IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
58. Taktik



Ke 5 tawanan itu membulatkan mata melihat sosok yang berpakaian serba hitam tegap berdiri di depan pintu. Ia tidak bersuara, namaun aura yang dipancarkan sangat kuat mendominasi hingga mencekam. Bahkan wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup Hoodie yang ia gunakan.


"Ampuni kami!"


"Kami haus dan lapar!"


"Tolong kasihani kami!"


Mereka bergantian memohon pengampunan dan meminta makan. Namun laki - laki itu tidak menjawab.


Sinar matahari semakin tinggi hingga menembus celah jendela kecil sedikit menyinari ruangan. Perlahan laki - laki itu membuka penutup kepalanya dan memperlihatkan wajahnya. Sontak saja ke 5 tawanan itu kembali terlonjak melihat sosok Arlan, meski terlihat samar namun masih bisa mereka kenali.


"Akh, pak Arlan?" Batin mereka.


Arlan semakin mendekat membuat mereka ketakutan. terlebih melihat tatapan Arlan tajam dan dingin.


"Akh!"


Ringis salah satu tawanan itu saat Arlan mencengkram kuat wajahnya.


"Katakan, siapa yang memerintahkan mu untuk menyabotase konferensi pers beberapa bulan lalu?! Dan siapa yang ada dibalik kasus tabrak lari Aluna?" Tanyanya dingin.


Namun laki - laki itu tidak menjawab, ia mengatupkan giginya menutup mulut.


"AKH!"


Ia kembali meringis saat Arlan semakin menekan wajahnya. Ia semakin masam meremas kuat tulang pipi tawanannya hingga membuatnya kesakitan dan sesak. Sontak 4 orang lainnya bergetar.


Laki - laki itu tidak lain salah satu anggota gangster Rama, yang beberapa bulan lalu Nindia dan ibunya bayar untuk menyabotase konferensi pers, menyebar foto pernikahan Arlan dan Nindia juga menabrak Aluna malam itu bersama dengan temannya yang bertato bintang sebagai backingan Rama.


Jadi, saat Edward dan Kris menggerebek mereka malam itu, semuanya dinyatakan tewas karena telah menelan pil beracun. Mereka sengaja melaporkan kematian mereka untuk membuat salah satu anggota yang berhasil lolos mempercayai berita itu.


Namun, mereka lupa dengan sosok Edward yang sudah sering menangani kasus serupa. Edward sudah memperkirakan kemungkinan yang terjadi, jadi diam - diam Edward sudah memiliki penawar racun. Hanya saja saat itu, kondisi laki - laki suruhan Nindia terlalu lemah sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih. Sedangkan Arlan juga yang terluka akibat kecelakaan membuat Edward dan Kris menahannya lebih lama karena mereka menunggu kondisi Arlan pulih.


_FLASH BACK CHP 41_


"Pak mereka semua mati!" Sahut salah satunya.


"Mati? Kok bisa sih?" Tanya Edward berlari menghampiri mereka begitu juga dengan Kris.


"Pak lihat mulut mereka,,," Sahut salah satunya perlahan memegangi wajah kawanan gangster itu dengan mulut berbusa.


"Jangan!" Cegat Edward sontak membuatnya menarik tangan.


"Sepertinya mereka sengaja bunuh diri dengan meminum pil beracun!" Sahut Edward.


Di saat semuanya mengamati mayat - mayat itu. Ada satu orang yang ternyata berhasil lolos, dia segera berlari setelah mendengar seluruh kawanannya meninggal.


"Dia kabur!" Bisik Kris.


"Biarkan saja! Yang lain sudah menunggu untuk mengikutinya!"


Balas Edward, tanpa diketahui oleh orang itu kalau bawahan Arlan sudah tersebar. Dan tujuan utama mereka adalah menemukan ketua yang sebenarnya!


"Bawa orang ini ke mobil dan segera berikan obat penawar sebelum terlambat! Kondisinya melemah." Seru Edward setelah keadaan aman.


_FLASH BACK END_


Mereka tidak ingin bertindak tanpa perintah Arlan. Singkatnya, saat kejadian kecelakaan, keadaan sangat gelap, namun saat mobil Arlan terperosok, ia berhasil melompat keluar dan beruntung tubuhnya tersangkut di pohon. Edward, Kris dan yang lainnya berhasil menemukan Arlan setelah 4 jam pencarian, beruntung kondisinya masih sadar namun lemah. Edward dan Kris sepakat untuk menyembunyikan atas perintah Arlan sendiri.


'


"CEPAT KATAKAN!" Bentak Arlan.


