
Sinar mentari kembali memancarkan sinarnya yang hangat menggantikan cahaya sang rembulan yang indah. Bintang kecil yang selalu menemani langit malam tergantikan awan putih menghiasi langit biru.
_RUMAH SAKIT KASIH IBU_
Hari itu Aluna datang untuk ikut kelas, langkahnya yang ringan menyusuri lorong rumah sakit lantai satu menuju ruangan khusus pelaksanaan kelas ibu hamil. Diruang itu terbagi beberapa ruangan dan mereka dibagi sesuai dengan umur kehamilan masing - masing.
Pada umumnya ibu hamil yang mengikuti kelas ditemani sang suami tercinta, namun tidak dengan Aluna yang hanya datang dengan seorang diri.
"Tok,, Tok,, Tok,,"
Aluna mengetuk kecil ruangan, sontak membuat laki - laki dengan senyuman menawan menyambutnya. Siapa lagi kalau bukan dokter Leo, walau saat itu ia hanya mengenakan kaos oblong berwarna biru langit dipadukan dengan celana training abu - abu basah tetap saja terlihat menawan.
"Aluna?" Sahut Leo menghampiri.
"Aku tidak telat kan?" Tanya Aluna saat melihat ruangan yang sudah mulai ramai dan Leo pun menggeleng kecil.
"Oh yah kenalkan ini namanya bidan Arianti. Beliau ini menjadi instruktur yoga dan senam hamil di rumah sakit ini dan sudah bersertifikat, jadi dijamin gerakan dan ilmunya terupdate juga tidak membahayakan!" Jelas Leo saat bidan Arianti menghampiri mereka.
"Salam kenal Aluna!" Sahut bidan Arianti mengulurkan tangan mengulas senyum.
"Salam kenal!" Balas Aluna menjabat tangan bidan Arianti mengulas senyum.
Hari itu Aluna menggenakan kaos oblong over size berwarna pick dipadukan leging hitam. Rambutnya dicepol terlihat sederhana namu tetap saja memancarkan kecantikan alami dengan kulitnya yang putih bersih.
Hari itu Aluna mengikuti kelas yoga, karena mengingat selama ini dia melewati cukup banyak masalah sehingga membuatnya dalam tekanan batin dan beban yang berlebihan, jadi Leo menyarankan terlebih dahulu mengikuti yoga sebagai relaksasi.
Setiap pelaksanaan kelas yoga, sebelum masuk pada gerakan relaksasi biasanya akan di dahului dengan beberapa materi dasar terutama bagi pemula agar mereka memiliki pemahaman mengenai arti dan tujuan yoga. Sehingga mereka dapat mendalami dan memahami setiap gerakan bukan hanya sekedar mengikuti instruksi semata.
Setiap kelas hanya berisi 10 - 15 peserta agar efektif. Dan pada hari itu kebetulan hanya ada 10 ibu hamil, usia kehamilan mereka memasuki trimester 2 dan di dampingi oleh suami masing - masing terkecuali Aluna yang duduk di barisan belakang.
Jujur saja Aluna merasa sedikit minder melihat mereka, rautnya sedikit sendu saat berada diantara mereka. Aluna melirik ibu hamil di samping kanannya yang di temani sang suami, terlihat sedang mengelus perut istrinya yang terlihat sebesar ukuran perut Aluna.
Sontak saja ada rasa iri juga sedih menyelimuti, Aluna perlahan mengalihkan pandangannya ke kiri dan tidak sengaja bertatap dengan Leo yang sedang duduk di pojok sedari tadi memperhatikannya.
"Fighting!" Sahut Leo berbisik mengepalkan tangan kanannya memberikan semangat, dan hanya didengar oleh Aluna.
Aluna mengangguk mengulas senyum kecil, sementara Leo? Jangan ditanya lagi, dia telah memperlihatkan semua barisan gigi depannya melebarkan senyuman menawan khasnya.
"Ibu - ibu sebelum kita memulai, terlebih dahulu saya akan memberikan materi singkat terkait yoga yang akan kita lakukan!" Sahut bidan Arianti berdiri di depan para peserta kelas.
