
_PT. PERKASA WIJAYA_
Mobil sport hitam milik CEO, baru saja terparkir tepat di depan pintu utama perusahaan, sontak membuat security juga beberapa bodyguard mengambil barisan membuka jalan untuk sang pemimpin.
Arlan yang terlihat gagah menampilkan tubuhnya yang tegap dan kekar terlihat berwibawa dalam balutan stelan jas coklat bermotif kotak - kotak lengkap dengan sepatu pantofel senada juga kaca mata riben hitam.
Wajah tampan namun rautnya datar memancarkan aura kepemimpinan yang cerdik dan dingin, sangat disegani.
Seperti biasa, dia selalu didampingi oleh Kris yang hari itu mengenakan stelan jas berwarna abu - abu dipadukan dengan dasi yang senada sangat pas dengan badannya yang tergolong tinggi dan tegap. Kulitnya yang sedang memancarkan kesan lebih maco dan manis.
Keduanya berjalan memasuki lobby dengan langkah lebar, Aroma melting dari Arlan terpancar juga auranya yang dingin mampu mendominasi seisi ruangan.
Mereka terus berjalan di dampingi 4 bodyguard sontak membuat semua pasangan mata menunduk segan memberi jalan.
Arlan terus berjalan dengan wajah datarnya, sesekali mengangguk saat beberapa karyawan yang dia lalui menyapanya. Sulit menebak isi pikirannya setiap kali melihat wajah datar darinya.
Tapi, dibalik wajah itu dia sosok pemimpin yang baik, berpikiran terbuka dan selalu mementingkan kepentingan bersama membuatnya di segani dan sukai oleh karyawannya.
Dan satu hal lagi, meski wajahnya sering kali terlihat datar, namun dia bukan tipe pemimpin yang arogan, melainkan dia selalu bersikap adil mendengarkan pendapat orang lain, hanya saja sulit menebak setiap isi pemikirannya dengan melihat rautnya, menjadi kelebihan tersendiri baginya terutama jika harus berhadapan dengan lawan yang berbahan.
"Selamat pagi pak!" Sapa Yuni sekretaris Arlan yang berdiri di depan pintu ruangannya, sambil memeluk bundel tebal berisi dokumen perusahaan.
"Pagi!" Balas Arlan serak seraya memasuki ruangan pribadinya di ikuti oleh Kris juga Yeni.
Arlan melepaskan jasnya lalu memberikan kepada Kris untuk di letakkan di gantungan yang terletak di sudut ruangan.
"Hari ini ada berkas apa Yun?" Tanya Arlan serak sambil duduk di kursi saat Yuni meletakkan beberapa dokumen di atas meja.
"Dokumen laporan akhir bulan pak yang harus di tandatangani, termasuk laporan keuangan dan juga beberapa tender kita yang sedang berjalan!"
"Baik!" Balasnya sambil membuka kanci lengan bajunya lalu menggulungnya sebelum mulai membuka dokumen.
Yuni pun keluar meninggalkan ruangan kembali duduk di kursi kerjanya yang berada di depan ruang Arlan.
Perlahan Arlan mulai membuka dokumen di depannya, membaca setiap lembarannya memastikan kesesuaian dokumen sebelum memberikan tanda tangan.
Wajahnya yang datar dan dingin terlihat serius setiap kali sedang melakukan pekerjaan. Sementara Kris duduk di sampingnya sambil memastikan tidak ada dokumen yang terlewatkan.
'
'
'
Di sebuah salon kecantikan terlihat dua wanita yang sedang berbaring manja memejamkan mata menikmati sejuknya masker yang membalut wajahnya. Mereka adalah nyonya Wijaya dan Nindia yang sedang menghabiskan waktunya sambil melakukan facial treatment mempercantik diri.
Setelah beberapa saat, facial treatment mereka di lanjutkan dengan tata rambut. Dimana untuk nyonya Wijaya yang sudah berumur disarankan dengan potongan lob cat.