Laki - laki itu baru saja pulih dan masih sedikit lemah, tubuhnya bergetar dipenuhi keringat dingin. Ia tidak punya kekuatan untuk melawan, tidak ada jalan lain selain mengakui perbuatannya.


"Nyo,, Nyonya Nindia dan ibunya pak!"


Arlan memicingkan mata dan bergetar.


"Mereka membayar untuk menyebarkan rumor pernikahan juga membunuh nyonya Aluna!"


"DUG!"


Kedua mata Arlan berkaca - kaca. Nindia dan ibunya nyaris membuatnya kehilangan Aluna, bahkan sebelum ia mengetahui keberadaan anak dalam kandungan Aluna.


"HAAA,,, BUG! BUG!"


Arlan memukul wajah laki - laki itu membabi buta hingga membuatnya tersungkur dan pingsan.


Arlan berbalik melirik tajam 4 orang lainnya. Mereka adalah kepala mandor, arsitek dan kedua karyawan yang dinyatakan tewas saat terjadi kasus keruntuhan di proyek.


Malam penggerebekan markas, Edward dan Kris berhasil menemukan mereka di sana dan membawanya secara diam - diam. Sedangkan Rama, ia mengira jika mereka semua telah mati karena mendapat laporan kematian mereka.


Sejak kejadian malam itu, Rama belum pernah mengunjungi markas dan menghentikan aktivitas kelompok mereka untuk sementara waktu. Namun tanpa ia ketahui, Edward sudah mengantongi beberapa anggotanya yang masih aktif, hanya menunggu waktu saja untuk meringkus mereka.


"Kalian akan membayar semua perbuatan kalian!" Ucapnya dingin.


'


"Pak? Pak Edward datang menemui bapak!" Ucap bawahannya.


Arlan berbalik, "Pastikan rekaman bukti pengakuan mereka tersimpan dengan baik! Lalu segera bawa ke kantor polisi, jangan biarkan Rama mengetahuinya!" Serunya sebelum menaiki tangga.


'


'


'


"Kak bagaimana keadaanmu?"


"Baik. Apa kalian mengalami kesulitan?"


"Semuanya berjalan lancar, oh yah paman sudah sadar!"


Tatapan Arlan berbinar mendengar berita itu. "Apa dia baik - baik saja?"


"Iya. Apa kakak tidak ingin mengabarinya? Dia sudah cukup bersedih memikirkan kakak! Sedangkan bibi masih terus menangis setiap mengingat kakak."


"Belum saatnya!" Menggeleng kecil.


"Bagaimana dengan Aluna?"


"Dia baik - baik saja. Bayinya sehat ada dokter Leo yang selalu menjaganya!" Ucap Edward mengulas senyum.


Namun Arlan menatapnya dengan wajah datar, sontak membuat Kris yang berdiri di belakang melototi Edward. Edward baru menyadari kesalahannya.


"E, maksudku Leo adalah dokter Aluna yang selalu memastikan kesehatan mereka dan memberikan konseling!" Tersenyum kecut.


Untungnya pikiran Arlan dapat teralihkan merasa tertarik dengan informasi Kris.


"Kalian tetap masuk kantor seperti biasa, jangan biarkan Rama mencurigai, dan bukti - bukti itu serahkan kepada polisi secara diam - diam! Dan jangan lupa daftar nama - nama pebisnis ilegal itu laporkan secara terpisah, aku tidak ingin kasus mereka berkaitan dengan perusahaan kita!"


"Baik pak!"


"Lalu bagaimana dengan nyonya Nindia dan Ibunya?"


"Lakukan seperti kemarin seperti keinginan Aluna!"


Kris telah memberitahu kepada Arlan jika Aluna ingin memberi sedikit terapi syok untuk keseharian Nindia. Itu sebabnya Arlan diam - diam memerintahkan salah satu bawahannya untuk meneror mereka. Sementara Aluna, ia mengira jika teror - teror itu dilakukan oleh Kris atas perintahnya. Tentu saja Arlan tidak ingin melibatkan Aluna dalam hal berbahaya, jadi mengutus bawahnya yang lain.


'


'


'


Malam itu, meski Arlan mengatakan tidak ingin melihat papanya. Namun hatinya tidak bisa berbohong, diam - diam ia menyelinap ke ruang rawat inap.


Ia berdiri memandangi kedua orang tuanya. Nyonya Wijaya yang kehilangan berat badannya terlihat malang berbaring di sofa, selama tuan Wijaya sakit ia tidak pernah meninggalkannya. Arlan merapikan selimut untuk mamanya itu.


Lalu mendekati tuan Wijaya yang terlelap. Meski alat bantu pernapasan sudah dilepas, tapi wajahnya masih terlihat sedikit pucat. Arlan menyelimuti papanya dengan mata berkaca - kaca.


