
Setelah menyelesaikan pembicaraan mereka, Arlan kembali ke villa. Perasaannya jauh lebih baik, namun emosinya semakin besar setiap kali melihat ibu Nindia.
"Tolong lepaskan saya! hiks. hiks. hiks."
"Arlan, ibu mohon! Hiks. Hiks. Hiks. Ibu minta maaf Hiks. Hiks. Hiks!"
"Pak dia terus menangis dan berteriak!"
"Buka pintunya!" Serunya seraya menuruni tangga.
Tak butuh waktu lama pintu ruangan bawah tanah itu terbuka, cahaya matahari menyinari tangga juga celah jendela kecil. Ibu Nindia melongo menatap bayangan Arlan yang terlihat samar berdiri di depannya.
"Akh, Arlan tolong lepaskan ibu! Ibu mohon Hiks. Hiks. Hiks." Merangkak mendekati kaki Arlan.
"Ibu mohon, ibu telah menyesali semuanya. Nindia butuh ibu Hiks. Hiks. Hiks."
"AKH!" Ringisnya saat Arlan mencengkram wajahnya.
"Setelah apa yang kamu lakukan kepada Aluna dan anak - anakku, tidak ada tempat yang lebih pantas untukmu selain penjara!" Ucapnya dingin menekan wajah ibu Nindia.
"Ma,, maafkan ibu!" Ucapnya bergetar.
"Maaf? Aku terpisah dari orang yang aku cintai, nyaris kehilangan mereka dan kamu bahkan hampir membuatnya tiada di dunia ini sebelum aku mengetahui keberadaan calon ANAK - ANAKKU!" Bentaknya dengan tatapan berkaca - kaca.
"Akh!" Ibu Nindia kembali meringis saat Arlan melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga membuat wanita tua yang lusuh itu terhuyung.
"APA KAMU TAHU SEBERAPA BESAR PENDERITAAN DAN RASA SAKIT KU DI SETIAP DETIK AKU MENJALANI HARI - HARIKU??!" Lantang penuh penekanan.
"DOR!"
"DOR!"
"AKH. AAA! Hiks. Hiks. Hiks."
Arlan mengeluarkan tembakan sebanyak 2 kali untuk melepaskan amarahnya, membuat ibu Nindia histeris dan bergetar meringkuk mendengar suara tebakan itu. Arlan bisa saja langsung menembaknya sampai mati, tapi ia tidak ingin membiarkan dia mati dengan begitu saja, ia ingin ibu Nindia menjalani hidupnya dalam penderitaan juga penyesalan hingga ajal menjemputnya.
Arlan kembali menaiki tangga, wajahnya masam. Sedangkan ibu Nindia kembali terpenjara dalam ruangan yang gelap itu dalam kondisi lemah.
'
"Kris beritahu yang lain untuk bergerak sekarang! Jangan biarkan ada yang lolos, aku ingin Rama tertangkap secepatnya!"
"Baik pak."
"Lalu bagaimana dengan ibu Nindia?"
"Biarkan dia bermalam untuk kedua kalinya di ruang gelap itu. Sebelum penjara menjadi tempat terakhirnya! Karena aku tidak ingin hukuman ringan untuk mereka!"
"Baik pak."
Arlan duduk di sofa membuka minuman kaleng di atas meja. "Bagaimana dengan keadaan Edward?"
"Dia sudah lebih baik, kakinya diperban oleh dokter!"
"Perban?" Mengerucutkan dahi.
"Helen yang membawanya ke UGD!"
Arlan menatap Kris dan Kris hanya tersenyum dan keduanya pun seperti memiliki pemikiran yang sama.
"Kupikir dia tidak akan tertarik dengan wanita manapun." Mengulas senyum kecil lalu meneguk minumannya.
'
'
'
"Bagaimana keadaan mu?" Helen menggenggam tangan sahabatnya.
"Aku tidak apa-apa!" Mengangkat tangan kirinya yang diperban.
"Mas Arlan datang tepat waktu." Lanjutnya membuat Helen mengerutkan dahi.
"Arlan?"
"Iya, dia masih hidup dan aku sudah bertemu dengannya!"
Helen membulatkan mata, "Ak, aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang! Bukannya sudah dikonfirmasi berita kecelakaan dan Arlan telah dinyatakan,," Helen menghentikan perkataannya.
"Ceritanya panjang. Mas Arlan terpaksa bersembunyi untuk memulihkan keadaannya, Kris dan Edward sudah mengetahui dari awal!" Helen semakin terkejut.
"Sumpah, aku tidak habis pikir dengan mereka. Ini seperti skenario dalam film - film juga cerita novel!"
"Sudahlah kamu tidak perlu memikirkannya. Kamu datang ke sini untuk menemaniku kan bukan membahas drama mereka!"
Keduanya mengulas senyum lalu memulai ngobrol sambil bercanda bersama. Sedangkan Edward sudah pulang lebih dulu ke villa.