"Mba tolong tata rambut saya, biar kelihatan lebih segar dan bervolume!" Sahut nyonya Wijaya saat duduk di kursi menatap pantulan wajahnya di cermin.
"Baik nyonya, kali ini saya sarankan pilih lob cat yah!"
"Mhh, boleh!" Balasnya.
Karyawan salon itupun langsung menata rambut nyonya Wijaya sesuai dengan permintaan. Lob cat hampir sama dengan model Bob, hanya saja potongannya sedikit lebih panjang dan menjadi salah satu model rambut yang cocok untuk wanita yang sudah berumur agar terlihat lebih fresh dan lebih mudah.
"Kalau nyonya ingin model seperti apa?" Tanya karyawan lain kepada Nindia yang juga duduk di samping mertuanya.
"Saya ingin ganti warna rambut mba!" Ucapnya seraya membelai lembut helaian rambutnya bercermin.
"Nyonya ingin warna seperti apa?"
"Maroon!" Balasnya singkat.
Tak butuh waktu lama karyawan itu pun mulai mewarnai rambut Nindia secara perlahan hingga memenuhi seluruh helaian rambutnya yang terurai. Warna maroon sangat cocok dengan gaya yang glamor semakin memancarkan aura tegasnya.
'
'
'
"Bagaimana, apa masih ada yang terlewatkan?" Tanya Arlan kepada Kris sambil terus menanda tangani dokumen di depannya.
"Sepertinya semua sudah lengkap pak!"
"Ok!" Balasnya sambil meletakkan dokumen terakhir diatas tumpukan dokumen yang berada di depan Kris.
Setelah selesai memastikan kelengkapan dokumen, Kris pun langsung mengambil dokumen itu lalu membawakan kepada Yuni.
"Apa masih ada dokumen lain?" Tanya Kris serak sambil memberikan bundel kepada Yuni.
"Tidak ada pak, hanya saja ada beberapa file proposal yang sudah saya kirimkan lewat email untuk pak Arlan!" Balas Yuni mengulas senyum.
"Baik!" Kris mengangguk lalu kembali memasuki ruangan Arlan.
"Ceklek!"
Kris kembali membuka pintu ruangan Arlan dan melihat atasannya yang sedang sibuk memainkan ponselnya.
"Semua dokumen sudah selesai pak, bapak hanya perlu membaca email bapak!"
"Ok!" Balas Arlan mengangguk.
"Temani aku ke suatu tempat!" Lanjutnya beranjak dari duduknya.
"Tapi kita mau ke mana pak?" Tanya Kris mengerutkan dahi saat Arlan membuka pintu.
"Ikuti saja!" Balasnya berbalik menatap Kris yang juga menatapnya sedikit bingung, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Yuni jika ada yang mencari ku katakan aku sedang ada urusan!" Seru Arlan berjalan tegak melewati Yuni disusul oleh Kris.
"Baik pak!" Yuni sedikit menunduk.
'
'
'
Setelah menyelesaikan seluruh treatment, nyonya Wijaya dan Nindia pun bersiap meninggalkan tempat itu.
"Nindia, Arlan kan masih kerja jadi mama antar yah!" Tawar nyonya Wijaya saat berjalan menuruni tangga pintu masuk salon.
"Baik ma!" Balas Nindia mengulas senyum.
Tak butuh waktu lama mobil Van hitam menghampiri mereka, dengan cepat supir nyonya Wijaya membuka pintu mobil untuk mereka. Keduanya berjalan kompak masuk ke dalam mobil.
Melihat pemandangan yang sekarang antara nyonya Wijaya dan Nindia, terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka, nyonya Wijaya seakan sudah lupa sosok Aluna yang dulunya selalu setia menemaninya.
'
'
'
_ALUNA - ARLAN_
Sinar jingga senja perlahan menghiasi seluruh sudut kota menembus kaca jendela kamar di lantai dua.
