
Sore itu, Aluna terlihat sedang duduk di sofa ruang tamu lantai 1, terlihat sedang membuat sepasang topi berbahan rajut di dampingi oleh bi Inem.
Aluna menekuni kegiatannya sesekali memakan buah strawberry di depannya yang telah disiapkan oleh bi Inem.
'
"Tak."
'
"Tak."
'
"Tak."
'
Langkah kaki yang tiba - tiba terdengar dari arah pintu masuk menggema di ruangan itu. Sontak membuat Aluna dan bi Inem menoleh menatap dua wanita di depan mereka.
Aluna mengerutkan dahi menatap ibu sambungnya bersama Nindia yang tiba - tiba datang mengunjungi rumah lama mereka setelah hampir 4 bulan.
Aluna beranjak dari duduknya begitu juga dengan bi Inem. Perlahan ibu sambungnya mendekati seraya meneliti bentuk tubuh Aluna, sontak membuatnya membulatkan mata. Dia dapat melihat dengan jelas bagian perut dalam balutan dress berbahan karet itu terlihat membuncit dan lebih besar dari perut Nindia.
Seketika wajahnya masam melihat kenyataan di depannya. Tujuan utamanya mengunjungi Aluna tidak lain untuk memastikan kehamilannya.
"Untuk apa kalian datang ke sini?" Tanya Aluna dingin menatap kedua orang di depannya.
"Berapa umur kehamilanmu?" Tanya ibunya menatap tajam Aluna.
Aluna mengerutkan dahi merasakan hawa buruk dari mereka, "Aku nggak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan ibu!" Balasnya seraya memegang perutnya.
"Jangan sombong kamu Aluna!" Sahut Nindia seraya mendekati.
Kini jarak ketiganya semakin dekat dan suasana berubah mencekam, membuat bi Inem bergetar menatap mereka bergantian.
"Kemarin kamu menanyakan ayah dari anak dalam kandunganku, dan sekarang menanyakan umur kehamilan ku! Apa sebegitu tertariknya dirimu?" Balas Aluna bergetar.
Sontak membuat Nindia dan ibunya membulatkan mata melihat keberaniannya.
"Apa tidak cukup pelajaran yang kuberikan
untukmu 2 hari lalu?!" Ucap Nindia mencengkram kuat pada lengan Aluna.
"Akh!" Nindia terkejut saat Aluna menghempaskan cengkraman darinya secara tiba - tiba.
"Jadi benar foto itu perbuatanmu?" Tanya Aluna menatap tajam Nindia.
Wajah Nindia semakin masam, "Kalau ia kenapa?" Balasnya menatap tajam.
"Dengar! Aku diam karena masih bersikap baik kepadamu karena mengingat janjiku kepada ayah untuk selalu menjagamu!" Balas Aluna bergetar dengan mata memerah, sontak membuat Nindia sedikit goyah, tatapannya melemah mendengar kata ayah dari kakaknya.
"Nindia. Jangan termakan omongannya! Dia pasti berniat buruk kepadamu!" Ucap ibunya menghasut Nindia.
Aluna mengerutkan dahi seraya menggeleng kecil tidak menyangka akan kelicikan dari ibu sambungnya itu. Selama bertahun - tahun terlihat baik ternyata semua hanya tipu dayanya.
"Dengar Nindia. Aku tidak pernah mengusik mu, bahkan aku tidak memberitahu kepada siapapun tentang kehamilanku ini! Lantas mengapa kamu masih saja mengusikku?" Tanya Aluna bergetar.
"Kamu bodoh atau pura - pura bodoh? Sampai saat ini mas Arlan masih mencintaimu, dan aku tidak ingin anak dalam kandunganmu menjadi penghalang untuk anakku kelak! Balas Nindia bergetar dengan wajah memerah memancarkan emosi.
"Ingat semakin kamu bersikap arogan seperti ini maka mas Arlan semakin tidak menyukaimu! Atau mungkin kamu ingin keberadaan anak dalam kandunganku diketahui saat ini juga?!" Jelas Aluna yang juga tersulut emosi.
