I Can'T Stop Thinking About You

I Can'T Stop Thinking About You
Clinic



Sudah seminggu Ariel menemani Cyntia di rumah sakit. Tapi Cyntia masih saja belum mau berbicara pada Ariel.


"Honey, aku pulang dulu ya? Ini sudah malam. Besok aku akan kemari lagi." ucap Ariel dan mengecup kening Cyntia.


Inginnya Ariel mengecup bibir manis istrinya. Tapi Cyntia masih tak ingin di sentuh Ariel. Di kening pun Cyntia sebenarnya tak mau. Hanya saja Ariel terus saja melakukannya.


Saat menutup pintu kamar Cyntia, Ariel menghela nafasnya kasar. Dia harus extra membuat Cyntia kembali padanya. Ariel mengerti. Sangat mengerti bagaimana rasanya menjadi Cyntia.


Bahkan hatinya juga sangat terluka. Karena anak yang sangat dirinya inginkan, sudah tak ada di dunia ini sebelum di lahirkan oleh istrinya.


"Maafkan aku Cyntia. Maafkan aku." ucap Ariel sambil mengusap pintu kamar Cyntia.


Ariel pergi dengan hati dan perasaan yang sangat berat. Istrinya di sini sendirian.


Untung saja Cyntia sudah keluar dari ruang isolasi itu. Tapi dokter masih belum memperbolehkan Cyntia keluar dari sana. Karena pikirannya masih sangat rentan.


Keesokan harinya, Ariel terpaksa tak bisa datang pagi menjenguk Cyntia, karena ada meeting yang tak bisa di tinggalkan olehnya.


Sedangkan di tempat lain, Letta sudah tau Cyntia ada di mana. Bagi Letta, semua yang terjadi padanya adalah ulah Cyntia. Dia sangat-sangat membenci wanita itu. Letta juga menganggap Cyntia-lah yang membuat Ariel jauh darinya.


"Maaf sus, saya ingin bertemu dengan pasien bernama Cyntia." ucap Letta yang sudah ada di klinik di mana Cyntia di rawat.


"Maaf anda siapanya nyonya Cyntia nona?" tanya Perawat.


"Aku Letta sahabat Cyntia." jawab Letta berbohong.


"Silahkan nona, di sana kamar nyonya Cyntia." ucap perawat yang menunjuk dengan tangannya kamar Cyntia di rawat.


"Terima kasih." jawab Letta yang langsung menuju ruangan Cyntia.


Ariel memang meminta perawat untuk melaporkan siapa saja yang menjenguk Cyntia padanya.


"Sahabat Cyntia? Apa Azlah sus?" tanya Ariel. Mungkin Soner mengatakan di mana Cyntia pada istrinya.


Bahkan Cyntia tak mengetahui jika sahabatnya Azlah sudah menikah dengan Soner. Dan itu sangat membuat Azlah sangat bersedih.


"Bukan tuan, katanya nona Letta." jawab perawat dan sungguh itu membuat Ariel terkejut.


"Apa? Letta? Jaga Cyntia sus. Saya akan segera ke sana." ucap Ariel dan dia langsung pergi dan menuju klinik.


"Hay Cyntia? Apa kabarmu?" tanya Letta yang sudah masuk ke kamar Cyntia. Cyntia sampai terkejut di buatnya. Sumpah demi apapun, Cyntia ingin sekali membunuh wanita ular di depannya ini.


"Untuk apa kau kemari?" teriak Cyntia yang langsung berdiri dan menggenggam kedua tangannya erat.


"Bagaimana kabarmu? Apa kau sudah sehat? Atau kau... sudah gila?" tanya Letta dan itu sukses membuat Cyntia histeris.


"Pergi kau dari sini." teriak Cyntia yang sudah melempar-lemparkan bantal kepada Letta.


"Dasar wanita gila. Kau harus merasakan penderitaan yang aku rasakan Cyntia." ucap Letta yang sudah sangat marah pada Cyntia.


"Pergi kau dari sini. Kau pembunuh anakku. Pergi!" teriak Cyntia


"Maaf ada apa ini nona?" tanya perawat yang di perintahkan Ariel tadi untuk menjaga Cyntia. Dia sudah menahan Letta yang sudah ingin menampar Cyntia.


"Kau tak usah ikut campur sus. Wanita ini sudah menghancurkan karirku. Dia yang membuatku kehilangan pekerjaanku. Awas kau Cyntia." Letta mengeluarkan pisau kecil dari dalam tasnya dan akan dia tusukkan pada Cyntia.


JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORITE DAN HADIAH YA KAKAK. TERIMA KASIH ❤❤❤❤❤