Aluna sedang berdiri di sisi jendela kaca kamarnya, tatapannya sendu memandangi sinar jingga itu yang perlahan semakin tenggelam.
sementara disisi lain, Arlan pun sedang memarkir mobil di sebuah pantai. Didampingi oleh Kris, Arlan duduk di atas pasir putih khas pantai.
Arlan duduk menikmati hembusan angin laut yang menerpa wajahnya memandangi gulungan ombak kecil yang berkejaran. Sinar jingga senja perlahan tenggelam, tatapannya sendu dan wajah yang selalu terlihat datar sedikit memucat.
Aluna :
"Nak, saat ini sinar senja perlahan mulai menghilang, sama seperti hubungan Mommy dan Deddy yang perlahan menjauh dipisahkan oleh jarak yang semakin besar, tapi kasih sayang Mommy untukmu tidak akan padam sama seperti sinar bintang yang terlihat kecil tapi mampu menyinari semesta!" Batin Aluna mengelus perutnya.
"Meski saat ini Daddy mungkin telah menghapus kita di kehidupannya, Mommy tidak pernah menyalahkannya, Mommy akan selalu menyimpan kenangan tentangnya disisa hidup ini. Memilikimu saat ini adalah hadiah terbesar dalam hidup Mommy!" Lanjutnya kembali memandangi sinar senja dengan mata memerah mengulas senyuman kecil.
"Apa pak Arlan akan tetap diam seperti ini?" Tanya Kris serak sambil menyodorkan ponselnya kepada Arlan.
Arlan menatap sendu layar ponsel Kris yang berisi foto Aluna dan Leo yang terlihat sedang duduk di taman.
"Bahkan pak Arlan mengumumkan di konferensi pers kemarin yang secara tidak langsung mengakhiri hubungan diantara kalian!" Lanjut Kris.
"Kamu tahu kan, kenapa aku melakukannya?" Tanya Arlan serak menatap Kris.
"Aku tidak yakin!" Balas Kris menatap Arlan.
"Aku hanya ingin melindunginya dari orang - orang yang berpikiran sempit dan suka menindas. Aku tidak ingin melibatkannya lagi di setiap masalah ku!" Ucapnya kembali menatap senja yang semakin gelap.
"Dengan begini dia bisa lebih tenang menjalani hidup, orang - orang tidak perlu lagi menyorotinya setiap masalah yang melibatkan ku dan PT. PERKASA WIJAYA!" Lanjutnya menunggingkan senyum kecil menahan sayatan di dadanya.
Kris pun mengangguk mendengar penjelasan Arlan, "Aku hanya berharap pak Arlan tidak salah dan menyesali keputusan ini!" Balas Kris.
Arlan :
"Meski terdengar kejam atau mungkin akan menjadikan kita seperti orang asing, tapi percayalah akan selalu ada tempat di hatiku untukmu yang tak akan bisa terhapus oleh waktu!" Batin Arlan sambil memejamkan kedua matanya menikmati desiran ombak yang berkejaran.
Selam ini Arlan bukan tidak peduli dengan Aluna atau bersikap kejam. Namun, seperti inilah cara yang ia pilih untuk melindungi. Meski awalnya ia berniat untuk tidak lagi mengganggu Aluna, namun rasa cintanya membuatnya semakin berada dalam kegelisahan hingga selalu ingin mengetahui seperti apa keadaannya saat ini yang semakin hari semakin besar.
Bahkan dalam 2 minggu terakhir Arlan diam - diam mengutus Kris untuk sesekali memantau keadaan Aluna diluar sana. Tapi sekali lagi, Kris tidak diperintahkan untuk memantau 24 jam dalam setiap harinya. Itu sebabnya sampai saat ini ia belum mengetahui berita kehamilan Aluna.
Meski jarak diantara mereka terlihat semakin membesar, namun tidak dengan rasa diantara mereka.
Bersambung,,,