"ALUNA!" Teriak Nindia seraya mengangkat tangannya bersiap menampar Aluna.
"Akh!" Ringis Nindia saat Aluna menahan tamparannya hingga membuat tanganya mengudara dalam genggaman Aluna.
"Jangan berani - berani mengancam ku!" Ucap Aluna semakin menguatkan genggamannya. Sontak membuat ibu sambungnya membulatkan mata.
"Agkh!" Nindia menarik kasar tangannya dari genggaman Aluna.
"DENGAR, AKU AKAN MEMBUAT HIDUPMU LEBIH MENDERITA!" Bentak Nindia menatap tajam Aluna.
"PLAK!"
'
Nindia memegang pipi kanannya dan telinganya berdengung saat tamparan keras dari Aluna mendarat. Kelopak matanya bergetar merasakan panasnya tamparan itu hingga membuatnya merasakan didihan di kepalanya.
"Kurang ajar kamu Alu,,, Akh!" Ucapan ibu Sambungnya terhenti saat ia bersiap memukul Aluna namun di tahan oleh bi Inem.
Sementara Aluna sendiri spontan mengangkat tangannya melindungi wajahnya.
"Nyonya, silahkan pergi dari sini atau saya akan teriak!" Ucap bi Inem.
Perlahan ibu Nindia mengurungkan niatnya, lalu menggandeng anaknya. Wajah keduanya masam menatap Aluna yang juga menatapnya.
Aluna memandangi kedua wanita yang ia anggap sebagai keluarga itu berlalu dari pandangannya. Kedua sudut matanya berlinang perlahan kembali duduk di sofa. Hatinya pedih merasa ter-hianati oleh orang - orang yang ia sayangi.
Aluna memandangi tangan kanannya yang bergetar. Baru saja ia telah melanggar janji dengan mendiang ayahnya. Dahulu semasa hidupnya, ayahnya selalu berpesan agar menyayangi sang adik, namun justru karena ia terlalu menyayanginya sehingga dibutakan selama bertahun - tahun akan kebusukan adiknya. Adik yang ia sayangi justru menjadi duri dalam kehidupannya, ia bahkan harus melepaskan segalanya.
'
'
'
"Yah, apa ayah sedang melihat Aluna di sana? Apa ayah marah atau ayah mendukung Aluna saat ini?" Batin Aluna.
"Yah,, Aluna butuh ayah! Aluna butuh bahu dan pelukan ayah! Apa ayah tahu saat ini Aluna akan menjadi ibu, tapi ayah dan ibu tidak ada disamping Aluna!" Lanjutnya seraya memejamkan mata menarik napas dalam - dalam.
'
'
'
_APARTEMEN_
"Kurang ajar! Bu aku tidak terima diperlakukan seperti ini oleh Aluna!" Ucap Nindia masam saat berdiri di ruang tengah.
"Tenang Nindia! Ibu juga tidak menyangka dia selancang ini." Ucap ibunya menenangkan.
"Kalau begini tidak ada cara lain lagi, kita harus mempercepat langkah!" Balas ibunya menyunggingkan senyum licik.
'
'
'
24 jam kemudian,, malam itu Aluna baru saja pulang dari swalayan terdekat. Langkahnya yang ringan dalam balutan dress berwarna putih, berjalan menyusuri sepanjang jalan menuju rumahnya seorang diri.
Suasana malam itu terlihat sunyi, tidak ada pergerakan hanya lampu jalan kecil yang menghiasi. Beberapa pohon rindang yang berada di pinggir jalan ikut menutupi cahaya lampu sehingga terlihat sedikit gelap.
Semakin jauh Aluna melangkah jalan semakin gelap. Aluna yang menentang bingkisan ditangan kanannya itu terus berjalan sambil berbicara dengan Helen di telepon.
"Luna ingat yah besok kita ada janji dengan klien!" Sahut Helen dalam telepon.
"Iya, kamu tenang aja gambarnya sudah ku persiapkan!" Balasnya ringan.
"Oh yah kamu dimana?"
