IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
41. Hutang Maaf



Satu tembakan dari Edward mampu menjatuhkannya di atas tanah.


Kris dan Edward pun berlari menghampirinya begitu juga dengan kedua temannya.


Laki - laki itu tidak sadarkan diri, dadanya terus mengalirkan darah segar yang dalam sekejap merenggut nyawanya.


"Bagaimana?" Tanya Kris saat Edward meraba nadinya dan Edward pun menggeleng.


"Sial dia mati lagi!" Gumam Kris.


"Tunggu! Coba liat ini!" Seru Edward seraya meneliti lehernya.


'


"Palsu?!"


Sahut Kris dengan kedua alis mengerut saat ia melihat tato di lehernya yang sebenarnya bukan tato sungguhan melainkan hanya goresan tinta biasa yang berwarna hitam.


"Benar kata pak Arlan, dia bukan ketua yang sebenarnya!" Gumam Kris.


"Periksa mereka dan amankan barang bukti!" Seru Edward dan temannya pun berlari menghampiri ke tiga kawanan laki - laki bertato palsu itu yang tergeletak.


'


"Pak mereka semua mati!" Sahut salah satunya.


"Mati? Kok bisa sih?" Tanya Edward berlari menghampiri mereka begitu juga dengan Kris.


"Pak lihat mulut mereka,,," Sahut salah satunya perlahan memegangi wajah kawanan gangster itu dengan mulut berbusa.


"Jangan!" Cegat Edward sontak membuatnya menarik tangan.


"Sepertinya mereka sengaja bunuh diri dengan meminum pil beracun!" Sahut Edward.


Satu hal kesalahan mereka, yaitu disaat laki - laki bertato bintang palsu itu tergeletak meraka sontak mengerumuni sehingga ke 3 orang yang tergeletak lemas itu mengambil kesempatan memakan pil beracun. Dan itu sudah menjadi aturan dalam kelompok mereka sehingga wajib dilakukan.


Di saat semuanya mengamati mayat - mayat itu. Ada satu orang yang ternyata berhasil lolos, dia segera berlari setelah mendengar seluruh kawanannya meninggal.


"Dia kabur!" Bisik Kris.


"Biarkan saja! Yang lain sudah menunggu untuk mengikutinya!"


"Balas Edward, tanpa diketahui oleh orang itu kalau bawahan Arlan sudah tersebar. Dan tujuan utama mereka adalah menemukan ketua yang sebenarnya!"


_PT. PERKASA WIJAYA_


"Pak semua anggota gangster itu meninggal ditempat!" Lapor Kris saat memasuki ruangan Arlan.


"Meninggal?" Tanya Arlan serak.


"Mereka sengaja memakan pil beracun. Disaat kami tidak memperhatikannya!" Sahut Edward.


"Dan satu lagi, tato yang dimiliki laki - laki itu palsu!" Lanjut Edward.


"SIAL! BRAkK!" Mereka berhasil lolos lagi ucap Arlan serak sambil memukul meja dengan keras.


Arlan mengatupkan giginya hingga rahangnya mengeras. Sedangkan Kris dan Edward hanya diam melihat wajah masam Arlan.


'


'


'


_QUEEN JEWELRY GROUP_


Pagi itu, Helen yang sedang berada di parkiran kantornya terlihat berdiri tepat di samping mobilnya, perlahan membuka cermin kecil di tangannya lalu mengoles lipstik berwarna terang di kedua bibirnya.


Helen meneliti pantulan wajahnya di cermin kecil yang berbentuk bundar itu memastikan tidak ada kekurangan dalam riasannya.


'


"Percuma cantik, kalau tidak bisa tahan emosi!"


Sahut seorang laki - laki yang terdengar serak tiba - tiba, sontak membuat Helen berbalik dan membulatkan mata melihat Edward yang memarkir mobil di sampingnya.


"Diam kamu gondrong!" Balas Helen ketus seraya menunjuk Edward yang masih duduk di dalam mobilnya dengan kaca yang diturunkan setengah.


Helen pun menghentakkan kaki meninggalkan parkiran dengan wajah cemberut. Entah kenapa setiap bertemu dengan Edward bawaannya emosi.


'


'


'


"Helen ada apa sih?" Tanya Aluna melihat sahabatnya yang sedang mencabik - cabik tisu di depannya.


"Aku sedang kesal sama seseorang!" Balasnya ketus semakin sangat mencabik tisu.


