I'M Your'S Doctor

I'M Your'S Doctor
BAB 62



Hari ini hari pertama Amel dan Yiwa untuk memulai magang mereka. melalui intruksi Randy, mereka pun berangkat menuju kantor perusahaan yang akan membimbing mereka selama disana.


Setiba nya disana, semua mata tertuju kepada mereka, kecantikan mereka berdua mampu mengalihkan seluruh pandangan karyawan yang bekerja disana. manager perusahaan itu pun langsung mengenalkan lalu mengantar mereka ke ruangan kerja yang akan mereka pakai selama magang disana.


Setelah berkenalan dengan seluruh karyawan, Amel dan Yiwa beserta pak Bambang selaku manger disana, langsung berangkat ke sebuah proyek yang di mandori oleh Krisna. Krisna juga merupakan seorang Arshitektur dari bangunan tersebut, selain tampan Krisna juga terkenal sebagai salah satu Arshitek yang cukup terkenal di kota itu, hasil gambar nya selalu bisa terjual mahal, dan selalu di cari oleh setiap perusahaan.


" Selamat pagi Krisna," ucap pak Bambang menyapa.


" Selamat pagi pak, apa yang bapak lakukan disini," tanya Krisna sopan.


" Saya kesini mengantar anak magang yang akan belajar dengan kamu." jawab pak Bambang, dan spontan mata Krisna pun langsung memandang Amel dan Yiwa.


" Perkenalkan ini Yiwa dan Ini Amel, saya harap kamu dapat membimbing mereka berdua dengan baik, agar mereka bisa seperti kamu kelak." sambung pak Bambang kembali, lalu menyerahkan Amel dan Yiwa untuk Krisna, dengan senang hati Krisna pun bersedia untuk membagi ilmu nya dengan Amel dan Yiwa.


Krisna pun mulai memperkenalkan diri, mata Amel seakan tidak bisa berkedip, melihat lelaki tampan yang sedang berada di hadapan nya. setelah itu, Krisna mengajak Amel dan Yiwa untuk berkeliling sekitar bangunan tersebut.


" Apa kalian benar-benar ingin menjadi seoarang Arshitek,?" tanya Krisna, sambil berjalan dan menunjukkan daerah-daerah bahaya disana.


" Iya pak," jawab Amel dan Yiwa serentak, membuat Krisna tertawa mendengar nya.


" Kalian tidak usah formal begitu, panggil Krisna saja, biar lebih akrab," ucap Krisna, namun tetap saja Amel dan Yiwa tidak nyaman untuk langsung memanggil nama.


" Kalau kami panggil dengan panggilan mas saja bagaimana?" tanya Amel semangat, dan Krisna pun lebih menyukai nya.


" Seperti nya itu lebih bagus." jawab Krisna dengan senyuman indah di bibir nya.


Setelah selesai berkeliling, mereka pun kembali ke kantor untuk makan siang.


Setelah makan siang, lagi-lagi mata Amel tidak berkedip melihat ketampanan Krisna yang sibuk di meja kerja nya, Amel tidak menyangka ia akan menemukan lelaki tampan di kota itu.



" Permisi Mas," ucap Amel menghampiri Krisna.


" Iya, silahkan masuk," jawab Krisna yang belum hafal nama Amel.


" Ini saya mau ngantar berkas yang mas minta," sambung Amel lalu memberikan sebuah map untuk Krisna.


" Ok terimakasih, ngomong-ngomong nama kamu siapa, saya sedikit lupa." tanya Krisna kembali


" Saya Amel mas," jawab Amel yang sudah sangat merasa malu.


" Ok Amel, Berkas teman kamu yang satu lagi dimana,?" tanya Krisna dan Amel pun menyusul Yiwa ke ruangan nya. setelah itu Yiwa pun langsung menghampiri Krisna.


" Permisi mas," ucap Yiwa sambil mengetuk pintu ruangan Krisna yang terbuka.


" Iya, silahkan masuk," jawab Krisna dengan sopan.


" Ini berkas saya yang mas minta," ucap Yiwa lalu memberikan map nya untuk Krisna.


" Nama kamu siapa?" tanya Krisna singkat.


" Saya Yiwa mas, " sambung Yiwa.