"Ini aku baru pulang dari swalayan, bentar lag,,,"
Tiba - tiba cahaya lampu mobil dari belakang menerangi Aluna saat itu, sontak Aluna berbalik.
"AAAAAA!!!"
Teriaknya seraya mengangkat kedua tangannya menutupi wajahnya saat mobil itu mendekatinya.
'
"BRAKK!"
"Mas ada apa?" Tanya Nindia saat Arlan secara tidak sengaja menjatuhkan cangkir di tangannya.
"Tidak papa!" Sahutnya seraya meregangkan telapak tangan kanannya. Entah kenapa perasaannya tidak tenang.
'
'
'
"Tutt,, Tutt,, Tutt,,"
"Aluna?? Kamu kenapa Aluna?? Halo?? Halo??" Helen terus memanggil Aluna saat mendengar suara teriakannya dan sambung telpon pun terputus.
'
'
'
Dalam keadaan lemah Aluna tergeletak di pinggir jalan, kepalanya mengalami benturan cukup keras sehingga menyebabkan darah segar mengalir dari kepalanya.
"Bagaimana?" Suara dari laki - laki terdengar samar, namu Aluna tidak berdaya lagi.
Laki - laki satunya lagi sedang mengecek denyut nadinya yang melemah. Aluna tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun merasakan sakit pada kepalanya, perlahan Aluna mencengkram lengan baju laki - laki yang tidak terlihat wajahnya itu.
"K,,kk!" Kini napasnya tersengal matanya pun sayu, di bawa sinar cahaya lampu yang samar itu dia hanya melihat sebuah tato berbentuk bintang pada leher laki - laki yang tidak terlihat wajahnya.
Penglihatannya menggelap hingga kedua matanya tertutup seraya melepaskan genggamannya.
"Ayo cepat pergi sebelum ada orang lain!" Ajak laki - laki bertopi itu.
Keduanya pun meninggalkan Aluna yang tergeletak seorang diri di pinggir jalan yang gelap itu. Tubuhnya digenangi darah segar bersama dengan bubuk susu prenagen berserakan di dekatnya yang baru saja ia beli.
'
'
'
"Derr,,, Derr,,, Derr,,,"
Suara getaran ponsel Arlan berbunyi, dengan cepat ia merogoh saku dan melihat panggilan dari Kris.
"Halo,, APA?" Arlan terkejut mendengar berita dari Kris di malam itu.
"Ada apa mas?" Tanya Nindia.
Arlan pun tidak menjawab, wajahnya seketika memucat. Dengan cepat berlari mengambil kunci mobilnya lalu bergegas ke rumah sakit. Sepanjang jalan Arlan berdoa agar Aluna baik - baik saja.
'
'
'
_RUMAH SAKIT KASIH IBU_
Saat ini Aluna telah di dorong masuk ke dalam ruangan yang diantar oleh Helen dan bi Inem. Tubuhnya terkulai tidak sadarkan diri, wajah dan bajunya berlumuran darah.
Kebetulan malam itu dokter Leo shift malam jadi dia sudah menunggu di sana.
"Aluna bertahanlah, ku mohon! Hiks.! Hiks.! Hiks.!" Helen terus terisak seraya ikut mendorong sahabatnya menuju ruang IGD.
"Non,, bertahan yah! Hiks.! Hiks.! Hiks.!" Ucap bi Inem menggenggam tangan Aluna.
"Ibu tunggu di sini ya!" Sahut salah satu perawat yang berdiri bersama dengan dokter Leo di depan ruangan.
"Dokter Leo tolong selamatkan Aluna! Hiks. Hiks.!" Ucap Helen dan Leo pun mengangguk lalu dengan cepat masuki ruangan.
Helen bersandar di dinding yang bercat putih itu, rasanya dingin dan mencekam! Tubuhnya bergetar dan buliran jernih membanjiri kedua pipinya. Pikirannya kacau, dia hanya bisa terus menangis ketakutan menunggu hasil pemeriksaan.
Sedangkan bi Inem duduk di kursi tunggu depan ruangan sesekali menyeka wajahnya.
Bersambung,,,