Aluna sontak mengerutkan dahi, "Sama siapa?" Tanya Aluna sedikit penasaran.


"Hhhhhh!" Helen menghela napas, lalu menatap Aluna bersiap menceritakan.


'


"Tok,, Tok,, Tok,,"


Suara ketukan dari balik pintu yang tiba - tiba terdengar membuat Helen dan Aluna berbalik, sontak saja kembali membuatnya membulatkan mata, begitu juga dengan Aluna yang cukup terkejut.


'


"Edward?!" Sahut Aluna mengulas senyum begitu juga dengan Edward.


"Apa kabar?" Tanya Edward seraya menyodorkan buket mawar berwarna merah kepadanya.


"Baik, terima kasih!" Balas Aluna meraih buket itu dan Helen pun hanya melongo.


"Wow,,, sepertinya ada perayaan pesta salju yah?" Tanya Edward saat melihat sobekan tisu yang berserakan di lantai, sofa juga di atas meja yang memenuhi setengah dari ruangan.


Sontak Aluna melirik Helen dan Edward bergantian, menutup mulutnya mencoba menahan tawa. Sedangkan Helen menatap Edward dengan wajah tidak senang.


"Bentar, Helen jangan bilang kalau,,,?" Tanya Helen menunjuk Edward dan Helen pun mengangguk.


Kini Aluna dan Edward pun duduk di sofa lebih tepatnya di tengah - tengah tumpukan sobekan tisu yang berserakan, sementara Helen masih di depan meja kerjanya.


"Kamu kenapa nggak ngomong kalau mau ke sini sih?" Tanya Aluna.


"Yah biar surprise aja, lagian udah lama kita nggak ketemu heheh!" Balasnya terkekeh.


"Kamu bener, kebetulan sekali kamu datang hari ini. Soalnya besok aku harus ke Paris." Balas Aluna.


"Em,, aku denger itu dari kak Arlan!" Edward menatap Aluna, "Aku nggak nyangka kalian seperti ini." Lanjutnya dengan wajah sedikit sendu.


"Mungkin ini sudah takdir,," Balas Aluna mengulas senyum kecil dan Edward pun mengangguk.


"Oh ya, denger - denger aku punya calon keponakan kembar ya?"


"Iya, sekarang sudah 21 minggu."


Keduanya pun mengulas senyum, Helen menopang dagu menyimak pembicaraan mereka. Setidaknya saat berbicara dengan Aluna laki - laki gondrong itu memiliki sifat lembut.


'


'


'


"Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi!"


"Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi!"


"AGKH! CK!"


Decak Nindia saat ia mencoba menghubungi Arlan. Sejak malam itu Arlan tidak pernah kembali ke apartemen dan tidak bisa dihubungi!


Nindia memegangi kepalanya yang berdenyut, lalu perlahan duduk di sofa. Hatinya tidak tenang mengingat Arlan yang tidak pernah pulang bahkan kediaman keluarga Wijaya pun tidak bisa lagi ia datangi sesuka hati, sedangkan setiap dirinya mendatangi ke perusahaan Arlan tetap saja tidak bisa di temui. Entah harus mencari kemana lagi.


'


'


'


Malam itu Aluna baru saja pulang dari suatu tempat, hembusan angin terasa lebih dingin menusuk, langkahnya yang ringan menyusuri jalan menuju rumah berlantai 2.


Ia terus melangkah seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku switer berwarna krem yang dikenakan malam itu untuk menghangatkan telapak tangannya. Tak lupa sesekali ia mendongak menatap jutaan bintang yang menghiasi langit, terlihat indah hingga ia memancarkan senyuman.


Saat berada di depan pagar rumah, Aluna berdiri menatap bintang - bintang itu selama beberapa saat, lalu menunduk mengelus kecil perutnya kembali mengulas senyum.


"Akh,, anak mommy nendang yah?!" Lirihnya semakin mengulas senyum saat ia merasakan pergerakan pada bagian perutnya.


Perlahan Aluna menegakkan kepalanya dan seketika membuatnya terkejut melihat sosok di depannya. Aluna mematung menatap dengan tubuh bergetar.


'


"Mas Arlan?" Lirihnya masih memegangi perutnya, menatap sendu Arlan yang berdiri di depannya..


Perlahan Arlan melangkah mendekati, wajahnya terlihat pucat dengan mata memerah memandangi Aluna. Tenggorokannya tercekat menelan saliva.


"Aluna,,,!" Sahut Arlan bergetar dengan mata berkaca - kaca seraya memeluk Aluna.