" Ok Yiwa, kamu bisa kembali ke ruangan kamu, jika kamu butuh sesuatu atau ingin menanyakan hal yang tidak kamu mengerti, kamu bisa bertanya dengan saya, jangan sungkan." ucap Krisna.


" Terimakasih mas," ucap Yiwa lalu pergi meninggalkan ruangan Krisna.


Setelah menghabiskan waktu seharian, Amel dan Yiwa pun bergegas untuk pulang. Krisna yang melihat mereka sedang berdiri di pinggir jalan, langsung memberhentikan mobil nya tepat di hadapan Amel dan Yiwa.


" Kalian pulang kemana?" tanya Krisna to the poin.


" Kami pulang ke (Menyebutkan nama penginapan mereka) Mas," jawab Amel semangat.


" Kebetulan saya juga tinggal disana, ayo naik kita pulang sama-sama," ajak Krisna membuat Amel bahagia, dan langsung menerima tawaran Krisna.


Selama di perjalanan, Amel dan Krisna pun menghabiskan waktu untuk bercerita, sedangkan Yiwa hanya bisa diam, ia tiba-tiba teringat dengan Arya dan berfikir siapa wanita yang lagi dekat dengan suami nya itu.


Tidak sengaja Krisna pun melihat Yiwa dari spion nya, dan Krisna pun mulai menggagumi kecantikan Yiwa.


" Gue ikut ya," ucap Amel memohon, namun Yiwa tidak mengijinkan nya.


" Lo disini saja, tempat mas Arya jauh, gue gak mau lo capek, dan seperti nya gue mingkin ijin untuk beberapa hari gue gak mau buat lo bolos magang gara-gara gue," jawab Yiwa dan Amel pun dapat menerima nya.


Setelah itu Yiwa pun langsung berangkat, menghabiskan waktu 7 jam tentu perjalanan yang cukup melelahkan untuk nya.


Karena berangkat pagi, Yiwa pun bisa sampai disana sore hari. seluruh badan nya terasa pegal, namun itu semua ia lakukan untuk Arya, namun saat menghirup udara yang begitu segar, serta hembusan angin yang sejuk dan sepoi-sepoi, seakan menjadi obat untuk rasa lelah nya, pemandangan disana seketika mengingat kan Yiwa ke kampung halaman nya yang juga sudah sangat ia rindukan.


" Jam segini mas Arya pasti masih di rumah sakit," ucap Yiwa dalam hati, lalu berjalan menyusuri perkampungan itu.


" Permisi, apa ibu mengenal lelaki ini," tanya Yiwa ke salah satu ibu-ibu yang ia jumpai disana.


" Oh tentu ibu kenal, dia dr Arya, dr baru yang sangat tampan disini," jawab ibu itu semangat.


" kalau boleh tau, dimana rumah sakit tempat dr Arya bekerja bu," tanya Yiwa kembali, dan ibu² itu pun memberi petunjuk untuk Yiwa.


Setelah berjalan cukup jauh, Yiwa pun akbir nya tiba di sebuah rumah sakit tempat Arya bekerja. Yiwa langsung berjalan menyusuri rumah sakit itu, dan seketika mata Yiwa langsung tertuju melihat Arya yang sedang duduk berdua di taman dengan dokter wanita lain nya, membuat hati nya perih, ingin rasa nya Yiwa pergi kembali, namun ia tidak punya banyak kesempatan, dengan hati tegar Yiwa pun menghampiri Arya dan Clara yang lagi duduk bersama.


Yiwa langsung berjalan dan berdiri tepat di hadapan Arya, mata Arya seakan tidak berkedip, Arya sangat merasa terkejut dan tidak percaya. ia tidak menyangka gadis yang kini ada di hadapan nya adalah gadis yang sudah sangat dan sangat ia rindukan.


Spontan Arya langsung berdiri, dan memeluk erat tubuh Yiwa. air mata nya seakan menjawab betapa bahagia nya, ia bisa bertemu dengan wanita pujaan hati nya itu, Yiwa yang juga sudah sangat merindukan Arya langsung memeluk Erat tubuh Arya, aroma tubuh Arya membuat Yiwa semakin mempererat pelukan nya.


Clara yang menyaksikan itu benar-benar cemburu, hati nya bagai teriris, namun ia selalu berusaha untuk tenang dan berpura-pura baik-baik saja.


" Yiwa, ini benaran kamu kan sayang, mas tidak lagi bermimpi kan," tanya Arya sambil mencubit wajah Yiwa.


