
setiba nya di rumah sakit, dokter menyatakan Yiwa tidak menderita sakit apa-apa, membuat Arya langsung merasa lega. namun saat dokter mengucapkan kata selamat, spontan mata Arya dan Yiwa saling bertemu.
" Selamat, istri bapak sedang mengandung, usia kandungan baru sebulan, jadi wajar saja, jika ibu Yiwa mual dan muntah-muntah." ucap dr Rati, membuat Arya begitu sangat merasa bahagia, air mata kebahagiaan spontan langsung mengalir di wajah tampan nya itu.
" maksud dokter istri saya hamil." tanya Arya memastikan.
" Iya pak. jadi mohon untuk selalu hati-hati, dan awasi istri anda, usia kandungan yang masih muda begini, harus memerlukan perhatian dan pengawasan ekstra." sambung dr Rati.
" Baik dokter, terimakasih." ucap Arya dan langsung memeluk erat tubuh Yiwa.
" Terimakasih sayang, akhir nya mas akan segera jadi ayah." ucap Arya bahagia.
" Iya mas, aku juga sangat bahagia." jawab Yiwa, setelah itu mereka pun meninggalkan ruangan dr Rati.
" Sayang, mulai sekarang kamu jangan banyak kegiatan dulu ya, mas gak mau kamu dan calon anak kita kenapa-kenapa, mas tidak tau harus berkata apa, mas benar-benar sangat merasa bahagia."
" iya sayang, aku akan melakukan apa saja yang mas perintah kan."
" istri pintar, mas sangat mencintai kamu."
" Aku juga mencintai mas."
dua minggu berlalu, Indah pun mengalami sakit perut yang luar biasa, pinggang nya serasa ingin patah, sekuat mungkin Indah teriak memanggil Arjuna yang berada di kamar, sedang kan ia berada di kamar mandi.
" Mas Juna,,,mas tolong aku,, mas Juna."
mendengar teriakan Indah, dengan cepat Arjuna pun langsung berlari menyusul Indah ke kamar mandi.
" Ya ampun Indah, kamu kenapa sayang."
" Perut aku sakit mas, aku sudah tidak kuat."
" Kamu bertahan, jangan menangis, mas ada disini, kamu jangan takut, mas akan bawa kamu ke rumah sakit, kamu berjuang demi anak kita."
dengan cepat Arjuna langsung mengangkat Indah lalu membawa nya keluar.
" Amel...Amel.."
dengan cepat Amel langsung keluar dari kamar nya.
" Indah kenapa kak.?" tanya Amel panik.
" Tolong kamu keluarin mobil, kita harus ke rumah sakit, Indah mau melahir kan, air ketuban nya sudah pecah."
" Iya kak.!"
dengan cepat Amel langsung berlari mengeluarkan mobil.
" Kamu yang nyetir ya, kakak jaga Indah di belakang."
" Iya kak." Amel pun langsung melajukan mobil nya.
" Sakit mas, aku tidak kuat."
" Sabar sayang, hufff,,huffff." ucap Arjuna sambil meniup perut Indah.
" apa yang kakak lakukan." tanya Amel sambil merhatikan Arjuna yang meniup perut Indah.
" Kakak lagi niupin perut Indah."
" mas Sakitttt,,,hiksss,,hiksss.."
" Tarik nafas panjang,,,, hmmmm,,,,lepaskan hufffff.." ucap Arjuna yang sudah sangat merasa panik.
"Hmmmmmm,,,,hufffffff,,,hmmmmmm,,huffff,,aaaaaaaa,,, sakittttt." teriak indah.
" Amel apa yang harus kakak lakukan," teriak Arjuna yang semakin merasa panik.
" aku juga tidak tau kak, aku belum pernah melahirkan." jawab Amel yang membuat Arjuna kesal.
" Bawa mobil nya lebih cepat sikit, darah nya sudah keluar."
" Kita bisa mati jika kamu bawa mobil nya begini." sambung Arjuna, membuat Amel serba salah.
" Kita gak punya banyak waktu, kasihan Indah, kakak jaga Indah baik-baik, kita akan segera sampai." jawab Amel, lalu semakin menambahkan kecepatan mobil nya.
" Indah dengar mas, kamu harus kuat, kamu bertahan ya sayang, kita akan sampai, tarik nafas dalam-dalam, hufffff...hufffffff...hufffff, mas tau kamu wanita kuat, kamu wanita hebat, jangan menyerah, jangan menangis, demi anak kita, kamu pasti bisa nahan rasa sakit ini." ucap Arjuna dan tidak lama kemudian pun mereka sudah tiba di rumah sakit.