"Perlu ibu dan bapak ketahui, yoga memiliki beberapa manfaat. seperti melancarkan sirkulasi darah, meningkatkan kualitas tidur, mengurangi stress dan kecemasan, mengurangi keluhan selama masa kehamilan serta mengurangi resiko terjadinya komplikasi!" Jelas bidan Arianti.
'
'
'
Diruang kelas lain yang hanya terpisahkan dinding kaca dari ruangan tempat Aluna. Tampak Nindia didampingi oleh Arlan juga sedang mengikuti kelas. Karena semua dinding dibalut wallpaper sehingga baik Aluna, Arlan maupun Nindia tidak saling melihat.
Hari itu Nindia mengenakan tank top berwarna merah dipadukan dengan legging hitam, sedangkan Arlan memakai training kaos sepasang berwarna coklat, aura tampan dengan wajah datarnya tidak berkurang sedikit pun. Bahkan beberapa peserta memuji ketampanannya.
"Wah suami ibu tampan sekali, pasti anaknya juga tampan!" Sahu ibu hamil yang berada di sampingnya.
"Iya ya, jadi pengen nanti pas anak aku lahir bisa setampan dia!" Sambung ibu hamil yang lain.
"Ibu,,!" Tegur suami ibu itu sedikit tidak suka dengan perkataan istrinya alias minder.
Arlan sontak sedikit terkejut dan merasa tidak enak dengan mereka . Tapi bukan Arlan namanya kalau tiba - tiba memancarkan wajah manis jika dipuji. Yang ada dia tetap memasang wajah datarnya tanpa melirik agar tetap terlihat cool meskipun dalam hati sedikit malu.
"Terima kasih ibu - ibu, suami saya memang sangat tampan!" Balas Nindia dengan wajah pamer melingkarkan tangannya ke lengan kanan suaminya.
'
'
'
Kembali ke ruangan tempat Aluna. Saat ini Aluna terlihat sedang melakukan meditasi.
"Ibu - ibu tolong ikuti saya duduk dengan posisi tegap, letaknya kedua tangannya di atas paha perlahan pejamkan mata. Bapak - bapak tolong ikut juga yah agar istri - istri anda lebih semangat jika kalian melakukannya secara bersama!" Ucap bidan Arianti.
para pasangan itupun duduk tenang saling berhadapan dengan satu sama lain, sementara Aluna yang berada di barisan paling belakang terlihat duduk sendiri tanpa pasangan, namun tidak membuatnya patah semangat.
"Tarik napas perlahan lalu hembuskan, lakukan secara berulang! Fokuskan perasaan dan pikiran anda!"
"Buang semua pikiran negatif, hilangkan semua beban, rileks-kan tubuh dan pikiran. Rasakan ketenangan ini, nikmati setiap keheningan yang perlahan membawa anda pada tempat yang ternyaman! Nikmati hembusan angin yang sejuk, udara yang segar!"
'
'
'
Perlahan Aluna merasa seperti memasuki sebuah lorong panjang, yang terus mendorongnya semakin menjauh sampai pada suatu tempat dimana hanya ada dirinya yang sedang duduk menikmati hamparan warna hijau rerumputan dan beberapa pohon yang rindang, udara yang terhirup sangat segar, seperti ada suara tetesan air yang jernih menghiasi.
"test!"
"test!"
"test!"
suara jernih itu berpadu dalam hembusan angin sejuk yang membelai lembut wajahnya, semerbak aroma lavender menghiasi membangkitkan energi positif sehingga seperti berada dipuncak kehangatan.
Aluna terus memejamkan matanya menikmati kesejukan itu selama kurang lebih 15 menit, dan selama itu juga Leo memandangi wajah cantik yang terlihat tenang itu. Tidak dipungkiri Leo cukup terpikat melihat sosoknya yang cantik dan lembut.
