I'M Your'S Doctor

I'M Your'S Doctor
BAB 72



Sepulang dari kampus, Yiwa memutuskan untuk melakukan Yoga, perut nya yang semakin membuncit membuat nya berjaga-jaga, karena Yiwa berharap ia bisa melahirkan secara normal.



Arya yang sudah selesai dinas, memutuskan untuk pulang lebih awal, Arya ingin membahas masalah Randy dengan Yiwa, karena bagaimana pun Arya bisa mengerti perasaan sahabat nya itu.


Setelah selesai Yoga, Yiwa pun langsung mengganti tanktop nya yang sudah basah oleh keringat, mendengar suara mobil Arya, Yiwa pun memastikan dari pintu kaca nya, karena tidak biasa nya Arya pulang se awal ini.



Melihat Yiwa yang berdiri di belakang kaca, Arya pun melarang nya untuk keluar, dan menyuruh Yiwa untuk menunggu nya di dalam, setelah melihat tubuh sexy Yiwa, membuat Arya selalu tergoda dengan cepat Arya pun langsung memeluk istri bohay nya itu.


" Apa yang kamu lakukan sayang?" tanya Arya sabil memeluk tubuh Yiwa dari belakang.


" Aku baru selesai Yoga mas, mas kok sudah pulang, kenapa.?"


" Kerjaan mas sudah selesai, dan mas memang sengaja ingin cepat pulang, soal nya mas sudah sangat merindukan kamu." jawab Arya menggoda.


" Sayang, serius." rengek Yiwa manja.


" Iya sayang, ayo sini duduk, ada sesuatu yang ingin mas bahas dengan kamu." ucap Arya sambil menuntun tangan Yiwa untuk duduk di sofa.


" Mas ingin bahas apa.?, kayak nya penting banget." tanya Yiwa penasaran.


" Pertama mas ingin ngasih tau soal dr Clara, kamu masih ingat dia gak sayang.!" tanya Arya lembut.


" dr genit itu, ingat lah, bagaimana bisa aku melupakan wanita yang ingin menggoda suami ku." jawab Yiwa sambil mengelus wajah tampan Arya.


" Tapi mas kan sama sekali gak pernah tergoda sayang.!"


" Iya aku tau, dan aku percaya dengan mas, terus apa yang terjadi dengan dia mas, kok mas panik begini."


" Dr Clara pindah dinas ke rumah sakit yang sama dengan mas, mas takut kamu salah paham." jawab Arya menjelaskan.


" Ya ampun sayang, aku pikir ada sesuatu besar yang terjadi, rupa nya hanya itu saja, mas tidak usah takut, selagi mas bisa menjaga kepercayaan aku, aku tidak akan pernah curiga atau menuduh mas yang macam-macam, aku tidak se egois itu sayang, godaan di setiap pekerjaan itu pasti ada, dan aku mau kita berdua selalu bisa untuk jujur dalam hal apa pun itu." jawaban Yiwa seakan menyejukkan hati Arya.


" Mas sangat bangga dan sangat mencintai kamu sayang, terimakasih kamu sudah mengerti dengan mas."


" Iya sayang, itu sudah kewajiban aku untuk mengerti dengan mas."


" satu lagi sayang, tadi Randy ke rumah sakit ketemu mas, dia baru tiba di Jakarta, dan Randy ingin melihat Indah dan Bayi nya, cuman kamu tahu sendiri Indah pasti tidak menerima nya, dan mas harap kamu bisa membantu Randy untuk bicara dengan Indah." sambung Arya, dan Yiwa pun langsung bisa mengerti.


" Iya sayang besok aku coba bicara dengan Indah ya, mudah-mudahan Indah bisa mengijinkan mas Randy ketemu anak nya."


" Mas harap juga begitu sayang. oh iya bagaimana dengan kuliah kamu, apa semua lancar." tanya Arya yang selalu memperdulikan tentang semua kegiatan yang di lakukan Yiwa.


