
Pagi itu keluarga kecil Arlan tengah menikmati sarapan pagi bersama. Tidak ada suara tawa yang menghiasi, hanya dentingan garpu dan sendok yang sesekali beradu menghiasi keheningan itu.
Arlan dengan wajah datar khasnya terlihat fokus mengaduk makanannya, begitu juga dengan Nindia yang hari itu hanya diam tanpa bermanja kepada Arlan untuk di suap dan lain - lain.
"Arlan, kamu tidak lupakan hari ini ada janji dengan dokter kandungan?" Tanya ibu Nindia memecah keheningan itu.
"Iya Bu!" Balas Arlan serak, lalu kembali melanjutkan makannya.
"Nindia, hari ini ibu tidak ikut yah! Ibu ada arisan!" Lanjutnya mengulas senyum menatap Nindia dan Nindia pun hanya mengangguk.
'
'
'
_QUEEN JEWELRY GROUP_
Pagi itu Aluna terlihat sedang memeriksa beberapa kertas yang berisi gambar desain cincin juga kalung yang ia buat selama beberapa hari ini.
Dan pagi itu dia bersama dengan Helen ada janji dengan klien tetap nya yang selalu memesan satu set perhiasan.
"Ceklek!"
Mendengar suara pintu dibuka sontak membuat Aluna berbalik.
"Aluna, gue punya kabar baik buat kamu!" Sahut Helen berlari kecil menghampiri sahabat yang masih berdiri memegang kertas di kedua tangannya.
"Ada apa sih?" Tanya Aluna mengerutkan dahi sedikit bingung dengan ucapan Helen yang tersenyum lebar.
"Tadi gue denger, katanya desain kamu terpilih untuk mengikuti pameran perhiasan di Paris!" Ucapnya sambil memegang kedua pipi Aluna, sementara Aluna sendiri melongo mendengar perkataan Helen.
"Helen, aku nggak mimpi kan?" Tanga Aluna menatap Helen yang masih memegang kedua pipinya.
"Awwh" Ringis Aluna saat Helen mencubit kecil kedua pipinya.
"Sakit kan?" Tanya Helen dan Aluna pun mengangguk mengulas senyum lebar. Tatapannya binar memandangi Helen yang tak kalah bahagianya.
"Aku bangga sama kamu, aku yakin karyamu akan dikenal si seluruh dunia! Heh!" Lanjut Helen kegirangan.
Tapi raut Aluna perlahan sedikit sendu membuat Helen mengerutkan dahi merasa bingung.
"Kamu kenapa Lun?" Tanya Helen dengan nada khawatir.
"Aku bingung, kalau mereka memilih desainku itu artinya bulan depan aku akan ke Paris kan?" Tanyanya dengan nada berat dan Helen hanya mengangguk.
"Apa mungkin aku berangkat dengan keadaan seperti ini? Sekarang aja perutku semakin membesar dan sulit menyembunyikannya!" Ucapnya seraya duduk di sofa dan di ikuti oleh Helen.
"Aku,, aku takut akan membuat masalah!" Lanjutnya dengan raut sendu bahkan kedua matanya terlihat memerah.
Helen menatap iba sahabatnya, perlahan menggenggam kedua tangan Aluna. "Kamu tenang aja, mereka yang ada di sana tidak akan mempermasalahkan kondisimu, mereka berpikiran terbuka!" Balas Helen menenangkan Aluna.
"Lalu bagaimana dengan Ibu Ambar? Juga para staf QUEEN JEWELRY GROUP?" Kembali Aluna bertanya merasa khawatir akan pandangan orang - orang di sekitarnya nanti, sudah cukup dia mendengar omongan pedas dari teman kantornya perkara perceraiannya dengan Arlan.
"Aku yakin ibu Ambar orang yang bijak, dan aku akan melindungi mu dari orang - orang yang bersikap tidak adil kepadamu! Kalau perlu ku patahkan kaki mereka!" Ucap Helen bersiap memasang badan untuk Aluna.
"Heheh!" Keduanya kompak terkekeh kecil.