'
'
'
Hanya saja saat itu mereka bukan dengan posisi berhadapan, melainkan dengan saling membelakangi namun saling merapatkan punggung satu sama lain. Gerakan itu terus dilakukan selama kurang lebih 10 - 15 menit.
Berada di gedung yang sama, dengan mengandung anak dari calon ayah yang sama, tidak membuat keduanya mendapat perlakuan yang sama. Nindia terlihat menikmati dengan di dampingi suami yang ia cintai, sementara Aluna harus menguatkan hati menikmati yoga seorang diri.
'
'
'
Setelah beberapa menit, kelas pun selesai.
"Dia cukup cantik, walau sedang hamil!" Sahut bidan Arianti berdiri di samping Leo, memandangi Aluna yang terlihat sedang mengobrol ringan dengan ibu hamil di sampingnya.
Leo pun hanya mengulas senyum mendengar perkataan itu. Kemudian bidan Arianti meninggalkan ruangan itu.
"Aku harus ganti pakaian dulu!" Sahut Aluna kepada Leo dan Leo pun mengangguk.
'
'
'
_QUEEN JEWELRY GROUP_
"Halo,, bagaimana kelasnya sudah selesai?" Tanya Helen saat menelpon Aluna.
"Sudah, kamu tidak perlu menjemputku!" Balas Aluna dalam telepon.
"Kamu yakin?" Tanya Helen memastikan.
"Iya, ada Leo yang akan mengantarku!" Balasnya sontak membuat Helen membulatkan mata, Aluna menolak tawarannya karena Leo. Bahkan pagi itu dia hanya menyebut Leo bukan dokter Leo.
"Hem,, panggilnya Leo yah bukan dokter Leo lagi!" Balas Helen menggoda.
"Helen,, jangan berpikir yang berlebihan!"
"Ok. Ok."
'
'
'
Saat ini Aluna berjalan ringan kembali menuju tempat Leo menunggunya setelah mengganti pakaiannya, sambil berbicara dengan Helen ditelepon. "Ya sudah aku tu,,,"
"BRUK!" Akh" Aluna meringis saat merasakan bahunya menabrak orang yang sedang berjalan berpapas dengannya, sampai menjatuhkan ponsel bersama dengan tasnya.
'
'
'
"Tuutt,, tuutt,, tuutt,,"
Sontak Helen mengerutkan dahi saat tiba - tiba sambungan telpon terputus.
"Kok dimatiin sih?" Gumam Helen menatap layar ponselnya, namun ia tidak terlalu memikirkan, ia pun menyimpan ponsel di atas meja lalu kembali melanjutkan gambarnya.
'
'
'
"Maaf mba saya tidak sengaja!" Sahut wanita itu sambil memungut isi tas Aluna yang sedikit berantakan.
"Tidak pa,,,,pa,!" Balas Aluna sontak membulatkan mata saat ia melihat Nindia yang berada di depannya berjongkok memungut isi tasnya.
Begitu juga dengan Nindia yang tidak kalah terkejutnya saat mendongak menatap Aluna.
"Aluna / Nindia" kompak menyebut nama satu sama lain.
"DUG! DUG! DUG!"
Sontak detakan jantung keduanya saling memburu, Aluna merasa tubuhnya bergetar saat Nindia memegang kartu member peserta kelas, begitu juga dengan Nindia yang terkejut membaca nama yang tertera pada secarik kertas di tangannya.
Nindia bergetar memandangi kertas itu, berulang kali ia baca nama yang tertulis berharap ada satu huruf saja yang salah! Namun, tetap saja berapa kali pun ia membacanya hasilnya sama saja "Aluna Sagita Putri!"
Wajah Aluna memucat, tenggorokannya tercekat saat itu juga.
Nindia berdiri menatap Aluna yang mematung, "Aluna apa be,,nar ka,,mu hamil?" Tanya Nindia mengangkat kertas ditangannya sambil mengamati bentuk tubuhnya Aluna yang memang sudah jelas terlihat hamil.
Aluna tidak menjawab, masih berdiri menatap kertas ditangan Nindia.
Bersambung,,,