" Alhamdulillah sejauh ini semua lancar sayang, kalau tidak ada halangan mungkin minggu depan acara wisuda nya, aku tidak menyangka kita sudah sejauh ini, terimakasih karena mas sudah sangat peduli dengan ku dan selalu mendukung kegiatan ku."


" Oh iya mas aku ada sesuatu." ucap Yiwa, membuat Arya merasa penasaran.


" Apa itu sayang.?"


" Tunggu sebentar aku ambil kan dulu." ucap Yiwa lalu pergi mengambil sebuah gulungan kertas dari meja belajar nya. lalu memberikan untuk Arya.


" Apa ini sayang.?"


" Mas buka dong, mas akan tahu apa isi nya." ucap Yiwa dan Arya pun langsung membuka golongan kertas itu, betapa terkejut nya Arya melihat sebuah gambar rumah yang sangat indah.


" Wow, ini indah sekali, ini desain kamu sayang.?" tanya Arya yang merasa kagum.


" Iya mas, menurut mas gimana.?"


" Ini indah sayang, serius, mas tidak percaya istri mas bisa mendesain sebagus ini." ucap Arya memuji.


" Sebenar nya ini rumah impian aku dari dulu mas, cuman belum tau kapan akan terwujud." ucap Yiwa, membuat Arya sedih, karena Yiwa tidak langsung meminta kepada nya.


" Sayang, kamu anggap mas ini apa sih. kan mas sudah bilang, apa pun yang kamu ingin kan kamu tinggal bilang, mas tidak suka melihat kamu begini, itu sama saja kamu tidak mengannggap mas." ucap Arya kecewa, namun Yiwa sama sekali tidak bermaksud seperti itu.


" Sayang aku tidak bermaksud begitu, aku menginginkan rumah ini jadi dari hasil keringat aku sendiri, aku tidak ingin menyusahin mas." sambung Yiwa yang justru semakin membuat Arya kecewa.


" Mas ngerti, ya sudah lah, mungkin kamu memang tidak mengganggap mas. mudah-mudahan keinginan kamu bisa tercapai." jawab Arya lalu pergi meninggalkan Yiwa. Yiwa sungguh sangat merasa bingung dan bersalah, mungkin tidak seharus nya ia harus berkata seperti itu.


dengan cepat Yiwa pun menyusul Arya yang pergi menuju kamar, Yiwa sama sekali tidak ingin berdebat dengan Arya, apa lagi harus saling diam karena salah paham.


" Mas tunggu." panggil Yiwa, dan Arya sama sekali tidak tega untuk menghiraukan nya.


" Kenapa sayang." jawab Arya lembut, walau pun ia merasa kecewa.


" Aku minta maaf, aku tidak bermaksud menyakiti hati mas, jangan marah ya, aku tau mas kecewa." ucap Yiwa, sambil menggenggam tangan Arya.


" Mas gak marah kok, mungkin kamu tidak menginginkan mas untuk membantu membangun rumah impian kamu." jawab Arya yang masih terkesan kecewa.


"Sayang bukan seperti itu. kenapa mas tidak bisa mengerti." sambung Yiwa yang mulai terpancing emosi, padahal biasa nya Yiwa selalu bisa bersikap sabar, namun bawaan baby nya semakin mudah membuat ia merasa kesal.


" kamu tidak usah marah sayang, kamu bisa bicara baik-baik. mas bisa dengar walau pun kamu berbisik." ucap Arya yang merasa terkejut mendengar nada suara Yiwa yang mulai tinggi.


" Aku minta maaf mas, aku tidak bisa mengontrol diri."


" Ya sudah kamu istrahat dulu, tenang kan diri." ucap Arya. lalu pergi meninggalkan Yiwa.


" Mas mau kemana.?" tanya Yiwa kwatir.


" Ganti baju." jawab Arya singkat. dan Yiwa pun memutuskan untuk mengikuti Arya ke kamar, lalu membaringkan tubuh nya yang terasa pegal di atas ranjang.