
"Aluna?" Lirih Nindia.
"Ibu Aluna?"
"Iya benar itu ibu Aluna!"
Bisik para tamu yang memang banyak mengenali Aluna, terutama kolega Arlan. Dulu Arlan selalu bangga memperkenalkan istrinya kepada kolega bisnisnya dan sebelumnya pernikahan mereka juga menggemparkan kalangan pebisnis lantaran mereka menikah di usia muda.
Aluna terlihat cantik menggunakan gaun dari Arlan, ia tampak bangga memperlihatkan kehamilannya kepada semua orang. Namun juga membuat parah tamu itu menerka - nerka mengenai kedatangannya di tengah pesta.
Aluna berjalan menghampiri Nindia yang berdiri menatap tidak senang kepadanya, sedangkan Rama mulai memicingkan mata, ia selalu menegang setiap kali Aluna muncul ditengah kesenangannya.
"Selamat yah atas perayaan kalian!" Sahut Aluna mengulur tangan.
Namun Nindia menepisnya. "Untuk apa kamu datang ke sini?"
"Aku hanya datang untuk mengucapkan selamat juga memberikan hadiah untuk pesta kalian!" Ucap Aluna melipat tangan.
"Kehadiran mu tidak dibutuhkan. Lagian kamu sudah bukan siapa - siapa!" Balas Nindia meremehkan.
Saat ini semua mata tertuju kepada kedua wanita hamil itu. Mereka kembali saling berbisik melihat interaksi mereka yang terlihat tidak saling menyukai satu sama lain.
"Yah, aku memang sekarang orang luar. Tapi aku sedang mengandung anak mas Arlan, jadi apa salahnya jika aku datang mengucapkan selamat!"
sontak semua orang terkejut mendengar perkataan Aluna. Sementara Nindia semakin masam mulai panik melihat tatapan orang sekitarnya begitu juga dengan Rama.
Di sudut ada Leo bersama Helen yang ikut bergabung dengan Edward, Kris dan yang lainnya. Mereka terlihat menikmati ketenangan dari Nindia saat itu.
"Oh maaf aku berbicara panjang lebar. Aku datang ke sini hanya untuk mengantarkan hadia dari pak Arlan sebelum ia meninggalkan perusahaan!" Lanjutnya.
Edward dan Kris salin melirik lalu mengangkat tangan melakukan tos ala mereka. Sementara nyonya Wijaya masih terlihat bingung dengan perkataan Aluna.
Aluna mengeluarkan flashdisk dari dalam tasnya lalu memberikan kepada panitia penyelenggara. Tidak butuh waktu lama sebuah video dokumenter perjalanan karier PT. PERKASA WIJAYA dari awal kepemimpinan tuan Wijaya pertama, lalu diambil oleh tuan Raden Wijaya hingga pada masa kepemimpinan Arlan Raden Wijaya.
Penggalan video dokumenter dari masa ke masa terus bergulir dilayar disaksikan oleh semua tamu yang hadir. Perusahaan konstruksi kecil yang dibangun dari nol hingga sukses seperti sekarang telah selesai diputar. Namun secara mengejutkan video lainnya malah muncul dilayar yang cukup besar itu.
Video pertama munculnya ke 5 tawanan yang memberikan kesaksian atas rencana sabotase konferensi pers dan rencana pembunuhan Aluna, di susul sabotase proyek yang memberikan pengakuan kalau Rama-lah dalang dari semuanya, video bukti korupsi yang dilakukan oleh Rama, keberadaan markas dan bukti yang ditemukan di pemukiman gubuk dan terakhir bukti perselingkuhan Rama bersama Nindia.
'
"Nyo,, Nyonya Nindia dan ibunya pak!"
Arlan memicingkan mata dan bergetar.
"Mereka membayar untuk menyebarkan rumor pernikahan juga membunuh nyonya Aluna!" Jelas laki - laki bayaran Nindia dan Ibunya.
'
"Saya ingin memberikan kesaksian, mengenai kasus sabotase proyek yang melibatkan pak Harun, dalang dari semuanya adalah pak Rama!" Klarifikasi kepala mandor.
"Benar beliau yang memberikan perintah untuk disampaikan kepada kami melalui pak Harun." Lanjut arsitek.
"Kami juga diperintahkan untuk berpura-pura menjadi korban kecelakaan kasus keruntuhan proyek. Dengan mengatas namakan identitas kami!" Pernyataan kedua korban palsu.