Beruntung Aluna memiliki Helen yang selalu menemani di setiap masa sulitnya, bahkan Helen selalu maju memasang badan jika ada yang berusaha mengganggunya.
'
'
'
"DUG! DUG! DUG!"
Suara detakan jantung janin menghiasi ruangan yang bernuansa putih itu, saat Nindia berbaring melakukan USG.
"Wah, janin ibu cukup sehat!" Sahut dokter obgyn laki - laki yang tak lain adalah Leo.
Leo terus menatap layar monitor melihat kondisi Jani dalam kandungan Nindia. Begitu juga dengan Nindia dan Arlan.
Arlan yang berdiri di samping Nindia cukup terkejut saat pertama kali mendengar detakan jantung dari dalam perut Nindia. Tubuhnya bergetar, ada rasa bahagia bercampur haru menyelimuti saat itu.
Rautnya yang datar berubah berbinar mendengarkan suara indah yang memanjakan telinganya itu. Ia merasa seakan berada dalam mimpi. Sebelumnya Arlan tidak pernah menyangka ternyata menjadi calon ayah sangat membahagiakan bagaimana jika nanti anaknya sudah lahir pasti akan jauh lebih bahagia.
Begitu juga dengan Nindia yang mengembangkan senyum, tatapannya berbinar. "Mas,, itu anak kita!" Lirihnya menatap Arlan dan Arlan pun mengangguk tersenyum menatap Nindia.
Tatapan Arlan untuk Nindia saat itu terlihat tulus, memudarkan rautnya yang datar serta selalu memandang tajam Nindia.
'
'
'
"Dok apa saya bisa mengetahui jenis kelamin anak saya?" Tanya Arlan terlihat tidak sabar saat dokter Leo selesai melakukan USG.
"Untuk saat ini belum terlalu jelas, tapi kemungkinan besar janinnya laki - laki!" Balas Leo sambil menarik kursi lalu duduk begitu juga dengan Arlan dan Nindia.
"Ini anak pertama kami dok, jadi saya dan suami saya sangat menantikannya!" Sahut Nindia mengulas senyum.
Leo pun sedikit mengerutkan dahi melirik Nindia, "Saya paham dengan perasaan kalian, usia kehamilan ibu saat ini 13 minggu dan masih muda. Saya sarankan agar ibu dan bayi jangan stress!" Balas Leo kembali mengulas senyum sambil meneliti Nindia.
Dokter Leo merupakan dokter muda yang cerdas, memiliki ingatan dan insting yang kuat. Bahkan terkadang dia bisa menebak watak seseorang hanya dengan memandangnya saja.
"Oh yah, ini ada beberapa obat dan vitamin, bisa ditebus di apotek!" Lanjutnya sambil menyodorkan secarik kertas resep yang langsung diraih oleh Arlan.
"Terima kasih!" Ucap Arlan mengulas senyum kecil lalu meninggalkan ruangan di ikuti oleh Nindia.
Leo memandangi kedua pasangan itu sambil berpikir selama beberapa saat sebelum kembali melanjutkan perkataannya.
'
'
'
Saat ini, Aluna dan Helen sedang berjalan kecil di lobi perusahaan. Mereka berencana menemui salah satu klien tetap nya yang sedikit unik itu.
Aluna memelankan langkahnya menuruni tangga pintu utama saat melihat mobil Van hitam yang tidak asing terparkir tepat di depan tangga.
Tak lama kemudian seorang laki - laki yang berusia sekitar 35 tahun keluar dari mobil yang tidak lain adalah supir pribadi keluarga tua Wijaya.
Aluna cukup terkejut saat supir itu menghampirinya. Entah apa gerangan sampai dia harus menemuinya di kantor siang itu.
"Nyonya, tuan Wijaya ingin menemui nyonya!" Sahut supir itu.
Aluna perlahan melirik mobil Van hitam itu dan melihat bayangan dari tuan Wilayah yang duduk di dalamnya. Sebenarnya dia juga cukup merindukan tuan Wijaya.
"Tapi saya,,," Aluna melirik Helen yang berdiri di sampingnya.
