
Pada awalnya, Iniko penasaran dengan patung yang berada di desa hantu. Tetapi Iniko tidak mendapatkan informasi lebih tentang pantung itu, yang membuat Iniko harus lebih mendalami tentang patung itu.
Iniko tidak bisa berinteraksi dengan penduduk desa, alias hantu. Karena ketakutan yang berada di dalam dirinya, membuat Iniko tidak bisa berinteraksi dengan penduduk desa.
Tetapi itu semua terjadi sebelum ia bertemu dengan Fan, Fan adalah anak dari kakek dop yang sangat baik. Tidak seperti penduduk desa lainnya yang terlihat kaku dengan Iniko, Fan terlihat lebih seperti manusia biasa tidak seperti penduduk desa.
Iniko terbantu dengan adanya Fan dan Fan pun menceritakan Iniko tentang patung itu, ceritanya sangat panjang, tetapi Iniko menikmati cerita itu.
Ketika Fan selesai bercerita, Iniko sudah mendapatkan semua informasi di desa ini secara mendetail, meski tidak semua menjawab pertanyaan - pertanyaan Iniko.
Setelah bercerita, Fan membujuk Iniko untuk membantu kakaknya di perkebunan. Fan ingin Iniko bisa akrab dengan kakaknya, Fan tau Iniko selalu canggung saat bertemu dengan kakak Fan, yaitu Ran.
Ran memang memiliki sikap yang dingin dan membuat Iniko merasa tidak nyaman, wajah Ran memang terlihat menyeramkan. Sehingga wajah dan sifatnya membuat Iniko merasa tidak enak dekat dengan Ran.
Iniko awalnya tidak mau, tetapi setelah di bujuk oleh Fan, Iniko akhirnya mau membantu dan bertemu Ran. Iniko berkata, "Kalau begitu, aku pergi dulu. "
"Hati - hati di jalan, mungkin ada serangga yang akan menggangumu. " Kata Fan.
Iniko berjalan menuju kebun, Di dalam perjalanan. Iniko berkata, "Sekarang semua informasi sudah terkumpul, desa yang aku tempati adalah desa hantu. Dan juga penduduk desa ini semuanya hantu, wajah dan tubuh mereka berwarna agak kebiruan. Ketika tubuh mereka di sentuh, rasa dingin terasa di sekujur tanganku. Wajah mereka terlihat suram dan mereka tidak tersenyum, kecuali kakek dop dan Fan. "
" Kenapa penduduk desa tidak tersenyum, sedangkan kakek dop dan Fan bisa tersenyum?" Kata Iniko dan bertanya pada dirinya.
Pada saat bertemu dengan kakek dop dan masuk ke rumahnya, setelah itu mengobrol - ngobrol sebentar. Iniko mengetahui kalau kakek dop bisa tersenyum, begitu pula dengan anaknya. Fan anaknya kakek dop, malah lebih sering tersenyum dari pada kakek dop, tapi kenapa?
Kejanggalan itu tidak bisa Iniko temukan jawabannya, tetapi untuk sementara waktu Iniko akan menyimpan kejanggalan itu sambil menemukan jawabannya.
"Penduduk desa menempati rumah zaman dahulu, rumah mereka tidak terbuat dari beton, tetapi terbuat dari kayu dan atapnya di buat dari daun pohon kelapa atau rotan." Kata Iniko sambil berfikir.
Di desa itu sistem perdagangan mereka menukar barang, yang artinya Iniko berada di zaman sebelum era modern. Tetapi ada satu kejanggalan, yaitu setiap kali Iniko berlari menjauh dari desa itu.Iniko akan tersesat dan tiba - tiba saja Iniko sampai di desa itu, Iniko tidak bisa kabur dari desa itu.
Tapi ada satu pertanyaan yang sangat penting bagi Iniko, apa yang harus Iniko lakukan di desa ini? Bukannya Iniko berada di desa ini untuk menyelesaikan misi? Tapi apa yang harus Iniko lakukan.
Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul kembali di kepala Iniko, dan Iniko tidak menyadari kalau ia sudah sampai di kebun. Iniko terlalu banyak berfikir sehingga ia tidak fokus pada perjalanannya, ketika melihat dan mulai masuk gerbang, Iniko kagum melihat banyak pepohonan yang berisi banyak buah.
Iniko masuk dan di depannya terdapat pohon apel, ketika Iniko melihat ke atas. Iniko melihat banyak apel yang berada di atasnya, apel - apel itu terlihat sagar dan manis. Air liur Iniko menetes dan ia mulai memanjat pohon itu.
Ketika Iniko memanjat, Iniko lupa kalau ia tidak bisa memanjat. Alhasil Iniko terjatuh, meski begitu Iniko tetap berusaha dan memanjat lagi, ketika ia setiap kali terjatuh dan jatuh. Pada kali ini Iniko berhasil memanjat sampai ke atas.