'
Selanjutnya video soft kopi bukti korupsi Rama dibeberapa proyek telah terpampang di layar, lalu beberapa bukti barang disita yang merupakan isi markas gangster Rama. Bahkan barang mereka yang baru datang semalam sudah disita polisi.
'
"Kamu tenang saja, meski kali ini ia berhasil lolos. Tapi aku pastikan secepatnya ia akan disingkirkan, dengan begitu tidak ada lagi penghalang untuk kita bersama calon anak kita!" Video percakapan Rama Nindia di hotel yang juga ternyata sudah direkam diam - diam melalui bantuan staf hotel.
Semua bukti itu telah disaksikan oleh semua orang bahkan dimanapun mereka berada melalui serial tv secara langsung saat itu.
"Apa ini?"
"Jadi mereka selingkuh?"
"Ternyata pak Rama sejahat itu!"
"Dasar wanita tidak tahu diri!"
Rama bergetar, wajah dipenuhi keringat dingin. begitu juga dengan Nindia yang masam menatap tajam kepada Aluna.
"Apa - apaan ini pak Rama?"
"Pak kami betul - betul kecewa dengan bapak!"
"Tenang pak, tenang saya bisa jelaskan!"
"Apa yang mau dijelaskan, buktinya sudah ada!"
'
"Aluna kamu sengaja kan melakukan ini? Dasar tidak tahu diri!" Ucap Nindia.
"Sengaja? Ini bukan kesengajaan tapi sebuah keharusan!"
"Brengsek Kam,,,"
"BERHENTI!"
Nindia menahan tangannya yang mengudara saat teriakan Arlan dari ambang pintu menggenggam. Sontak membuat semua orang semakin terkejut melihat sosoknya dalam balutan stelan jas khasnya.
"Pak Arlan!"
"Banar itu pak Arlan, beliau masih hidup!"
"Cekrek!"
"Cekrek!"
Sontak para media itu meliput wajah sang CEO lama yang baru memunculkan dirinya setelah 1 bulan lamanya menghilang. Nyonya Wijaya tak kalah terkejutnya melihat kehadiran sang putra, binar bahagia terpancar seraya meneteskan air mata haru.
Arlan berjalan dengan langkah lebar, wajahnya datar dan masam. Perlahan Nindia menurunkan tangannya, tenggorokannya tercekat saat Arlan berdiri di depannya.
"PLAK!"
Arlan menampar Nindia, membuat Nindia memegangi pipinya yang berdenyut.
"Jangan pernah lagi menghina ibu dan anak - anakku!" Gertaknya penuh penekanan.
"Semuanya, hari ini aku datang untuk memberitahu kalian semua seperti apa wajah kedua orang ini! Dan, PERKASA WIJAYA tidak membutuhkan penerus seperti mereka!" Ucap Arlan lantang.
"Pak tangkap mereka!"
Setidaknya 4 orang pihak berwajib yang sudah datang untuk meringkus Rama dan Nindia. Rama mulai meronta melawan mereka, sedangkan Nindia hanya berdiri pasrah saat salah satu polisi itu memegangi tangannya.
"Tangkap dia!" Seru polisi kepada temannya.
Sontak Nindia mengambil kesempatan menendang bagian bawah polisi itu lalu mengambil pistolnya.
"DOR! DOR!"
Polisi itu mengeluarkan tembakan dan mengenai Rama, hingga membuatnya tersungkur di depan pintu.
"DOR!"
"DOR!"
"Akh, AA"
Nindia ikut melakukan tembakan beberapa kali tanpa arah. Sambil berlari membuat semua orang ketakutan dan menunduk. Sontak Arlan memeluk Aluna melindunginya.
"DOR!"
"DOR!"
Nindia masih menembak sambil berlari keluar "DOR!" Ia bahkan menembak ban mobil yang terparkir sebelum dirinya mengemudikan mobil miliknya meninggalkan tempat itu.
"Dia kabur!" Sahut polisi itu berlari dan melihat mobil Nindia melaju.
"Sial!" Ketus Kris melihat ban mobil mereka sudah kempes.
'
'
'
_BERITA TERKINI_
"Pemirsa dimana pun anda berada, hari ini berita perusahaan besar PT. PERKASA WIJAYA kembali menggemparkan, pasalnya sang CEO baru yakni pak Rama Redan Wijaya telah diduga dalang dari sabotase keruntuhan proyek beberapa waktu lalu, beliau juga menjadi ketua gangster besar, kerap melakukan transaksi pengedaran narkoba jenis sabu, serta berselingkuh dengan istri dari sang CEO lama yang terlihat dalam sebuah video.
