
Iniko berhasil menemukan anak itu dengan melewati perjalanan yang lumayan jauh.Iniko sudah menemukan anak kecil itu,lalu apa rencana selanjutnya? Iniko memikirkan itu sambil megandeng tangan anak itu dan mencari tempat bermalam.
Iniko memikirkan itu dengan serius sampai tidak sadar kalau anak kecil itu terus menatap Iniko.Iniko berkata sambil mengelus kepala anak itu, "Sekarang matahari sudah terbenam,saatnya kita mencari tempat bermalam." Anak itu megangukan kepalanya sambil memegang erat tangan Iniko.
Mereka berdua berjalan munuju tempat yang sudah di tentukan oleh Iniko untuk menjadi tempat bermalam.Iniko melihat anak itu sambil bergumam, "Apa dia kelaparan?"
Iniko menyadari itu karena anak itu terus memegang perutnya,Iniko megendong anak itu dan dengan cepat berlari menuju tempat bermalam.
Iniko sudah sampai di tempat itu dan langsung membangun tenda,setelah selesai Iniko langsung menyuru anak itu masuk ke dalam tenda sambil menunggu Iniko selesai mencari buah untuk di makan olehnya.Iniko mencari buah di dekat situ dan mengambil beberapa kayu untuk di jadikan api unggun.
Setelah mengambil beberapa buah dan kayu.Iniko melihat sebuah cahaya kilat yang terpantul di pepohonan,Iniko menuju tempat cahaya itu dan Iniko sudah sampai di tempat itu.Tidak di sangka itu adalah sungai dan di sungai itu ada beberapa ikan yang berenang ke sana ke mari.Iniko tersenyum dan melepas sepatunya,Iniko memasuki sungai dan mulai berburu ikan di sana.
Iniko mengunakan ghost swordnya untuk menangkap ikan,meski pun itu susah tapi Iniko mendapatkan dua ikan untuk di makan.Setelah selesai berburu ikan,Iniko langsung menuju ke tenda dengan membawa ikan di tangannya.
Meski pun baju dan celana Iniko basah karena terjatuh saat berburu ikan,Iniko tetap tersenyum meski bajunya basah kuyup begini.Iniko sampai di tenda dan anak itu keluar dari tenda dengan wajah kebingungan.
Anak itu berkata, "Kenapa kamu basah begini?"
Iniko menjawab, "Ah,aku tadi habis berburu ikan."
Anak itu berkata dengan wajah khawatir, "Jangan berburu ikan di malam hari lagi ya,kata ibu menangkap ikan itu susah dan penuh dengan resiko.Lebih baik kita beli ikan di pasar saja."
Iniko tertawa kecil saat mendengar anak itu berbicara,anak itu menasehati Iniko dan Iniko merasa dialah orang dewasanya.Iniko kemudian menjemur celana dan bajunya,Iniko hanya memakai kutang dan celana pendek cadangannya.Iniko menyalakan api unggun dan mereka berdua membakar ikan itu,saat ikan sudah matang dan siap untuk di makan.
Anak itu dengan wajah yang kelaparan dan air liur yang menetes,melihat ikan itu dengan penuh nafsu dan ingin secepatnya mengambil ikan itu,Iniko melihat anak itu dan dengan wajah yang tersenyum lalu memberi anak itu ikan yang sudah matang.Anak itu memakan ikan dengan lahap dan Iniko melihat anak itu makan belepotan di bibirnya.Iniko berkata, "Jangan terburu - buru makannya,nanti kamu tersedak."
Iniko memakan ikan bakar dan merasa Iniko seperti seorang ayah yang sedang berkemah dengan anaknya,Iniko jadi ingat masa lalu yang menyenangkan dengan ayahnya.Iniko jadi ternostalgia kalau makan ikan bakar bersama dengan seorang anak kecil.
Setelah selesai makan,Iniko menyuru anak itu untuk masuk tenda dan segera tidur,Iniko berdiam diri di luar dan dengan wajah yang menghadap ke atas,Iniko memikirkan apa yang akan di rencanakan Iniko selanjutnya.Mencari ibu dari anak itu di hutan ini? Mustahil,itu akan membutuhkan waktu yang lama dan Iniko punya misteri lain untuk di pecahkan.
Iniko merenung dan tidak bisa memikirkan apa pun untuk mencari keberadaan ibu anak itu,Iniko melihat api unggun dan merasakan kehangatan api unggun itu.Iniko merasa anak itu juga butuh kehangatan seorang ibu,dunia terlalu kejam untuknya jika dia sendiri,Iniko salah satu orang yang merasakan betapa kejamnya dunia,bukan hanya Iniko saja yang merasakan itu,tetapi orang lain mungkin merasakan itu.
Iniko tidak bisa berbuat apa - apa untuk mencari keberadaan ibu dari anak itu,tidak ada satu petunjuk pun untuk bisa menyatakan di mana ibu anak itu berada.Semakin Iniko berfikir,Iniko semakin pusing dan tidak bisa menemukan petunjuk apa pun.