" Suster,,,suster,, tolong kakak ipar saya mau melahir kan." ucap Amel berteriak meminta pertolongan, dengan cepat perawat rumah sakit itu pun langsung membawakan brankar, lalu mendorong Indah ke ruanga persalinan.
Arjuna ikut berlari mengikuti brankar itu, tangan nya selalu menggenggam erat tangan Indah, tidak tega rasa nya melihat Indah yang harus merasa kesakitan.
" Bapak tunggu disini." ucap salah satu perawat itu.
" Saya ingin suami saya menemani saya suster." pinta Indah dan mereka pun tidak dapat menolak nya.
Ruang persalinan itu pun di tutup, dengan cepat dokter langsung menangani Indah, menyelimutkan selimut untuk Indah, lalu membuka kedua kaki Indah dengan lebar.
" Mas sakitt.." tangis Indah yang sudah sangat merasa sakit.
" Kamu yang kuat sayang, tidak lama lagi kita akan melihat anak kita, kamu akan menjadi wanita sempurna, kamu harus kuat, mas ada disini, kamu jangan takut." ucap Arjuana
" Bu Indah, ibu harus semangat, tarik nafas yang dalam, lalu dorong dengan kuat."
" Hmmmmmmm,,,aaaaaaaaaa..."
" Lagi buk,, sedikit lagi,, dorong yang kuat, kasihan anak ibu di dalam, jika ibu menunda nya untuk keluar."
" Mas mencintai kamu sayang, mas sangat mencintai kamu." bisik Arjuna ke telinga Indah, bisikan cinta dari Arjuna seakan jadi obat untuk Indah.
" Ayo bu Indah,, sedikit lagi, dorong yang kuat,, bayangin ibu akan mencium anak ibu, jadi ibu harus harus kuat, ayo bu,, dorong yang kuat, tarik nafasss,, tahan,,, lalu dorong,, "
" Aaaaaaaaaaaaaaa...". owa,,owaaa...owaaa.
" Alhamdulillah.." selamat anak ibu dan bapak perempuan.
" Alhamdulillah. terimakasih dokter." ucap Arjuna lalu mencium kening Indah.
" Terimakasih sayang, kamu wanita hebat."
Setelah semua selesai, Indah pun langsung di bawa ke ruang inap VIP di rumah sakit itu, tidak menunggu lama, suster pun datang membawa kembali bayi mereka.
" Sayang, mas komatin anak kita dulu ya." ucap Arjuna, air mata bahagia Indah pun langsung mengalir di wajah nya, ia tidak menyangka akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa ini. melihat Arjuna yang sedang ngomatin putri mereka, membuat Indah merasa, betapa beruntung nya ia memiliki Arjuna yang bisa menerima segala kekurangan nya.
Setelah mendapat kabar dari Amel, Arya dan Indah pun langsung menuju ke rumah sakit.
" Kalian gak mesti datang malam-malam begini, besok kan bisa." ucap Amel yang menunggu Arya dan Yiwa di resepsionis.
" Mana mungkin gue bisa menunggu sampai besok." jawab Yiwa, lalu mereka pun berjalan menuju kamar Indah.
" Assalamualaikum."
" Walaikumsalam."
" Indah, selamat ya,,akhir nya lo sudah menjadi ibu." ucap Yiwa
" Iya Yiwa, terimakasih, gue harap lo juga cepat nyusul." jawab Indah, Arya dan Yiwa pun hanya bisa senyum-senyum.
" Alhamdulilliah, gue juga akan nyusul lo." jawab Yiwa sambil mengelus perut nya yang masih datar.
" Apa??. Yiwa lo hamil.? " tanya Yiwa terkejut.
" Iya, alhamdulillah." jawab Yiwa.
" Wah,, kota Kalimantan jadi sejarah untuk calon anak kalian." ucap Amel ceplos membuat Arya dan Yiwa merasa malu.
" Lo kenapa ngomong gitu.?" tanya Indah yang ingin menggoda Yiwa.
" Hmmm,,sayang lo gak ikut, cukup gue yang jadi saksi di antara mereka." jawab Amel, dengan cepat Yiwa pun langsung membungkam mulut Amel yang terlalu ceplos, Arjuna yang melihat itu turut merasa bahagia.