"Maaf aku belum bisa kembali!" Lirihnya lalu berbalik meninggalkan ruangan.


Perlahan tuan Wijaya membuka mata memandang pintu. Ia mengulas senyum kecil, tatapannya binar melihat sang putra semata wayangnya masih baik - baik saja.


Setelah melihat kondisi papa dan mamanya, Arlan menghentikan mobilnya di depan rumah Aluna. Dari dalam mobil ia memandangi kamar lantai 2, lampunya masih menyala, itu artinya Aluna belum tidur.


Arlan melirik jam tangannya, 21 : 30 malam hari.


"Jam segini masih menggambar."


Gumamnya mengulas senyum, memancarkan ketampanannya yang tidak pernah kurang sepeserpun.


"BROM,,, BRROMMM,,,"


Di dalam kamar, Aluna yang baru saja menyelesaikan gambarnya sedikit mengerutkan dahi mendengar suara mobil yang baru saja melewatinya. Bahkan anak dalam kandungannya menendang membuatnya menunduk mengelus kecil perutnya, seraya mengulas senyum kecil membahagiakan.


Aluna mematikan lampu utama kamarnya, lalu berbaring di atas kasur bersiap menikmati tidurnya yang nyenyak menuju alam mimpi yang indah.


'


'


'


"Bu. Aku tidak terima dengan perlakuan Aluna yang semakin berani. Dan aku yakin teror ini diberikan olehnya!" Ketus Nindia saat berada di kamarnya.


"Teror?"


"Iya, aku yakin dia pelakunya. Memangnya ada orang lain musuh kita? Tidak adakan?" beranjak dari duduknya.


"Kamu benar, kalau begitu kita harus memberikan pelajaran kepadanya!"


"Tapi Bu,,"


"Kamu tidak perlu khawatir, Arlan sudah tidak ada. Tuan Wijaya terbaring lemah dan Nyonya Wijaya setiap hari hanya menemaninya. Sementara Edward dan Kris sibuk di perusahaan. Tidak ada lagi yang akan bisa menolongnya!"


"Ibu benar, lalu apa rencana ibu?"


'


Dari balik pintu yang tidak tertutup rapat itu, bibi Meryam membulatkan mata mendengar percakapan mereka. Tubuhnya bergetar, hanya mampu membekap mulutnya agar tidak bersuara, lalu perlahan memundurkan langkahnya meninggalkan ruangan itu.


'


'


'


_QUEEN JEWELRY GROUP_


Pagi itu, Aluna bersama Helen kembali menjalani aktivitas sebagai desainer. Kedua sahabat itu berjalan ringan menuju lobi memancarkan aura positif dan terlihat manis.


Aluna mengulas senyum membalas setiap karyawan yang menyapanya. Kebetulan hari itu akan menemui salah satu kliennya, sementara Helen sendiri akan tinggal menyelesaikan gambarnya untuk beberapa klien.


Aluna hanya mampir untuk mengambil beberapa gambar untuk diperlihatkan kepada kliennya nanti.


"Ting!"


Aluna merogoh ponselnya membuka notifikasi chat WhatsApp.


"Apa hari ini kamu sibuk? Ayo makan siang bersama!"


"Aku akan menemui klien, mungkin akan memakan waktu lama."


"Baiklah, makan siangnya ditunda sampai waktu telah ditentukan!" 🤸


Aluna mengulas senyum membaca chat Leo.


_PT. PERKASA WIJAYA_


Hari itu Rama kembali memimpin rapat akhir bulan, mereka membahas laporan bulanan juga kemajuan proyek FAMILY RESIDENCE. Rama tidak lagi mengganggu proyek itu sebagai bentuk pencitraan, namun ia merencanakan kerja sama dengan beberapa kolega bisnis ilegal.


Sedangkan Edward terlihat tenang mendengar setiap penjelasan dari Rama. Rapat berlangsung sekitar 1 jam dan berjalan lancar.


'


"Pak Rama?" Panggil Edward sopan karena berada dalam gedung perusahaan.


"Ada Apa?"


"Ada berkas yang harus ditanda tangani."


"Mendesak?"


"Tidak terlalu."


"Kalau begitu kamu bisa titip kepada staf, aku harus keluar sebentar."


"Baik!"


Rama menepuk kecil bahu Edward sebelum melangkah. Sedangkan Edward sendiri sudah mengetahui jika ia akan menemui kliennya untuk membahas kerja sama. Edward kembali mengikuti Rama untuk memastikan pembatalan kerja sama mereka.


Bersambung...