"Tidak apa - apa, aku bisa pergi sendiri! Mungkin tuan Wijaya ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu!" Ucap Helen mengulas senyum.
"Kamu yakin?" Lirih Aluna mantap dan Helen pun mengangguk mengulas senyum.
"Terima kasih!" Lanjutnya juga mengulas senyum.
Tak butuh waktu lama, supir itu membukakan pintu dan Aluna pun masuk ke dalam mobil duduk bersama tuan Wijaya.
Helen memandangi mobil Van milik tuan Wijaya membawa Aluna. Tidak dipungkiri dia merasa sedikit khawatir dengan sahabatnya, tapi dia juga sangat tahu kalau tuan Wijaya sangat menyayangi Aluna. Jadi tidak mungkin dia bersikap kejam kepadanya.
Helen menaikkan kedua alisnya sambil menarik napas, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ke parkiran.
'
'
'
Saat ini, tuan Wijaya bersama Aluna sedang duduk makan bersama di depan sebuah toko kecil khusus penjual bubur kacang hijau langganan tuan Wijaya.
Tempat itu tidak terlalu besar namun penyajiannya steril dan memiliki cita rasa yang enak. Berada di pinggir lapangan hijau serta di apit beberapa pohon rindang yang membuat udara disekitarnya terasa sejuk.
"Aluna bagaimana kabarmu saat ini? Kamu baik - baik saja kan?" Tanya tuan Wijaya serak khas paru baya.
"Baik tuan!" Balasnya mengulas senyum.
"Tuan sendiri apa kabar kabar?" Tanya Aluna menatap mertuanya yang sudah ia anggap sebagai ayah sendiri.
"Yah,, seperti yang kamu lihat! Hehehe! Balas tuan Wijaya terkekeh kecil menatap Aluna lalu kembali memakan bubur kacang hijau favoritnya.
"Aku yakin tuan selalu kuat!" Ucap Aluna.
"Hehehe!" kompak terkekeh.
"Ada apa tuan menemui ku? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Aluna sedikit khawatir.
Tuan Wijaya menggeleng kecil, lalu menatap hamparan rumput hijau di lapangan, rautnya terlihat sendu membuat Aluna mengerutkan dahi memandangi wajah yang berkeriput di depannya.
"Saat pertama kali mendengar kalian bercerai, rasanya aku seperti kehilangan sosok putri perempuan!" Ucapnya sedikit bergetar membuat kedua sudut mata Aluna memerah.
Dari lubuk hatinya, sama seperti tuan Wijaya. Dia juga seakan kehilangan sosok pengganti ayah yang selama 5 tahun menyayangi dirinya tanpa syarat.
"Aluna minta maaf kepada tuan, karena Aluna tidak bisa terus mendampingi tuan dan mas Arlan! Tapi percayalah Aluna selalu menyayangi kalian!" Balas Aluna dengan mata berkaca - kaca sontak membuat tuan Wijaya berbalik menatapnya.
"Benar begitu?" Tanya tuan Wijaya dan Aluna pun mengangguk mengulas senyum.
"Dengar, Papa selalu menunggumu kembali!" Ucap tuan Wijaya menepuk kecil bahu Aluna lalu perlahan berdiri.
Aluna kembali mengulas senyum haru, ia tidak menyangka tuan Wijaya masih sangat menyayanginya bahkan setelah bercerai dengan Arlan tuan Wijaya sama sekali tidak marah dan membencinya.
Aluna pun ikut berdiri menatap dalam wajah mertuanya. "Tuan boleh aku memelukmu?" Lirihnya dan Tuan Wijaya pun membentangkan tangan bersiap memeluknya.
"Terima kasih!" Ucap Aluna langsung memeluk mertuanya, buliran jernih menetes di kedua pipinya.
Setelah 3 bulan, mereka bertemu untuk pertama kalinya. Sejak dulu Aluna selalu merasa nyaman setiap kali berada di sampingnya tuan Wijaya, ia selalu merasa seperti menemukan sosok sang ayah yang telah lama tiada.
Bersambung,,,