'
'
'
Sinar sang rembulan kembali menyinari kota malam itu. Sesuai perintah Arlan, malam itu satu persatu anggota gangster terkuat Rama telah tertangkap secara diam - diam di kediaman masing - masing.
Dan yang memimpin penculikan itu Kris, sedangkan Edward hanya bisa memantau di dalam mobil berhubungan kakinya masih sakit dan dokter melarangnya untuk bergerak berlebihan.
Para gangster itu akan dijebloskan ke penjara, Arlan juga sudah melaporkan kepada pihak berwajib mengenai keberadaan markas mereka yang terletak di pemukiman kumuh. Polisi akan menyita semua barang bukti berupa, sabu, uang, emas batangan dan lainnya.
'
'
'
_KEDIAMAN KELUARGA WIJAYA_
Nindia kembali berada di dalam kamarnya seorang diri, ia terlihat duduk di atas ranjang memeluk kedua lututnya. Selama beberapa hari ia merasa khawatir dan gelisah akibat teror yang ia terima secar terus menerus. Ia bahkan mulai menghawatirkan ibunya karena sejak mendapatkan chat terakhir kini nomor ibunya tidak dapat dihubungi.
Nindia meringkuk dengan badan bergetar. Semakin memikirkan masalahnya semakin membuatnya cemas dan lemas, bahkan wajahnya sudah menegang. Tidurnya tidak nyenyak, kerap mendapat cekaman hingga terbawa ke dalam mimpi buruk, bahkan untuk makan dengan nyaman pun ia sudah tidak mampu.
'
'
'
"Cek, Sial!" Decak Rama merasa kesal karena tidak dapat menghubungi beberapa anggotanya.
Rama kembali menghubungi yang lain dan terhubung.
"Halo pak!"
"Dimana yang lainnya? Aku sudah menghubungi mereka tapi di luar jangkauan! Apa mereka lupa barang kita akan tiba di pangkalan?"
"Pokoknya saya tidak mau tahu, barang - barang itu harus lolos dari polisi!" Serunya dengan sedikit keras lalu memutus telponnya.
'
"Rama?" Panggil bibi Meryam berdiri diambang pintu.
Sontak Rama terlonjak, "Mama?"
"Rama, mama mohon hentikan kegilaanmu! Mama tidak mau kamu berakhir seperti papamu!" Menatap Rama dengan berkaca - kaca.
"Ini urusan Rama ma. Mama tidak perlu ikut campur!"
"Rama? Apa kamu lupa dengan yang dialami papamu? Kita kehilangan semua yang kita punya, bahkan tempat tinggal pun tidak tersisa, kalau bukan karena pamanmu dan Arlan kita sudah menjadi gelandangan!"
"Justru itu MA. Rama melakukan ini semua demi mengembalikan semua aset kita yang hilang karena mereka!" Tegasnya.
"PLAK!"
Bibi Meryam menatap wajah anaknya yang sudah semakin jauh terperosok dan dibutakan oleh ambisi.
"Rama papa kamu kehilangan segalanya akibat perbuatannya sendiri, kesalahannya sendiri!" Ucapnya bergetar seraya menitihkan air mata.
Rama memegangi pipinya yang berdenyut, ia marah namun tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Wajah masam meninggalkan mamanya yang masih berdiri di dalam kamarnya.
Bibi Meryam memandangi punggung anaknya. Sejak dulu ia tidak pernah setuju jika sang suami melakukan kejahatan karena takut kehilangannya, dan sampai saat itu benar tiba ia menjalani setiap harinya tanpa sang suami. Kini rasa takutnya semakin besar melihat sosok Rama yang tumbuh mewarisi sikap serakah dari papanya yang sewaktu - waktu bisa meninggalkannya juga.
24 jam telah berlalu, sang rembulan telah tergantikan dengan sang mentari pagi menghiasi langit biru.
"Bagaimana kabar papa?"
"Baik. Aku jauh lebih baik melihat kalian berada disini heheh!" Terkekeh.
"Syukurlah anda baik - baik saja!" Ucap Nindia.
"Pa, besok perayaan perusahaan. Aku dan Nindia akan ke sana, dan setelah itu aku akan segera mengeluarkan papa dari tempat ini!"
"Heheheh,, papa bangga kepada mu!" kembali terkekeh.
Mereka memanfaatkan obrolan singkat itu untuk meluapkan kebahagiaan mereka, karena telah merasa sudah menjadi penguasa yang tak terkalahkan.
'
'
'
"Bagaimana? Kamu sudah siap untuk pulang ke rumah?" Tanya Leo berdiri di samping Aluna.
"Tentu, aku bahkan ingin pulang dari kemarin tapi kamu tidak mengizinkan!"
"Hehehe!" kompak.
'
"Nyonya, apa bisa pulang sekarang?" Sahut Kris memasuki ruangan.
"Kris?"
"Pak Arlan memerintahkan untuk menjemput anda!"