"Selain itu, yang tak kalah mengejutkan berita kembalinya pak Arlan CEO lama,, yang kemungkinan besar akan langsung mengambil alih kembali posisi CEO."
Hari itu juga berita tersebar luas, banyak yang menyayangkan atas sikap sang CEO, beberapa yang geram dengan perilaku Nindia, dan merasa kasihan dengan Arlan juga Aluna.
'
'
'
24 jam telah berlalu, hari itu Aluna kembali mengunjungi kediaman utama, kebetulan tuan Wijaya sudah berada di kediamannya.
"Bagaimana keadaan papa Wijaya?"
"Aku baik - baik saja. Bahkan aku jauh lebih sehat sekarang, heheh!"
"Aku turut senang melihat papa!"
"Aluna sekali lagi mama minta maaf atas kesalahan mama selama ini!" Ucap nyonya Wijaya menatap Aluna dengan mata berkaca-kaca.
"Begitu juga dengan Arlan, mama minta maaf kepada kalian!" Lanjutnya menatap Arlan yang juga berada dengan mereka.
"Tidak perlu terus meminta maaf, sudah berlalu. Aku sudah mengatakan akan melupakan masalah ini!" Mengulas senyum kecil.
mereka semua mengulas senyum. Kali ini, tidak ada lagi keegoisan, sudah cukup semua masalah yang menimpa keluarga mereka. Yang terpenting adalah saling memaafkan dan menjalani hidup lebih baik.
'
'
'
"BRAK"
"HAAA!! AAAA!"
Rama mengamuk menyapu bersih semua isi troli yang ada di dekatnya, saat perawatan itu memasuki ruangan untuk memeriksa keadaannya.
"KELUAR!" bentak.
"AKU BILANG KELUAR!"
Sontak perawatan itu langsung menghindar dan menutup pintu ruangan. Keadaan Rama sangat tidak terkendali.
"KENAPA SEMUA INI TERJADI? HIKS. HIKS. HIKS."
"HAAAA,, HIKS. HIKS. HIKS."
Rama terus berteriak meratapi nasibnya, ia harus dirawat dalam keadaan lumpuh, bum lagi dengan penjara yang menantinya. Ia terus terisak menyesali perbu itu.
Dari balik pintu, bibi Meryam bersandar seraya terisak "Hiks. Hiks. Hiks." mendengar sang putra yang terus meronta dan menangis. Sebagai seorang ibu ia tetap merasa sedih dan sakit melihat anaknya meskipun dia telah bersalah. Ia merasa gagal dalam merawat dan membesarkan anaknya.
'
'
'
Setelah melalu beberapa masalah dan beban yang berat, mereka memutuskan untuk berlibur sebagai bentuk merefresh otak dan pikiran mereka. Meski Nidia belum ditemukan, tapi mereka tetap butuh liburan.
"Terima kasih!" Ucap Aluna saat Arlan telah mengantarkan kembali ke kantor.
"Aluna!" Lirihnya saat Aluna hendak membuka seatbelt.
Aluna menatap Arlan yang juga menatapnya, seketika Arlan merasa canggung, entah harus mulai dari mana dan entah Aluna akan setuju atau tidak.
"Em,, Mau liburan?" lirihnya.
Aluna terdiam membuat Arlan sedikit gugup, "Em,, maksud ku liburan bersama yang lain, iya, kamu, kamu bisa mengajak yang lain!" Lanjutnya gugup.
Sontak Aluna mengulas senyum melihat raut Arlan yang terlihat jelas gugup.
"Ok. Ok. Kamu tidak perlu gugup!" Arlan tersenyum binar mendengar ucapan Aluna.
Hari itupun telah disepakati oleh mereka untuk berlibur bersama, tentu ada Edward, Leo, Kris juga Helen. Setelah kejadian beberapa bulan yang terjadi, secara tidak sadar mereka menjadi saling terikat dalam artian hubungan pertamanan mulai terjalin diantara mereka karena saling membantu. Terutama Leo, meski dia orang yang paling baru diantara mereka, tapi ia selalu ada dalam setiap masalah Aluna yang seharusnya menjadi tanggung jawab Arlan.
Sedangkan Ibu Nindia sudah berada dalam sel untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Begitu juga dengan Rama yang akan di kirim kedalam tahanan. Sementara Nindia, ia masih harus bersembunyi untuk menghindari polisi, tapi tentu Arlan tidak akan membiarkannya berlama - lama bersembunyi, ia juga harus segera mempertanggung jawabkan perbuatannya secepat mungkin.
Bersambung...