Karena terlalu banyak berfikir,Iniko masuk ke dalam tenda dan tidur bersama anak itu,setelah matahari terbit,Iniko keluar dari tenda dan mulai membereskan barang - barangnya ke dalam tas.Setelah itu Iniko menuju sungai,setelah sampai Iniko mencuci muka dengan air sungai dan melihat bayangan wajahnya.
Iniko berkata, "Sepertinya aku terlalu banyak berfikir semalam,tapi meski pun sudah pagi,tidak ada petujuk apa pun yang muncul di sekitar sini maupun di kepalaku."
Iniko menghela nafas dan menuju ke tendanya,saat sampai ternyata anak itu sudah terbangun dan keluar dari tendanya.
Anak itu berkata, "Kamu dari mana saja?"
Iniko menjawab, "Ma maaf,aku keluar sebentar untuk mencuci muka.Oh ya saatnya sarapan,ini." Iniko memberi anak itu buah berry.
Iniko berkata, "Tidak,aku sudah mencobanya,tapi tidak beracun sama sekali.Kalau kau tidak mau,ada apel ini."
Anak itu mengambil apel di tangan Iniko dan tidak memakan buah berry,sepertinya dia takut berry itu beracun,anak kecil yang pintar.
Iniko tersenyum saat melihat anak itu memakan apel,tetapi di sisi lain ia sedih karena tidak bisa menemukan apa pun,terpaksa Iniko harus menggunakan cara yang tidak ingin ia lakukan.Yaitu mencari,meski pun cara ini tidak efektif dan akan membuang - buang waktu,tetapi tidak ada cara lain selain cara ini.
Iniko berkata pada anak itu, "Aku akan mencari ibumu di dalam hutan,lebih baik kau tidak usah ikut karena terlalu berbahaya,aku akan membuat jebakan di daerah sini agar hewan buas tidak mendekat tenda ini."
Anak itu berhenti memakan apel dan berkata, "Aku akan ikut."
Iniko berkata, "Tapi." Sayangnya sebelum mengucapkan kalimatnya,mata anak itu mulai seperti meneteskan air mata dan Iniko tidak tega melihat itu.
Iniko mengelus kepala anak itu, "Baik - baik,kau akan ikut bersamaku,tapi jika ada bahaya,kau harus lari secepatnya."
Anak itu mengangukan kepalanya dan melanjutkan memakan apel.Setelah selesai sarapan,mereka berdua mulai mencari ibu anak itu dan mereka berdua berjalan bersama menyelusuri hutan ini.Mereka berdua sempat beristirahat sebentar dan melanjutkan perjalanannya.
Saat berjalan mencari ibu anak itu.Iniko berkata, "Oh ya,aku tidak tahu siapa namamu?"
Anak itu berkata, "Nama ku Zarum.Sebenarnya itu pelesetan dari nama zamrud,ibu ku sangat suka perhiasan zamrud dan ingin sekali membelinya.Jadi karena tidak bisa membelinya,aku di beri nama Zarum dengan harapan aku bisa secantik zamrud dan seindah zamrud."
Iniko berkata di dalam hatinya, "Nama yang penuh makna."
Setelah itu mereka berdua mencari dan mencari sampai matahari sudah terbenam,Iniko tau kalau ini akan sangat sulit dan butuh waktu berhari - hari untuk mencari ibu Zarum,dan juga peresentasi ketemu ibu Zarum sangatlah kecil.Iniko terlalu kasihan melihat Zarum berjalan bersamanya selama berhari - hari,Iniko harus cepat menemukan petujuk agar bisa secepatnya menemukan ibu Zarum.
Karena matahari sudah terbenam,Iniko membuat tenda dan setelah selesai Iniko membuat api unggun,setelah semua itu selesai mereka berdua makan malam bersama dan mengobrol.Setelah selesai makan malam,Zarum tidur duluan seperti biasa dan Iniko di luar sambil mencari petunjuk di kepalanya dan di sekitarnya.Karena tidak menemukan apa - apa seperti sebelumnya,Iniko masuk ke dalam tenda dan tidur bersama Zarum.
Saat tertidur,Zarum tiba - tiba terbangun dan melihat bayangan seseorang di luar tenda,Zarum keluar dari tenda dan tidak melihat seorang pun,sebelum masuk ke dalam tendanya,Zarum terkejut karena dari kejauhan ia melihat ibunya yang sedang menatapnya dengan senyuman.
Zarum berkata, "Ibu? Ibu!!"
Zarum berlari dan mendekati seorang yang mirip dengan ibunya,tapi saat di dekati,orang yang mirip dengan ibunya itu berlari dan menjauhi Zarum.
Zarum berlari dan berkata, "Ibu,to tolong jangan tinggalkan aku,ibu!!" Zarum mengejar orang itu sampai dia tidak bisa mengejarnya lagi.
Zarum tidak bisa mengejarnya dan orang itu menghilang dari pandangannya.
Zarum berhenti dan berkata, "Ibu,ke kenapa kau meninggalkan ku?"
Zarum menangis dan tiba - tiba saja dari kejauhan terdengar suara aungan serigala.