" Tidak sayang, mas sedang tidak ber mimpi." jawab Yiwa bahagia, dan Arya pun kembali memeluk Yiwa dengan erat, Arya sama sekali tidak mengingat Clara yang sudah habis terbakar cemburu disana.


" Mas sangat merindukan kamu sayang, mas hampir gila karena selalu merindukan kamu," ucap Arya kembali.


" Aku juga sangat merindukan mas," jawab Yiwa sambil mencium aroma tubuh Arya yang sudah sangat ia rindukan.


" Bagaimana bisa kamu ada disini sayang. mas benar-benar belum percaya, kenapa kamu tidak ngabarin mas, mas bisa jemput kamu ke bandara, maaf kan mas membiarkan kamu kesini sendiri, harus nya mas yang nyusul kamu, bukan kamu." ucap Arya.


" Cerita nya panjang mas, nanti aku akan ceritain semua dengan mas," jawab Yiwa. dan Arya pun langsung menyadari keberadaan Clara.


" Oh ia sayang, perkenalkan ini dr Clara, dr Clara ini Yiwa istri saya." ucap Arya, dan Yiwa pun langsung mengulurkan tangan nya, setelah menunggu beberapa menit Clara pun baru menyambut tangan Yiwa, sesama perempuan Yiwa bisa melihat begitu jelas rasa cemburu yang susah payah Clara sembunyikan. dan Yiwa pun hanya bisa tersenyum tipis melihat Clara yang sudah berani untuk mencintai suami nya.


" Sayang, aku capek, badan aku pegal semua." ucap Yiwa manja, dan Yiwa pun berhasil membuat Clara cemburu.


" Ya sudah sayang, mas akan bawa kamu ke penginapan, agar kamu bisa istrahat." jawab Arya, sambil duduk berlutut di hadapan Yiwa.


" Aku mau di kusukin." sambung Yiwa kembali, dan Yiwa benar-benar puas melihat wajah Clara yang cemburu.


" Iya sayang, nanti malam mas akan kusukin kamu sampai tertidur," jawab Arya, Clara sama sekali tidak menduga Arya yang ia kenal tegas bisa berubah manja di hadapan Yiwa.


" Aku merindukan mas, " ucap Yiwa kembali dengan suara yang sangat manja, Arya benar-benar tidak tahan mendengar suara wanita pujaan nya itu.


" Sabar ya sayang, mas ambil barang mas dulu, setelah itu kita pulang." jawab Arya, lalu berlari ke ruangan nya untuk mengambil barang milik nya.


Kini tinggal Yiwa dan Clara di taman itu, Clara benar-benar sudah tidak tahan, harus menyaksikan kemesraan lelaki yang sudah sangat ia cintai dengan wanita yang sangat di cintai oleh Arya.


Clara pun bergegas untuk pergi, namun langkah nya di hentikan oleh Yiwa.


" Aku harap kamu tidak lupa bahwa mas Arya sudah menikah," ucap Yiwa menyindir.


" Maksud kamu apa?" tanya Clara pura-pura tidak mengerti.


" Mungkin mas Arya bisa kamu tipu, tali aku tidak, sekuat apa pun kamu menyembunyikan perasaan kamu untuk mas Arya aku bisa lihat, lebih baik kamu mundur, sebelum kamu merasa sakit hati yang lebih dalam. aku sudah peringat kan kamu, jika kamu mau dengar saran ku itu bagus untuk kamu, jika tidak itu resiko untuk kamu, karena mencintai lelalaki yang sudah ber istri itu merupakan tindakan yang tidak pantas." sambung Yiwa membuat Clara begitu merasa terpukul dan terhina, saat Clara ingin menjawab nya Arya pun langsung muncul di antara mereka.


" Dr Clara, saya ijin pulang terlebih dahulu ya, kasihan istri saya, dia butuh istrahat karena sudah melakukan perjalanan jauh." ucap Arya


" Ia dokter, saya akan mengurus sisa nya" jawab Clara.


" Ayok sayang, " ajak Arya lalu menggenggam tangan Yiwa, Clara yang menyaksikan itu langsung berlari dan menangisi diri nya. hati nya benar-benar sakit, rasanya sangat pedih, kenapa ia harus merasakan luka yang sesakit ini.