
_KEDIAMAN WIJAYA _
Malam itu, tuan Wijaya tiba - tiba mengajak keluarga makan malam bersama di kediamannya.
Terlihat kepala pelayan itu sedang memantau koki pribadi keluarga itu dalam memasak, juga memastikan agar pelayan lainnya mengolah bahan makanan dalam keadaan steril.
Tak butuh waktu lama hidangan mewah itu pun satu persatu disajikan, para pelayan itu bergantian membawa sajian yang menggugah selera itu untuk ditata di atas meja.
Tuan Wijaya bersama nyonya Wijaya juga bibi Meryam dan Rama duduk di depan meja makan yang luas itu.
"Tuan, tuan Arlan bersama nyonya sudah datang!" Bisik Kelapa pelayan itu menghampiri tuan Wijaya.
"Em,, suruh masuk!" Balasnya serak.
Arlan, Nindia juga ibu Nindia pun telah bergabung bersama mereka di meja makan. Tuan Wijaya terlihat tidak terlalu menyukai Nindia. Dan Nindia dapat merasakan itu, ia tidak banyak bicara seperti biasanya hanya diam duduk di antara Arlan juga mertuanya.
Nyon Wijaya sendiri terlihat mengelus kecil bahu Nindia bermaksud menenangkan melihat tanggapan tuan Wijaya.
5 menit telah berlalu, namun tuan Wijaya belum memerintahkan untuk memulai makan malamnya, sehingga semuanya hanya duduk diam, bahkan para pelayan itu hanya berdiri menunduk di belakang tidak berani bersuara.
Entah mengapa suasana makan malam itu sedikit berbeda bahkan terasa sedikit mencekam.
'
"Tuan, tamunya sudah datang!" Kembali kepala pelayan itu berbisik sontak membuat tuan Wijaya berbinar mengulas senyum.
"Persilahkan mereka masuk!" Balasnya tersenyum membuat semua orang sedikit penasaran dengan tamu yang dimaksud.
'
"Selamat malam papa Wijaya!" Sahut Aluna berdiri mengulas senyum di dampingi oleh Leo.
Sontak membuat semua membulatkan mata, terutama Nindia dan Ibunya. Sedangkan Arlan sedikit menegang. Lain halnya dengan Rama dan bibi Meryam yang saling melirik kebingungan. Namun, nyonya Wijaya tak kalah terkejutnya, dia bahkan sampai melongo menatap Aluna dalam balutan long dress berwarna silver dengan taburan glitter, perutnya yang semakin membesar semakin terlihat, sebenarnya ia sengaja ingin memamerkan kehamilan yang lebih besar dari Nindia.
"Aluna, kamu datang nak?" Sahut nyonya Wijaya mengulas senyum berbinar tentu membuat Nindia masam.
"Terima kasih kamu memenuhi panggilan makan malam ini bersama dengan dokter Leo!" Balas tuan Wijaya seraya mempersilahkan keduanya duduk.
Aluna terlihat tenang berada di samping Leo, sementara Arlan hanya diam, wajahnya datar dan masam melihat kebersamaan mereka. Perlahan Nindia melirik Arlan lalu menyunggingkan senyum kecil yang samar. Ia bermaksud mengambil kesempatan itu untuk mengompori Arlan.
Akhirnya mereka pun memulai makan malam bersama itu. Di selingi beberapa obrolan kecil, tentu saja yang paling semangat adalah tuan Wijaya.
"Aluna, bagaimana keadaanmu?" Tanya tuan Wijaya.
"Baik pa! Papa Wijaya sendiri bagaimana?" Balasnya.
"Papa juga baik, terlebih sebentar lagi papa akan memiliki sepasang cucu kembar! Hehehe!" Balasnya terkekeh.
"Sepertinya tuan Wijaya tidak sabar menanti kelahiran cucu - cucu kesayangan tuan!" Sambung Leo.
"Hehehh" Keduanya kompak terkekeh dan Aluna hanya mengembangkan senyum sambil menikmati makannya tanpa melirik Arlan yang sudah semakin masam.
"Wah selamat ya Aluna, bayinya kembar ternyata!" Sahut bibi Meryam.
"Terima kasih bibi!" Kembali mengulas senyum, sedangkan ibu sambungnya menekuk wajahnya seraya mengaduk makanannya.
"Aluna coba cicipi ini, rasanya enak!" Sahut nyonya Wijaya dan Aluna hanya mengangguk tanpa bersuara, membuat nyonya Wijaya sedikit berkecil hati.
Arlan tidak memakan makanannya dengan baik, dia bahkan menggenggam kuat sendok di tangannya, menatap Leo juga Aluna, yang membuatnya lebih kesal tuan Wijaya malah terlihat akrab dengan dokter Leo.
"Helen waktunya tiba!" Diam - diam Aluna mengirimkan chat kepada Helen.
'
"Ting!"
Notifikasi dari Nindia sontak membuat Helen yang terlihat sedang berbaring manja di sofa menikmati dinginnya masker wajahnya. Perlahan meraba ponselnya lalu dengan hati - hati membuka mata.
"Siap!" Balasnya. Lalu memulai aksinya.
'
'
'
Kembali ke kediaman tuan Wijaya.
"Sepertinya dokter Leo dan Nindia semakin akrab?!" Sahut ibu Nindia tiba - tiba membuat semua orang saling melirik.
"Kami teman baik!" Balas Leo mengulas senyum menawannya terlihat santai namun tidak dengan Arlan yang dari tadi diam.
"Ting!"
Tiba - tiba saja notifikasi ponsel tuan Wijaya yang berada di atas meja berbunyi, dengan cepat ia membuka kiriman video itu.
"Halo,, Bu Nindia saya punya berita penting!"