Untuk pertama kalinya selama hampir 5 bulan Arlan memeluk Aluna, ia mendekap tubuh yang bergetar itu dengan kuat. Rasanya hangat namun juga membuatnya sakit.


"Hiks. hiks. maaf,, maaf,, hiks. hiks. hiks. Aku minta maaf, hiks. hiks. hiks.!" Ucapnya terisak merasakan penyesalan dan kebodohannya karena telah membiarkan istri dan anak - anaknya hidup sendiri selama ini.


Aluna tidak mengatakan apapun, kelopak matanya bergetar menahan pedihnya buliran jernih, namun ia mengepalkan Kedua tangannya agar tidak menangis.


Selama beberapa bulan terakhir ia berharap ketegasan Arlan agar bisa membawanya kembali dan menolak kehadiran Nindia, namun selam itu Arlan tidak pernah muncul. Meski ia sangat merindukan pelukan itu, namun hatinya masih sakit sehingga memilih untuk tidak memeluk Arlan.


"Mas minta maaf jika selama ini tidak ada untuk mu, maaf jika suatu saat nanti mas tidak lagi ada untukmu, tapi percayalah mas selalu berusaha melindungi mu di sisa napas ini!" Lanjutnya bergetar dan terdengar lemas.


Aluna mengerutkan dahi mendengar ucapan Arlan dan nada suaranya terdengar dalam. Perlahan memegangi lengan kanannya lalu melepaskan pelukan Arlan.


Aluna memandangi wajah Arlan yang bergetar dan pucat, juga matanya yang sembab. Aluna perlahan memegang pipi Arlan sontak membuatnya terkejut merasakan suhu badannya yang tinggi.


Tak butuh lama Arlan perlahan memejamkan mata lalu menjatuhkan wajahnya ke bahu Aluna.


Malam itu Kris tidak dapat dihubungi, sehingga Aluna terpaksa membawa Arlan masuk ke dalam rumah. Dengan bantuan mang Hasim sekarang Arlan berada di kamar tamu dan berbaring lemah di atas kasur.


Aluna cukup cemas melihat kondisi ayah dari anaknya itu, ia tahu jika pikiran dan perasaan pun juga sedang dalam kekacauan dan memprihatinkan. Ia terlihat berdiri memandang sendu wajah pucat itu dengan mata yang terpejam.


"Non ini kompre-san dan obatnya!" Sahut bi Inem saat memasuki kamar.


"Terima kasih Bi!" Aluna mengambil kompres-san itu lalu duduk di samping Arlan perlahan mengompres dahinya.


Aluna juga menyeka bagian leher Arlan dan merasakan suhu badannya yang cukup tinggi, secara tidak sengaja ia melihat kalung yang di kenakan Arlan yang terlihat biasa saja. Namun, tidak dengan liontinnya, Aluna kembali bergetar perlahan memegang liontin yang merupakan cincin kawinnya bersama Arlan.


Matanya memerah menatap cincin berwarna keemasan itu, ternyata selama ini ia masih menyimpan cincin itu. Aluna menghela napas panjang menyeka sudut matanya yang berkaca - kaca.


Tepat jam 00 : 00 tengah malam, demam Arlan sudah turun dan Aluna pun tidak sengaja tertidur di sampingnya dengan menggunakan tangannya sebagai bantal.


'


'


'


Pagi hari pun menyambut, perlahan Aluna mengedipkan matanya saat merasakan sinar sang mentari. Aluna sontak menegakkan kepalanya dan melihat sekeliling, namun kasur sudah dalam keadaan kosong.


Aluna bergegas keluar meneliti ruang tamu yang terlihat kosong, lalu berlari kecil ke dapur. Tatapannya sedikit sendu perlahan menghampiri bi Inem yang sedang menghidangkan sarapan sehat untuknya.


"Non, sudah bangun? Sarapan dulu!" Sahut bi Inem.


Aluna pun duduk lalu mengambil semangkuk bubur itu, terlihat seperti makanan yang selalu ia makan di rumah sakit. Lalu mencicipi bahkan rasanya sama persis.


"Ini siapa yang masak bi?" Tanyanya.


"Tadi pak Kris yang membawa waktu menjemput pak Arlan!" Balas bi Inem sontak membuat Aluna berpikir sejenak, lalu kembali menatap bubur itu, ia bisa menebak kemungkinan selama di rumah sakit sarapannya dari Arlan.


Bersambung,,,