Aluna tidak menolak karena ia tahu Arlan melakukan demi memastikan keselamatannya juga anak-anaknya. Sedangkan Leo tidak berkomentar.
"Leo aku pamit!"
"Hati-hati, jika ada sesuatu hubungi aku!"
'
'
'
Aluna merebahkan tubuhnya di atas kasur kamarnya. Ia memandangi langi - langit mengulas senyum kecil, perasaanya jauh lebih bahagia saat ini. Ia merasa sebagai bebannya telah hilang.
"Ting!"
Aluna beranjak dari pembaringannya lalu membuka ponselnya saat mendengar notifikasi WhatsApp masuk.
"Sudah sampai rumah? Apa kamu merasa lelah?"
Aluna cukup terlonjak, setelah berbulan - bulan ini kali pertamanya ia berkomunikasi dengan Arlan lewat obrolan chat.
"Sudah, hanya sedikit kram pada kaki." Balasnya tersenyum kecil.
'
"Tok. Tok."
"Masuk bi!"
Aluna berbinar menatap makanan yang dibawa bi Inem juga segelas susu hamil.
"Non minum susunya ya! Bibi masih ada kerjaan."
"Terima kasih bi."
Aluna meneguk susunya seraya kembali melihat obrolannya bersama Arlan.
"Istirahatlah, jangan lupa makan!"
"Cekrek!"
'
'
'
Arlan mengulas senyum membuka foto segelas susu yang dikirim oleh Aluna.
"Baiklah, jika butuh sesuatu segera beritahu! Jangan lupa kotaknya di buka!"
Arlan merebahkan tubuhnya di kasur. Rasanya canggung memulai obrolan setelah sekian lama, meski ia tidak tahu apa hubungan mereka bisa kembali seperti semula tapi baginya dengan bisa berada didekat Aluna cukup membuatnya bahagia.
'
'
'
Aluna sedikit bingung dengan balasan chat Arlan. Perlahan mulai melirik sekitar, ia kembali mengerutkan dahi melihat kotak berwarna merah maron berada di atas meja riasnya.
Tatapannya binar mengulas senyum kecil saat melihat sebuah gaun cantik. Ia menempelkan gaun itu ke badannya sambil melihat pantulan tubuhnya di cermin. Gaun itu sengaja Arlan berikan untuk ia kenakan di hari perayaan perusahaan besok.
Arlan tidak memberitahu banyak tentang apa yang akan ia lakukan besok selain memintanya datang tepat waktu dan Aluna juga tidak banyak bertanya.
'
'
'
Hari itu, tepat hari perayaan PT. PERKASA WIJAYA yang ke 35. Pesta besar - besaran perusahaan nomor 1 yang bergerak di bidang konstruksi itu telah diselenggarakan di salah satu hotel bintang lima.
Jejeran pengusaha ternama datang memenuhi undangan baik dalam negeri maupun kolega bisnis dari luar negeri, juga beberapa kerabat lainnya.
Dari sekian banyak orang yang berbahagia dalam pesta itu, Rama-lah yang paling berbahagia bersama Nindia. Rasa bangga dan kemenangan ia sorakan dalam hati.
Dengan bangganya Rama menjabat dan menyapa para tamu itu. Senyum bahagia terus ia pancarkan sambil berbincang dengan mereka.
Edward dan Kris sudah berada di tengah mereka, begitu juga dengan nyonya Wijaya dan bibi Meryam. Sementara tuan Wijaya tidak hadir saat itu, Arlan tidak ingin ambil resiko jika terjadi sesuatu di pesta nanti dan tuan Wijaya pun menuruti permintaan sang putra saat Arlan kembali menemuinya semalam.
"Selamat yah pak Rama anda sekarang menjadi CEO!"
"Wah pak Rama anda benar - benar hebat bisa memimpin perusahaan sebesar ini!"
"Hehehe, terima kasih!" Balasnya terkekeh.
Dengan PDnya Nindia pun turut mendampingi Rama. Bahkan ia telah merasa saat ini dirinya sudah menjadi nyonya CEO sesungguhnya.
"Selamat siang semuanya, pertama - tama saya mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang berkenaan menghadiri pesta ini!"
"Cekrek!"
"Cekrek!"
Pesta itu telah di hadiri beberapa media dan meliput secara live selama acara berlangsung.
"Saya Rama Redan Wijaya selaku CEO, merasa bangga akan suksesnya acara ini dan semoga setelah perayaan ini perusahaan semakin maju dan kembali menjalin kerja sama yang lebih luas. Terima kasih!"
"PROK. PROK. PROK."
Gemuruh tepukan menghiasi seluruh ruangan semakin membuat Rama berbangga diri.
"Ceklek!"
Pintu ruangan terbuka, sontak semua mata tertuju dan tidak sedikit dari mereka yang terkejut melihat sosok yang berjalan di atas red karpet itu.
"Tak."
'
"Tak."
'
"Tak."
Bersambung...