"Apa itu? Apa si bodoh yang cengeng itu sekarang sedang menangis karena desainnya hilang?"
"Bukan bu! Sa,, saya ingin memberitahukan kalau perhiasan desain Aluna yang kita curi ternyata palsu!"
"APA? KAMU GIMANA SIH?"
Video pembicaraan Lauren dengan Nindia pun terdengar oleh semua orang di ruangan itu. Bahkan para pelayan itu sing berbisik, sontak membuat tuan Wijaya emosi begitu juga dengan Arlan.
"BRAKK!"
Tuan Wijaya memukul meja dengan keras sampai membuat piring di atas meja bergetar bahkan bergeser dari tempatnya. Nindia pun memucat merasakan seluruh tubuhnya bergetar. Begitu juga dengan ibunya.
"Apa - apaan ini Nindia?" Tanya tuan Wijaya dingin menatap tajam Nindia.
"Ti,, tidak ini tidak seperti yang terdengar! Ini pasti fitnah!" Balasnya.
"Benar, kamu pasti sengaja kan Aluna memfitnah saudaramu sendiri!" Sambung ibu Nindia.
"Nindia!" Sahut Arlan menatap Nindia dengan wajah memerah.
"Mas,, ini fitnah mas aku dijebak!" Balasnya menunjuk Aluna yang terlihat memandanginya dengan santai.
"Apa ini alasan kamu mentransfer 100 juta untuk seseorang kemarin malam? Sebagai bayaran?" Tanya Arlan dingin.
"Nindia, mama kecewa sama kamu!" Sahut nyonya Wijaya menggeleng.
"Tidak! Ini tidak benar!" Ucap Nindia bergetar.
"PLAK!"
Malam itu Nindia kembali mendapatkan tamparan dari Arlan bahkan lebih keras.
"Arlan!" Sahut ibu Nindia, memegangi Nindia yang terlihat menggosok pipinya merasakan panasnya tamparan.
"Ibu sebaiknya diam!" Sahut Arlan dingin membuat mertuanya terdiam.
"Maaf sepertinya makan malamnya harus berakhir, papa Wijaya kami permisi dulu!" Sahut Aluna seraya berlenggak meninggalkan mereka.
"Aluna, kamu tega kepada adikmu sendiri!" Sahut ibu sambungnya membuat Aluna menghentikan langkah lalu berbalik.
"Adik?? Maaf dia bukan adikku!"
Balasnya menatap tajam ibu sambungya membuat semua orang cukup terkejut, mereka tidak menyangka Aluna cukup berani bahkan membuat suasana lebih mencekam.
"Dengar, sejak kalian mendatangi ku di rumah hari itu bahkan mengancam ku! AKU SUDAH MEMUTUS PERSAUDARAAN INI!" Lanjutnya lantang.
"DUG!"
Suaranya yang lantang juga menggema mampu menekan seisi ruangan, sehingga mereka bergetar.
Aluna pun kembali melanjutkan langkahnya bersama Leo meninggalkan kediaman itu.
'
'
'
"Mas! Mas! A,, aku minta maaf!" Lirih Nindia bergetar bahkan kedua matanya mulai menitihkan air mata.
"Mulai saat ini jangan pernah menampakkan wajahmu di depanku lagi!" Ucap Arlan dingin meninggalkan Nindia.
"Mas,, hiks. hiks. Mas,, aku sedang mengandung anak mu mas darah dagingmu his. hiks. hiks." Nindia berlari kecil mengikuti Arlan yang semakin mempercepat langkahnya, Nindia terus memohon namun tidak membuat Arlan iba.
"Mas,, apa kamu tega dengan anak di dalam perut ku ini?" Lanjutnya membuat Arlan menghentikan langkahnya saat berada di depan tangga pintu utama.
"hiks. hiks. m,,mas kamu boleh benci sama aku tapi jangan lupakan anak ini! Hiks. hiks. hiks." Kembali memohon dalam tangisnya seraya memegangi perutnya.
Arlan memandangi Nindia dengan mata berkaca - kaca namun sorot matanya memancarkan emosi yang dalam.
"Akh!"
Nindia pun meringis saat Arlan mendorongnya hingga terjatuh di lantai. Sedangkan Arlan sudah masuk ke dalam mobil sport hitam miliknya lalu melaju dengan cepat meninggalkan Nindia.
"Nindia!" Sahut ibunya seraya membatunya untuk berdiri tegak. "Ayo kita pulang!" Ajaknya perlahan menuruni tangga.
'
"LIHAT KELAKUAN MENANTU IDAMAN MAMA ITU! TIDAK LEBIH DARI WANITA PEMBUAT ONAR! TIDAK PANTAS MENJADI BAGIAN DARI KELUARGA INI!!!" Bentak tuan Wijaya memaki istrinya.
Nyonya Wijaya pun tidak tahu harus berkata apa, dia hanya mampu meneteskan buliran jernih perlahan membasahi pipinya. Sedangkan Rama dan bibi Meryam hanya diam perlahan meninggalkan meja makan, semuanya terlihat kacau akibat ulah Nindia.
'
'
'
"Bagaimana? Kamu puas dengan permainan ini?" Tanya Leo kepada Aluna yang kini berada di dalam mobil, seraya memandangi Nindia bersama ibunya sedang berjalan meninggalkan gerbang utama kediaman keluarga Wijaya.
"Ini belum seberapa! Masih ada satu tembakan terakhir untuknya!" Balas Aluna menatap tajam kedua wanita itu.
"Apa kamu siap bermain - main dengan mereka?" Lanjut Aluna dan Leo pun mengulas senyum menawan khasnya sebelum melajukan mobil sport putih itu.
Bersambung,,,