Iniko mengulurkan tangannya dan ia hampir mendapatkan apel. Iniko berkata, "Sedikit lagi."
Ketika ia mendapatkan satu apel, Ran tiba - tiba datang dan berkata, "Pencuri buah, turun dari pohon apel itu."
Ketika mendengar dan melihat Ran, Iniko terkejut dan jatuh dari pohon itu. Ran mendekati Iniko dan berkata, "Kau sudah di beri pekerjaan tapi malah mencuri."
"Ma- maaf, melihat apel yang lezat ini membuatku tidak memikirkan apa pun. Ini, ini untukmu, aku belum mengigitnya." Kata Iniko dan memberi apel itu.
Melihat Iniko memberikan apel itu, Ran berkata, "Sudahlah, makan saja apel itu, lain kali kau minta izin dulu sebelum mengambilnya."
"I- iya benar." Kata Iniko.
"Dasar anak itu, aku tidak membutuhkan bantuan orang lain, kalau ketemu aku akan memukulnya." Kata Ran dengan wajah kesal.
Iniko ketakutan melihat wajah seram Ran dan Ran berkata kepada Iniko, "Baik, ikuti aku."
Iniko mengikuti Ran dari belakang, ketika mereka berjalan di suatu tempat, Iniko masih ingat kata - kata dari Fan, "Iniko, kau harus lebih berhati - hati dengan kakakku."
"Memangnya kenapa?" Kata Iniko dengan wajah kebingungan.
"Kalau kakakku sedang marah, ia lebih menyeramkan dari pada hantu. Dulu ia tidak pernah seperti itu, sepertinya kejadian itu membuat sifatnya berubah." Kata Fan sambil menundukan kepalanya.
"Memangnya apa yang terjadi dengan kakakmu?" Kata Iniko dan mendekati Fan.
"Dulu kakakku pernah berpacaran dengan seorang pria dari desa ini, pria itu sangat baik dan kakakku menyukainya. Karena pacar kakaku ingin tinggal di ibu kota, yang di mana daerahnya sangat maju, ia pun pindah ke kota tetapi hubungan mereka masih berpacaran." Kata Fan.
"Tapi karena khawatir terjadi apa - apa, dan juga tidak ada kabar darinya. Kakakku rela pergi ke kota dan berjuang bertemu dengan pacarnya, tapi pacarnya malah selingkuh dengan wanita di kota yang membuat sifat kakakku seperti sekarang. Kakakku juga mulai saat itu membenci pria dan ia tidak ingin berpacaran lagi." Lanjut Fan.
"Sifat kakakku kalau ia marah, ia sangat liar dan tidak bisa di kendalikan, meski begitu. Kakakku masih punya sisi dewasa dan tetap menjadi seorang kakak yang baik untukku." Kata Fan dan mengeluarkan air mata.
Mendengar cerita Fan, Iniko merasa iba dan itulah alasan kenapa Iniko mau datang ke sini untuk membantu Ran. Ran tidak seburuk yang Iniko bayangkan, mungkin Ran akan baik dengan Iniko.
Ketika mereka sampai, Iniko sampai di tempat yang memiliki lahan yang luas. Ran pun berkata, "Ayo bantu aku menanami benih ini."
"Iniko mengambil benih itu dan berkata, benih apa ini?" Kata Iniko dan melihat benih itu.
"Benih apel, ini benih anggur, ini benih melon, ini benih semangka dan ada banyak benih - benih di dalam kotak ini." Kata Ran dan memperlihatkan Iniko banyak benih.
Iniko melihat banyak sekali benih, Iniko kebingungan melihat benih - benih itu dan berkata, "Sepertinya semua benih ini sama saja, tidak ada bedanya."
"Kau tidak akan tahu pada awal melihatnya, ketika melihatnya dengan lama dan berkali - kali, kau akan menemukan perbedaannya." Kata Ran.
"Baiklah, sekarang tanam semua benih - benih ini." Kata Ran dan memberi Iniko kotak yang berisi banyak benih.
Iniko mengambil benih dari kotak itu dan menanamnya di lahan, sebelum Iniko menanam benih - benih itu, Iniko melihat Ran terlebih dahulu. Iniko melihat Ran menanam benih dan ketika ia sedang menanam benih, Iniko melihat Ran sangat cantik. Ketika ia menanam dan mengusab keringatnya, Iniko merasa Ran sangat cantik.
Iniko kemudian berfikir, kenapa mantan pacar Ran memilih wanita lain? Padahal Ran sangat cantik.
Entahlah, pria hanya mengandalkan nafsunya pada saat mereka awal berpacaran.
Sepertinya perjalanan Iniko masih belum berakhir, ia masih belum menjawab pertanyaan - pertanyaan nya dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan di desa ini.
Perjalanan belum berakhir dan sepertinya perjalanan baru di mulai.