihat mereka.


Sontak membuat keduanya menoleh, "kak Arlan? Pak Arlan?" Sahut keduanya menatap Arlan.


"Kamu gimana sih? Baru datang sudah bikin onar!" Sahut Arlan membuat Helen mengerutkan dahi keheranan.


"Helen maafkan adik saya!" Lanjutnya.


"Ha? Dia adik,,,?" Ucap Helen menunjuk serasa tidak yakin sementara yang di tunjuk mengangkat kedua alisnya.


"Kenapa? Terpesona?" Ucapnya semakin membuat Helen kesal.


"Idih amit - amit!" Balas Helen.


"Halo bro apa kabar?" Ucap Edward menjabat tangan Kris.


"Baik!" Balasnya mengulas senyum.


"Helen kami duluan yah! Sahut Arlan meninggalkan tempat itu di susul keduanya. Dan Helen pun juga beranjak dari tempatnya, kebetulan dia harus menjemput salah satu kerabat.


'


'


'


Malam itu, seperti informasi yang didapat terlihat sebuah truk sedang terparkir di dalam bangunan tua itu. Terlihat 5 orang yang telah menurunkan beberapa barang yang dikemas menggunakan kardus coklat.


Sekilas terlihat biasa saja karena mereka menggunakan kardus cemilan, namun siapa sangka dalamnya adalah sabu - sabu yang siap mereka edarkan.


Tanpa mereka sadari Kris , Edward dan dua bawahan Arlan sedang memantau aktivitas mereka.


Kris berlindung di balik semak belukar yang menjalar memanjat dinding, begitu juga dengan Edward. Sedangkan yang lainnya berada di belakang tembok bekas runtuhan.


"Cepat - cepat!" Perintah laki - laki bertubuh tegap memakai masker dalam balutan jaz hitam lengkap dengan tato berbentuk bintang di lehernya.


"Ayo cepat!" Lanjutnya serak.


Kris memberikan kode kepada yang lain untuk lebih mendekat, perlahan mereka keluar dari persembunyiannya satu persatu, namun keadaan gelap sehingga salah satu dari mereka tidak sengaja menendang sebuah balok.


Sontak membuat komplotan gangster itu menyadari keberadaan mereka "Tahan!" Sahut laki - laki bertato bintang itu.


Lalu perlahan melirik sekitar, dan saat ini posisi mereka telah berada dalam lingkaran kepungan Kris dan Edward.


"Siapa kalian?" Tanyanya serak.


"Kamu tidak perlu tahu!" Balas Edward membuatnya kesal.


"Maju!" Seru laki - laki itu kepada 4 orang anggotanya.


"HYAK,,,!"


"BUG!"


"BUG!"


"BUG!"


Mereka pun terlibat aksi saling pukul. Kedua kubu memiliki pertahanan yang kuat sehingga sulit untuk saling menjatuhkan.


"BUG! BUG!" Edward memukul laki - laki bertubuh gendut itu pada bagian perutnya hingga membuatnya terkulai lemas.


Sementara 2 orang temannya juga masih terlibat pertikaian itu.


Edward berbalik dan melihat Kris yang sedang bertarung dengan laki - laki bertato itu dengan sengit, namun memilih membantu kedua temannya yang terlihat kewalahan.


"BUG! BUG!"


Kris memukul bagian perut dan wajah lawannya, namun dia tetap bertahan bahkan memukul balik Kris pada bagian wajahnya.


"HYAK,, BUG!"


Salah satu diantara mereka memukul punggung Kris dengan balok hingga terjatuh. Sementara Edward sendiri yang masih membantu temannya terkejut melihat Kris.


"Kris!" Sahut Edward menghampiri seraya melayangkan pukulan kepada wajah laki - laki itu.


"BUG! BUG!" Edward saling memukul dengan laki - laki itu dengan posisi 2 lawan 1. Dan Kris pun berusaha kembali bangkit dia mengambil balok memukul salah satu kawan laki - laki itu.


Dalam sekejap 4 orang telah terkulai lemas termasuk dengan laki - laki bertato bintang itu. Kris dan Edward terlihat mengatur napas yang tersengal seraya mendekati laki - laki bertato yang di gadang - gadang sebagai ketua gangster.


'


"Akh!" Kris dan Edward sontak memegangi matanya saat laki - laki itu melempar gumpalan pasir ke wajah mereka.


"Sial!" Ketus Edward mengusap matanya.


Sedangkan laki - laki itu memanfaatkan kesempatan kembali bangkit dan berlari pincang sesekali berbalik melihat keadaan.


Kris memicingkan mata yang terasa peri, "Edward dia kabur!" Sahutnya sambil menunjuk ke arah depan.


'


"DOR!"


Bersambung,,,